<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pusat Cerita Terlengkap &#187; Cerita Horor</title>
	<atom:link href="http://cerita.modelayu.com/category/cerita-horor/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cerita.modelayu.com</link>
	<description>Cerita Dewasa, Cerita Anak, Cerita Humor</description>
	<lastBuildDate>Mon, 01 Mar 2010 09:36:54 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pembalasan</title>
		<link>http://cerita.modelayu.com/cerita-horor/pembalasan.html</link>
		<comments>http://cerita.modelayu.com/cerita-horor/pembalasan.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Oct 2008 02:43:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pendongeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Horor]]></category>
		<category><![CDATA[bimbingan skripsi]]></category>
		<category><![CDATA[cara membuat skripsi]]></category>
		<category><![CDATA[gaya seks anak muda]]></category>
		<category><![CDATA[hubunganku]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan skripsi]]></category>
		<category><![CDATA[seks ala jepang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pusatcerita.com/cerita-dewasa/pembalasan.html</guid>
		<description><![CDATA[Setelah peristiwa bersama Rico, hubunganku dengan Risa makin membaik secara kualitas, namun secara kuantitas aku agak jarang bertemu dengan Risa karena aku harus bekerja dan melanjutkan studi di luar kota. Sehingga paling dua minggu atau tiga minggu sekali aku bertemu dengannya.Perihal dengan Rico aku tak cemburu lagi dengannya, apalagi aku sudah dikenalkan juga dengan pacarnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah peristiwa bersama Rico, hubunganku dengan Risa makin membaik secara kualitas, namun secara kuantitas aku agak jarang bertemu dengan Risa karena aku harus bekerja dan melanjutkan studi di luar kota. Sehingga paling dua minggu atau tiga minggu sekali aku bertemu dengannya.<br/><br/>Perihal dengan Rico aku tak cemburu lagi dengannya, apalagi aku sudah dikenalkan juga dengan pacarnya Rico. Findi namanya. Anaknya lumayan cantik, badannya juga seksi meski teteknya tak sebesar Risa, pacarku. Kutaksir ukuran BHnya sekitar 34B.<br/><br/>Kisahku ini terjadi ketika aku pulang ke kota K, untuk menengok Risa. Kangenku padanya sudah nggak ketulungan, harusnya aku pulang 2 minggu lagi, tapi aku pulang seminggu lebih awal, karena udah tak tahan kangen. Sengaja Risa tak kuberi kabar untuk memberikan kejutan kepadanya, karena saat kutelepon katanya ia kangen sekali denganku.<br/><br/>Pagi-pagi benar aku sudah sampai di kota K, setelah melepas lelah aku meluncur naik taksi ke dekat rumah Risa. Dari wartel yang berjarak 500 m, kutelepon ke rumahnya.<br/><br/>&#8220;Pagi, Risanya ada?&#8221;<br/>&#8220;O.. Risanya pergi baru dua menit yang lalu&#8221; Ibunya Risa yang mengangkat telephone.<br/>&#8220;Kemana ya Bu?&#8221;<br/>&#8220;Aduh kurang tahu ya.. Katanya mau bimbingan skripsi atau apa gitu?&#8221;<br/>&#8220;Ya udah Bu, makasih&#8221;<br/><br/>Begitu kuletakkan telepon, kulihat mobil Risa melintas di depanku, entah kenapa aku tak terlintas dalam benakku untuk mengikutnya. Kulihat Risa berdandan sangat cantik dan sexy, mungkin itu juga yang membuatku curiga karena selama ini setiap ia bimbingan, dandanannya biasa-biasa saja. Akhirnya kuminta sopir taksi untuk mengikuti mobil Risa.<br/><br/>Setelah berjalan 3 km, tiba-tiba mobil berhenti, kemudian pintu dibuka, kulihat cowok yang sangat kukenali wajahnya, Rico teman sekampus Risa, sesaat mereka ngobrol kemudian Rico masuk ke mobil melalui sebelah kanan. Ternyata mereka ganti stir, Rico yang memegang stir kemudian Risa duduk si sebelahnya.<br/><br/>Beberapa saat mobil berjalan Risa menoleh ke belakang, aku terkejut langsung kutundukkan badanku agar ia tak mengenaliku. Saat ku munculkan lagi wajahku betapa terkejutnya aku ketika Risa ternyata mencium pipi Rico, kemudian ia menggelayut mesra di bahu Rico sambil Rico terus menyetir. Hampir saja kuminta sopir taksi untuk menghentikan mobil mereka, namun naluriku berkata lain aku harus ikuti kemana mereka pergi.<br/><br/>Mobil Risa terus meluncur melewati batas kota K melewati kota U arah menuju areal wisata di kota B. Tiba-tiba badanku merinding, keringat dingin membasahi tubuhku, jangan-jangan mereka benar ke kota B, tempat aku dan Risa biasa memadu asmara. Sejenak aku diam menenangkan diri, tiba-tiba kulihat Hpku, aku ada ide coba telp HP Risa, toh ia tidak tahu kalo aku lagi pulang ke kota K.<br/><br/>&#8220;Hallo Sayang, lagi ngapain?&#8221;<br/>&#8220;Eh Ryan, kupikir siapa kok nggak ada nomornya?&#8221; jawab Risa santai<br/>&#8220;Oh iya aku pakai private number, sori belum kuganti. Lagi dimana nih?&#8221;<br/>&#8220;Ini Ryan mau ke tempatnya Bu Ani, konsultasi skripsi&#8221;<br/>&#8220;Emang rumahnya di mana?&#8221;<br/>&#8220;E.. Di jl. KS..&#8221; Kudengar Risa agak gugup, ia menjawab sekenanya. Padahal setahuku Bu Ani itu rumahnya di Jl. RHT.<br/>&#8220;Ya udah, ati-ati ya..&#8221;<br/>&#8220;Ok Ryan Bye, cup ah..&#8221; Gila kupikir Si Risa, dia bohongi aku tapi masih juga sempat bersikap mesra.<br/><br/>Dengan jawaban tadi aku yakin betul kalo Risa dan Rico sedang menuju ke tempat wisata di kota B. Terbayang di wajahku pergumulan yang pernah aku lakukan bersama Rico dan Risa, ada gairah, ada cemburu yang membara. Tapi kenapa mereka lakukan ini? Kenapa Risa menghianatiku? Kenapa Rico menyalahgunakan kepercayaanku? Bukankah kuajak dia ikut bergabung pada permainan dulu itu agar tak ada cemburu diantara kita? Kenapa mereka melakukan ini tanpa seijinku bahkan berbohong kepadaku? Sejuta pertanyaan terus melintas di kepalaku.<br/><br/>Aku menyalahkan diriku sendiri kenapa kuajak Rico waktu itu? Ah semuanya sudah telanjur, aku nggak bisa membayangkan lagi apa yang mereka perbuat selama ini ketika aku di luar kota. Dengan dalih skripsi mereka bebas melakukan apa saja.<br/><br/>Di sela-sela kegundahanku tiba-tiba kuingat Findi, pacar Rico. Sedang apa kira-kira dia? Tahukah ia kalo Rico selingkuh dengan Risa. Tiba-tiba ada gairah dalam diriku untuk menikmati tubuh Findi, kubayangkan bodynya, putihnya dan pantatnya yang aduhai. Kulihat Hpku kucoba cari nomornya, ah bersyukur aku ternyata aku masih menyimpan nomornya.<br/><br/>&#8220;Hallo Findi?&#8221;<br/>&#8220;Iya.. Siapa nih?&#8221;Suaranya merdu dan manja sekali.<br/>&#8220;Ini Ryan..&#8221;<br/>&#8220;Oh Bang Ryan. Gimana kabarnya Bang?&#8221; sapanya sangat lembut dan ramah.<br/>&#8220;Baik.. Findi sendiri gimana? Baik juga kan?&#8221;<br/>&#8220;Iya Bang&#8221;<br/>&#8220;Lagi dimana nih Fin&#8221;<br/>&#8220;Di tempat temen Bang, di U&#8221;<br/>&#8220;Lho nggak pacaran, kan hari sabtu?&#8221;<br/>&#8220;Aduh Bang, Rico lagi sibuk sekali akhir-akhir ini ngerjain skripsi, jangankan pacaran telp aja aku takut ganggu.. Lho bukannya Rico lagi ke dosen ama Mbak Risa? Abang di K kan? Belum ketemu Mbak Risa?&#8221; tanyanya seperti memberondong.<br/>&#8220;Oh ya tho.. Belum tuh Riss.. Eh kamu di kota U ya? Aku juga di U nih.. Gimana kalo kita ketemu, itung-itung ngilangin kangen sebagai sesama ditinggal pacar sibuk skripsi.. He.. He..&#8221; kucoba sambil bercanda sekaligus menghilangkan rasa cemburuku pada Risa dan Rico.<br/>&#8220;Ah Abang bisa aja.. Tapi boleh juga Bang, soalnya temenku juga mau pergi bentar lagi&#8221;<br/>&#8220;Ya udah kujemput kamu ya..&#8221; Setelah Findi memberikan alamat temennya lalu kusuruh sopir taksi meluncur ke alamat tersebut.<br/><br/>&#8220;Pagi Fin&#8221;<br/><br/>Gila kulihat cantik sekali Findi pagi ini badannya yang dibalut kain ketat serta celana ketat tiga perempat seolah memamerkan semua tonjolan yang ia punya.<br/><br/>&#8220;Eh Abang.. Udah dateng kok cepat sekali?&#8221;<br/>&#8220;Iya nih.. Ternyata posisiku tadi udah dekat.. Yuk&#8221; ajakku sambil mengandengnya masuk ke taksi. Terasa harum wangi parfumnya membuat &#8216;adik&#8217;ku menggeliat.<br/><br/>Setelah memasuki taksi, kemudian kami meluncur dengan cepatnya, seakan tahu betul sopir taksi itu mengarahkan ke obyek wisata B.<br/><br/>&#8220;Kemana kita Bang?&#8221; Tanya Findi melihat taksi ke arah B<br/>&#8220;Gimana kalo kita ke B, sambil lihat pemandangan. Di jakarta lihatnya gedung terus sih..&#8221;<br/>&#8220;Boleh Bang.. Siapa takut.. Asal nggak aneh-aneh aja Abang&#8221;<br/>&#8220;Aneh-aneh gimana maksudnya?&#8221;<br/>&#8220;Ya kan dah lama nggak ketemu Mbak Risa.. Aku nanti jadi pelampiasan lagi&#8221; katanya sambil mengerling penuh arti.<br/>&#8220;Dasar kamu..&#8221; kataku sambil kucubit dia.<br/><br/>Di perjalanan kami terus bercanda, cerita kesana-kemari sampe akupun agak lupa kalo tujuanku adalah investigasi Risa dan Rico. Hingga karena taksi dikemudikan sangat cepat maka tanpa diduga sebelumnya posisi taksiku persis di belakang mobil Risa yang dikemudikan Rico.<br/><br/>&#8220;Bang itu bukannya mobil Mbak Risa? Yang nyetir Rico kan? Mau kemana mereka? Kok kemari?&#8221;<br/>&#8220;Itulah yang juga Abang ingin tahu, Abang sejak tadi membuntuti mereka. Trus Abang telp Findi, eh pas di kota U juga, jadi sekalian aja pikirku. Abang juga penasaran kok Fin&#8221;<br/>&#8220;Pantesan sibuk terus mereka, jangan-jangan&#8221;Findi tak meneruskan kata-katanya, matanya berkaca-kaca, ia rebahkan tubuhnya ke dadaku.<br/>&#8220;Bang.. Gimana nih Bang?&#8221;<br/>&#8220;Udahlah Fin.. Gak pa-pa.. Santai aja, toh Findi kan juga sama Abang.. Jadi satu-satu nantinya hehe&#8221;<br/>&#8220;Ih Abang genit..<br/>&#8220;Katanya sambil terus merapatkan ke badanku seakan nggak mau ia lepaskan. Kulihat Findi mulai agak tenang.<br/><br/>Taksi kami terus mengikuti arah mobil Risa, dari belakang kulihat sesekali Risa mencium Rico, kadang sebaliknya Rico yang mencium Risa.<br/><br/>&#8220;Ih.. Mereka genit sekali&#8221; kata Findi sebel.<br/>&#8220;Aku cium Abang juga ah..&#8221; Tanpa peduli pada sopir taksi tiba-tiba Findi menciumku.<br/>&#8220;Ih nakal kamu&#8221; Padahal saat itu adikku betul-betul tegang, aku bergairah melihat apa yang akan diperbuat Risa dan Rico sekaligus bergairah karena Findi terus merapat ke badanku.<br/><br/>Tiba di kota B. Kulihat mobil Risa belok ke arah Hotel KDR, aku hafal betul karena di tempat itu aku dan Risa sering memadu kasih, lalu kuminta sopir taksi untuk terus dulu supaya nggak ketahuan mereka kalo aku dan Findi membuntuti.<br/><br/>&#8220;Bang mereka ke Hotel. Mau ngapain mereka? Masak konsultasi di Hotel?&#8221; Findi semakin sebel diliputi rasa cemburu, rasa yang sama yang pernah kurasakan dulu (Cemburu Membawa Sensasi).<br/>&#8220;Udah Fin, tenang aja nanti kita ikutin mereka&#8221;<br/><br/>Setelah beberapa saat taksi kemudian kuminta berputar masuk ke hotel, aku berbincang-bincang sesaat dengan reseptionist yang aku udah lumayan kenal karena langganan lalu aku minta kamar di sebelah Risa dan Rico. Sedangkan sopir taksi kuminta dia pulang setelah kubayar, karena aku berpikir pulangnya bareng sekalian dengan Risa dan Rico.<br/><br/>Jalan menuju ke kamarku melewati depan kamar Risa dan Rico, saat aku lewat terdengar desahan-desahan yang sangat menggairahkan. Kurang ajar batinku ternyata mereka udah nggak mampu menahan lagi, tapi di sisi lain desahan-desahan itu justru membuatku terasa bergairah.<br/><br/>Begitu masuk kedalam kamar aku dan Findi segera mencari lubang yang dapat kami gunakan untuk mengintip aktivitas Risa dan Rico, tanpa menemui kesulitan kami menemukan lubang yang mampu melihat aktivitas mereka secara jelas namun tak mungkin mereka lihat karena tempatnya sangat tersembunyi.<br/><br/>&#8220;Oh Ris.. Aku kangen sekali ama tetekmu&#8221; ujar Rico sambil memegang dada Risa yang masih terbungkus kain lengkap.<br/>&#8220;Ohh.. Ohh.. Aku juga Ric, aku kangen ama batangmu yang tegak itu&#8221; desah Risa sambil terus mereka berciuman bibir.<br/><br/>Kulihat Findi begitu dongkol melihat kelakuan mereka, namun sisi laen aku juga lihat kalo Findi wajahnya merah, kuduga selain menahan amarah ia juga menahan gairah melihat aktivitas Rico dan Risa. Perlahan kuraba paha Findi yang masih terus mengintip aktivitas Rico dan Risa.<br/><br/>&#8220;Ohh.. Oh..&#8221; Lenguhnya tanpa menggeser posisi mengintipnya.<br/><br/>Sementara di seberang kamar kulihat Rico telah berhasil melucuti pakaian atas Risa hingga yang tertinggal di atas hanyalah BH Risa.<br/><br/>&#8220;Ohh.. Ric.. Lidahmu nakal sekali&#8221;<br/>&#8220;Tapi kamu suka kan?&#8221;<br/>&#8220;He eh.. Ehm.. Oh.. Terusin nakalmu Ric, lepaskan BH ku&#8221; Risa semakin bernafsu.<br/><br/>Aku hafal betul kalau Risa paling tidak tahan jika teteknya di pegang. Dalam sekejap BH Risa sudah terlepas dari tempatnya, kini yang nampak adalah dua buah gunung kembar yang menjulang dengan puting yang sudah mengeras. Rico dengan lahap menjilati puting tersebut.<br/><br/>&#8220;Ohh.. Enak sekali Ric.. Kok bisa ya sekecil ini di jilat rasanya sampe ke ubun-ubun.. Oh&#8221; lenguh Risa dengan manja menahan gairah. Sementara aku sendiri terus bergerilya di paha Findi..<br/><br/>&#8220;Ough.. Ohh.. Enak Bang&#8221;<br/>&#8220;Lepasin celanamu ya..&#8221; Pintaku dengan berbisik<br/>&#8220;Ho.. Oh&#8221; Kulepas celananya yang tiga perempat, sengaja kusisakan CD-nya biar ada sensasi tersendiri.<br/>&#8220;Uhh.. Bang&#8221; rintihnya ketika tanganku mengucap vegynya yang masih tertutup CD, namun nampak jelas rambut-rambutnya yang hitam kecoklatan.<br/>&#8220;Ohh.. Ouhh.. Ohh.. Kamu pintar sekali Bang&#8221; desahannya makin keras tatkala kuraba bibir vegynya yang sudah basah.<br/><br/>Di seberang kamar kulihat Risa dan Rico sudah tak berpakaian lagi alias telanjang bulat. Risa kulihat sedang mengoral penis Rico.<br/><br/>&#8220;Ohh.. Ris enak.. Sekali.. Oh&#8221; Rico meracau.<br/>&#8220;Enak mana ama kuluman Findi Ric?&#8221; Tanya Risa sambil terus mengoral.<br/>&#8220;Enakan oralmu Ris&#8221;.<br/><br/>Mendengar ucapan Rico, Findi menjadi jengkel. Seolah ia akan membuktikan ucapan Rico, kemudian ia segera melucuti celanaku. Terpampanglah penisku yang sudah tegak mengacung. Tanpa banyak basa basi ia langsung kulum penisku.<br/><br/>&#8220;Oh.. Ohh..&#8221; Bibir tipis Findi ternyata lihai juga mengoral penisku, memang kuakui bibir tebal Risa lebih mantap untuk mengulum penis, namun demi menyenangkan hati Findi aku tetap memuji dia.<br/>&#8220;Auh.. Ogh, enak.. Fin.. Bohong kalo Rico bilang enakan kuluman Risa.. Ohh..&#8221; Seakan makin bersemangat Findi terus mengocok penisku dengan cepat.<br/>&#8220;Oh.. Fin enak sekali.. Aku nggak tahan Fin..&#8221; sambil terus Findi mengulum penisku, tanganku menyelusup ke dada Findi, kutemukan dua gunung yang memang nggak sebesar punya Risa.<br/>&#8220;Ohh.. Bang.. Aku bergairah sekali.. Bang.. Oh..&#8221;<br/><br/>Kulihat di kamar sebelah Risa dan Rico sudah tidur berpelukan, terdengar dengkuran halus Risa yang sangat kukenal. Karena aku dan Findi terlalu asyik bermain sehingga tidak sempat melihat sampai klimaks Rico dan Risa dalam mendaki kenikmatan.<br/><br/>&#8220;Bang masukin punyamu Bang.. Ohh.. Aku nggak tahan lagi&#8221; perlahan kumasukin penisku di vagy Findi.<br/>&#8220;Pelan-pelan Bang.. Oh.. Nikmat.. Ohh&#8221;<br/>&#8220;Ohh.. Ough..&#8221;<br/>&#8220;Ouhh.. Ough.. Oghh.. Ohh&#8221; Kami terus berpacu mengjar nafsu yang semakin membara seolah lupa kalo di sebelah ada pasangan kita masing-masing.<br/>&#8220;Ohh.. Bang aku hampir sampe&#8221;<br/>&#8220;He eh.. Abang juga.. Dikeluarin dimana?&#8221;<br/>&#8220;Di luar aja Bang aku lagi subur.. Oh&#8221;<br/>&#8220;Ya udah Findi keluarin dulu..&#8221;<br/>&#8220;Oh.. Bang.. Oh.. Ohh&#8221; Rintihan panjang Findi mengakhiri klimaksnya.<br/><br/>Ia semburkan lahar basahnya ke penisku, sementara penisku segera kutarik dan kukgoyang-goyangkan dengan keras di atas perut Findi.<br/><br/>&#8220;Ohh.. Ohh&#8221; cret cret spermaku keluar dengan derasnya di perut Findi.<br/><br/>Kami kemudian berpelukan sangat erat. Sementara itu di kamar sebelah Rico dan Risa masih tertidur, demikian pula dengan Findi, ia tertidur mungkin karena kecapekan. Sedangkan aku sendiri tak bisa tidur. Sambil menghisap rokok aku berpikir keras untuk menggali ide agar dapat menyelesaikan konflik perselingkuhan ini dengan happy ending dengan tanpa amarah bahkan kalo bisa dengan gairah, karena bagaimanapun awalnya aku yang salah dan aku memang sangat mencintai Risa, tapi vegy Findi pun juga lezat rasanya.<br/><br/>*****<br/><br/>Bagi pembaca yang penasaran silakan kirim ke emailku, mudah-mudahan aku sempat membalas di sela-sela kerjaku. <br/><br/>Tamat</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelayu.com/cerita-horor/pembalasan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tegangan Tinggi</title>
		<link>http://cerita.modelayu.com/cerita-horor/tegangan-tinggi.html</link>
		<comments>http://cerita.modelayu.com/cerita-horor/tegangan-tinggi.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Jul 2008 23:06:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pendongeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Horor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pusatcerita.com/?p=404</guid>
		<description><![CDATA[
