<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pusat Cerita Terlengkap</title>
	<atom:link href="http://cerita.modelayu.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cerita.modelayu.com</link>
	<description>Cerita Dewasa, Cerita Anak, Cerita Humor</description>
	<lastBuildDate>Fri, 11 Feb 2011 06:47:10 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pak Guruku</title>
		<link>http://cerita.modelayu.com/cerita-dewasa/pak-guruku-3.html</link>
		<comments>http://cerita.modelayu.com/cerita-dewasa/pak-guruku-3.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Feb 2011 07:44:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pendongeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelayu.com/cerita-dewasa/pak-guruku-3.html</guid>
		<description><![CDATA[
Sebut saja namaku Etty (bukan yang sebenarnya), waktu itu aku masih  sekolah di sebuah SMA swasta. Penampilanku bisa dibilang lumayan, kulit  yang putih kekuningan, bentuk tubuh yang langsing tetapi padat berisi,  kaki yang langsing dari paha sampai tungkai, bibir yang cukup sensual,  rambut hitam lebat terurai dan wajah yang oval. Payudara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Sebut saja namaku Etty (bukan yang sebenarnya), waktu itu aku masih  sekolah di sebuah SMA swasta. Penampilanku bisa dibilang lumayan, kulit  yang putih kekuningan, bentuk tubuh yang langsing tetapi padat berisi,  kaki yang langsing dari paha sampai tungkai, bibir yang cukup sensual,  rambut hitam lebat terurai dan wajah yang oval. Payudara dan pantatkupun  mempunyai bentuk yang bisa dibilang lumayan.</p>
<p>Dalam bergaul aku cukup ramah sehingga tidak mengherankan bila di  sekolah aku mempunyai banyak teman baik anak-anak kelas II sendiri atau  kelas I, aku sendiri waktu itu masih kelas II. Laki-laki dan perempuan  semua senang bergaul denganku. Di kelaspun aku termasuk salah satu murid  yang mempunyai kepandaian cukup baik, ranking 6 dari 10 murid terbaik  saat kenaikan dari kelas I ke kelas II.</p>
<p>Karena kepandaianku bergaul dan pandai berteman tidak jarang pula  para guru senang padaku dalam arti kata bisa diajak berdiskusi soal  pelajaran dan pengetahuan umum yang lain. Salah satu guru yang aku sukai  adalah bapak guru bahasa Inggris, orangnya ganteng dengan bekas cukuran  brewok yang aduhai di sekeliling wajahnya, cukup tinggi (agak lebih  tinggi sedikit dari pada aku) dan ramping tetapi cukup kekar. Dia memang  masih bujangan dan yang aku dengar-dengar usianya baru 27 tahun,  termasuk masih bujangan yang sangat ting-ting untuk ukuran zaman  sekarang.</p>
<p>Suatu hari setelah selesai pelajaran olah raga (volley ball merupakan  favoritku) aku duduk-duduk istirahat di kantin bersama teman-temanku  yang lain, termasuk cowok-cowoknya, sembari minum es sirup dan makan  makanan kecil. Kita yang cewek-cewek masih menggunakan pakaian olah raga  yaitu baju kaos dan celana pendek. Memang di situ cewek-ceweknya  terlihat seksi karena kelihatan pahanya termasuk pahaku yang cukup indah  dan putih.</p>
<p>Tiba-tiba muncul bapak guru bahasa Inggris tersebut, sebut saja  namanya Freddy (bukan sebenarnya) dan kita semua bilang, “Selamat pagi  Paa..aak”, dan dia membalas sembari tersenyum.<br />
“Ya, pagi semua. Wah, kalian capek ya, habis main volley”.<br />
Aku menjawab, “Iya nih Pak, lagi kepanasan. Selesai ngajar, ya Pak”.  “Iya, nanti jam setengah dua belas saya ngajar lagi, sekarang mau ngaso  dulu”.<br />
Aku dan teman-teman mengajak, “Di sini aja Pak, kita ngobrol-ngobrol”,  dia setuju.<br />
“OK, boleh-boleh aja kalau kalian tidak keberatan”!<br />
Aku dan teman-teman bilang, “Tidak, Pak.”, lalu aku menimpali lagi,  “Sekali-sekali, donk, Pak kita dijajanin”, lalu teman-teman yang lain,  “Naa..aa, betuu..uul. Setujuu..”.<br />
Ketika Pak Freddy mengambil posisi untuk duduk langsung aku mendekat  karena memang aku senang akan kegantengannya dan kontan teman-teman  ngatain aku.<br />
“Alaa.., Etty, langsung deh, deket-deket, jangan mau Pak”.<br />
Pak Freddy menjawab, “Ah! Ya, ndak apa-apa”.</p>
<p>Kemudian sengaja aku menggoda sedikit pandangannya dengan menaikkan  salah satu kakiku seolah akan membetulkan sepatu olah ragaku dan karena  masih menggunakan celana pendek, jelas terlihat keindahan pahaku. Tampak  Pak Freddy tersenyum dan aku berpura-pura minta maaf.<br />
“Sorry, ya Pak”.<br />
Dia menjawab, “That’s OK”. Di dalam hati aku tertawa karena sudah bisa  mempengaruhi pandangan Pak Freddy.</p>
<p>Di suatu hari Minggu aku berniat pergi ke rumah Pak Freddy dan pamit  kepada Mama dan Papa untuk main ke rumah teman dan pulang agak sore  dengan alasan mau mengerjakan PR bersama-sama. Secara kebetulan pula  Mama dan papaku mengizinkan begitu saja. Hari ini memang hari yang  paling bersejarah dalam hidupku. Ketika tiba di rumah Pak Freddy, dia  baru selesai mandi dan kaget melihat kedatanganku.<br />
“Eeeh, kamu Et. Tumben, ada apa, kok datang sendirian?”.<br />
Aku menjawab, “Ah, nggak iseng aja. Sekedar mau tahu aja rumah bapak”.<br />
Lalu dia mengajak masuk ke dalam, “Ooo, begitu. Ayolah masuk. Maaf rumah  saya kecil begini. Tunggu, ya, saya pakÃ© baju dulu”. Memang tampak Pak  Freddy hanya mengenakan handuk saja. Tak lama kemudian dia keluar dan  bertanya sekali lagi tentang keperluanku. Aku sekedar menjelaskan, “Cuma  mau tanya pelajaran, Pak. Kok sepi banget Pak, rumahnya”.<br />
Dia tersenyum, “Saya kost di sini. Sendirian.”</p>
<p>Selanjutnya kita berdua diskusi soal bahasa Inggris sampai tiba waktu  makan siang dan Pak Freddy tanya, “Udah laper, Et?”.<br />
Aku jawab, “Lumayan, Pak”.<br />
Lalu dia berdiri dari duduknya, “Kamu tunggu sebentar ya, di rumah. Saya  mau ke warung di ujung jalan situ. Mau beli nasi goreng. Kamu mau  kan?”.<br />
Langsung kujawab, “Ok-ok aja, Pak.”.</p>
<p>Sewaktu Pak Freddy pergi, aku di rumahnya sendirian dan aku  jalan-jalan sampai ke ruang makan dan dapurnya. Karena bujangan,  dapurnya hanya terisi seadanya saja. Tetapi tanpa disengaja aku melihat  kamar Pak Freddy pintunya terbuka dan aku masuk saja ke dalam. Kulihat  koleksi bacaan berbahasa Inggris di rak dan meja tulisnya, dari mulai  majalah sampai buku, hampir semuanya dari luar negeri dan ternyata ada  majalah porno dari luar negeri dan langsung kubuka-buka. Aduh!  Gambar-gambarnya bukan main. Cowok dan cewek yang sedang bersetubuh  dengan berbagai posisi dan entah kenapa yang paling menarik bagiku  adalah gambar di mana cowok dengan asyiknya menjilati vagina cewek dan  cewek sedang mengisap penis cowok yang besar, panjang dan kekar.</p>
<p>Tidak disangka-sangka suara Pak Freddy tiba-tiba terdengar di  belakangku, “Lho!! Ngapain di situ, Et. Ayo kita makan, nanti keburu  dingin nasinya”.<br />
Astaga! Betapa kagetnya aku sembari menoleh ke arahnya tetapi tampak  wajahnya biasa-biasa saja. Majalah segera kulemparkan ke atas tempat  tidurnya dan aku segera keluar dengan berkata tergagap-gagap,  “Ti..ti..tidak, eh, eng..ggak ngapa-ngapain, kok, Pak. Maa..aa..aaf, ya,  Pak”.<br />
Pak Freddy hanya tersenyum saja, “Ya. Udah tidak apa-apa. Kamar saya  berantakan. tidak baik untuk dilihat-lihat. Kita makan aja, yuk”.<br />
Syukurlah Pak Freddy tidak marah dan membentak, hatiku serasa tenang  kembali tetapi rasa malu belum bisa hilang dengan segera.</p>
<p>Pada saat makan aku bertanya, “Koleksi bacaannya banyak banget Pak.  Emang sempat dibaca semua, ya Pak?”.<br />
Dia menjawab sambil memasukan sesendok penuh nasi goreng ke mulutnya,  “Yaa..aah, belum semua. Lumayan buat iseng-iseng”.<br />
Lalu aku memancing, “Kok, tadi ada yang begituan”.<br />
Dia bertanya lagi, “Yang begituan yang mana”.<br />
Aku bertanya dengan agak malu dan tersenyum, “Emm.., Ya, yang begituan,  tuh. Emm.., Majalah jorok”.<br />
Kemudian dia tertawa, “Oh, yang itu, toh. Itu dulu oleh-oleh dari teman  saya waktu dia ke Eropa”.</p>
<p>Selesai makan kita ke ruang depan lagi dan kebetulan sekali Pak  Freddy menawarkan aku untuk melihat-lihat koleksi bacaannya.<br />
Lalu dia menawarkan diri, “Kalau kamu serius, kita ke kamar, yuk”.<br />
Akupun langsung beranjak ke sana. Aku segera ke kamarnya dan kuambil  lagi majalah porno yang tergeletak di atas tempat tidurnya.</p>
<p>Begitu tiba di dalam kamar, Pak Freddy bertanya lagi, “Betul kamu  tidak malu?”, aku hanya menggelengkan kepala saja. Mulai saat itu juga  Pak Freddy dengan santai membuka celana jeans-nya dan terlihat olehku  sesuatu yang besar di dalamnya, kemudian dia menindihkan dadanya dan  terus semakin kuat sehingga menyentuh vaginaku. Aku ingin merintih  tetapi kutahan.<br />
Pak Freddy bertanya lagi, “Sakit, Et”. Aku hanya menggeleng, entah  kenapa sejak itu aku mulai pasrah dan mulutkupun terkunci sama sekali.  Semakin lama jilatan Pak Freddy semakin berani dan menggila. Rupanya dia  sudah betul-betul terbius nafsu dan tidak ingat lagi akan kehormatannya  sebagai Seorang Guru. Aku hanya bisa mendesah”, aa.., aahh, Hemm..,  uu.., uuh”.</p>