Saya seorang pria kelahiran Yogya usia 32, karyawan di Jakarta, tinggi badan 173 cm dengan berat hanya 56 kg (agak kurus) orang selalu bilang saya ini tampan, tapi memang, dulu saya atlet pemain volly ball dan punya club banyak di wilayah Jakarta Timur, saya mempunyai seorang istri dan saat ini telah mempunyai anak berusia 1 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry">
<p class="text2"><span id="cerita_size" class="font_10"><span class="justify"><span id="cerita_font" class="family_1">Saya seorang pria kelahiran Yogya usia 32, karyawan di Jakarta, tinggi badan 173 cm dengan berat hanya 56 kg (agak kurus) orang selalu bilang saya ini tampan, tapi memang, dulu saya atlet pemain volly ball dan punya club banyak di wilayah Jakarta Timur, saya mempunyai seorang istri dan saat ini telah mempunyai anak berusia 1 bulan. Saya memang penggemar pornografi, pokoknya segala sesuatu yang berhubungan dengan seks. Berawal dari seja SMA kelas 1 saya sudah rajin onani, terkadang saya juga mengintip perempuan mandi dan pada saat SMA kelas 2 saya punya pacar dan sering melakukan oral seks. Jadi hingga saya mempunyai istri mulai bulan Juli 1999 yang lalu, baru merasakan nikmatnya berhubungan badan (bersenggama).</span></span></span></p>
<p>Jadi hampir selama 12 tahun lebih saya melakukan onani 2-3 kali dalam satu minggu, sampai pada saat inipun ketika pada suatu tekanan seks yang begitu tinggi saya terkadang langsung onani, seperti halnya pada saat membaca beberapa cerita di 17Tahun. Saya di kantor bisa leluasa membacanya, bahkan seharian saya bisa memakai komputer hanya untuk internet, kebetulan saya kepala seksi bidang TI. Jadi setelah membaca rubrik ini saya juga melakukan onani di kamar mandi di kantor. Saya sering berganti-ganti pacar pada waktu belum menikah juga tidak pernah berhubungan seks, paling hanya melakukan oral seks saja. Dengan tekanan seks yang sangat tinggi dan sensitif ini saya seakan-akan menderita, karena tegangnya kelamin saya ini tidak bisa diatur, entah sedang naik bis atau naik mikrolet atau mengendari mobil, asal terlintas tubuh wanita yang bugil pasti langsung tegang. Saya mudah terangsang, tapi kalau main dengan istri juga bisa diatur temponya bila ingin keluar, yang tidak bisa diatur itu adalah keinginan untuk bersetubuh lagi.</p>
<p>Bahkan jika perjalanan jauh naik bis ber-AC dan bersebelahan dengan cewek, jika cewek itu tidak bisa diajak beroral (beremas-remas), ya akhirnya saya mencari lengahnya, saya pegang salah satu alat vitalnya dan saya onani di bis tersebut, agar saya juga tidak ada beban dan agar saya juga cepat bisa tidur. Perlu diketahui bahwa pada saat bujang jika sudah di atas jam 10 malam susah tidur maka caranya hanya satu, yaitu onani baru bisa tidur. Saya memang takut untuk bermain dengan pelacur, karena saya takut tertular penyakit kelamin. Jika mau maka saya banyak kesempatan, saya hampir setiap bulan ke luar kota dan menginap di hotel, dan setiap hotel menyajikan film porno, saya akhiri dengan onani, bahkan terkadang semalam bisa 2 kali, itu saja jika pikiran kembali terbawa ke sana masih juga terangsang, saya pernah bertanya kepada dokter tapi katanya tidak apa-apa hanya ada yang kelebihan. Mungkin karena saya tidak sunat sehingga kelamin saya panjang dan sensitif. Yang jelas saya juga kepingin berbagi atau merasakan perempuan lain yang memiliki keadaan sama yang mungkin menjawab persoalan saya.</p>
<p>Sebetulnya saya itu taat aturan agama untuk hal-hal di luar seks. Namun jika menyangkut masalah yang berhubungan dengan seks, saya benar-benar sulit menghindarinya. Sebetulnya lumrah sebagai seorang pria melakukan hal tersebut, yang jelas meskipun telah mempunyai istri, saya masih sering onani karena jika terus-menerus meminta jatah kasihan pada istri, dan saya juga merasa bahwa air mani saya masih tetap kental. Yang jelas sampai sekarang saya masih hobi nonton BF. Jika pembaca ingin berkenalan, silakan email saya. Tamat</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelayu.com/cerita-horor/tegangan-tinggi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wawancara Tragis</title>
		<link>http://cerita.modelayu.com/cerita-horor/wawancara-tragis.html</link>
		<comments>http://cerita.modelayu.com/cerita-horor/wawancara-tragis.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Jul 2008 23:05:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pendongeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Horor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pusatcerita.com/?p=403</guid>
		<description><![CDATA[
Kita semua mengetahui di daerah Papua sekarang sedang terjadi suatu kegitan yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Untuk itulah maka sebuah stasiun televisi swasta mengirim seorang presenternya untuk meliput dari dekat kegiatan dari organisasi Papua Merdeka yang dipimpin oleh seorang Papua yang bernama Weweko. Untuk itu sebagai reporter ditunjuk Ariana Herawati [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry">
<p><span id="cerita_size" class="font_10"><span class="justify"><span id="cerita_font" class="family_1">Kita semua mengetahui di daerah Papua sekarang sedang terjadi suatu kegitan yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Untuk itulah maka sebuah stasiun televisi swasta mengirim seorang presenternya untuk meliput dari dekat kegiatan dari organisasi Papua Merdeka yang dipimpin oleh seorang Papua yang bernama Weweko. Untuk itu sebagai reporter ditunjuk Ariana Herawati yang dikenal bagus dalam wawancara ditambah telah berpengalaman. Karena ditugaskan oleh Dewan Redakturnya maka Ariana yang saat itu sedang menikmati bulan madunya yang baru 1 bulan tidak dapat mengelak, sedang suaminya memang agak keberatan karena Arie harus bertugas di pedalaman Papua selama 1 minggu. Ia khawatir akan keselamatan istrinya yang baru 1 bulan dinikahinya, namun karena tidak ingin menghambat karir istrinya dengan terpaksa Dono mengijinkannya.</span></span></span></p>
<p>Setibanya di bandara Timika Papua, Ari dijemput oleh rekan krunya. Dari bandara mereka langsung menuju hotel dan mempersiapkan peralatan yang akan mereka bawa. Dari hotel, keesokan harinya rekan Ariana dijemput dengan sebuah mobil dan langsung berangkat ke tempat yang telah mereka rencanakan. Rombongan tersebut terdiri dari 1 orang kru kantor, dan satu orang lagi penunjuk jalan ditambah dengan Ariana sendiri.</p>
<p>Setibanya di tempat tujuan, kru tersebut harus menyeberangi sungai yang amat deras dan dalam mempergunakan sebuah perahu. Ketika sampai di seberang sungai mereka harus berjalan kaki lagi selama 5 jam dari tempat itu, perjalanan itu melewati hutan pedalaman yang amat besar. Di tempat yang telah disepakati dengan OPM tersebut mereka menunggu dengan sangat khawatir sebab mereka telah terlebih dahulu tiba. Kurang lebih 1 jam menunggu, para OPM tersebut datang dengan pasukannya lengkap. Di dalam gubuk yang telah disediakan, Ariana diperkenalkan dengan Weweko yang memimpin pasukan pemberontak tersebut, namun mereka terlebih dahulu digeledah peralatannya tidak terkecuali pakaian Ariana mereka geledah. Ini adalah tahap pertama Ariana mengalami pelecehan sexual dengan nakal. Para tentara OPM menggerayangi pakaian dan anggota tubuhnya dengan kasar. Hal ini membuat Ariana agak sedikit takut dan menyalahkan dirinya sendiri yang ia akui hanya ia sendiri yang wanita dalam rombonggan itu. Ariana agak bergidik ketakutan jika melihat sorot mata Weweko, sebab saat bersalaman tadi mata Weweko tidak jauh dari memandang daerah sensitif tubuhnya, ditambah para pengawal yang sangat sadis kelihatannya.</p>
<p>setelah wawancara dilalukan selama 1 jam, teman-teman Ariana disuruh pulang ke tempat semula dengan mata ditutup tidak terkecuali Ariana. Sambil senjata ditodongkan ke arahnya para teman Ariana bergerak keluar daerah pertemuan. Ariana dibawa ke dalam hutan tanpa sepengetahuannya karena matanya ditutup. Di dalam hutan belantara itu Weweko menggiring Ariana sampai di tendanya yang dikawal ratusan pasukan OPM. Sebagai pimpinan ia amat berkuasa dan ditakuti anak buahnya. Setibanya di tenda, Weweko memerintahkan anak buahnya untuk membuka penutup mata Ariana. Dengan kaget bercampur takut Ariana bertanya mengenai teman-temannya namun dengan santai Weweko mengatakan bahwa Ariana akan mereka tawan sebagai sandera, Ariana sadar bahwa ia telah masuk ke dalam jebakan Weweko dengan terpisahnya ia dari temannya.</p>
<p>“Mau diapakan saya!” tanya Ariana galak.  Ariana berteriak keras.<br />
Dengan senyum menakutkan, Weweko berkata, “Sebaiknya nona diam dan menuruti kemauan saya.. sekarang kamu adalah milik saya dan saya berkuasa atas diri nona. Tidak seorangpun mampu membebaskan nona dari hutan papua ini.”<br />
“Sudah lama saya tidak mencicipi tubuh wanita apalagi secantik  nona.. Apakah nona mau jadi istri saya?” kata Weweko kemudian.<br />
Ariana bergidik ngeri. Ia tidak bisa membayangkan kebuasan pria Papua ini dalam bercinta. Jika ia diperkosa sudah pasti ia tidak dapat melepaskan diri. Ia hanya diam dan memandang sosok Weweko yang tinggi, hitam, bau dan menjijikan nalurinya. Ia terbayang bagaimana buasnya Weweko menggagahinya jika itu terjadi. Ia masih ingat pesan suaminya, namun nasi telah menjadi bubur, ia telah jatuh ke tangan OPM. Ariana hanya diam duduk dalam keremangan malam yang dingin di dalam tenda yang hanya beralaskan bulu hariamau. Sementara di luar tenda ia melihat para pengawal Weweko dan Weweko sedang berpesta pora dengan menikmati daging babi panggang dan meminum arak. Mereka bernyanyi sepuasnya. Berbeda dengan Ariana, di dalam tenda ia hanya diam dan merasakan dinginnya malam di hutan Papua yang terkenal ganas dan dingin itu. Sesaat kemudian datanglah Weweko membawa makanan untuk Ariana juga minuman untuk menghangatkan badan, namun Ariana hanya memakan sedikit daging ikan. Ia tidak menyukai daging babi, ia tidak terbiasa makan babi, namun atas paksaan Weweko ia akhirnya memakannya juga. Ia juga meminum arak sedikit supaya badannya hangat. Sedang ia dari tadi merasakan dinginnya hutan Papua sampai ketulangnya dan membuat Ariana menggigil.</p>
<p>Dengan mata berbinar, Weweko mendekati Ariana dan berusaha memegang dagunya, namun dikibaskan oleh Ariana. Saat itu, Weweko hanya memakai Koteka dan muka dicat seperti pakaian tradisional Papua, sedang di bagian vitalnya yang panjang hanya ditutupi penutup seadanya, seakan ia akan mengadakan hubungan sexual.<br />
“Jangan marah manis?” Weweko berujar.<br />
“Alangkah asyiknya  jika malam yang dingin ini kita berbagi kehangatan dan saling memberi  kemesraan.” katanya.<br />
“Cis!” Ariana meludah.<br />
“Tidak sudi aku bermesraan  dengan kamu, biadap!” katanya.<br />
Dengan senyum simpul sambil menjilat ludah yang dibuang Ariana tadi, Weweko berusaha memeluk dan menaklukan Ariana. Bau tubuh Weweko membuat Ariana ingin muntah, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk melawan.</p>
<p>Di dalam tenda itu hanya ada ia dan Weweko. Dengan paksa Weweko membuka baju kemeja Ariana dengan robekan di dadanya sehingga tersembul dada montok yang putih tertutup BH. Ini membuat Weweko semakin berusaha untuk menaklukan Ariana. Dengan tangannya Ariana memalangkan tangannya pada dada yang terbuka itu. Payudara yang montok itu tidak bisa ditutupi seluruhnya. Sambil memegang tangan dan memeluknya, Ariana akhirnya menyerah dalam pelukan Weweko. Tidak ada yang terucap dari bibirnya, ia hanya diam, pasrah menanti apa yang akan terjadi. Dengan sekali sentak Ariana ditelentangkan di atas bulu alas tenda itu. Kesempatan ini tidak disia-siakan Weweko ia terus menjelajahi dada dan bibir Ariana dengan buas. Inchi demi inchi tidak luput dari perhatian Weweko ia terus memburu setiap sudut di tubuh Ariana. Saat itu BH Ariana telah tanggal dari tempatnya. Dengan tangannya, Weweko berusaha memilin dan menggigit ujung dari susu Ariana, membuat Ariana hanya menutup matanya, ia tidak sanggup melihat apa yang dikerjakan Weweko atas tubuhnya. Secara naluri seks, birahinya mulai bangkit ditambah udara malam yang begitu dingin.</p>
<p>Sejurus kemudian, celana jeans Ariana dibuka Weweko dan terpampanglah batang paha mulus yang di tengahnya ditutupi segitiga pengaman berwarna merah. Langsung saja tangan Weweko menggusur CD Ariana itu dan dengan jari-jarinya yang besar dan kasar, ia masukkan ke dalam lubang kewanitaan Ariana. Sementara itu mulut Weweko tidak beranjak dari dada Ariana. Dengan naluri binatangnya Weweko melebarkan kaki Ariana dan terkuaklah belahan kewanitaan Ariana yang ditumbuhi bulu dengan daging kecil di belahan itu. Goa itu mulai basah oleh tingkah laku jari tangan Weweko, dan tidak lama kemudian dengan lidahnya Weweko mejilat daging kecil itu selama 15 menit. Secara tiba-tiba mulut Weweko disemprot oleh air mani Ariana dan tertelan oleh Weweko. Inilah saat bagi pria Papua yang ditunggu-tunggu. Apabila sampai menelan air mani wanita maka ia akan menambah keperkasaannya. Dengan merubah posisi, Weweko membuka penutup batang kemaluannya yang terbuat dari tumbuhan itu maka terlihatlah kelaminnya yang panjang dan besar tersebut. Ia bersiap-siap untuk memasukkan batang kemaluannya ke dalam mulut Ariana, namun Ariana yang sudah orgasme harus ia ransang dulu dengan memilin payudara dan mengorek-ngorek isi lubang kemaluannya dulu.<br />
Tidak lama kemudian, Ariana telah teransang, barulah  Weweko memasukan batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluan sempit  itu.<br />
“Nona harus mencoba punya saya, jangan coba curang, ya?” kata Weweko  dengan kasar.<br />
Ariana yang sudah tidak mengerti dengan keadaan dirinya hanya menurut dan seluruh batang kemaluan Weweko telah masuk kedalam mulutnya dan mencoca menjilatnya dengan gerakan maju mundur. Tidak kurang dari 14 menit, barulah Weweko menyemprotkan maninya ke mulut Ariana. Ariana diharuskan menelannya karena sesuai kepercayaan Papua, apabila seorang wanita telah menelan mani prianya, maka wanita itu akan sulit melepaskan diri dari pria Papua yang menyenggamainya. Beberapa saat setelah Weweko berusaha kembali merubah arah dan posisi mereka, yang saat itu telah berhadap-hadapan dengan tubuh penuh keringat, kedua insan dua ras tersebut berusaha menyudahi perjalanan kenikmatan ragawinya pada tahap akhir.</p>
<p>Dengan terlebih dahulu Weweko memegang kendali, Weweko memancing birahi Ariana. Ariana teransang dan penetrasi tahap akhir akan dilakukan. Dengan menelentangkan tubuh Ariana di atas bulu itu, kedua paha Ariana ia buka dan di pinggulnya Weweko meletakan buntalannya sehingga terlihat isi kemaluan Ariana. Kedua kaki Ariana diangkat ke bahu Weweko yang bidang. Saat itu batang kemaluan Weweko tegak menghadap ke lubang kemaluan Ariana yang dengan supernya ingin mengaduk-aduk isi lubang kemaluan Ariana. Beberapa saat kemudian, dengan sedikit paksa, batang kemaluan Weweko masuk sebagian ke dalam lubang kemaluan itu. Beberapa saat kemudian, ia tembakkan langsung dengan ganas, memaju-mundurkan batang kemaluannya di dalam lubang kemaluan itu. Ariana sempat kesakitan dan air matanya keluar, namun mulutnya telah ditutupi oleh bibir Weweko. Sementara itu tangan Weweko memegang pantat Ariana supaya selama ia bergerak tidak terlepas. Ia khawatir Ariana akan mengeluarkan batang kemaluannya dari lubang kemaluannya saat Ariana kesakitan. Ariana hanya dapat memegang tangan dan bahu Weweko hingga berdarah tercakar sebab Ariana amat kesakitan akibat gerakan dan gesekan batang kemaluan Weweko mengaduk-aduk lubang kemaluannya. Akhirnya Ariana pingsan beberapa saat dan pada saat ia mulai sadar kembali, Weweko melakukan aktifitasnya yang tertunda tadi, kurang lebih 20 menit, ia menggenjot batang kemaluannya keluar masuk lubang kemaluan sempit itu.</p>
<p>Akhirnya ia melepaskan air maninya di dalam lubang kemaluan Ariana sebanyak-banyaknya. Ia tidak memperdulikan kesakitan bagi Ariana. Yang ada pada dirinya adalah agar kepuasanya terpenuhi karena ia sudah berbulan bulan tidak merasakan tubuh wanita.</p>
<p>Sampai pada pagi harinya, Weweko terus berusaha memuaskan nafsunya kepada tubuh Ariana yang tidak berdaya itu beberapa kali. Sampai pada akhirnya, pada saat pelariannya, Weweko selalu mengikut-sertakan Ariana di dalam hutan Papua itu, ia menganggap Ariana adalah istrinya dan Ariana harus mau mengikuti kemauannya baik itu dalam hubungan seksual maupun dalam masalah pelariannya. Tamat</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelayu.com/cerita-horor/wawancara-tragis.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kamar Rahasia</title>
		<link>http://cerita.modelayu.com/cerita-horor/kamar-rahasia.html</link>
		<comments>http://cerita.modelayu.com/cerita-horor/kamar-rahasia.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 05:10:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pendongeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Horor]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Seru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pusatcerita.com/?p=391</guid>
		<description><![CDATA[
Kulit Ratna putih, halus dan lembut: layaknya gadis keturunan pada umumnya. Wajahnya tidak seberapa cantik: polos dan berkacamata. Seorang mahasiswi yang cerdas dan rajin Ã¢â‚¬â€ typical seorang gadis nerd. Tidak ada yang istimewa dari Ratna Ã¢â‚¬â€ tubuhnya kurus, dada dan pantat yang relatif kecil, selain itu Ã¢â‚¬â€ orangnya juga alim dan sopan.