<p>Akhirnya aku lemas dan kurebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Pak  Freddy pun naik dan bertanya.<br />
“Enak, Et?”<br />
“Lumayan, Pak”.<br />
Tanpa bertanya lagi langsung Pak Freddy mencium mulutku dengan ganasnya,  begitupun aku melayaninya dengan nafsu sembari salah satu tanganku  mengelus-elus penis yang perkasa itu. Terasa keras sekali dan rupanya  sudah berdiri sempurna. Mulutnya mulai mengulum kedua puting payudaraku.  Praktis kami berdua sudah tidak berbicara lagi, semuanya sudah mutlak  terbius nafsu birahi yang buta. Pak Freddy berhenti merangsangku dan  mengambil majalah porno yang masih tergeletak di atas tempat tidur dan  bertanya kepadaku sembari salah satu tangannya menunjuk gambar cowok  memasukkan penisnya ke dalam vagina seorang cewek yang tampak pasrah di  bawahnya.<br />
“Boleh saya seperti ini, Et?”.<br />
Aku tidak menjawab dan hanya mengedipkan kedua mataku perlahan. Mungkin  Pak Freddy menganggap aku setuju dan langsung dia mengangkangkan kedua  kakiku lebar-lebar dan duduk di hadapan vaginaku. Tangan kirinya  berusaha membuka belahan vaginaku yang rapat, sedangkan tangan kanannya  menggenggam penisnya dan mengarahkan ke vaginaku.</p>
<p>Kelihatan Pak Freddy agak susah untuk memasukan penisnya ke dalam  vaginaku yang masih rapat, dan aku merasa agak kesakitan karena mungkin  otot-otot sekitar vaginaku masih kaku. Pak Freddy memperingatkan, “Tahan  sakitnya, ya, Et”. Aku tidak menjawab karena menahan terus rasa sakit  dan, “Akhh.., bukan main perihnya ketika batang penis Pak Freddy sudah  mulai masuk, aku hanya meringis tetapi Pak Freddy tampaknya sudah tak  peduli lagi, ditekannya terus penisnya sampai masuk semua dan langsung  dia menidurkan tubuhnya di atas tubuhku. Kedua payudaraku agak tertekan  tetapi terasa nikmat dan cukup untuk mengimbangi rasa perih di vaginaku.</p>
<p>Semakin lama rasa perih berubah ke rasa nikmat sejalan dengan gerakan  penis Pak Freddy mengocok vaginaku. Aku terengah-engah, “Hah, hah,  hah,..”. Pelukan kedua tangan Pak Freddy semakin erat ke tubuhku dan  spontan pula kedua tanganku memeluk dirinya dan mengelus-elus  punggungnya. Semakin lama gerakan penis Pak Freddy semakin memberi rasa  nikmat dan terasa di dalam vaginaku menggeliat-geliat dan  berputar-putar.</p>
<p>Sekarang rintihanku adalah rintihan kenikmatan. Pak Freddy kemudian  agak mengangkatkan badannya dan tanganku ditelentangkan oleh kedua  tangannya dan telapaknya mendekap kedua telapak tanganku dan menekan  dengan keras ke atas kasur dan ouwww.., Pak Freddy semakin memperkuat  dan mempercepat kocokan penisnya dan di wajahnya kulihat raut yang  gemas. Semakin kuat dan terus semakin kuat sehingga tubuhku bergerinjal  dan kepalaku menggeleng ke sana ke mari dan akhirnya Pak Freddy agak  merintih bersamaan dengan rasa cairan hangat di dalam vaginaku. Rupanya  air maninya sudah keluar dan segera dia mengeluarkan penisnya dan  merebahkan tubuhnya di sebelahku dan tampak dia masih terengah-engah.<br />
Setelah semuanya tenang dia bertanya padaku, “Gimana, Et? Kamu tidak  apa-apa? Maaf, ya”.<br />
Sembari tersenyum aku menjawab dengan lirih, “tidak apa-apa. Agak sakit  Pak. Saya baru pertama ini”.<br />
Dia berkata lagi, “Sama, saya juga”.<br />
Kemudian aku agak tersenyum dan tertidur karena memang aku lelah, tetapi  aku tidak tahu apakah Pak Freddy juga tertidur.</p>
<p>Sekitar pukul 17:00 aku dibangunkan oleh Pak Freddy dan rupanya  sewaktu aku tidur dia menutupi sekujur tubuhku dengan selimut. Tampak  olehku Pak Freddy hanya menggunakan handuk dan berkata, “Kita mandi,  yuk. Kamu harus pulang kan?”.<br />
Badanku masih agak lemas ketika bangun dan dengan tetap dalam keadaan  telanjang bulat aku masuk ke kamar mandi. Kemudian Pak Freddy masuk  membawakan handuk khusus untukku. Di situlah kami berdua saling  bergantian membersihkan tubuh dan akupun tak canggung lagi ketika Pak  Freddy menyabuni vaginaku yang memang di sekitarnya ada sedikit  bercak-bercak darah yang mungkin luka dari selaput daraku yang robek.  Begitu juga aku, tidak merasa jijik lagi memegang-megang dan  membersihkan penisnya yang perkasa itu.</p>
<p>Setelah semua selesai, Pak Freddy membuatkan aku teh manis panas  secangkir. Terasa nikmat sekali dan terasa tubuhku menjadi segar  kembali. Sekitar jam 17:45 aku pamit untuk pulang dan Pak Freddy memberi  ciuman yang cukup mesra di bibirku. Ketika aku mengemudikan mobilku,  terbayang bagaimana keadaan Papa dan Mama dan nama baik sekolah bila  kejadian yang menurutku paling bersejarah tadi ketahuan. Tetapi aku cuek  saja, kuanggap ini sebagai pengalaman saja.</p>
<p>Semenjak itulah, bila ada waktu luang aku bertandang ke rumah Pak  Freddy untuk menikmati keperkasaannya dan aku bersyukur pula bahwa  rahasia tersebut tak pernah sampai bocor. Sampai sekarangpun aku masih  tetap menikmati genjotan Pak Freddy walaupun aku sudah menjadi  mahasiswa, dan seolah-olah kami berdua sudah pacaran. Pernah Pak Freddy  menawarkan padaku untuk mengawiniku bila aku sudah selesai kuliah nanti,  tetapi aku belum pernah menjawab. Yang penting bagiku sekarang adalah  menikmati dulu keganasan dan keperkasaan penis guru bahasa Inggrisku  itu.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelayu.com/cerita-dewasa/pak-guruku-3.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membalas Selingkuh Suamiku</title>
		<link>http://cerita.modelayu.com/cerita-dewasa/membalas-selingkuh-suamiku.html</link>
		<comments>http://cerita.modelayu.com/cerita-dewasa/membalas-selingkuh-suamiku.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Feb 2011 07:43:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pendongeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelayu.com/?p=963</guid>
		<description><![CDATA[
Sungguh aku amat bahagia sekali ketika Mas Dodo mengajakku pindah  rumah yang baru dibelinya secara cicilan, namun amat bagus dan sesuai  dengan seleraku.Apalagi dari pernikahanku yang memasuki tahun ke lima  ini kami telah di beri seorang momongan anak perempuan yang cantik dan  lucu sekali.Usianya baru menginjak tiga tahun.Sebelum ini kami menempati [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Sungguh aku amat bahagia sekali ketika Mas Dodo mengajakku pindah  rumah yang baru dibelinya secara cicilan, namun amat bagus dan sesuai  dengan seleraku.Apalagi dari pernikahanku yang memasuki tahun ke lima  ini kami telah di beri seorang momongan anak perempuan yang cantik dan  lucu sekali.Usianya baru menginjak tiga tahun.Sebelum ini kami menempati  rumah kontrakan yang kami sewa secara tahunan. Namun merasa semakin  besarnya dan untuk perkembangan pertumbuhan anak kami makanya Mas Dodo  mengambil inisiatif untuk mengambilnya juga,meski dengan harga yang  cukup mahal menurut aku.Padahal dulunya orangtuaku mengajakku untuk  tinggal serumah dengan mereka.Namun karena inisiatif Mas Dodo yang ingin  membentuk kelurga yang mandiri maka sebagai istri aku harus menurut  kata suamiku. Kini kami sudah menempati rumah hasil jerih payah kami  selama ini,yang meskipun cicilan namun bentuk dan luas bangunan rumah  ini amat cukup untuk kami membesarkan anak-anak kelak.Selain memiliki  halaman yang cukup dan garasi yang bisa menampung dua buah mobil kami.  Dibelakang rumah juga ada pekarangan yang bisa kami gunakan untuk  bersantai dan bermain sikecil.Mas Dodo amat tepat memilih lokasi yang  masih cukup jauh dari hiruk pikuk kota juga telah memiliki berbagai  fasilitas dan akses yang mudah ketempat kami bekerja. Sengaja hingga  saat ini aku tidak mengambil pembantu atau baby sitter,karena aku ingin  membesarkan anakku dengan kasih sayangku sendiri dan memberikan  perhatian untuk pertumbuhan buah hati kami.Jika aku berangkat kerja,maka  anakku aku titipkan kerumah ibu yang letaknya tidak jauh dari  kantorku.Jadi jika istirahat kantor aku bisa melihat anakku.Ibukupun  tidak keberatan jika anakku aku tinggal.Beliau amat suka dan sebagai  hiburan baginya, karena adikku yang bungsu sering tidak dirumah dan  sibuk kuliah.Kini setiap sore, aku selalu menjemput anakku di rumah ibu.  Setiba dirumah aku pun beres-beres pekerjaan rumah juga masak  seperlunya untuk sarapan kami sekeluarga.Syukurlah suamiku orangnya  tidak neko-neko.Ia amat menikmati saja apa yang aku suguhkan di meja  makan.Padahal aku tahu ia amat lapar jika pulang kantor malam hari.Aku  selalu membuatkan masakan kesukaannya jika hari sabtu dimana kami bisa  berkumpul lengkap karena libur kantor.Biasanya kami mengisinya dengan  masak-masak,atau terkadang makan diluar atau berkunjung kerumah ibu.Dan  biasanya ibu sudah menyiapakan makanan kesukaan kami.Selama ini aku  rasakan hidupku amat bahagia memiliki seorang suami yang pengertian dan  baik. Dengan rutinitas yang semakin padat juga karena kenaikan jabatan  suamiku,maka akhirnya akupun minta mengundurkan diri dari pekerjaan  karena buah hatiku amat membutuhkan perhatianku.Namun pimpinan tempat  kerjaku malah meminta aku agar tetap bergabung dengan mereka