Ratna yang saat ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry">
<p>Kulit Ratna putih, halus dan lembut: layaknya gadis keturunan pada umumnya. Wajahnya tidak seberapa cantik: polos dan berkacamata. Seorang mahasiswi yang cerdas dan rajin Ã¢â‚¬â€ typical seorang gadis nerd. Tidak ada yang istimewa dari Ratna Ã¢â‚¬â€ tubuhnya kurus, dada dan pantat yang relatif kecil, selain itu Ã¢â‚¬â€ orangnya juga alim dan sopan.<br />
Ratna yang saat ini sedang menempuh kuliah di salah satu universitas swasta di kota S tinggal bersama ci Donna yang menyewakan salah satu dari 2 kamarnya yang kosong kepada Ratna. Penampilan ci Donna berbeda sekali dengan Ratna: di usianya yang hampir 30, ci Donna boleh dibilang sangat pandai merawat tubuhnya Ã¢â‚¬â€ kulit putih halus dengan ukuran toket sedang: 34. Parasnya cantik, rambut panjang bergelombang.<br />
Rupanya, ci Donna yang sudah lama tidak merasakan belaian pria Ã¢â‚¬â€ menyimpan; lebih tepatnya menimbun libido yang secara perlahan-lahan telah menggerogoti moralnya (walaupun belum sampai mengenai akal sehatnya). Selama ditinggalkan kekasihnya sejak 7 tahun yang lalu, ia sering merasa kesepian Ã¢â‚¬â€ tak jarang ia berusaha memuaskan dirinya sendiri dengan berbagai peralatan dan VCD yang disewanya/dibeli melalui pembantunya, karena ia sendiri sebenarnya malu kalau harus terang-terangan membeli atau menyewa benda-benda seperti itu.<br />
Demikian pula untuk bermain dengan pria yang tidak dikenal, ci Donna menganggap mereka tidak bersih sehingga ia takut untuk berhubungan badan dengan mereka. Namun demikian, ini tidak mengurangi fantasi ci Donna dalam membayangkan bentuk seks yang diinginkannya. Bahkan sejak 2 tahun yang lalu, ia juga mulai tertarik untuk melakukan hubungan seks dengan sesamanya. Ini dapat dilihat dari reaksinya terhadap Ratna sehari-hari, tak jarang ia menelan air ludah dan menjilati kedua bibirnya apabila melihat Ratna mengenakan kaos ketat apabila ia ke kampus. Padahal, bentuk tubuh Ratna begitu biasa Ã¢â‚¬â€ apalagi apabila dibandingkan dengan dirinya sendiri yg jauh lebih seksi.<br />
Apa yang dilihat pada diri Ratna adalah dirinya sendiri 10 tahun silam; ketika ia masih berada di awal-awal usia 20 tahun: alim dan rajin Ã¢â‚¬â€ namun begitu naif. Ci Donna sendiri bertekad untuk memberinya Ã¢â‚¬ËœpelajaranÃ¢â‚¬â„¢ suatu saat. Namun Ã¢â‚¬â€ sesudah agak lama tinggal bersama Ratna, barulah Ci Donna mengetahui bahwa ia sudah tidak perawan lagi: ketika ia masih SMP dulu Ã¢â‚¬â€ pacarnya sendiri memperkosanya dan sejak saat itu, Ratna begitu minder dan seringkali menhindar dari pergaulan sekitarnya, hingga saat ia kuliah. Ci Donna mengetahui hal ini dari Ratna sendiri yang memandang Ci Donna sebagai wanita yang sabar, bijaksana dan dewasa.<br />
Pucuk dicinta ulam tiba, seminggu yang lalu Ã¢â‚¬â€ adik ci Donna yang laki-laki tiba dan hendak menginap untuk satu bulan karena suatu urusan. Ã¢â‚¬ËœSekali tepuk 2 lalatÃ¢â‚¬â„¢ Ã¢â‚¬â€ inilah yang ada dalam pikiran ci Donna melihat adiknya sendiri dan Ratna.<br />
Suatu sore sejak 3 hari kedatangan adiknya Ã¢â‚¬â€ Ci Donna sudah mempersiapkan rencana yang baik: pertama adiknya, kemudian Ratna. Biasanya, Ratna tiba di kos pukul 19:00 dan ia hendak memulai rencananya itu pukul 18:30 dengan melakukan Ã¢â‚¬ËœpemanasanÃ¢â‚¬â„¢ terhadap adiknya. Pukul 18:30, Donna memanggil adiknya untuk masuk ke kamarnya. Tanpa berprasangka apa-apa, adiknya masuk ke kamarnya. Dilihatnya Ci Donna yang mengenakan celana pendek jins ketat dan kaos tanpa lengan yang ketat pula Ã¢â‚¬â€ ia sedang menghadap ke cermin dan mengikat rambutnya yang bergelombang halus itu.<br />
Melihat bayangan adiknya di cermin, Ci Donna tersenyum dan berkata: Ã¢â‚¬Å“Masuk saja, cici cuman sebentar koq.Ã¢â‚¬Â Diam-2, adiknya memperhatikan cicinya dan berpikir: Ã¢â‚¬Å“Cantik juga, walaupun sudah kepala tiga. Badannya juga begitu padat dan seksi..Ã¢â‚¬Â Ci Donna yang mengerti bahwa dirinya sedang diperhatikan adiknya sendiri hanya tersenyum simpul Ã¢â‚¬â€ tiba-tiba ia berdiri, mendekati adiknya dan menggandeng tangannya. Adiknya kaget sekali namun ia tidak berkata apa2. Ci Donna membimbing adiknya menuju sebuah pintu sambil sesekali melirik ke belakang dan tersenyum simpul ke arah adiknya.<br />
Ci Donna membuka pintu kamar tersebut dan menyalakan lampunya. Ternyata, apa yang dilihat adiknya adalah sesuatu yang menakjubkan namun juga membuatnya sedikit shock: sebuah kamar yang cukup luas Ã¢â‚¬â€ dengan seluruh dinding ditutupi bahan kedap suara berwarna pink. Ranjang yang terletak di tengah ruangan, sebuah TV lengkap dengan stereo-setnya yang mewah: juga 3 teve hitam-putih kecil yang menampakkan situasi di ruang tamu, kamar Ratna dan kamarnya sendiri.<br />
Namun yang membuatnya begitu kaget dan sedikit takut adalah koleksi VCD, video dan DVD porno yang berserakan di lantai. Berbagai alat bantu seksual, dan sebuah manekin lengkap dengan penis palsunya segala. Tahulah ia apa yang diinginkan dari cicinya Ã¢â‚¬â€ tanpa disadarinya, Ci Donna sudah mengunci pintu kamar dan mulai melepaskan pakaiannya satu persatu. Namun ia berhenti sampai pakaian dalam saja. Jadilah Ci Donna hanya mengenakan bra dan celana-dalam warna hitam, ia berdiri begitu seksi dan menggoda dengan rambutnya terikat (untuk memudahkannya saat permainan nanti, begitulah yang ada di pikiran Ci Donna). Ã¢â‚¬Å“Sudahlah, kamu menurut saja Ã¢â‚¬â€ toh kamu disini hanya sebulan. Masa kamu tidak kasihan sama cici yg sudah lama tidak merasakan hangatnya tubuh pria?Ã¢â‚¬Â<br />
Adiknya masih ragu. Ci Donna tahu ini Ã¢â‚¬â€ dan tanpa membuang banyak waktu, ia segera maju ke depan membuka celana pendek adiknya dengan mudah (entah bagaimana, adiknya tidak mampu melawan cicinya sendiri). Mulailah ia mengoral batang kemaluan adiknya itu. Ci Donna mempercepat gerakan mengocoknya dengan tangan kanan, dia menengadah dan menatap wajah adiknya dengan tatapan tajam penuh birahi Ã¢â‚¬â€ ia mendesis sambil berkata: Ã¢â‚¬Å“Sss.. awas kalau kamu berani keluar sebelum aku. Lebih baik kamu cari kos lain saja, meskipun kamu adikku!Ã¢â‚¬Â<br />
Sesudah berkata demikian, ci Donna memasukkan seluruh batang kemaluan adiknya ke dalam mulutnya. Ia menggerakkan kepalanya maju mundur Ã¢â‚¬â€ membuat batang kemaluan adiknya keluar-masuk dengan sangat cepat. Adik ci Donna hanya dapat mengerang nikmat mendapat perlakuan seperti itu dari cicinya yang ternyata sangat berpengalaman dalam hal memuaskan pasangan mainnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengecewakan cicinya. Di tengah-tengah permainan, Ci Donna melepaskan branya dengan tangan kirinya yang masih bebas. Diliriknya teve hitam putih yg secara rahasia memonitor kamar Ratna. Ternyata ia baru saja datang, dan waktu menunjukan pukul 18:55. Tepatlah perhitungannya: adiknya yang nafsunya sedang menanjak pasti akan mau diajaknya berkompromi.<br />
Ci Donna menghentikan oralnya, dan tahulah ia bahwa adiknya agak kecewa. Ã¢â‚¬Å“Tunggu sebentar Ã¢â‚¬â€ aku ada tugas buat kamu: bawalah Ratna ke kamar ini.Ã¢â‚¬Â Adiknya mengerti apa yang diinginkan ci Donna. Sementara adiknya pergi memanggil Ratna Ã¢â‚¬â€ ia segera mematikan monitor2-nya, melepas celana dalamnya yang sedikit basah dan bersembunyi di sebelah pintu. Begitu adiknya masuk bersama Ratna Ã¢â‚¬â€ ia segera mengunci kamarnya lagi dan mendorong Ratna hingga jatuh ke ranjang. Ratna yang bertubuh kurus dan lelah sehabis kuliah tidak dapat memberikan perlawanan yang berarti terhadap perlakuan Ci Donna yang begitu tiba-tiba tersebut. Ci Donna melucuti kaos ketat yang dikenakan Ratna dengan buas.<br />
Ã¢â‚¬Å“Kyaa..!!Ã¢â‚¬Â Ratna menjerit, namun percuma karena ruangan tersebut kedap suara. Adik Ci Donna hanya diam saja karena shock melihat keganasan cicinya Ã¢â‚¬â€ apalagi dengan sesama jenis! Ci Donna telah sampai pada branya. Dengan kasar, ia merenggut bra Ratna dan melemparkannya ke lantai. Ci Donna melihat sepasang toket Ratna yang kecil. Ã¢â‚¬Å“Seharusnya kamu tidak usah pakai bra sama sekali. Toh tidak memberi perbedaan yang berarti..Ã¢â‚¬Â Ci Donna melanjutkan dengan melepas kancing celana jins Ratna dan membuka ritsluitngnya dan melepaskannya.<br />
Ã¢â‚¬Å“Pahamu putih dan mulus juga yah..Ã¢â‚¬Â Terakhir, Ci Donna menurunkan celana dalam Ratna. Ratna tak dapat berbuat apa-apa terhadap Ci Donna yang terus menggerayangi tubuhnya dan sesekali menciuminya. Tiba-tiba Ci Donna berdiri dan berjalan menuju lemari. Diambilnya sebuah penis palsu (dildo) dan semacam lotion. Ia mengolesi dildonya dengan lotion tersebut dan memberikannya kepada adiknya, Ã¢â‚¬Å“Kamu pakai juga. Aku tidak mau dia berteriak-teriak kesakitan.Ã¢â‚¬Â Adik Ci Donna menurut Ã¢â‚¬â€ ia melepas seluruh pakaiannya dan mulai mengolesi batang kemaluannya dengan lotion yang diberikan cicinya.<br />
Ã¢â‚¬Å“Jangan ci.. saya takut.Ã¢â‚¬Â Ratna yang sudah lemas berkata dengan penuh kekuatiran, melihat ci Donna mengenakan penis palsu (dildo) bergerigi dengan ukuran yang cukup mengerikan seperti mengenakan celana dalam. Ci Donna dengan cepat bergerak ke arah Ratna. Ã¢â‚¬Å“Diam. Mana lotionnya.Ã¢â‚¬Â Sesudah mendapatkan lotion, ia mulai mengolesi dinding vagina Ratna sambil berkata: Ã¢â‚¬Å“Kamu jangan takut, percaya sama cici saja. Sesudah itu, ia membalikkan tubuh Ratna dan melumasi lubang pantatnya pula.<br />
Ã¢â‚¬Å“Ayo Ã¢â‚¬â€ kamu lubang yang satunya!!Ã¢â‚¬Â ci Donna memerintahkan adiknya untuk mengentot Ratna yang malang di lubang anusnya. Adiknya menurut, ia berpindah Ã¢â‚¬â€ duduk di atas ranjang. Ci Donna memapah tubuh Ratna dengan lembut dan menempatkannya di atas adiknya. Ratna yang tidak berdaya hanya dapat memandang sorot mata penuh nafsu ci Donna yang sedari tadi sibuk mengatur posisi dan membantu adiknya memasukkan batang kemaluannya ke dalam lubang anus Ratna. Bles! Batang kemaluan adik ci Donna akhirnya berhasil masuk ke dalam anus Ratna yang sudah tidak keruan bentuknya karena sedari tadi diobok-obok oleh ci Donna.<br />
Rasa sakit bercampur nikmat membuat Ratna membelalakkan matanya, ia membuka mulutnya dan merintih Ã¢â‚¬Å“Aaa..Ã¢â‚¬Â Ci Donna membaringkan Ratna dari posisi terduduk menjadi terlentang dengan adiknya di bawahnya (dan batang kemaluannya yang sudah menancap ke dalam lubang anus Ratna). Ã¢â‚¬Å“Ratna, aku yakin kamu akan menyukai ini dan pasti ketagihan sesudah ini.Ã¢â‚¬Â Ci Donna memasukkan dildo-nya ke dalam lubang kemaluan Ratna.<br />
Ratna yang berada di tengah dengan keadaan tak berdaya, berusaha menahan nikmat bercampur nyeri di lubang kemaluan yang sudah dihujami dildo dari ci Donna Ã¢â‚¬â€ serta batang kemaluan adik ci Donna yang menancap di lubang anusnya. Mulailah ranjang bergoyang.. mulanya perlahan, namun semakin lama semakin cepat.. demikian pula dengan rintihan-rintihan Ratna.. Ã¢â‚¬Å“Aaa.. aa..Ã¢â‚¬Â Ratna masih mengenakan kaca mata minusnya ketika permainan ini dimulai.<br />
Ci Donna tertawa melihat Ratna berusaha bertahan: Ã¢â‚¬Å“Jangan ditahan dan jangan dilawan Ratna Ã¢â‚¬â€ nikmati saja, sayang!!Ã¢â‚¬Â Perlahan-lahan rintihan Ratna mulai berubah menjadi jeritan nikmat penuh birahi.. Ã¢â‚¬Å“Ah.. ah.. yess.. mmhh.. MM.. AAHH..Ã¢â‚¬Â Kenikmatan disetubuhi di kedua lubangnya secara bersamaan membuat Ratna kehilangan kendali. Ratna yang sopan dan alim perlahan larut.. perlahan berubah menjadi Ratna yang liar, sifat liar yang seakan ditularkan dari ci Donna Ã¢â‚¬â€ meracuni pikiran Ratna yang semula begitu bersih dan polos. Ã¢â‚¬Å“Yah.. teruskan!! LEBIH CEPAT LAGI CI DONNA..!! AA.. AA.. MMHH.. MM..Ã¢â‚¬Â<br />
Ratna menggenggam seprei ranjang dengan sangat kuat, keringat meluncur deras dari sekujur tubuhnya Ã¢â‚¬â€ membuat kulitnya tampak mengkilat di bawah cahaya lampu. Hal ini membuat Ci Donna semakin bernafsu mempercepat gerakan pinggulnya. Ratna semakin menikmatinya Ã¢â‚¬â€ ia memejamkan matanya sambil memegang rambut ci Donna. Ã¢â‚¬Å“AGH.. Enak sekali.. Ci.. aa.. aku.. belum pernah.. uuh.. senikmat ini..Ã¢â‚¬Â Adik Ci Donna menganal lubang pantat Ratna sambil meremas-remas kedua toket Ratna dari belakang, walaupun ukuran toket Ratna relatif kecil Ã¢â‚¬â€ namun ini tidak mengurangi rangsangan demi rangsangan yg diterimanya. Ã¢â‚¬Å“Auuh.. ah..Ã¢â‚¬Â mulut Ratna menganga dan mengeluarkan teriakan-teriakan yg semakin tidak jelas. Tubuhnya pun mulai menegang; tahulah Ci Donna bahwa Ã¢â‚¬Å“anak didiknyaÃ¢â‚¬Â saat ini hampir mencapai puncak kenikmatan.<br />
Ci Donna mengurangi kecepatan bermainnya dan mengubah gerakan maju-mundurnya menjadi gerakan mengaduk dengan menggoyangkan pinggulnya. Ratna secara alami mengikuti gerakan Ci Donna dengan menyesuaikan gerakan pinggulnya. Hal ini justru menambah kenikmatan bagi Ratna. Sampai akhirnya Ã¢â‚¬â€ tubuh Ratna benar-benar menegang dan Ratna melepaskan teriakan yang cukup panjang dan memenuhi seluruh ruangan kedap suara tersebut. Sesudah itu, teriakan berhenti dan seluruh ruangan menjadi sepi. Ci Donna mencabut dildo dari lubang vagina Ratna, ternyata dildo tersebut sudah ditutupi cairan kental dan bahkan saat Ci Donna menariknya keluar Ã¢â‚¬â€ ada sebagian dari cairan tersebut menetes dan adapula yang masih merekat antara dinding vagina Ratna dengan dildo Ci Donna.<br />
Adik Ci Donna juga mencabut dildonya dari lubang anus Ratna dan merebahkan Ratna yang sudah lemas di ranjang. Ratna masih memejamkan kedua matanya Ã¢â‚¬â€ Ci Donna melepas kacamata Ratna yang masih dikenakannya dan meletakkannya di meja yg terletak di tepi ranjang. Ã¢â‚¬Å“Lain kali, kalau mau main Ã¢â‚¬â€ jangan lupa lepas dulu kacamatanya..Ã¢â‚¬Â Ci Donna tersenyum dan mencium Ratna, kemudian ia melepaskan dildonya dan menggelatakannya begitu saja di lantai. Ia memandang adiknya dan berkata: Ã¢â‚¬Å“Kamu jangan bengong saja, kamu masih punya tugas satu lagi.Ã¢â‚¬Â Sesudah berkata demikian, ia duduk di lantai Ã¢â‚¬â€ melebarkan kedua pahanya: mengarahkan lubang vaginanya yang sudah basah ke arah adiknya.<br />
Kemudian ia menunjuk ke arah vaginanya: Ã¢â‚¬Å“Ayo: gunakan lidahmu.Ã¢â‚¬Â Adiknya mengerti apa yg harus dilakukan. Ia menjilat-jilat lubang kemaluan ci Donna dengan hati-hati. Keenakan, c ci Donna memejamkan matanya Ã¢â‚¬â€ nafasnya tak beraturan: desahan- desahan nikmat meluncur keluar tak terkontrol dari mulutnya. Ia menjambak rambut adiknya dan menekan-nekan wajah adiknya itu ke lubang vaginanya: Ã¢â‚¬Å“Errghh.. aaghh.. niikkmmaatt sekkaallii.. ss..!!Ã¢â‚¬Â Ci Donna benar-benar menikmati setiap hisapan dan jilatan yang diberikan adiknya ke liang kewanitaannya, namun di tengah ambang sadar dan tidak Ã¢â‚¬â€ Donna ingat bahwa ia tidak ingin mencapai orgasme dengan cara seperti ini. Ã¢â‚¬Å“Aah.. tunggu say Ã¢â‚¬â€ bee.. berhentii duluu.. mmh.. sekarang giliran.. cici ngerjain punya kamuu..Ã¢â‚¬Â<br />
Adik Ci Donna menurut dan berhenti. Ci Donna bergerak kemudian berjongkok membelakangi adiknya, sekarang ia dalam keadaan berjongkok menghadap pantat adiknya. Adiknya agak kebingungan dengan tingkah laku cicinya. Namun Donna cuek saja: tangan kirinya ia lewatkan di antara kaki adiknya, dan dengan tangannya itu ia mencengkeram buah pelir adiknya dengan halus dan mulai memijat- mijatnya. Ã¢â‚¬Å“Tenang saja, sayang Ã¢â‚¬â€ kujamin kamu akan suka sekali..Ã¢â‚¬Â Ci Donna tersenyum penuh nafsu, dan dengan tangan kiri masih memegang buah pelir adiknya Ã¢â‚¬â€ ia mengangkat telapak tangannya, menghadapkannya ke arah wajahnya Ã¢â‚¬â€ dan meludahi tangannya sendiri kemudian mengerut-ngerutkan tangannya.<br />
Kemudian ia melingkarkan tangan kanannya dari pinggang sebelah kanan adiknya Ã¢â‚¬â€ langsung menuju ke arah kontol adiknya. Dan mulailah ia mengocok-ngocoknya batang kemaluan adiknya itu dengan tangan kanannya yang sudah dilumasi air ludahnya sendiri. Ã¢â‚¬Å“Aaaghh.. duh, enak sekali ci..Ã¢â‚¬Â Ci Donna meneruskan gerakan tangannya sampai ia merasa batang kemaluan adiknya sudah cukup keras. Sesudah itu, ia membalikan badannya dan mengambil posisi nungging di lantai. Tahulah adik ci Donna apa yang diinginkan cicinya ini. Ia juga mengatur posisi di belakang cicinya: Ã¢â‚¬Å“Awas ya Ã¢â‚¬â€ pokoknya aku nggak mau anal. Maenin lubangku yang biasa aja.Ã¢â‚¬Â Adiknya menurut, dan permainan dimulai.<br />
Adik ci Donna memulai gerakannya dengan perlahan, Ã¢â‚¬Å“Mmm.. masih kurang, lagi dong!Ã¢â‚¬Â Gerakan dipercepat, Ci Donna memejamkan matanya keenakan. Ia menambah kenikmatan dengan menggesek-gesek klit-nya sendiri, dengan sebelumnya membasahi jari-jarinya dengan cara mengulumnya sendiri. Ã¢â‚¬Å“Uuuaah.. enaakk sayaang.. Mmmh..Ã¢â‚¬Â Permainan ini berlangsung agak lama sampai ci Donna minta ganti posisi lagi. Kali ini ia ingin disetubuhi dengan posisi tubuh menyamping. Ci Donna menyampingkan tubuhnya yang seksi dan sudah mandi keringat tadi ke arah kanan, sementara adik Ci Donna mengangkat paha mulus cicinya sebelah kanan dan menyandarkannya ke bahu sebelah kirinya.<br />
Dengan demikian, ia dengan leluasa dapat memasukkan batang kemaluannya ke lubang ci Donna. Ia mulai bergerak maju mundur, Ã¢â‚¬Å“Aaahh.. mm..Ã¢â‚¬Â Untuk sekedar menambah kenikmatan, ia mengarahkan tangan kanannya ke arah pantatnya sendiri dan menggerakan jari tengahnya keluar- masuk lubang pantatnya. Ã¢â‚¬Å“Kyyaahh.. uuhh..Ã¢â‚¬Â Tubuh ci Donna terus bergoyang-goyang Ã¢â‚¬â€ toketnya pun bergerak naik turun tak beraturan mengkuti irama tubuhnya. Adik ci Donna yg sedari tadi bergitu terangsang dengan gerakan toket cicinya sendiri itu sudah tak tahan lagi, ia memajukan tangan kanannya guna meremas toket kanan cicinya itu. Ã¢â‚¬Å“Oh Ã¢â‚¬â€ susumu begitu empuk ci..Ã¢â‚¬Â Ci Donna hanya tersenyum, ia mencabut tangannya dari lubang pantatnya Ã¢â‚¬â€ dan ikut meremas toketnya bersama-sama dengan tangan adiknya itu. Permainan terus berlangsung, Ci Donna merasakan tubuhnya sendiri mulai menegang Ã¢â‚¬â€ ia sendiri sudah tidak mampu berpikir jernih lagi.<br />
Hanya kenikmatan yang dirasakan sekujur tubuhnya sekarang. Ã¢â‚¬Å“AAHH.. AAKKUU.. MMH..Ã¢â‚¬Â Keluarlah Ci Donna, mencapai orgasme yang diidam-idamkannya dalam posisi menyamping. Tercapailah segala keinginannya selama ini.<br />
Demikian pula adik ci Donna, ia segera berdiri karena sudah tidak tahan lagi, dan ci Donna mengetahui hal ini Ã¢â‚¬â€ karena ia sudah berhasil meraih orgasme, maka ia berniat membantu adiknya untuk mengeluarkan seluruh peju yang sangat ia inginkan itu. Ci Donna berjongkok, tersenyum menggoda ke arah adiknya dan mulai mengocok batak kemaluan adiknya Ã¢â‚¬Å“Nah, sekarang cici ingin merasakan nikmatnya cairan kejantananmu. Ayo sayang.. keluarkan Ã¢â‚¬â€ jangan ragu.. ayo!Ã¢â‚¬Â Ci Donna memainkan batang kemaluan adiknya naik turun dengan gerakan memutar sambil sesekali menjilat pangkal kemaluan adiknya. Ã¢â‚¬Å“Aih.. masih belum keluar juga.. sebentar..Ã¢â‚¬Â Sambil mengocok batang kemaluan adiknya dengan menggunakan tangan kanannya, ci Donna memijat buah pelir adiknya. Ã¢â‚¬Å“Ah.. ci.. aku mau keluar nih..!!Ã¢â‚¬Â Ci Donna langsung mengarahkan ujung batang kemaluan adiknya ke arah mulutnya, menyambut cairan peju yang segera muncrat masuk ke dalam mulutnya.<br />
Ratna yang sedari tadi tergeletak lemas berusaha bangkit dan merangkak menuju ci Donna dan adiknya. Ã¢â‚¬Å“Ci Donna.. saya juga mau..Ã¢â‚¬Â, kata Ratna sambil menunjuk ke arah mulutnya sendiri. Tetes peju terakhir sudah habis meluncur turun ke dalam mulut ci Donna yang seksi. Ci Donna menelan sedikit peju adiknya dan menahan sisanya di dalam mulutnya. Ia tersenyum dengan mulut belepotan peju adiknya, membelai Ratna, kemudian membaringkannya, dan meletakkan kepala Ratna di pangkuannya. Ratna yang sudah lemas hanya menurut seperti anak kecil. Dengan gerakan yang lembut, ci Donna menyentuh bibir Ratna dan menggerakannya ke bawah dengan jari telunjuknya.<br />
Ratna mengerti apa yang dimaksud ci Donna, ia membuka mulutnya. Bibirnya bergetar. Ci Donna kembali tersenyum Ã¢â‚¬â€ ia mengarahkan mulutnya tepat di atas bibir Ratna yang sudah merekah, kemudian membuka dan memuntahkan peju lengket yang sudah bercampur dengan air liur ci Donna, turun memasuki mulut Ratna.<br />
Peju dalam mulut ci Donna sudah habis dipindahkan ke dalam mulut Ratna. Ci Donna tersenyum lebar dengan sedikit sisa peju bercampur liur pekat yang menetes dari ujung bibirnya.<br />
Kembali, dengan gerakan lembut Ã¢â‚¬â€ ci Donna memberi isyarat kepada Ratna untuk menutup mulutnya. Ratna menuruti dan tersenyum bersamaan dengan ci Donna. Ã¢â‚¬Å“Nah, aku tidak pernah pelit kepada gadis manis seperti kamu. Ambillah bagianmu dan nikmatilah.Ã¢â‚¬Â Ratna menelan peju yang sudah diberikan ci Donna kepadanya. Ã¢â‚¬Å“Terima kasih ci..Ã¢â‚¬Â Kemudian ia bangkit dan duduk Ã¢â‚¬â€ Ratna menyentuh wajah ci Donna dengan lembut. Ratna kembali membuka mulutnya, bergerak maju ke arah bibir ci Donna sambil menjulurkan lidahnya. Ci Donna yang mengerti maksud Ratna segera menyambut ciuman Ratna dengan menjulurkan lidahnya pula. Mereka berciuman sampai lama Ã¢â‚¬â€ dan saling menjilati sisa-sisa peju hingga bersih.<br />
Sejak saat itu, kehidupan ci Donna dan Ratna selalui dipenuhi dengan petualangan: hampir setiap bulan Ratna Ã¢â‚¬ËœmenjebakÃ¢â‚¬â„¢ teman kuliahnya Ã¢â‚¬â€ entah itu pria atau wanita. Mungkin dalam kesempatan lain, Ratna dapat membagi kisah petualangannya disini..</p>
<p>Tamat</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelayu.com/cerita-horor/kamar-rahasia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>WC Kampus 1</title>
		<link>http://cerita.modelayu.com/cerita-horor/wc-kampus-1.html</link>
		<comments>http://cerita.modelayu.com/cerita-horor/wc-kampus-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 05:08:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pendongeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Horor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pusatcerita.com/?p=388</guid>
		<description><![CDATA[Sebelumnya saya ingin berterima kasih pada seluruh personil situs 17tahun baru ini mau memuat ceritaku ini. Saya sudah lama bergelut dengan situs 17tahun, dari situ saya membaca banyak sekali pengalaman rekan-rekan seputar kegiatan seksnya. Terus terang selama saya membaca 17tahun (dan sekarang 17tahun2), kesan yang saya dapat betapa bebasnya rekan-rekan melakukan kegiatan seks. Saya sempat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelumnya saya ingin berterima kasih pada seluruh personil situs 17tahun baru ini mau memuat ceritaku ini. Saya sudah lama bergelut dengan situs 17tahun, dari situ saya membaca banyak sekali pengalaman rekan-rekan seputar kegiatan seksnya. Terus terang selama saya membaca 17tahun (dan sekarang 17tahun2), kesan yang saya dapat betapa bebasnya rekan-rekan melakukan kegiatan seks. Saya sempat menganggap mereka adalah orang-orang yang tidak bermoral, namun pandangan itu berubah setelah saya sendiri mengalaminya. Jadi, untuk meringankan beban perasaan, saya memberanikan diri untuk membagi pengalaman saya di 17tahun. Mohon maaf bila kalimat yang saya gunakan kurang enak dibaca, sebab saya memang bukan penulis handal. Selamat membaca.<br />
Namaku Rendy (nama samaran, mohon maaf bila ada kesamaan), umur 22 tahun, tinggi 170 cm, berat 60 kg. Saya mahasiswa ekonomi jurusan manajemen semester 7 di sebuah universitas swasta di Jakarta. Aku tergolong anak yang biasa-biasa saja di lingkungan pergaulan kampus, maksudnya dibilang kuper tidak tapi dibilang anak gaul pun tidak. Aku anak bungsu dari dua bersaudara, yang berasal dari keluarga menengah atas. Di kampus aku dikenal oleh anak-anak cewek sebagai cowok pendiam, namun aku tidak demikian bila sedang berkumpul dengan teman-teman cowokku.<br />
Aku memang agak sulit bergaul dengan cewek. Bila berhadapan dengan cewek, otomatis sikapku langsung kaku, pikiran buntu mau ngomong apa, jangankan ngomong, basa-basi pun aku sulit. Aku bingung mesti bersikap bagaimana. Tetapi yang aku perlu sangat tegaskan di sini bahwa aku sama sekali bukan homo! Sebab aku masih terangsang bila melihat cewek cantik apalagi memakai baju ketat lewat di hadapanku, sampai kalau cewek itu belum hilang dari pandanganku, aku belum mau melepaskannya. Hal itu sering menjadi beban pikiranku, aku berkhayal dapat memiliki cewek itu, namun untuk berkenalan saja rasanya berat sekali. Bila aku sedang birahi, tetapi aku tidak tahu harus menyalurkannya ke mana, aku suka melakukan onani. Hal itu sudah kulakukan sejak SMP.<br />
Ternyata sifat pendiamku membuat cewek-cewek di kampusku penasaran, sepertinya mereka ingin tahu lebih banyak tentangku. Salah satu cewek yang penasaran dengan diriku adalah teman sekelasku sendiri. Namanya Desti, wajahnya cukup manis kalau menurutku, bodinya langsing namun tidak terlihat kurus, kulit putih, rambut lurus sebahu, dan bibirnya tipis. Dari informasi temanku, diam-diam dia sering memperhatikan tingkah lakuku. Namun biar aku lebih percaya aku ingin mengeceknya sendiri. Bila aku kebetulan sedang sekelas dengannya, aku ingin melihat sikapnya.<br />
Dia kalau duduk sering di belakang, jadi aku sengaja mengambil posisi duduk di depan. Begitu kuliah berjalan 30 menit, dengan tiba-tiba aku pura-pura menoleh ke belakang ngomong dengan temanku sambil dengan cepat melirik ke arah cewek itu. Benar ternyata! Begitu aku melirik ke arahnya, dia agak gugup sambil cepat-cepat membuang muka. Kulihat wajahnya merah. Aku dalam hati geli juga melihatnya, namun kalau dipikir-pikir ini lampu hijau buatku. Kejadian itu berlangsung lama dengan model yang berbeda-beda, sepertinya dia memang ingin menarik perhatianku. Aku menjadi termotivasi untuk berkenalan lebih jauh dengannya.<br />
Kemudian pada suatu hari aku mendapat kejadian yang seakan-akan aku memperoleh impianku. Saat kuliah usai pada pukul 19:00, selepas keluar ruangan aku pergi ke WC untuk sekedar mencuci muka. Tadinya aku ingin menunaikan shalat Isya, tetapi aku ingin melakukannya di rumah saja. Kebetulan WC terletak agak menyendiri dari gedung utama, soalnya WC yang di gedung utama sedang diperbaiki. Di sana tinggal beberapa orang saja yang sedang berwudhu. Selesai mencuci muka aku juga sekalian ingin buang air kecil, tapi pintu masih tertutup, berarti masih ada orang. Aku menunggu sampai orang yang tadi berwudhu sudah pergi semua, tinggal aku bersama dengan “seseorang” yang di dalam WC.<br />
Setelah lama menunggu, terdengar suara kunci pintu dibuka, akhirnya. Begitu pintu dibuka, yang keluar ternyata Desti, cewek yang selama ini diam-diam suka padaku. Aku kaget campur girang, terus campur grogi melihatnya. Sikapku hampir salah tingkah, begitu pun dengannya. Kami saling bertatapan mata dan terdiam beberapa saat. Dia agak tersenyum malu-malu. Kok dia ada di WC cowok sih? pikirku. Kemudian aku memberanikan diri untuk memulai pembicaraan, walaupun sangat kupaksakan.<br />
“Des, kok elo make WC cowok sih?” tanyaku.<br />
“Ehh.. itu.. mm.. tempat cewek penuh semua, aku males ngantri. Lagian aku sudah kebelet banget sih.. he.. he..”<br />
“Iya juga sih, lagian tidak bagus kalau ditahan, bisa penyakit,” kataku sok-sok nasehatin.<br />
“Eh sorry yah aku pengen wudhu dulu,” sambil minggirin tubuhku yang kebetulan menghalangi kran air.<br />
Setelah itu gantian aku yang masuk ke kamar mandi untuk buang air kecil, sementara Desti sedang berwudhu. Rupanya Desti sudah selesai duluan sebelum aku keluar kamar mandi, soalnya sudah tidak ada suara apa-apa lagi. Aku kemudian keluar tanpa berpikiran apa-apa. Aku mendadak heran begitu melihat pintu tertutup, padahal tadi terbuka. Aku berpikir apa yang menutup pintu si Desti, tapi ngapain? Apa dia mau ngerjain aku, atau temanku yang suka iseng. Tapi tidak mungkin soalnya hari ini tidak ada jadwal kuliah yang bareng komplotan aku. Aku tambah heran lagi kalau pintunya ternyata dikunci. Lama-lama aku kesel juga, siapa sih nih yang reseh? Masa penjaga kampus jam segini sudah ngunci-ngunci segala, padahal mahasiswa masih banyak yang berkeliaran.<br />
Hampir 10 menit aku di dalam WC sial itu. Aku berharap ada yang lewat, biar bisa minta dibukakan. Tiba-tiba mataku mendadak melihat ada satu pintu kamar mandi yang tertutup. Berarti ada orang dong, tapi kok tidak ada suaranya. Terus masa sih dia betah sekali di kamar bau pesing seperti itu. Sudahlah, aku tidak suka penasaran lama-lama. Dengan hati-hati aku dekati pintu itu, belum ada suara sedikit pun. Pikiranku sudah mulai curiga, bisa aja nih orang begitu selesai kencing “anunya” kejepit resleting, terus pingsan deh. Aku aneh-aneh aja yah, sudah situasi seperti itu masih punya pikiran konyol saja, dasar.<br />
Begitu sampai di depan pintu, tanganku sudah mau ngetuk, tiba-tiba dalam hitungan detik pintu terbuka dengan cepat. Aku langsung kaget setengah mati, bukan soal pintu yang mendadak kebuka, tapi siapa yang ada di dalam kamar mandi itu. Sebab yang kulihat adalah ternyata si Desti dalam keadaan telanjang bulat sambil senyum-senyum ke arahku. What the hell is going on?<br />
Aku masih terbengong-bengong dengan pemandangan yang disiarkan secara langsung itu. Tanpa sadar aku mulai melangkah mundur sambil mataku menyapu seluruh bagian tubuh Desti. Emang sih, aku tidak mau munafik, walau bagaimana pun aku akui bodinya bagus banget. Kulitnya putih mulus, langsing, dadanya proporsional sama badannya, putingnya masih berwarna pink, sementara yang paling aku suka, bagian kemaluannya mulus, tidak ada bulu sama sekali. Aku memang suka sama cewek yang bulu kemaluannya dicukur, aku tidak begitu nafsu sama kemaluan yang berbulu lebat. Belahan kemaluannya juga kelihatan bersih, tidak hitam seperti cewek lain kebanyakan. Pasti dia juga suka merawat bagian vitalnya itu. Bersih juga nih cewek.<br />
Aku sama Desti masih saling tatap-tatapan. Tidak ada yang berani ngomong. Suasana benar-benar hening. Kemudian entah keberanian dari mana, aku mulai mendekati dia lagi, tapi perlahan-lahan. Mata Desti masih memandang mataku dalam-dalam, sambil lidahnya menjilati bibirnya sendiri. Gila, nih cewek sepertinya sudah nafsu banget, pikirku. Melihat aku sudah berani mendekat, dia juga mulai melangkah ke depan. Akhirnya aku benar-benar berhadapan langsung sama cewek manis plus bugil. Kami masih belum berkata-kata sama sekali. Cuma mulut Desti kelihatan mulai terbuka seperti ingin bilang sesuatu. Terus terang, aku lama-lama jadi terangsang juga kalau terus-terusan kayak gini.<br />