dan aku di  beri kelonggaran dengan kerja paruh waktu,aku diberi kebebasan bisa  masuk kantor atau terkadang mereka memberikan aku perintah kerja dengan  fasilitas online yang terhubung ke rumah aku.Mereka merasa amat  membutuhkan tenagaku.Jadi kini aku seakan lega karena selain bisa terus  eksis di pekerjaan aku juga bisa mengawasi perkembangan anakku. Namun  kini kebahagiaan aku agak sedikit terganggu dengan adanya gangguan  gangguan kecil di rumahku.Jika disaat aku akan keluar rumah dengan  mobilku selalu melewati pos penjagaan yang di jaga seorang Satpam  perumahan.Aku amat merasa tidak nyaman akan pandangannya yang aku rasa  amat kurang ajar itu.Terkadang aku sempat memergoki pandangan matanya  kea rah belahan blus kerjaku.Aku merasa risi di pandangi seperti itu.Aku  juga merasa di telanjangi jika berpapasan dengannya.Sudah sering memang  kejadian ini aku alami di pos rumahku ini.Pernah aku ingin bilang pada  suamiku,namun aku masih menahannya agar dia tak merasa terganggu.Namun  tiap kali aku lewat dan bertemu pandang dengannya dia selalu menatapku  seperti menatap secara cabul.Akhirnya aku tak tahan,suatu malam aku  bicarakan dengan suamiku.</p>
<p>“Pa…papa kenal dengan satpam yang item dan gendut itu pa?” tanyaku.<br />
“Yang mana?” suamiku bertanya balik dan mengingat ingat.<br />
“itu tuh yang brewokan itu” kataku menerangkan<br />
“ooohhh…abang Saroji,ya itu namanya Abang Saroji” lalu suamiku bertanya  “memangnya mama ada urusan apa dengan dia?” Lalu aku jawab, “dia koq  jika melihat aku tuh seperti mau menelanku mentah mentah lo Pah?”<br />
Sambil tertawa suamiku bilang, “ah…dia orangnya baik koq..papa aja  sering di tawari kopi,jika papa pulang malam.Mungkin dia gak tau  kali,jika mama adalah istri papa” terang suamiku.<br />
“Tapi dia amat kurang ajar lo pah…dari pandangannya itu.” terangku  lagi..<br />
Yah…mungkin dia jarang lihat orang cantik seperti mama ,,,,jadi dia  tuh,,masih agak kaget,,jawab suamiku sambil membelai  rambutku…Ah…papa..jawabku….agak manyun..<br />
Aku takut pah…jawabku lagi…ya,,,mungkin aja mama dia lihat agak lain  dengan yang lain,,misalnya mama jarang senyum atau nyapa dia…jadi ya dia  kayak itu…terang suamiku lagi.Aku diam mendengar keterangan  suamiku.Memang ada benarnya juga kata kata suamiku itu.Selama ini aku  jarang bertegur sapa dengan satpam itu.Apalagi mau senyum,,memang sih  aku akui itu.</p>
<p>Di blok rumahku memang baru ada dua rumah yang terisi, namun jarak  rumahku dan rumah yang satu lagi agak jauh. Apalagi penghuninya jarang  keluar rumah dan tampaknya rumah itu jarang di tempati pemiliknya yang  seorang karyawan swasta di Jakarta,.mungkin rumah itu di ambilnya hanya  untuk investasi saja. Aku jarang melihat penghuninya.Dan masih menurut  suamiku,kita yang tinggal di tempat baru ini harus bisa agak sedikit  ramah kepada masyarakat sekeliling sebab pemukiman ini baru saja selesai  dan dibalik tembok pembatas perumahan ini ada perumahan penduduk  setempat. Suamikupun berkata bahwa tenaga tenaga pembantu di blok blok  lain kebanyakan dari penduduk di balik tembok itu termasuk  satpamnya.Akupun akhirnya berusaha merubah sikapku selama ini kepada  satpam itu. Suamiku juga pernah dapat informasi dari pihak  pengembang,bahwa bang Saroji itu adalah jawara di kampung itu.Dan karena  alasan keamanan makanya pihak pengembang merekrutnya jadi tenaga  keamanan di kompleks ini. Jadi tidak heran jika diantara sekian banyak  tenaga satpam di kompleks itu adalah anak buah bang Saroji….jelas  suamiku.Makanya suamikupun berusaha berbaik baik dengannya sebab tidak  ingin nantinya diganggu oleh mereka.</p>
<p>Hari-hari berikutnya, akupun kembali sibuk seperti biasanya keluar  dan masuk kompleks jika ada keperluan. Kini aku sudah berusaha untuk  menyapa dan berbaik baik dengan satpam itu. Memang dia juga sudah mulai  tidak menakutkan aku lagi jika bertemu di pos. Namun yang aku masih risi  adalah pandangan matanya yang seolah menembus busanaku ini yang  membuatku kurang nyaman.padahal aku sudah berpakaian dengan benar dan  menurut norma ketimuran.Akupun semakin merasa tak nyaman jika dia yang  menjaga di pos itu. Kini aku semakin tersiksa karena,suamiku semakin  sering dinas keluar kota karena jabatannya bertambah tinggi.Terkadang  mas Dodo keluar kota untuk seminggu atau paling cepat tiga hari. Saat  aku dirumah berdua dengan anakku seakan ada yang mengintai. Kadang jika  tengah malam terdengar krasak-kusuk di pagar rumahku atau lemparan  