Aku mulai mengelus pipinya, sambil membelai rambutnya. Dia kelihatan senang sekali, nafasnya sudah mulai memburu, sampai hembusannya terasa ke dadaku. Tanganku juga sudah mulai berani mengelus pantatnya yang mulus habis. Terus dia mulai mendekati wajahnya ke wajahku, bibirnya langsung mengecup bibirku dengan lembut. Untuk pertama kalinya aku dicium sama cewek. Jelas aku belum begitu mahir, jadi aku tidak membalas. Tapi lama-lama aku jadi menikmati ciumannya, secara reflek kubalas dengan mainkan lidahku ke dalam bibirnya. Aku mulai mengerti soalnya aku juga sudah pernah nonton BF, jadi saat kejadian itu berlangsung, aku sudah tahu apa yang mesti kulakukan, meskipun masih agak kaku.<br />
Kami masih berciuman dengan cukup lama. Desti sangat menikmatinya dengan menghisap lidahku kuat-kuat. Aku juga mempererat tekanan bibirku. Sambil tetap berciuman tanganku mencoba untuk mengusap kemaluannya. Rasanya kenyal-kenyal lembek. Aku berusaha mencari klitorisnya, pas ketemu kuusap-usap dengan lembut. Desti mulai sedikit mengerang, sehingga ciuman kami terlepas.<br />
“Hehh.. iyahh.. bener.. itunya.. teruss..” desah Desti keenakan.<br />
Lama juga aku mengusapi kemaluannya. Tanganku mulai merasakan kemaluannya agak basah.<br />
“Terus dong Ren.. kok diem.. sshshsh..” Rupanya Desti agak kesel tanganku berhenti mengusap.<br />
Mulutku ganti menciumi lehernya yang putih mulus. Aromanya bikin aku makin gencar melumat lehernya. Aku jilat, hisap, sampai kugigit sedikit. Desti menengadahkan wajahnya ke atas menahan nikmat. Tangannya mulai berani menggosok-gosok batang kemaluanku yang masih terhalang celana panjang. Diremasnya batang kemaluanku dengan keras. Sepertinya dia sudah tidak sabaran ingin mencoba punyaku. Sabar sayang.<br />
Buah dadanya yang mengeras ke depan membuatku makin penasaran. Kuraba-raba buah dadanya, aku remas secara bergantian.<br />
“Ahh.. sshh.. aduh.. duh.. pelan-pelan.. dong.. say..” Desti agak kesakitan.<br />
Aku langsung minta maaf dan aku meremasnya jadi lebih lembut. Dia jadi senyum lagi. Puas meremas payudara, putingnya yang sudah tegak aku hisap sambil kukemut. Kusedot susunya sampai buah dadanya merah akibat kemutanku. Buah dadanya kelihatan mengkilat bekas jilatanku.<br />
Dia mulai membuka bajuku, terus celana panjangku. Aku risih juga setengah bugil di depan dia. Akhirnya tanpa ragu-ragu dia meloroti CD-ku. Batang kemaluanku langsung mencuat tegak di hadapannya. Dia kagum memandangi batang kemaluanku yang tidak terlalu panjang. Dielus-elusnya batang kemaluanku dengan lembut, selembut tangannya. Dia masih mengagumi sebentar sebelum dimasukkan ke mulutnya. Dia mulai mencium-cium kecil batang kemaluanku sambil biji zakarku yang keleweran. Kemudian yang bikin jantungku berdebar, dia mulai membuka mulutnya sambil mendekatkan batang kemaluanku ke arah mulutnya.<br />
Kemudian dia melihat ke wajahku sambil tersenyum, terus sedikit demi sedikit dia memasukkan batang kemaluanku ke mulutnya. Baru setengahnya batang kemaluanku di dalam mulutnya. Sepertinya dia ragu-ragu. Aku kasih dukungan kepadanya dengan membelai-belai rambutnya. Dia mencoba memasukkan lebih dalam lagi batang kemaluanku.<br />
“Slepps..” masuklah seluruh bagian batang kemaluanku ke dalam mulutnya. Aku sudah tidak dapat lagi melihat barang kesayanganku, semuanya sudah tertutup oleh mulutnya.<br />
Kemudian dia mulai menggerak-gerakkan mulutnya. Mulanya perlahan, lama-lama gerakannya makin cepat. Sedotan dan hisapannya sangat nikmat. Aku menahan geli yang amat sangat. Hampir saja aku ejakulasi di mulutnya. Tapi jangan! Belum saatnya. Aku masih ingin menikmati elusan dan kekenyalan dinding liang kemaluannya. Maka kukasih tanda agar Desti berhenti sebentar. Aku mencoba rileks sebentar sambil mempermainkan putingnya. Setelah yakin tak akan terasa keluar, kuijinkan lagi Desti melanjutkan kesenangannya. Sempat ada cairan bening yang keluar dari ujung batang kemaluanku, dan langsung dijilat oleh Desti.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelayu.com/cerita-horor/wc-kampus-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>WC Kampus 2</title>
		<link>http://cerita.modelayu.com/cerita-horor/wc-kampus-2.html</link>
		<comments>http://cerita.modelayu.com/cerita-horor/wc-kampus-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 05:08:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pendongeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Horor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pusatcerita.com/?p=387</guid>
		<description><![CDATA[
Kami mulai berganti permainan. Desti menopangkan salah satu kakinya di atas bak mandi. Pahanya dibukanya lebar-lebar. Terlihatlah gundukan liang kemaluannya yang bersih. Aku mengambil posisi agar dapat mengamati pemandangan indah ini. Kubuka lipatan liang kemaluannya, dagingnya berwarna merah jambu, kedua dinding liang kemaluannya masih sangat rapat. Desti memang pandai merawat kewanitaannya. Kucoba untuk menjilatnya. Bau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry">
<p>Kami mulai berganti permainan. Desti menopangkan salah satu kakinya di atas bak mandi. Pahanya dibukanya lebar-lebar. Terlihatlah gundukan liang kemaluannya yang bersih. Aku mengambil posisi agar dapat mengamati pemandangan indah ini. Kubuka lipatan liang kemaluannya, dagingnya berwarna merah jambu, kedua dinding liang kemaluannya masih sangat rapat. Desti memang pandai merawat kewanitaannya. Kucoba untuk menjilatnya. Bau kemaluannya sangat enak, aroma kewanitaannya sangat merangsang. Aku tidak tahan lagi, langsung saja aku “makan” sepuasnya.<br />
Kumainkan klitorisnya pakai lidahku dengan gerakan memutar. Desti menggelinjang hebat. Badannya menahan geli seperti orang kejang. Aku terus memainkan liang kemaluannya yang lama kelamaan mulai basah oleh cairannya. Mata Desti terlihat sayu, pasrah terhadap apa yang kulakukan pada liang kemaluannya. Bibir atasnya mengigit bibir bawahnya dengan kuat. Tubuhya seakan-akan menghindari jilatanku, namun terhalang oleh tembok. liang kemaluannya rasanya hangat dan lembut. Betul-betul liang kemaluan ternikmat yang pertama kurasakan.<br />
Puas menjilati, aku coba masukkan jariku sambil mengait-ngaitkan ke seluruh penjuru dinding liang kemaluannya. Tentu saja Desti makin gila reaksinya, kelonjotan tidak karuan. Dia sampai menjepitkan kedua pahanya hingga kepalaku terperangkap di antara sepasang paha putih mulus. Liang kemaluannya mengeluarkan cairan yang cukup banyak sampai meleleh ke pipiku dan sebagian ke bibirku. Karena penasaran ingin tahu bagaimana rasanya cairan kewanitaan, aku rasakan saja sedikit. Rasanya aneh, cuma enak, agak asin. Jadi kuhisap sebanyak-banyak dari lubang kemaluannya.<br />
Tiba-tiba Desti mendorong kepalaku yang sedang asyik menjilati kemaluannya. Kupikir permainan apa lagi nih yang diinginkan oleh dia?<br />
“Ren, gue sudah tidak tahan nih, masukin dong punya elo!” pinta Desti dengan nafas masih ngos-ngosan.<br />
Aku agak ragu-ragu, sebab untuk yang satu ini memang tidak sembarangan. Aku masih bengong, sambil mikir-mikir.<br />
“Kok malah bengong sih lo.. ayo cepet dikit dong!” katanya dengan sedikit heran campur kesal.<br />
Biarinlah, aku sudah terlanjur nafsu, rugi kehilangan kemaluan enak kayak gini.<br />
Dengan posisi mengangkang seperti tadi, kuarahkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya dengan perlahan-lahan. Kutempelkan kepala batang kemaluanku ke bibir kemaluannya sambil kugesek-gesek dengan kepala batang kemaluanku. Kulihat liang kemaluannya sudah basah sekali, jadi masukinnya mudah-mudah gampang. Kucoba dorong batang kemaluanku ke dalam, masuk sedikit demi sedikit. Pantatku juga kudorong untuk menambah tenaga. Tapi batang kemaluanku baru masuk seperempat saja, itu pun rasanya sudah sempit sekali. Desti pun kelihatan meringis menahan sakit, air matanya sedikit mengalir.<br />
Gila! aku benar-benar dapat lubang kemaluam perawan, segini saja rasanya seperti sudah mentok. Tapi aku belum menyerah, kutekan lagi batang kemaluanku dengan sekuat tenaga, sambil mempertahankan kekerasan batang kemaluanku.<br />
Saat kuhentak, Desti agak menjerit, “Auuwww.. sststs.. sakiitt.. hghhgg..”<br />
Aku mendengarnya jadi kasihan, cuma gimana lagi, yang mau dia juga. Kulihat batang kemaluanku sudah masuk setengahnya. Dengan satu tekanan kuat lagi pasti dapat masuk semua, pikirku.<br />
Kudorong lagi pantatku. “Sreett.. bless.. ahh..” Akhirnya batang kemaluanku sudah masuk seluruhnya. Aku bangga juga melihatnya, begitu pun dengan Desti, wajahnya seakan-akan memberi applaus.<br />
Kubiarkan batang kemaluanku menancap di dalam agar lubang kemaluannya terbiasa menerima batang kemaluanku. Kemudian baru aku memulai gerakan maju-mundur perlahan-lahan. Batang kemaluan serasa dipijat-pijat oleh dinding liang kemaluannya yang bergerinjal. Rasanya enak juga, pantas orang banyak yang senang kawin. Batang kemaluanku ngilu dielus-elus oleh jepitan liang kemaluanDesti. Semula yang tadinya agak seret lama-lama jadi tambah licin, sehingga dapat mempercepat gesekanku.<br />
Selama kami bersenggama, mulut Desti mendesah sangat keras dan tak karuan. Aku khawatir kalau sampai ada yang dengar. Sesekali aku melihat pemandangan dimana batang kemaluanku dengan lubang kemaluan Desti saling bergesekan. Kupandangi sekilas wajahnya, dia tampak sangat menikmati hubungan seksual ini, begitu juga denganku. Biar tidak bosan, kuremas-remas juga buah dadanya yang mengguncang-guncang akibat hentakan kami. Hampir 15 menit alat kelamin kami saling bergesekkan, Desti masih terlihat enjoy, sedangkan aku sudah tidak kuat lagi. Batang kemaluan seakan-akan ada yang menggelitik dari dalam. Memaksa mengelurkan isinya. Namun aku tidak mengecewakan Desti, soalnya aku sudah mulai timbul rasa sayang sama dia. Kutahan desakan maniku. Sabar, belum saatnya. Pelayanan Desti memang luar biasa, hampir aku dibuat “ngecret” sekali lagi.<br />
Aku minta berganti posisi. Aku ingin menyetubuhi dia dengan cara yang konvensional, yaitu aku di atas sedangkan dia telentang di bawah. Desti pergi mengambil bajunya untuk alas dia telentang. Dalam posisi itu lubang kemaluan Desti terlihat lebih menantang. Lubang kemaluan Desti benar-benar mengkilat oleh cairanku dan dia. Di bagian dalamnya tampak busa putih, mungkin itu dari gesekan dahsyat barusan. Kubuka pahanya lebar-lebar. Aku kembali memasukkan batang kemaluanku. Kali ini lebih lancar, sebab sudah agak lebar lubangnya. Kembali kugesek-gesekkan batang kemaluanku dengan cepat. Kali ini aku ingin menuntaskannya, aku tidak tahan lagi. Gerakan Desti lebih hebat dari sebelumnya, ia memutar-mutarkan pantatnya. Aku berusaha mengimbangi gerakan liarnya dengan memutar pinggulku ke arah berlawanan. Rasanya sungguh sangat luar biasa. Aku tak akan dapat melupakan persetubuhan ini.<br />
Akhirnya, aku merasakan kembali desakan yang luar biasa dari kejantananku. Aku makin pasrah saat merasakan ada yang menjalar dari buah zakar menuju dengan cepat ke arah ujung batang kemaluanku. Seluruh tubuhku serasa bergetar hendak pelepasan.<br />
“Dess.. gue.. sudah tidak kuat lagi.. nihh.. gue keluarin sekarang yah..” rintihku.<br />
“Sabar.. se.. bentar.. sayang.. barengan.. dong.. gue.. juga.. bentar.. lagi.. sshstt.. hehghh..”<br />
Tiba-tiba batang kemaluanku memuncratkan air mani ke lubang kemaluannya berkali-kali. Desti menjerit dengan keras, seperti meregang nyawa. Tak kusangka banyak sekali spermaku yang berlumuran memenuhi lubang kemaluannya. Kemudian Desti bangkit untuk menjilat dan mengulum batang kemaluanku yang belepotan sperma. Dia menelan semua spermaku sampai batang kemaluanku bersih mengkilat. Bibirnya memperlihatkan senyum kepuasan dan bahagia. Desti memelukku yang masih kelelahan, nafasnya masih ngos-ngosan. Kami saling mengecup dengan mesra, sambil bercanda kecil.<br />
Setelah itu kami membersihkan diri bersama sebelum meninggalkan WC. Selama membersihkan diri kami sempat mengobrol sebentar, soalnya aku ingin tahu maksud dia melakukan seperti tadi.<br />
“Des, kok elo berani sih ngelakuin itu?” tanyaku.<br />
“Ehmm.. gue.. sebenernya.. emang suka banget sama elo, abis elo orangnya cool sih, jadi ya.. pas banget sama tipe cowok kesukaanku..” Desti menjawab agak malu-malu, (dasar).<br />
“Tapi kenapa mesti kayak tadi? Kan elo bisa bilang sama gue..”<br />
“Sorry deh, soalnya gue takut elo nolak gue, gue tidak mau sakit hati.<br />
Aku merasa tidak enak dengarnya. Selama ini aku telah menyia-nyiakan kesempatan. Lalu aku akhirnya berterus terang kalau aku juga suka banget sama dia. Dia juga seakan tidak percaya. Saking senangnya, dia langsung meluk erat dan cium bibirku. Kalau WC ini bisa bicara, mungkin dia satu-satunya saksi dari kejadian ini.<br />
Kuantar Desti ke rumah kontrakannya kira-kira jam 20:00 WIB. Sebelumnya kami saling bertukar nomor telepon. Desti sebenarnya dari Bandung dan memilih kuliah di Jakarta. Dalam perjalanan pulang aku sempat khawatir kalau persetubuhan yang kami lakukan tadi membuahi hasil, sebab aku tidak sempat mengeluarkan maniku di luar. Habis keenakan sih.<br />
Semenjak kejadian di WC itu hubunganku terus berjalan, aku sering jalan bareng, makan, nonton, kadang kami suka melakukan hubungan seks dengan mencoba berbagai gaya. Ternyata Desti termasuk tipe cewek yang dapat memuaskan cowok, terbukti dari cara bercintanya. Kami melakukannya sampai 4 kali dalam sehari. Untuk mencegah kehamilan, katanya dia selalu minum obat anti hamil setiap habis berhubungan. Namun yang paling menyedihkan, dia ternyata sudah dijodohkan oleh orang tuanya untuk menikah dengan pilihan orang tuanya itu. Kami hanya sempat jadian selama 6 bulan. Dia dipanggil orang tuanya ke Bandung untuk menikah dengan tunangan resminya. Namun dia bilang ke aku, kalau tunangannya itu cuma dapat tubuhnya saja, bukan hatinya, sedangkan hati dan tubuhnya tetap selalu ada padaku. Dia sekarang sudah menikah. Walaupun begitu, kami tetap saling e-mail untuk melepas kerinduan kami. Kalau dia kebetulan ke Jakarta tanpa sepengetahuan suaminya, kami tak segan-segan bercinta sepuasnya.<br />
Begitulah kisahku. Kejadian yang kualami tak dapat kulupakan dalam hidupku. Siapa yang menyangka, cowok yang kuper sama cewek sepertiku ternyata dapat langsung mencicipi tubuh cewek. Hal itu membuatku jadi PD dengan cewek, sehingga aku sekarang jadi lebih terbuka sama cewek. Tapi bukan berarti aku play boy, kalau itu aku sama sekali tidak suka. Bagi para netter atau pembaca setia situs detikhot ini yang ingin kasih komentar silakan kirim pendapat anda ke email-ku. Kalau ada perkembangan baru, mudah-mudahan dapat kulanjutkan lagi kisahku.</p>
<p>Tamat</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelayu.com/cerita-horor/wc-kampus-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bercinta Dengan Cewe Misterius</title>
		<link>http://cerita.modelayu.com/cerita-horor/bercinta-dengan-cewe-misterius.html</link>
		<comments>http://cerita.modelayu.com/cerita-horor/bercinta-dengan-cewe-misterius.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 05:04:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pendongeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Horor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pusatcerita.com/?p=378</guid>
		<description><![CDATA[
Pengalaman ini terjadi kira-kira dua tahun yang lalu waktu aku masih aktif jadi wartawan di sebuah tabloid kuning di Jakarta. Pengalaman yang menyenangkan sekaligus memprihatinkan. Betapa tidak, ternyata kehidupan malam di Jakarta sudah sedemikian parahnya.
Saat itu, Herwin, salah satu kontributor berita yang banyak mempunyai kenalan kalangan jetset mengajakku untuk mengikuti sebuah ‘pertemuan’ sekaligus menyaksikan sendiri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry">
<p>Pengalaman ini terjadi kira-kira dua tahun yang lalu waktu aku masih aktif jadi wartawan di sebuah tabloid kuning di Jakarta. Pengalaman yang menyenangkan sekaligus memprihatinkan. Betapa tidak, ternyata kehidupan malam di Jakarta sudah sedemikian parahnya.<br />
Saat itu, Herwin, salah satu kontributor berita yang banyak mempunyai kenalan kalangan jetset mengajakku untuk mengikuti sebuah ‘pertemuan’ sekaligus menyaksikan sendiri dan melakukan peliputan terselubung. Wah, kala itu aku masih baru ditugaskan untuk peliputan semacam ini. “Pokoknya ntar lu diem aja deh, ngikut gue aja, ” begitu saran Herwin, “..jam tujuh gue jemput, lu kudu udah siap!” Aku tersenyum sambil dalam hati berharap agar malam segera tiba. Pengalaman baru nih.<br />
Tak terasa aku sudah duduk manis dalam BMW Herwin. Aku banyak diam. Herwin terus saja bicara. Ia tampak amat antusias. Senyum tak lepas dari wajah indonya. Ia memang keturunan Jerman. Tubuhnya tinggi tapi agak kurus. Cukup tampan.<br />
Mobil perlahan menikung menuju sebuah perumahan elit di kawasan pinggir kota. Beberapa kali berbelok hingga ke sebuah rumah teramat mewah bergaya mediterranian. Dua orang bertubuh gempal menghampiri. Sambil menurunkan kaca mobilnya, Herwin melambai. Kedua penjaga itu kemudian tersenyum seakan mahfum. Rupanya mereka sudah sering bertemu. Kami berdua keluar mobil, salah satu penjaga yang berambut keriting mengambil alih kemudi.<br />
Kami menaiki tangga menuju meja kecil di sudut ruang tamu yang ditunggui seorang perempuan cantik dengan gaun malam dengan dada rendah hingga nampak belahan payudara putihnya. Herwin menuliskan namanya di sebuah buku tamu. Sambil menunjuk dengan kelima jari tangan kirinya, ia membisikkan sesuatu ke telinga Herwin. Si indo ini mengangguk tanda mengerti.<br />
“Udah mulai acaranya Ren, sebagian mencar ke ruangan-ruangan. Biasa.. cari privasi.”<br />
Aku mengangguk. Dadaku berdegup, kencang sekali. Apalagi saat kami berjalan menuju sebuah ruangan, nampaknya ruangan utama, ada dua lelaki dengan kemeja yang sedikit lusuh dan sebagian kancingnya terbuka duduk di atas sofa kulit lebar persis di tengah ruangan. Seorang perempuan dengan tanktop duduk di atas meja kaca di depan kedua laki-laki tadi. Mereka tertawa-tawa. Seorang perempuan lagi berjalan melintas dari kamar kecil. Aku tertegun sambil mataku tak lepas memandangi perempuan itu. Alamak cantiknya. Tubuhnya mungil, tak lebih dari 160 senti tingginya. Kulitnya putih bersih bak pualam. Dadanya membusung dari balik blouse putihnya yang maskulin. Kacamata bertengger di atas hidung mancungnya.<br />
Aku perlahan mengikuti langkahnya. Entah kemana si Herwin. Aku tak lagi perduli. Si mungil ini berjalan santai menuju tepi kolam renang di mana sudah ada seorang laki-laki dengan hanya mengenakan underwear minim hitam, duduk di atas sebuah bangku kayu. Dia tersenyum mengulurkan tangan kanannya. Si cantik ini menyambut uluran tangannya. Sambil mengucapkan beberapa patah kata, ia mencium laki-laki itu pada bibirnya.<br />
Berikutnya sungguh tak terduga, perempuan itu merogoh sesuatu di balik underwear laki-laki itu dan menarik keluar batang pelirnya. Sesaat kemudian sambil berjongkok ia mengulum barang yang masih terkulai itu. Ia menghisapnya dengan penuh kelembutan. Perlahan pelir itu membesar dan menegang. Si laki-laki yang beruntung itu menengadah sambil mengerang. Pasti keenakan.<br />
“Asyik ya..”, Herwin yang tiba-tiba menghampiriku berkomentar.<br />
Ia menyodorkan segelas minuman ringan padaku. Di sampingnya, sang resepsionis tadi menggandeng mesra.<br />
“Ayo, daripada nganggur gabung gue aja,” ajak Herwin.<br />
Aku tersenyum sambil mengikuti langkah sepasang sejoli itu.<br />
Kami menuju ke sebuah kamar dengan interior khas romawi. Sebuah ranjang lebar dengan empat pilar di masing-masing sudutnya, dibalut kelambu di keempat sisinya.<br />
“Saya Anne, kita belum kenalan kan..” sapa si resepsionis.<br />
Aku mnyambut tangannya yang terulur, “Rendi,” sahutku pendek.<br />
Mataku seakan tak bisa lepas dari belahan dadanya yang amat rendah itu. Nampaknya Anne maklum. Ia nampaknya tipe perempuan yang to the point. Dilucutinya gaun ungunya yang membuatnya nampak seksi itu. Kini bahkan makin seksi, dengan bra minim dan G-stringnya.<br />
Ia lalu merebahkan tubuh langsingnya di atas ranjang. Herwin yang nampak bernafsu melepasi seluruh pakaiannya. Kemaluannya sudah mengeras. Hmm, besar juga. Anne bangkit menjemput Herwin lalu mengusap-usap ‘cerutu Kuba’ miliknya. Dijilatinya lembut sebelum kemudian dihisapnya. Aku gelisah. Kulepas satu persatu pakaianku. Anne memberi kode untuk aku ikut bergabung. Begitu aku sudah berdiri sejajar Herwin, Anne meraih zakarku yang tegang. Tak sebesar punya Herwin memang. Tapi Anne nampaknya tak perduli.<br />
Ia menikmati tiap kulumannya pada kemaluanku. Aku pun demikian, bahkan lebih menikmati. Rongga mulutnya yang hangat kadang menyempit dan menyedot pelir mungilku. Uuuhh.. tak kuasa aku menahan erangan. Lidahnya seakan tahu detil daerah sensitf milikku. Sesekali ia mengulum kedua butir buah zakarku. Ahh..asyiknya. Hanya beberapa saat kemudian aku tak bisa menahan nikmatnya gairah. Aku menegang sesaat kala batangku berdenyut memompakan mani ke mulut Anne yang menganga. Ia terpejam. Mata sipitnya tinggal segaris makin menampakkan etnis tionghoanya.<br />
Dengan lunglai aku meninggalkan Anne yang masih melanjutkan ‘tugas’ melayani nafsu Herwin. Aku mengamati saja tingkah polah mereka. Herwin mendorong pelan tubuh Anne. Anne tersenyum sambil melepaskan branya. Wahh..payudaranya sungguh indah. Membusung seakan menantang dengan puting yang tegang. Herwin menjilati puting merah jambu itu. Anne merintih. Kedua belah pahanya membuka seakan siap menerima kemaluan Herwin. Tapi Herwin masih belum puas mengulum dan meremas dada kenyal Anne. Anne menarik-narik zakar Herwin pelan. Sementara tangan lainnya menekan pantat Herwin agar makin dekat pada selangkangannya. Ia mengerang dan melenguh panjang pendek. Antara nafsu dan geli.<br />
Akhirnya Herwin mengalihkan aktivitasnya pada selangkangan Anne. Kemaluan Anne sekilas amat bersih. Rambut di kelaminnya hanya tipis saja. Terlihat semu merah di sekitar selangkangan itu. Amat menggairahkan. Aku jadi terangsang lagi. Bibir kemaluannya sedikit menggelambir keluar belahan kemaluannya. Herwin menguaknya lalu mulai menjilatinya. Ia sedikit berkonsentrasi pada klitorisnya. Anne mnggelinjang. Meliuk-liuk bak penari ular. Aku makin terangsang.<br />
Anne menjambak rambut herwin lalu memohon untuk segera dimasuki. Herwin dengan patuh dan sigap mulai beraksi. Dihunjamkan pelan kemaluannya pada belahan daging bersemu merah itu.<br />
“Ooohh..,” erang Anne.<br />
Herwin mengocok liang peranakan Anne dengan santai. Kadang dipercepat, kadang melambat. Anne nampak menikmati. Sesekali pahanya dinaikkan saat ia merasa tak kuasa menahan geli. Herwin melepas kemaluannya, lalu Anne membalikkan tubuh pucatnya. Diangkatnya sedikit bokongnya yang padat. Herwin kembali menyelipkan kelaminnya yang basah oleh lendir Anne. Anne kembali mengerang panjang. Sodokan demi sodokan Herwin membuatnya makin tak bisa mengendalikan diri. Apalagi Herwin mengocoknya dengan goyang memilin-milin dan menjelajah ke segala penjuru. Ia memang sudah amat lihai. Padahal umurnya baru akan 25 tahun. Sementara Anne mungkin masih belum 20.<br />
Saat aku beranjak hendak melihat situasi di luar, mendadak pintu terbuka. Sesosok mungil mengintip dari balik kacamatanya. Si cantik berkacamata di tepi kolam tadi rupanya.<br />
“Kamu nganggur?” tanyanya.<br />
Aku sedikit bingung. Ia memberi kode dengan jemari lentiknya. Aku mengikutinya. Tubuh mungil telanjang itu amat menarik nafsuku. Sesampai di tepi kolam, ia menyuruhku masuk ke kolam. Sementara ia menaruh kacamatanya di atas meja kayu. Aku menuruti perintahnya. Dingin memang. Tapi apalah artinya bila imbalannya gadis mungil yang imut ini.<br />
Ia mengangkangkan pahanya di tepi kolam memperlihatkan kemaluannya yang tak kalah menariknya dibandingkan punya Anne. Sama-sama bersemu kemerahan kontras dengan putihnya kulit si empunya kemaluan. Namun yang ini lebih berambut. Seksi. Aku menarik-narik bibir kemaluannya dengan bibirku dengan cara menjepitnya keluar. Ia merintih. Aku melirik ke atas memandang wajah cantiknya. Ia memandangku balik. Tersenyum. Lalu ia beringsut memasukkan tubuh sintalnya ke dalam kolam. Aku memeluknya. Kurasakan genggaman lembut pada kelaminku yang keras. Aku bergegas naik ke tepi kolam. Ia masih berusaha menggenggam pelirku. Lalu ia menjilati batangku dari pangkal bagian bawah hingga ke ujung.<br />
Ahh..enaknya. Beberapa kali ia melakukan hal serupa sebelum kemudian ia menyapukan ujung lidahnya pada kepala kemaluanku. Oh, makin tak kuasa aku menahan gairah. Mulutnya lalu mengulum kelaminku. Kali ini ia menyedotnya. Himpitan hangat rongga mulutnya amat nyaman bagiku. Lidahnya menekan-nekan beberapa bagian batang zakarku. Terkadang ia menghisapnya lalu memilin-milin penuh gairah. Nafsu yang amat sangat.<br />
Berkali-kali ia menyibakkan rambutnya yang hitam sebahu. Kemudian aku yang tak tahan kembali menceburkan diri ke kolam. Ia dengan bersemangat menggenggam pelirku. Genggaman itu menuntun zakarku untuk menyelinap dalam liang hangat yang nyaman. Aku mencium bibirnya yang tipis. Ia membalasku dengan hangat. Lidahnya menyapu hampir tiap sudut mulutku. Sebaliknya aku menjelajahi seluruh rongga vaginanya yang nikmat. Di antara kuluman mulutnya kudengar erangan gairahnya. Sesaat ia melepaskan kuluman lalu tersengal-sengal menahan nafsunya.<br />
Lumayan lama kami bercinta dalam air. Tak terasakan lagi dinginnya kolam. Yang ada hanya nikmat tak terlukiskan. Kali ini aku beraksi dari belakang. Ia menghadap dinding kolam. Aku tak melepas kesempatan menikmati payudaranya yang montok. Kenyal dan amat kencang. Sekitar 34B sizenya. Kedua tanganku meremas dan membelainya lembut. Putingnya yang kemerahan kupilin-pilin. Ia makin menjadi, menggelinjang. Erangannya mengeras. Aku makin bernafsu. Makin kupercepat frekuensi kocokan. Ia menggeliat-geliat. Nafasnya menderu, hingga sesaat aku merasakan klimaks diikuti muncratnya maniku pada rongga vaginanya. Ia berbalik menciumku sambil berucap, “Thanks, you’re one of the best!”.<br />
Secepat itu ia langsung beranjak naik lalu berlari kecil keluar. Sejak itu hingga akhirnya aku dan Herwin pulang tak kulihat lagi sosok mungil itu.</p>
<p>Tamat</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelayu.com/cerita-horor/bercinta-dengan-cewe-misterius.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepi Sendiri</title>
		<link>http://cerita.modelayu.com/cerita-horor/sepi-sendiri.html</link>
		<comments>http://cerita.modelayu.com/cerita-horor/sepi-sendiri.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 05:02:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pendongeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Horor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pusatcerita.com/?p=375</guid>
		<description><![CDATA[
Sambil melemparkan kertas yang sudah lecek itu ke lantai, Fani menghenyakkan tubuhnya dengan kesal ke kasur. Matanya menerawang, wajahnya tampak galau. Sudah 2 bulan berlalu sejak Ema pindah ke Surabaya mengikuti orang tuanya yang dipindah tugas ke sana. Fani, sang siswa kelas 2 SMP berwajah cantik, berambut hitam panjang dan lurus, dengan tinggi 162 cm [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry">
<p class="text2" align="justify"><span id="cerita_size" class="font_10"><span class="justify"><span id="cerita_font" class="family_1">Sambil melemparkan kertas yang sudah lecek itu ke lantai, Fani menghenyakkan tubuhnya dengan kesal ke kasur. Matanya menerawang, wajahnya tampak galau. Sudah 2 bulan berlalu sejak Ema pindah ke Surabaya mengikuti orang tuanya yang dipindah tugas ke sana. Fani, sang siswa kelas 2 SMP berwajah cantik, berambut hitam panjang dan lurus, dengan tinggi 162 cm dan berat 48 kg, seorang anak kecil yang baru memasuki masa puber dan baru mulai menjelajahi seksualitas tubuhnya, merindukan kekasihnya, Ema, sang adik kelas yang berwajah cantik berambut cepak seperti lelaki. Fani merindukan kasih sayang dan kehangatan tubuhnya, serta merindukan sentuhan lembutnya. Namun surat dari Ema yang baru diterimanya siang itu seakan tak menunjukkan Ema juga merindukan dirinya. Segalanya baik-baik saja dan menyenangkan bagi Ema. Kesibukan pindahan dan mengurus sekolah baru dan segala tetek bengek lain membuat Ema tak sempat menulis surat lebih dini. Besok hari pertama liburan sekolah, membuat Fani merasa semakin kesepian dan sendirian. Air mata mulai mengambang di pelupuk mata Fani. Ia menggigit bibir menguatkan hati dan memeluk guling, berusaha melupakan kegalauan di hatinya. Fani jatuh tertidur dengan gelisah.</span></span></span></p>
<p>Esok paginya Fani keluar kamar dalam keadaan yang lebih tenang. Fani turun mendapatkan rumah sepi, hanya Iroh sendirian sedang mengepel lantai. Pembantu rumah tangga keluarga Fani ini baru berusia 22 tahun, belum menikah, namun tak seperti pembantu idaman para lelaki nakal yang umumnya seksi dan cantik. Walau berdada montok, Iroh bertubuh agak gemuk, berkulit hitam dan sama sekali tidak cantik.</p>
<p>“Mbak Iroh, Mama ke mana?”<br />
“Tadi pergi  pagi-pagi banget, Neng. Katanya ke rumah Bu Anwar,” jawab Iroh.</p>
<p>Setiap ke rumah Bu Anwar pasti Mama pulangnya baru sore banget, adiknya dibawa, berarti aku akan semakin kesepian dan sendirian seharian ini, pikir Fani. Ia pergi ke ruang makan, meninggalkan Iroh melanjutkan tugasnya, duduk dengan pasrah di meja makan, meminum segelas susu. Tak bersemangat, Fani memutuskan untuk pergi mandi, mungkin akan membangkitkan semangatnya.</p>
<p>Fani bermaksud mengatur keran air panas dan air dingin agar kehangatan air sesuai dengan yang ia inginkan. Namun Fani tak memperhatikan bahwa posisi pengatur air sedang ada di kiri, hingga saat membuka keran, air dingin tak mengucur dari keran ke dalam bathtub, melainkan langsung mengucur dengan deras dari shower di atas kepalanya, membasahi Fani yang belum buka pakaian. Dengan terkejut, Fani kontan menutup keran kembali. Fani terpana menatap dasternya yang basah cukup banyak dan melekat di pahanya. Namun kejadian ini memancing pikiran nakal dalam benaknya. Ia tersenyum nakal.</p>
<p>Kali ini Fani memindahkan posisi pengatur air lebih dahulu, lalu mulai mengatur kedua keran hingga puas dengan kehangatan air yang mengucur dari keran. Lalu, tanpa membuka dasternya, Fani memindahkan posisi pengatur air hingga air hangat mengucur dari shower, membasahi seluruh tubuhnya sekaligus seluruh pakaiannya. Fani berdiri di bawah kucuran air, meraba-raba tubuhnya dari balik dasternya yang telah basah kuyup dan melekat di tubuhnya. Ia sabuni tubuh yang masih dibalut daster basah itu dengan sabun cair hingga berbusa melimpah. Fani terkikik geli melihat pemandangan ini. Kenakalan ini membangkitkan semangatnya kembali, membuatnya berani. Sendirian tak berarti tak bisa menikmati suasana, pikirnya. Gesekan tangannya tiba di selangkangannya dan Fani pun menyelipkan tangannya ke balik daster basahnya dan menyabuni selangkangannya yang masih terbalut celana dalam.</p>
<p>“Mmmhh..” Pikiran nakal dan sentuhan pada bagian peka di tubuhnya mulai membangkitkan birahi Fani. Ia melanjutkan sentuhan-sentuhan lembutnya pada selangkangannya, lalu mulai menyelipkan sebelah jarinya ke dalam celana dalamnya, menyentuh bibir vaginanya yang telah basah kuyup, selain oleh air hangat dari shower, mungkin oleh lendir gairahnya juga.</p>
<p>“Mmmhh..” Fani kembali mendesah merasakan setruman rangsangan hangat dan lembut yang disebabkan oleh sentuhan jarinya sendiri itu. Pikirannya semakin nakal dan melayang ke khayalan sensual yang telah lama tertanam dalam benaknya, namun tak pernah benar-benar ia khayalkan. “Mmmhh..” Dengan mata terpejam, jarinya kembali bergerak memberi gesekan lembut pada bibir vaginanya, lagi, lagi, lagi, dan “CLACK!” Tersentak dari khayalannya, Fani membuka mata mendapatkan Iroh di pintu kamar mandi dengan mata terbeliak memandangnya.</p>
<p>“Ehh, ma’ap, Neng! Kok Neng Fani mandi pintunya nggak  dikunci?”<br />
Fani sudah tak ingat bahwa ia lupa mengunci pintu karena benaknya terlalu disibukkan dengan khayalan nakalnya untuk mandi tanpa melepas pakaian.<br />
“Lagian kok Neng Fani mandi masih pakai daster sih?” tanya Iroh lagi sambil matanya menyapu seluruh tubuh Fani, dan terhenti dengan terkejut pada tangan Fani yang terselip ke balik dasternya, terjepit selangkangannya.<br />
“Ma’ap, Neng.. ma’ap..” kata Iroh terbata-bata sambil  beranjak keluar dan menarik pintu kamar mandi.<br />
“Mbak!” sentak Fani.<br />
Iroh  terhenti dalam keadaan pintu setengah tertutup.<br />
“Masuk, Mbak!” kata  Fani.<br />
Iroh tak bergerak.<br />
“Sini!” sentak Fani lagi.</p>