kerikil di atapnya.Aku sering melihat keluar rumah, namun aneh tak ada  seorang yang terlihat.Apalagi aku takutnya karena rumah disebelahku  masih banyak yang kosong.Ingin rasanya malam itu aku menelpon mas Dodo  atau minta pertolongan polisi, namun tidak kulakukan karena takutnya  nanti malah ditertawakan karena belum ada bukti bahwa aku mendapat  terror. Maka, semua itu aku pendam saja di dada, aku hanya berasumsi  positif saja,mungkin itu adalah bunyi musang atau tikus yang berjalan  mencari makanan di malam hari. Akhirnya malam itu aku tetidur karena  pikiranku mulai capai, untunglah anakku tidak terganggu oleh bunyi  bunyian itu. Ia terlihat amat lelap tidurnya di kamar sebelah.</p>
<p>Pagi pagi aku bangun dengan perasaan masih ngantuk yang amat sangat  karena malam aku tertidur amat larut .Pagi itu suamiku nelpon  mengabarkan bahwa ia mungkin pulang agak bergeser harinya,sebab banyak  urusan yang belum kelar pada waktunya.Aku mengiyakan saja permintaan  suamiku itu,tidak lupa ia juga menanyakan keadaan anak kami.Akupun  kembali larut dengan rutinitasku seperti biasanya.Aku kembali mengantar  anakku sebelum masuk kantor.Syukurlah di kantor pekerjaan ku tidak  terlalu banyak.Aku hanya bertugas memeriksa hasil kerja staffku lalu aku  bisa sedikit santai.Sore seperti biasaya aku pulang dan menjemput  anakku kerumah ibu.Aku sempat istirahat sebentar di rumah ibu dan  berbincang dengan beliau. Tak lama kemudian aku pun pulang kerumahku  melalui jalan yang sore itu agak sedikit macet. Syukurlah sampai dirumah  tidak terlalu malam ya kira-kira jam 19.00 wib.Aku pun membersihan  tubuh anakku dan tubuhku yang terasa penat.</p>
<p>Beberapa hari kemudian suamiku pulang dan membawa sedikit oleh-oleh  untuk kami.Aku sangat bahagia karena kini kami berkumpul kembali seperti  biasanya. Karena oleh2 yang dibawa suamiku tidak sanggup kami habiskan  sendiri, ia menyarankan agar makanan itu di berikan saja pada Bang Roji.  Aku sich setuju saja sebab tidak mungkin bagi kami akan menghabiskan  makanan itu. Namun suamiku minta aku yang mengantarkannya ke Bang Roji  yang sedang berjaga di posnya. Yah…hitung-hitung basa basi pikirku.  Akupun keluar rumah dengan mengendarai sebuah sepeda santai menuju ke  posnya. Syukurlah malam itu, ia yang sedang jaga.Dengan sapaan lembut  aku sapa dia.<br />
“Bang Roji”lagi jaga ya..bang? tanyaku<br />
“Ooh,,,ibu Risa,,ada yang perlu saya bantu?” jawabnya basa basi.<br />
“Eehh…nggak koq Bang…ini…tadi Mas Dodo dari luar kota dan ia titip  oleh-oleh ini” aku menyodorkan bungkusan itu padanya.<br />
“Aduh…koq ngerepotin toh bu” katanya.<br />
“Ah….nggak koq bang, ada lebih aja”jawabku.<br />
Ia pun menerima bungkusan yang kubawa itu walau dengan sedikit rasa  sungkan. Aku lalu minta diri untuk pulang. Menjelang pulang ia tak henti  hentinya berterima kasih padaku dan juga titip salam buat Mas  Dodo.Dalam hati aku tersentuh juga,rupanya dia juga baik tak seperti  dugaanku selama ini. Dia sempat menawariku kopi di posnya sebagai basa  basinya padaku. Namun dengan alasan bahwa suamiku menunggu dirumah aku  pun menolaknya dengan halus dan pamit pulang. Aku lega sekali malam itu.  Ternyata dia sungguh baik.,tidak terlihat sedikitpun kebenciannya  padaku juga mata nakalnya yang sering melahap tubuhku ini.</p>
<p>Malam itu aku pun bilang pada suami tentang salam yang dititipi Bang  Roji padaku.Suamikupun lalu bilang, berarti aku salah sangka selama ini,  mungkin saja tindakanku yang kurang berkenan pada dia selama ini.<br />
“Nah..kan apa kata Papa” kata suamiku, “semua itu tergantung kitanya Ma.  Dia baik koq kalau menurut Papa”.<br />
Habis berkata aku melihat suamiku senyum-senyum sambil menjiti bibirnya  sendiri. Nah aku tahu, jika sudah begitu,dia pasti ada maunya. Aku lihat  anakku sudah tidur dikamarnya. Dengan sedikit kode mesra dari suamiku,  aku pun masuk kamar dan merebahkan tubuh di ranjang peraduan kami. Ia  lalu ikut masuk dan menutup pintu kamar.Tidak lama memang kami sudah  dalam keadaan sama sama polos.Malam itu kami ingin menuntaskan kerinduan  yang mulai jarang kami dapatkan,karena kesibukan aku juga mas Dodo.  Beda sekali jika dibanding saat saat tahun pertama kami menikah dulu.  