<p>Dengan ragu, Iroh pun masuk kembali ke kamar mandi. Fani sendiri baru menyadari bahwa tangannya masih terjepit di selangkangannya, namun tatapan Iroh pada tubuhnya yang terbalut daster basah melekat, penuh busa sabun, dengan tangan di selangkangan, tatapan Iroh pada kenakalannya, tak membuat Fani merasa malu atau takut, sebaliknya hal itu semakin membangkitkan birahi dalam dirinya. Rasa tertangkap basah sedang berbuat nakal membuat dirinya merasa jalang. Fani sangat menyukai perasaan itu dan ia sangat terangsang karenanya. Fani melepas tangannya dari selangkangannya dan menatap Iroh yang tertunduk tak berani menatap majikan mudanya ini.</p>
<p>“Mbak Iroh tutup pintunya dulu, terus duduk di kloset,” kata Fani memerintahkan, kali ini dengan lembut dan tak menyentak. Iroh dengan bingung menjalankan perintah majikannya. Ia duduk di kloset duduk yang tertutup itu, namun tetap menunduk tak berani memandang Fani. “Santai aja, Mbak,” kata Fani lagi dengan lembut, “Mbak lihat ke sini dong,” lanjut Fani dengan nada memohon namun terbersit sedikit nada nakal pada suaranya. Iroh ragu dan tak langsung berani menatap hingga Fani melanjutkan dengan manja, “Mbaak.. ayo dong.. Nggak papa kok.”</p>
<p>Iroh akhirnya berani mengangkat kepala mendapatkan Fani tersenyum nakal ke arahnya, lalu menarik dasternya yang telah basah kuyup melekat pada tubuhnya itu secara perlahan dan menggoda. Masih terus terpercik air hangat dari shower, Fani bahkan menggoyang-goyangkan pantatnya perlahan dengan nakal sementara dasternya semakin tertarik ke atas, menampilkan celana dalam yang sama basahnya. Iroh menelan ludah antara canggung dan bingung menyaksikan strip show nakal majikan belianya yang cantik ini. Akhirnya seluruh daster terlepas dan Fani menyabetkan daster basah itu ke arah Iroh sehingga air menciprat deras pada sang pembantu.<br />
“Ah!” pekik Iroh terkejut.<br />
“Neng Fani  nakal! Iroh basah nih!” sentak Iroh walaupun tak bernada marah, bahkan ia  terkikik geli setelah itu.<br />
Fani tersenyum menyadari Iroh sudah semakin rileks menghadapinya, dan kata-kata “nakal” dari mulut sang pembantu membuat darahnya berdesir dan semakin membangkitkan gairahnya.</p>
<p>Fani menjatuhkan daster ke lantai dan mini set di dada mungilnya mulai dilepas dan segera menyusul sang daster di lantai. Di bawah percikan shower, Fani yang kini tinggal memakai celana dalam mulai meraba-raba buah dada dan puting mungilnya dengan lembut. Kepalanya terdongak ke atas dan bibir tergigit merasakan birahi yang mulai semakin merebak dalam tubuhnya. Mendadak Fani menengok dan menatap Iroh yang tampak menyukai pertunjukan sensual di depannya. Sepenuhnya menyadari ada yang menyaksikan kenakalannya membuat rangsangan dalam diri Fani semakin meledak-ledak. Dengan gerak semakin menggoda, Fani mengangkat kedua tangan ke kepala, mempertontonkan ketiaknya yang putih mulus tanpa bulu, sambil menggoyang-goyang pantat dan dadanya dengan lembut, perlahan dan sensual, di bawah kucuran deras air hangat yang menetes-netes dari tubuhnya. Fani lalu menyibak rambutnya yang panjang hitam dan basah itu hingga tersampir di depan dadanya. Ia menatap mata Iroh lalu menggerakkan bibirnya memberi kecupan jarak jauh sampai berbunyi, “Cup!” Iroh hanya bisa tersenyum kecut melihat ini.</p>
<p>Fani berbalik lalu mulai melorotkan celana dalamnya, juga secara perlahan dengan gerakan pantat yang semakin lama semakin menyembul keluar itu, menggoda Iroh yang menelan ludah menyaksikannya. Fani menungging dan melepas celana dalam dari pergelangan kakinya, namun mempertahankan posisi itu beberapa saat sambil menggoyang pantat mulusnya dengan nakal dan menggoda. Fani kembali berbalik menghadap Iroh, lalu ia melempar celana dalamnya secara asal hingga menceplok keras di cermin, membasahi cermin yang berkabut oleh hawa panas dari air shower, lalu perlahan-lahan celana dalam basah sang gadis nakal merosot hingga mendarat di wastafel. Fani mengangkat sebelah kakinya ke pinggir bathtub sehingga pahanya yang kini mengangkang lebar itu mempertontonkan vaginanya yang telah merekah penuh birahi dan basah kuyup oleh guyuran air hangat dan lelehan lendir gairah. Tidak membuang waktu, Fani langsung mendaratkan jarinya menggesek-gesek vagina mudanya yang berwarna merah muda itu dari bawah ke atas secara perlahan dan menggoda, membuat Iroh menggigit bibir mengkhayalkan kenikmatan nakal yang kini dirasakan sang majikan belia.</p>
<p>“Mmm.. mm.. mm.. oohh..” desah Fani mulai terdengar di sela nafasnya yang tersengal-sengal menahan gairah selagi jarinya menggesek-gesek vaginanya. Gesekan jari Fani berhenti di ujung atas vaginanya dan kini ia mempermainkan klitorisnya yang telah mengacung keras penuh birahi itu dengan ujung jarinya, sementara sebelah tangannya naik kembali meraba-raba puting mungilnya. “Ohh.. ohh.. ohh.. mmhh..” Fani sedikit membuka matanya yang terpejam untuk melihat Iroh menggigit bibir sambil kedua tangannya meremas-remas ujung roknya, sementara kedua pahanya dirapatkan dan saling bergesek-gesek, tanda ia sendiri sudah mulai terangsang dengan pemandangan di depannya ini, dan mungkin ditambah dengan khayalan di benaknya sendiri. Pemandangan itu membuat Fani semakin terangsang dan mulai semakin liar menggesek-gesek klitoris dan vaginanya, sementara tangan satunya mulai meremas-remas buah dadanya dengan kasar. Desah dan rintihan pun mulai semakin sering terlepas dari bibir mungilnya.</p>
<p>“Ngh.. ngh.. ngh.. ohh.. ohh.. ngh.. ngh..” di antara keliaran gesekan jari dan remasan tangannya, dengan birahi yang mulai meledak-ledak, Fani memasukkan jarinya yang telah dibasahi lendir gairah ke dalam mulutnya, menghisap lendir hangat itu dengan penuh kenikmatan, lalu kembali digesek-gesekkan pada vaginanya. Terus Fani mengulangi itu berkali-kali, sementara aliran air hangat meleleh dari kepala melewati dadanya yang terus diremas-remas dengan liar, turun ke vaginanya yang merekah mendapatkan serangan rangsangan hebat dari jarinya.</p>
<p>Semakin liar dan bernafsu, Fani kini menggunakan dua jari untuk menjepit klitorisnya dari atas sambil kedua jarinya itu menggesek-gesek vaginanya yang telah melelehkan lendir panas, sementara tubuhnya mulai bergelinjang tak terkendali dan mulutnya semakin liar merintih dan mendesah. “Ngghh.. gghh.. ohh.. ohh.. Mbak.. Mbak.. Mbakk.. ohh..” Rangsangan dan kenikmatan gairah pada tubuh Fani mulai merebak mencapai klimaksnya. Dengan tubuh bergelinjang semakin liar dan gesekan jari pada vagina yang juga semakin kasar dan bernafsu, serta remasan pada buah dadanya yang juga semakin kasar dan liar, Fani merasakan setruman rangsangan penuh kenikmatan merebak dari vaginanya ke seluruh penjuru tubuhnya secara perlahan namun terasa tak kunjung berakhir. Iroh melotot tegang dengan tubuh panas-dingin melihat Fani menggelinjang hebat. “Ahh.. ahh.. ahh.. ahh!” Fani menjerit-jerit tak terkendali merasakan kenikmatan puncak yang walaupun sebenarnya hanya berlangsung beberapa detik ini, namun terasa seperti berjam-jam meledak-ledak dalam dirinya, sementara kedua tangannya dengan kasar meremas vagina dan buah dadanya yang menjadi pusat kenikmatan terhebat yang pernah ia rasakan selama hidupnya ini.</p>
<p>“Gggaahh..” Dengan lenguhan terakhirnya, Fani melepas ledakan orgasme yang membuat seluruh tubuhnya lemas bagai tak bertulang, lalu ia pun menggelosor di bathtub, duduk telanjang dengan mata terpejam penuh kenikmatan sementara air hangat masih terus mengucur menyiram tubuhnya.</p>
<p>Iroh menghela nafas panjang disusul nafas yang terengah-engah setelah menyaksikan klimaks yang dinikmati majikannya. Tak terasa, ternyata Iroh pun banyak menahan nafas selama pertunjukan nakal penuh gairah ini digelar oleh Fani. “Mbak, tolong ambilin handuk dong,” pinta Fani pelan dan lembut di sela nafasnya yang juga tersengal-sengal. Iroh langsung melesat keluar, selain ingin mengambil handuk, juga sangat membutuhkan udara segar untuk paru-parunya yang terasa penuh kabut.</p>
<p>Fani menyelesaikan mandinya, lalu mengeringkan badan dengan handuk. Dengan tubuh dibalut handuk, Fani keluar kamar mandi dan menghampiri Iroh yang masih duduk saja di meja makan, kebingungan, tak tahu harus berbuat apa. Fani mengecup pipi Iroh, lalu tersenyum. “Makasih ya, Mbak Iroh, udah nemenin Fani. Kapan-kapan lagi ya?” tukas Fani ceria, seakan itu hanya kejadian biasa yang setiap hari bisa terjadi di setiap keluarga normal. Iroh hanya bisa mengangguk dan Fani berlenggok meninggalkannya dengan perasaan puas dan ringan.</p>
<p>Tamat</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelayu.com/cerita-horor/sepi-sendiri.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Petualangan Mengejar Mimpi</title>
		<link>http://cerita.modelayu.com/cerita-horor/petualangan-mengejar-mimpi.html</link>
		<comments>http://cerita.modelayu.com/cerita-horor/petualangan-mengejar-mimpi.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 11:45:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pendongeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Horor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pusatcerita.com/?p=291</guid>
		<description><![CDATA[
Aku adalah seorang pria berusia 17 tahun. Aku bersekolah di sebuah sekolah swasta yang cukup terkenal di kotaku. Aku tidak terlalu tinggi, tapi tidak juga terlalu pendek, kulitku kuning kecoklatan dan rambutku sedikit cepak di bagian belakang dan samping. Saat ini aku sudah mempunyai pacar, lumayan cantik, kulitnya putih, rambutnya sebahu, namanya Vania. Dia keturunan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry">
<p>Aku adalah seorang pria berusia 17 tahun. Aku bersekolah di sebuah sekolah swasta yang cukup terkenal di kotaku. Aku tidak terlalu tinggi, tapi tidak juga terlalu pendek, kulitku kuning kecoklatan dan rambutku sedikit cepak di bagian belakang dan samping. Saat ini aku sudah mempunyai pacar, lumayan cantik, kulitnya putih, rambutnya sebahu, namanya Vania. Dia keturunan Chinese dan ada sedikit petualanganku dengannya. Tapi itu cerita lain, saat ini aku akan bercerita sedikit tentang pengalamanku, kusebut saja, “Petualangan Mengejar Mimpi”.</p>
<p>Sore-sore sekali aku baru bangun dari tidur siangku. Maklum, kemarin malam aku begadang dan baru tidur sekitar jam 3 subuh, itupun hanya 2 atau 3 jam saja, karena paginya aku harus mengantar ibuku untuk menjemput saudaraku dari Tasikmalaya. Aku sedikit malas, tapi aku memaksakan diri untuk pergi ke stasiun. Saudaraku itu mungkin setingkat dengan bibiku, tapi dia masih sangat muda, hanya terpaut sekitar 3 atau 4 tahun denganku. Sebut saja namanya Sri.</p>
<p>Dia pernah tinggal di rumahku sekitar 1 tahun untuk mengambil program Diploma 1, dan aku sering juga tergiur oleh tubuhnya yang sintal dan padat. Itu tidak aneh, karena dia memang menekuni olahraga, khususnya basket. Dia sedikit lebih tinggi dari aku, dan parasnya cukup menawan. Sri sepertinya sudah lama tahu kalau aku mengincarnya, tapi selama ini belum pernah dia memberikan respon baik positif maupun negatif. Setengah tahun yang lalu dia pulang ke kotanya untuk menjenguk orangtuanya, dan sekarang dia kembali ke kotaku untuk mencari pekerjaan.</p>
<p>Oke, kita kembali ke jalan cerita. Malam harinya aku berniat untuk langsung tidur karena masih sedikit ngantuk. Tapi aku sempat mengintip sedikit ke kamar Sri, dan kulihat dia sedang membereskan pakaiannya. Dari jumlah pakaiannya, aku tahu dia akan lama diam di rumahku. Aku senang juga, siapa tahu saja ada kesempatan untuk mengintipnya mandi, atau bahkan sedikit menyentuhnya. Sekitar pukul 20:00 aku sudah terlelap dan aku sudah tidak ingat lagi apayang terjadi di sekitarku, yang aku tahu hanya nikmatnya bantal dan guling di ranjangku.</p>
<p>Aku bangun sekitar pukul 04:00 pagi, aku sudah kebelet ingin buang air kecil. Segera aku berjalan menuju kamar mandi, dan aku sangat terkejut. Kulihat pintu kamar mandi sedikit terbuka, rupanya tidak ditutup atau mungkin lupa ditutup. Kutengok ke dalam dan kulihat Sri ada di dalam. Aku benar-benar terangsang melihat pemandangan indah yang ada di depanku. Entahdia sedang terangsang atau apa, yang jelas kulihat Sri yang masih memakai pakaian tidur tipisnya, dia meremas-remas dadanya di bawah guyuran shower yang membuat tubuhnya yang basah tercetak jelas di balik baju tidurnya. Ternyata Sri tidak mengenakan bra.</p>
<p>Aku tidak tahan lagi, entah kenapa aku jadi sangat berani, aku masuk ke dalam karena pintunya tidak dikunci. Sri kaget setengah mati, dan segera menutupi dadanya dengan kedua tangannya. Aku pura-pura tenang, dan segera menghadap kloset, dan kubuka celanaku. Kukeluarkan batang kemaluanku dari celana dalamku, dan aku segera kencing di depan Sri.</p>
<p>Sri sendiri sepertinya kagum juga melihat batang kemaluanku yang hampir mencapai ukuran maksimal. Dia memperhatikan sambil sedikit malu-malu. Ketika kulihat wajahnya, Sri memalingkan wajah dan hendak keluar dari kamar mandi. Kontan saja aku meloncat, dengan batang kemaluan yang masih mengeluarkan air kencing, kupeluk Sri dari belakang.</p>
<p>Sri pasrah, sepertinya dia juga tidak menolak ajakanku. Aku mengunci pintu sambil terus memeluknya, dan setelah pintu kukunci, kubuka pakaianku, juga celana dalamku yang basah karena terkencingi. Sri sendiri tidak melawan, dia membiarkan kedua tanganku meremas dadanya yang kencang dan berisi dengan liar.</p>
<p>Aku sedikit bosan dengan permainan itu, karena itu segera tanganku menjalar menuju bawah, ke bagian pahanya, dan kemudian hinggap tepat di sela-sela kakinya. Tangan kiriku yang masih meremas dada Sri segera bergerak cekatan, menyingkapkan pakaian tidurnya yang basah. Tangan kananku belum banyak bekerja, hanya bergerak turun naik mengelus-elus pahanya.</p>
<p>Sri masih terdiam memejamkan mata ketika kulepaskan pakaian tidurnya. Dia kini hanya memakai celana dalam, itupun tidak bisa dibilang menutupi tubuhnya karena celana dalam itu sangat tipis dan basah, sehingga terlihat bulu-bulu halus di sekitar sela-sela pahanya yang putih mulus. Kuremas sekali lagi dadanya yang kiri dan kanan bergantian.</p>
<p>Sri tiba-tiba melonjak kaget ketika jari tangan kananku menyentuh bagian luar liang kemaluannya yang basah berlendir. Aku memeluknya lebih erat, Sri sedikit berontak, tapi itu tidak menyulitkanku. Kugerakkan perlahan jari tengahku menyusup di balik celana dalamnya. Kugerakkan naik turun menggosok permukaan liang kemaluannya yang semakin basah.</p>
<p>Sekitar 5 menit kemudian, kuhentikan permainanku. Sri membalikkan badannya, dadanya naik turun dan nafasnya tidak beraturan. Terlihat sekali kalau dia sangat menikmati permainaku. Kucium belahan dadanya, lalu kujilat puting susunya, kumainkan lidahku di sana dan kurasakan nafas Sri semakin memburu tepat di atas ubun-ubunku. Kujilat puting susu kanannya, sedangkan tangan kiriku meremas dada kirinya. Aku menyukai kedua susunya yang mantap itu, dan sekali-sekali kuhisap putingnya dan Sri selalu mendesah panjang ketika itu kulakukan.</p>
<p>Tangan kananku bergerak ke bawah, mencoba membuka celana dalam Sri dari sela-sela kakinya. Kali ini Sri tidak melawan, dia membuka sedikit kakinya dan itu membuatku mudah mendorong celana dalamnya hingga lututnya yang kemudian merosot hingga lepas. Kembali tangan kananku menuju selangkangan kakinya, dan dengan jari tengahku kuusap lembut permukaan liang kemaluannya yang semakin basah.</p>
<p>Jari telunjuk dan jari manisku kugunakan untuk membuka liang kemaluannya lebih lebar, sedangkan jari tengahku menggosok-gosok bagian tengahnya yang hangat dan berlendir perlahan. Sri mengerang perlahan sambil berusaha mengatur nafasnya yang semakin memburu. Itu tidak berlangsung lama karena beberapa saat kemudian tubuh Sri menggelinjang hebat seperti kehilangan keseimbangan. Kulemaskan liang kemaluan dan dadanya, dan kupeluk dia mencegah dia jatuh. Sri merapatkan tubuhnya dan memelukku dengan erat sambil bergoncang-goncang. Nafasnya memburukeras, kemudian kembali melemah setelah beberapa saat. Aku tahu Sri sudah mencapai puncak, dan ini harus kumanfaatkan.</p>
<p>Setelah Sri bisa berdiri dengan tegap lagi, kembali tangan kananku menuju selangkangannya. Kali ini jari tengahku tidak hanya menggosok-gosok liang kemaluannya, tapi mulai menekan masuk ke dalam. Liang kemaluannya sudah sangat basah, dan terasa lendirnya membasahi jariku. Kurapatkan keempat jariku, dan dengan posisi menggenggam, kutekan liang kemaluannya dari bawah sedangkan ibu jariku menekan dari atas. Lendir segera mengalir ke telapak tanganku, setelah kurasa cukup, kugunakan lendir itu untuk melumuri batang kemaluanku yang sudah sangat tegang. Lendirnya cukupbanyak sehingga batang kemaluanku sudah seluruhnya basah dan licin. Kukocok beberapa kali untukmemastikan lendirnya merata, lalu kembali mengelus liang kemaluan Sri.</p>
<p>Sri sendiri tidak banyak bergerak, dia hanya berdiri sambil memejamkan mata dan menyandarkan tubuhnya ke dinding. Sesekali mulutnya terbuka, tapi dia tidak bersuara. Jari-jariku semakin rajin mengelus liang kemaluannya, dan ketika kutemukan lubang kemaluannya, kutekan jari tengahku ke dalam sehingga seluruhnya masuk ke dalam. Sri mendesah panjang, dan kurasakan jariku seperti di pijit-pijit di dalam. Kugerakkan jariku keluar masuk, dan sesekali kutekandinding liang kemaluannya yang terus menekan jari-jariku. Aku tidak tahan lagi, kupeluk Sri dari depan, dan kuarahkan kepala batang kemaluanku ke bagian liang kemaluannya, kugosok-gosokkan perlahan, dan begitu kutemukan lubang kemaluannya, kuangkat pinggulku sedikit sehingga kepala batang kemaluanku masuk ke dalam.</p>