Kinipun paling sering kami melakukannya seminggu sekali.Itupun jika  tidak terlalu capai.Terkadang aku yang siap untuk berhubungan namun  suamiku tak siap.Terkadang dia sudah siap namun aku yang lagi capai atau  datang bulan.Dan malam ini kami ingin melakukannya lagi.Dengan cara  bertahap dia belai dan ciumi setiap inci kulit tubuhku yang putih  ini,tanpa terlewat seincipun.Dahagaku malam ini ingin aku tuntaskan  bersama mas Dodo suamiku.Kini kami sudah siap siap untuk melakukan  penetrasi.Baru saja suamiku akan memasuki aku,tiba tiba kami dikejutkan  oleh bunyi kresek-kresek di jendela kamar kami.Langsung saja kami  menghentikan aktifitas itu.Bergegas aku menutupi ketelanjanganku dengan  selimut, suamiku bergegas membenahi celana dalamnya juga mengenakan  baju. Ia bergegas melihat kearah jendela dan membuka jendela ingin  melihat apa yang terjadi diluaran.Aku juga berusaha mengenakan kembali  kimono tidurku.Dan menuju jendela tempat suamiku berada.Namun kami tidak  melihat adanya aktifitas diluar itu. Semua sunyi senyap, padahal tadi  kami tahu ada orang yang sedang mengintip kami. Juga di bawah  jendela,ada jejak rumput yang terinjak. Dengan sedikit emosi,suamiku  lalu keluar rumah dan akan melaporkan ke pos jaga satpam.Dia lalu keluar  rumah di malam yang gelap itu menuju pos satpam. Aku di suruh tinggal  dirumah saja agar bisa menjaga anak kami.<br />
Tidak lama kemudian suamiku pulang dan bilang,ia sudah lapor pada satpam  dan dijanjikan akan selalu melakukan patroli. Maklum malam itu yang  jaga hanya bang Roji kata suamiku.</p>
<p>Semenjak kejadian itu,aku semakin yakin bahwa pengintip itu memang  ada.Mungkin selama ini kami selalu diintip jika akan berhubungan suami  istri.Apalagi jejak rumput yang ada di pekarangan rumah kami menandakan  ada seseorang yang memang iseng.Pikiran aku langsung saja tertuju pada  bang Roji pelakunya.Sebab mana mungkin bisa malam itu,orang lain masuk  blok rumah kami sedangkan sekeliling ditembok,namun saat di laporkan  suamiku bang Roji beralasan bahwa mungkin saja ada orang dari kampung di  balik tembok itu.Lagian ia berjanji akan mencari orang yang menganggu  itu.Berbagai pertanyaan kembali berada di kepalaku tentang keterlibatan  bang Roji malam malam selama ini.Apalagi di blok aku tinggal hanya kami  yang selalu ada di rumah.Beberapa lama kemudian memang tak ada gangguan  lagi meski saat suamiku berada di rumah terkadang keluar kota.Aku kini  sudah merasa aman dan tak ada lagi yang aku kuatirkan.Begitu juga,dengan  Satpam yang bernama Saroji itu,ia terlihat sudah mulai akrab dengan aku  dan keluargaku, dia sering menyapa dengan ramah. Melihat aku yang agak  kerepotan mengasuh anakku dan mengantar ke rumah ibu,suamiku menyarankan  untuk mencari baby sitter. Pernah suamiku ngobrol dengan bang Saroji  saat berhenti di pos jaganya. Dalam omong-omong itu, bang Roji  menganjurkan agar anak kami di asuh istrinya saja jika kami pergi  kerja.Saat itu aku kurang respek terhadap anjuran suamiku,sebab aku  masih belum bias menerima orang seperti keluarga bang Saroji itu.Namun  lama kelamaan aku semakin kerepotan juga.Lalu aku minta agar istri bang  Roji yang bernama mpok Esih agar mau menjaga anakku di rumahku.Apalagi  dia juga bisa bantu aku nyuci pakaian kami.Dan kini mpok Esih sudah  bekerja di rumahku meski hanya setengah hari.Terkadang anakku di bawanya  ke rumahnya di balik tembok kompleks ini. Kini aku sudah merasa agak  tenang dan tak kerepotan lagi.Apalagi suamiku sering berada di luar  kota.Bagiku mengenai gaji mpok Esih tidaklah masalah,yang penting aku  merasa nyaman meninggalkan anakku padanya.Begitu juga Mpok Esih tidaklah  terlalu cerewet orangnya.Ia cenderung amat penurut.Dia tampaknya amat  takut dan patuh pada suaminya Bang Roji.Dan selama ini aku lihat dia  amat senang kerja setengah hari di rumahku.</p>
<p>Suatu hari disaat aku libur kerja,aku sempat nanya nanya  padanya.Rupanya dia adalah istri tua bang Roji.Aku heran juga,kenapa  orang seperti bang Roji bisa punya istri dua.Apakah tidak repot  menafkahi kedua istrinya.Lalu Mpok Esih,bilang bahwa ia memang amat  kesulitan dalam keuangan,dimana anaknya yang dua orang itu harus  sekolah, dan gaji suaminya yang harus di bagi dua kepada istrinya itu.  