<p>Sri mendesah sambil memelukku lebih erat. Kugoyang-goyangkan pinggulku tapi tidak kutekan lagi. Sri sepertinya sudah sangat terangsang, dia berbisik di telingaku, “Masukkan.. masukkan sekarang, kumohon, ah..” Aku tahu Sri sudah tidak sabar, begitu pula aku. Sekali lagi kuangkat pinggulku ke atas dengan sedikit menghentak, dan sekitar setengah batang kemaluanku masuk kedalam. Sri mendesah panjang dan kurasakan batang kemaluanku basah oleh lendir. Rasanya hangat dan nikmat karena dinding liang kemaluannya memijit-mijit seperti menghisap batang kemaluanku ke dalam. Kupeluk pinggang Sri, dan dengan segera Sri mengangkat kedua kakinya ke pinggangku. Tangannya memeluk leherku dan kakinya melilit di pantatku. Kutekan tubuhnya ke tembok, dan dengan sekali hentak batang kemaluanku seluruhnya amblas. Sri mengerang perlahan, kemudian berdesah panjang.</p>
<p>Kuhentak-hentakkan pinggulku, dan setiap kali kuhentak, dada Sri mengguncang-guncang tepat di depan wajahku. Kembali kujilat pentilnya yang sudah keras menantang. Aku tak sengaja melirik arlojiku, dan kulihat sudah pukul setengah lima. Aku tidak ingin ada yang mengetahuinya, karena itu aku segera membaringkan tubuh Sri di lantai. Tentu saja batang kemaluanku masih di dalam liang kemaluannya, dan segera kutindih tubuhnya. Kukocok liang kemaluannya, dan Sri berdesah-desah keenakan. Semakin lama kocokanku semakin kencang, dan desahan Sri yang tadi perlahan kini berubah menjadi jeritan-jeritan kecil. Sekitar 5 menit kemudian, kurasakan batang kemaluanku panas, aku akan segera mencapai puncak, dan kupercepat kocokanku. Sri sendiri semakin liar menggeinjang. Sri kemudian menggelinjang hebat, aku tahu dia sudah mencapai klimaks, karena itu kupercepat kocokanku, semakin cepat dan terus bertambah cepat.</p>
<p>Sri menjerit-jerit tertahan, dan ketika hampir puncak, kutarik batang kemaluanku dari liang kemaluannya dan aku segera merangkak maju, kusimpan batang kemaluanku di belahan dada Sri.Sri sepertinya mengerti, dan langsung menekan dadanya ke tengah, menjepit batang kemaluanku. Aku bergerak-gerak seperti mengocok liang kemaluannya, tapi kali ini di dadanya. Ternyata tidak kalah nikmatnya, dan tidak lama kemudian batang kemaluanku semakin panas, dan.. “Crot.. crot.. crot..” Aku berdesah, dan maniku menyembur ke muka dan dada Sri. Tidak lama, aku segera membantu Sri berdiri, dan setelah membersihkan batang kemaluanku, kubuka pintu kamar mandi, setelah kutengok ke luar, tidak ada siapa-siapa, aku segera keluar, tapi akutersandung dan terjatuh.</p>
<p>“Aduh..” aku mengeluh sakit, tapi ketika kubuka mataku, “Lho..” aku benar-benar kaget, ternyata aku jatuh dari ranjangku. Aku baru sadar kalau semua itu hanyalah mimpi, aku tersenyum sambil mengusap kakiku yang sedikit memar. Kulihat arlojiku, pukul 04:00 tepat, aku kebelet, dan segera menuju kamar mandi, tapi sampai di sana, aku terkejut setengah mati, aku sedikit tidak percaya, lalu kugosok mataku dengan kencang, lalu aku membuka mataku lagi, kulihat Sri sedang meremas-remas dadanya di bawah guyuran shower dengan pakaian tidur tipisnya yang sudah basah.</p>
<p>Aku terkejut setengah mati, apa mimpi itu jadi kenyataan? aku tidak peduli, aku segera masuk kedalam, yang ada di dalam pikiranku hanyalah keinginan untuk menikmati tubuh Sri, seperti yang kualami dalam mimpiku. Aku sudah bertekad untuk mengejar mimpiku itu, dan untuk mewujudkan mimpiku, aku tidak peduli resikonya, paling-paling aku jatuh tersandung dan kakiku memar seperti dalam mimpiku. Sekarang yang penting kunikmati tubuh Sri, he..he..he..!</p>
<p>Tamat</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelayu.com/cerita-horor/petualangan-mengejar-mimpi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Balik Kamar WC</title>
		<link>http://cerita.modelayu.com/cerita-horor/di-balik-kamar-wc.html</link>
		<comments>http://cerita.modelayu.com/cerita-horor/di-balik-kamar-wc.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jul 2008 13:55:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pendongeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Horor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pusatcerita.com/?p=265</guid>
		<description><![CDATA[
Pada waktu itu aku masih duduk di SMP kelas II, pernah terjadi kejadian yang sangat mengasyikan dan lebih baik ini jangan ditiru. Pada waktu di SMP, aku termasuk anak yang cukup nakal dan sekolahku itu pun merupakan sekolah yang banyak menampung para anakÃ‚â€“anak nakal, sehingga tanpa kusadari aku pun bisa dibilang lumayan lebih banyak nakalnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry">
<p class="text2"><span id="cerita_size" class="font_10"><span class="justify"><span id="cerita_font" class="family_1">Pada waktu itu aku masih duduk di SMP kelas II, pernah terjadi kejadian yang sangat mengasyikan dan lebih baik ini jangan ditiru. Pada waktu di SMP, aku termasuk anak yang cukup nakal dan sekolahku itu pun merupakan sekolah yang banyak menampung para anakÃ‚â€“anak nakal, sehingga tanpa kusadari aku pun bisa dibilang lumayan lebih banyak nakalnya dari pada baiknya.</span></span></span></p>
<p>Saat itu ada seorang teman sekelasku yang bernama Ika. Ika memang cewek yang paling dekat dengan cowok dan terkenal paling bandel juga nakal. Tidak jarang temanÃ‚â€“teman pun menyimpulkan bahwa dia cewek binal, karena dia berpenampilan agak seronok dibandingkan teman-temannya, yaitu dengan baju sekolah yang tidak dimasukkan ke dalam, melainkan hanya diikat antar ujung kain dan menggunakan rok yang sangat minim dan pendek, yaitu satu telapak tangan dari lutut. Ika seorang gadis yang cukup manis dengan ciri-ciri tinggi yang pada waktu itu sekitar 160 cm, berat badan 45 kg dengan kulit putih serta bentuk wajah yang oval. Ika memiliki rambut sebahu, hitam tebal, pokoknya oke punya tuh doi.</p>
<p>Setelah bel kelas berbunyi yang tandanya masuk belajar, semua muridÃ‚â€“murid masuk ke kelas. Tetapi anehnya, empat anak yang terdiri dari 3 cowok dan 1 cewek itu masih mengobrol di luar kelas yang tempatnya tidak jauh dari WC, dan sepertinya terjadi kesepatan diantara mereka. Setelah pelajaran kedua selesai, temanÃ‚â€“teman cowok yang bertiga itu meminta ijin keluar untuk ke WC kepada guruku yang mengajar di pelajaran ketiga, sehingga membuatku curiga.<br />
Di dalam hatiku aku bertanya, “Apa yang akan mereka  perbuat..?”</p>
<p>Tidak lama setelah temanÃ‚â€“teman cowok meminta ijin ke WC tadi, malah Ika pun meminta ijin kepada guru yang kebetulan guru pelajaran Bahasa Indonesia yang lumayan boring. Rasa penasaranku makin bertambah dan temanÃ‚â€“temanku juga ada yang bertanyaÃ‚â€“tanya mengenai apa yang akan mereka perbuat di WC. Karena aku tidak dapat menahan rasa penasaranku, akhirnya aku pun meminta ijin untuk ke WC dengan alasan yang pasti. Sebelum sampai di WC kulihat temanÃ‚â€“teman cowok kelasku yang bertiga itu kelihatannya sedang menunggu seseorang. Tidak lama kemudian terlihat Ika menuju tempat temanÃ‚â€“teman cowok tersebut dan mereka bersama-sama masuk ke kamar WC secara bersamaan.</p>
<p>Rasa penasaranku mulai bertambah, sehingga aku mendekati kamar WC yang mereka masuki. Terdengar suara keributan seperti perebutan makanan di ruangan tersebut. Akhirnya aku masuk ke kamar WC, secara perlahanÃ‚â€“lahan kubuka pintu kamar WC yang bersampingan dengan kamar WC yang mereka masuki, sehingga percakapan dan perbuatan mereka dapat terdengar dengan jelas olehku.<br />
“Hai Tun, Sep, siapa  yang akan duluan..?” tanya Iwan kepada mereka.<br />
Dijawab dengan serentak dari mulut Ika seorang cewek, dia menjawab dengan nada menantang, “Ayo.., siapa saja yang akan duluan. Aku sanggup kok kalaupun kalian langsung bertiga..!”<br />
Aku bertanya-tanya, apa sih yang mereka perundingkan, sampaiÃ‚â€“sampai saling menunjuk dan menantang seperti itu. Tapi aku tetap terdiam membisu sambil memperhatikan kembali, apa yang akan terjadi.</p>
<p>Setelah itu, tidak lama kemudian Asep menjawab dengan nada ringan, “Yah udah, kalau begitu Kita bertiga barengÃ‚â€“bareng ajah. Biar rame..!” katanya.<br />
Langsung disambut ucapan Asep tersebut oleh Ika,  “Ayo cepetan..! Nanti keburu pulang sekolah.”<br />
Dan akhirnya Utun pun berucap,  “Ayo Kita mulai..!”<br />
Setelah itu tidak terdengar suara percakapan mereka lagi, tetapi terdengar suara reslueting yang sepertinya dibuka dan juga suara orang membuka baju.</p>
<p>Tidak lama kemudian terdengar suara riang mereka bertiga dengan ucapan menanyakan pada Ika, “Hey Ka.., Siapa sih yang paling besar alat kelamin Kami bertiga ini..?”<br />
Ika pun menjawab dengan nada maluÃ‚â€“malu, “Kayanya sih Utun yang paling gede, hitam lagi.” dengan sedikit nada menyindir dan langsung dijawab oleh Utun, “Hey Ka..! Cepetan buka tuh baju Kamu, biar cepet asik si Joni, Kita nih enggak kuat lagi..!”</p>
<p>Setelah terdengar Ika membuka bajunya, tidak lama kemudian terdengar suara temanÃ‚â€“teman cowok bertiga, Utun, Asep, Iwan dengan nada ganas, “Wauw.., benarÃ‚â€“benar body Kamu Ka, kaya putri turun dari langit..!”<br />
Tidak lama kemudian Asep bertanya pada Ika, “Ka.., kalau Aku boleh tidak meraba buah dadamu ini yang bagaikan mangkuk mie ini Ka..?”<br />
Ika pun menjawab dengan nada enteng, “Yah sok aja, yang penting  jangan dirusak ajah..!”<br />
Utun pun sepertinya tidak mau kalah dengan Asep, dia pun bertanya, “Ka.., Aku bolehkan memasukkan alat kelaminku ke lubang gua rawamu ini kan Ka..?” sambil meraba-raba alat kelamin Ika.<br />
Ika pun menjawab dengan nada mendesak, karena alat kelaminnya sepertinya sedang diraba-raba oleh Utun, “Aahh.. uhh.. boleh Tun.. asal jangan sangar yah tun..!”<br />
Dan terakhir terdengar suara Iwan yang tak mau kalah juga, “Ka.., Aku boleh kan menciumimu mulai dari bibir hingga lehermu Ka.., boleh kan..?”<br />
Ika menjawab dengan nada  seperti kesakitan, “Awww.. Uuuhh.. iyaÃ‚â€“iya, boleh deh  semuanya..!”</p>
<p>SuaraÃ‚â€“suara tersebut terdengar olehku di samping kamar WC yang mereka isi, yang kebanyakan suaraÃ‚â€“suara tersebut membuat saya risih mendengarnya, seperti, “Aaahh.. eehh.. aawww.. ehÃ‚â€“eh.. owwÃ‚â€“oowww.. sedap..!”<br />
Dan tidak lama kemudian terdengar suara Ika, “Kalian jangan terlalu nafsu dong..!” kata Ika kepada temanÃ‚â€“teman cowok tersebut, “Karena Aku kan sendirian.., sedangkan Kalian bertiga enggak sebanding dong..!”<br />
Tetapi mereka bertiga tidak menjawab ucapan Ika tersebut, dan akhirnya terdengar suara jeritan kesakitan yang lumayan keras dari Ika, “Aaawww.., sakit..!”</p>
<p>Ika kemudian  melanjutkan dengan ucapan, “Aduh Tun.., Kamu udah mendapatkan keperawanan  Saya..!”<br />
Dijawab dengan cepat oleh Utun, “Gimana Ka..? Hebatkan  Saya.”<br />
Setelah itu Utun pun mendesah seperti kesakitan, “Adu.. aduh.., kayanya alat kelaminku lecet deh dan akan mengeluarkan cairan penyubur.” kata-katanya ditujukan kepada temanÃ‚â€“temannya.<br />
Tidak lama kemudian Iwan  bertanya kepada Ika, “Ka aku bosan cuma menyiumi Kamu aja Ka.., Aku kan kepingin  juga kaya Utun..!”<br />
Iwan pun langsung bertukar posisi, yang anehnya posisi Iwan tidak sama seperti yang dilakukan Utun, yaitu memasukkan alat kelaminnya ke lubang pembuangan (anus) dari belakang, sehingga Ika tidak lama kemudian menjerit kedua kalinya.<br />
“Aaawww.. Iiihh.. perih tahu Wan..! Kamu sih salah  jalur..!” rintih Ika menahan sakit.<br />
Tetapi sepertinya Iwan tidak menghiraukan ucapan Ika, dan terus saja Iwan berusaha ingin seperti Utun, sampai alat kelaminnya mencapai klimaks dan mengeluarkan cairan penyejuk hati. Hanya berlangsung sebentar, Iwan pun menjerit kesakitan dan alat kelaminnya pun dikeluarkan dari lubang pembuangan dengan mengatakan, “Aaahh.., uuhh.., uuhh.., enaak Ka, makasih. Kamu hebat..!”<br />
Asep yang setia hanya meraba-raba payudara Ika dan sekali-kali menggigit payudara Ika. Tetapi ternyata akhirnya Asep bosan dan ingin seperti kedua temannya yang mengeluarkan cairan penyubur tersebut sambil berkata, “Ka.., Aku juga mau kaya mereka dong, ayo Ka..! Kita mainkan..”</p>
<p>Ika menjawab dengan nada lemas, “Aduh Sep..! Kayanya Aku udah  capek Sep, sorry yah Sep..!”<br />
Akhirnya Asep kesal pada Ika dan langsung saja Asep menarik tangan Ika kepada alat kelaminnya dengan menyodorkan alat kelaminnya.<br />
“Ka.., pokoknya Aku enggak mo tahu.., Aku pinggin kaya mereka  berdua..!”<br />
Ika menjawab dengan nada lemas, “Aduh Sep.., gimana yah, Aku benar  benar lemas Sep..!”<br />
Aku tetap terdiam di kamar WC tersebut.</p>
<p>Ada sekitar 45 menit berlanjut, dan aku pun berpikir apakah mungkin mereka berbuat oral seks karena masih duduk di SMP. Hal ini mendorong rasa penasaran tersebut untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Akhirnya aku dapat melihat mereka dari atas, karena kamar WC di sekolahku pada waktu itu tembok pembaginya tidak tertutup sampai dengan atas langit, sehingga aku dapat melihat mereka berempat. Karena kesal akibat Asep tidak dipenuhi permintaannya, akhirnya Asep menarik kepala Ika ke depan alat kelaminnya yang sudah menegang tersebut.</p>
<p>Asep berkata dengan nada mengancam kepada Ika, “Ayo Ka..! Kalo gitu kelomohi alat kelaminku hingga Aku merasakan enaknya seperti mereka..!”<br />
Setelah berusaha memanjat untuk melihat adgean secara langsung, aku dapat melihat dengan jelas. Ika seorang cewek langsung saja mengerjakan apa yang disuruh oleh Asep, sedangkan temannya yang berdua lagi, Utun dan Iwan duduk di lantai, tergeletak menahan rasa enak bercampur sakit yang mereka rasakan tersebut.</p>
<p>Tidak berlangsung lama, Asep berkata kepada Ika, “Ka.., Ka.., Ka.., ahh.. aah.. awas Ka..! Aku akan mengirimkan cairan penyuburku yang hebat ini..!”<br />
Kulihat Ika langsung menyopotkan alat kelamin Asep dari mulutnya, dan terlihat raut wajah Ika yang sayu dan sendu bercampur gembira karena dapat uang dan sedih karena keperawanannya sudah hilang oleh mereka bertiga. Dasar Asep sedang kesal, Asep menyemprotkan cairan penyuburnya kepada Ika dan kedua temannya dengan mendesis kesakitan terlebih dahulu.<br />
“Aaahh.., uuhh.., Awas cairan penyuburku ini  diterima yah..!” kata Asep sambil tangannya tetap mengocokkan  penisnya.<br />
Kulihat Asep menyempotkan cairan penyubur itu dari alat kelaminnya  secara kasar.</p>
<p>Setelah ada 15 menit sehabis Asep mengeluarkan cairan penyuburnya, kulihat mereka langsung berpakaian kembali setelah mereka menyopotkan bajuÃ‚â€“baju mereka sampai tidak tersisa sehelai kain pun. Sebelum mereka keluar, aku langsung cepat keluar dari kamar mandi tersebut secara perlahanÃ‚â€“lahan agar tidak terdengar oleh mereka. Kemudian aku menuju ke kelas yang telah memulai pelajarannya dari tadi. Hanya berselang beberapa menit, mereka masuk ke kelas seorangÃ‚â€“seorang agar tidak ketahuan oleh guru kami.</p>
<p>Hari itu tidak terasa lama sampai bel keluar sekolah berbunyi. Kulihat mereka bertiga teman cowokku, Asep, Iwan, Utun sedikit lelah, seperti kehabisan nafas dan anehnya mereka berjalan seperti kehabisan tenaga.<br />
Karena aku suka iseng ke temen, aku langsung bertanya kepada mereka bertiga, “Hey Kalian kayanya pada lemes banget. Habis ngebuat su.., sumur yah..?”<br />
Langsung dijawab dengan enteng oleh perwakilan mereka bertiga, yaitu Asep, “Iya Bie, enak tahu kalo ngegali sumur tersebut dengan rameÃ‚â€“rame..!”<br />
“Ohh gitu yah..?”  jawabku dengan tersenyum karena tahu apa yang mereka perbuat tadi.</p>
<p>Tidak jauh dari tempatku berdiri, kulihat Ika berjalan sendirian dengan memegang tas kantongnya yang sehari-hari tasnya selalu di atas pundaknya. Sekarang hanya dibawa dengan cara dijingjing olehnya.<br />
Langsung saja aku memanggilnya, “Ka..,  Ika.. Ka.. tunggu..!”<br />
Ika menjawab dengan nada lemas, “Ada apa  Bie..?”<br />
Karena aku juga ingin iseng padanya, kulangsung bertanya, “Ka.., kayanya Kamu kecapean. Habis tertembak peluru nyasar yang menghajarmu, ya Ka..?”<br />
Ika pun menjawab dengan nada kesal, mungkin bahkan tersindir, “Yah.. Bie.., bukan peluru nyasar, tapi burung gagak yang nyasar menyerang sarang tawon dan goa Hiro, tahu..!”<br />
Mendengar nadanya yang tersinggung, aku langsung  meminta maaf kepada Ika.<br />
“Ka.., maaf. Kok gitu aja dianggap serius, maaf yah  Ka..?” kataku menenangkannya sambil tersenyum bersahabat.<br />
Karena aku  penasaran, aku langsung menyerempetÃ‚â€“menyerempet agar terpepet.<br />
“Ka.., boleh enggak Ka, Aku coba masuk ke goa Hiro tersebut..? Kayanya sih asik.. bisa terbang kaya burung..!” pintaku sambil tertawa pelan.<br />
Karena Ika sudah kesal dan lelah, Ika menjawab, “Apa sih Kamu Bie..? Kamu mau goa Saya, nanti dong antri.., masih banyak burung yang mau masuk ke goaku, tahu..!”<br />
Dan akhirnya  aku tertawa dengan rasa senang.</p>
<p>Ini merupakan pengalaman hidup saya yang  dijamin asli. Tamat</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelayu.com/cerita-horor/di-balik-kamar-wc.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