Akupun bertanya kenapa dia mau di madu.Dengan sedikit sedih dijawabnya  bahwa sudah gak mungkin karena anak anaknya butuh bapak,apa jadinya  nanti anak anaknya jika tak memiliki bapak yang akan  menafkahinya.Apalagi Mpok Esih tidak memiliki keahlian yang bisa di  andalkan untuk mencari nafkah.Lalu beliau becerita tentang asal mulanya  dia terpikat pada Bang Roji yang dulunya adalah seorang preman kampung  lalu menuntut ilmu dan jadi jawara.Padahal dulunya Esih sudah dilamar  oleh anak juragan sapi asal kampung tetangga.Dan saat itu,dia malah  terpikat oleh sosok Saroji yang jawara kampung itu.Dan jika di lihat  dari sosok wajah dan perangainya ia tak ada apa apanya di banding anak  juragan sapi itu.Apalagi anak juragan sapi itu sekarang sudah jadi orang  yang kaya di kampungnya.Dengan sedikit sedih mpok Esih berbincang  panjang lebar tentang latar belakang suaminya yang kelam itu.Begitu juga  dengan istrinya yang sekarang.Bang Roji mendapatkan istri  mudanya,disaat istri mudanya itu dulu kuliah kerja nyata di  kampungnya.Istri muda bang Roji memang masih muda dan menurut mpok Esih  masih seusiaku,.namanya Indri, dulunya dia kuliah di sebuah universitas  swasta,dan melakukan kuliah kerja nyata di kampung itu.Nah bang Roji  amat kepincut dengan gadis kota yang cantik itu.Entah bagaimana caranya  kata Mpok Esih,Indri malah mau saja di kawini Bang Roji yang terpaut  usia 20 tahun darinya itu.Kini bang Roji sudah berumur 49 tahun kata  mpok Esih.</p>
<p>Masih menurut Mpok Esih dulunya sempat ribut ribut dengan orang tua  Indri yang tidak setuju atas perkawinan Bang Roji dan anaknya itu.Namun  karena saat itu Indri sudah keburu mengandung akhirnya mereka tidak  dapat berbuat apa apa.Dan kini dari Istri keduanya bang Roji mendapatkan  seorang anak yang berusia 10 tahun.Makanya sekarang bang Roji agak  kerepotan memenuhi kebutuhan hidup kedua istri dan tiga orang anaknya  itu.Kalau dulu dia cukup banyak uang,karena dari parkir dan kutipan  pedagang kaki lima di pasar dia mendapatkan uang jago.Namun sekarang  sudah tak bisa lagi karena sudah diambil alih pemerintah.Aku cukup  terenyuh mendengarkan keterangan mpok Esih itu.Aku pun kini selalu  memberinya uang agak berlebih agar dia bisa kubantu semampuku.Sebab aku  merasa dia amat bisa di andalkan untuk membantu aku. Kini kehidupan  akupun berlanjut seperti biasa,namun kini gangguan dimalam malam kembali  mulai.Aku merasa ada sepasang mata yang sedang mengintipku saat tidur  di kamarku. Namun aku tidak terlalu takut sebab,aku tahu itu hanyalah  orang iseng dan tak bermoral. Selain itu atap rumahku sering di lempar  kerikil.Aku pun tetap mengacuhkannya.Aku juga tidak melaporkannya pada  suamiku.Dan kini aku kembali merasakan bahwa yang menganggu aku itu  adalah orang yang sama yaitu Satpam Saroji.Aku heran kenapa dia masih  saja melakukan hal yang demikian padahal aku sudah berbaik baik pada  istrinya.Aku tidak mau terlalu memikirkannya,tidak adil rasanya jika aku  ikut melibatkan istrinya yang sudah amat susah karena perbuatan Bang  Saroji.Aku yakin saja itu perbuatan Satpam Saroji,sebab dibalik sikap  baiknya itu tersimpan maksud yang aku tidak tahu.Aku merasakan juga dia  sering mencuri curi pandang padaku di saat dia membuka portal gerbang  blok rumahku.Dan sampai sekarang aku tidak punya bukti tentang  perbuatannya itu.Aku hanya merasa dari bisikan naluri kewanitaanku  saja,bahwa orang ini tidak baik itu saja.</p>
<p>Dan aku pun bersama suami pun kembali seperti biasanya.Suamiku pun  pulang dari luar pulau dan kamipun melakukan refresing. Kamipun pulang  ke rumah malamnya dan malam itu kami melakukan hak dan kewajiban sebagai  suami istri lagi. Disaat kami berhubungan itu, aku merasakan ada yang  mengintai kami, namun untunglah suamiku telah mematikan lampu dan  menggantinya dengan lampu tidur yang cahayanya cukup temaram. Jadi orang  diluar jika bisa ngintip ya tidak bisa menikmati seperti yang kami  rasakan. Masih dalam keadaan bersenggama, suamiku membisikku,ma…ada yang  ngintip, katanya.Rupanya bukan aku saja yang merasakan suamikupun tahu.<br />
“Pasti orang itu akan pusing deh” kata suamiku sambil memaju mundurkan  kemaluannya di liangku.<br />
Kamipun lalau tersenyum berbarengan dengan datangnya orgasme kami yang  bersamaan. Setelah berhubungan malam itu, kami menutupi tubuh telanjang  kami dengan selimut dan tidur hingga paginya. Selama suamiku berada di  sisiku aku, kami mulai mengacuhkan tindakan iseng orang yang melakukan  pengintipan itu. Bahkan kini malah aku sepertinya sudah bisa melupakan  semua itu meski dihati kecilku masih merasa kurang nyaman. Aku semakin  yakin orang itu adalah bang Roji sebab dari caranya memandang aku aja  sudah dapat kuterka, apalagi sering melirik bagian bagian sensitif di  tubuhku jika ketemu. Didepan aku aja dia bersikap ramah dan sopan, dia  seperti musang yang berbulu domba yang siap untuk memangsa jika lengah.  Lagian kini aku punya teman bicara jika di rumah yaitu istri tuanya bang  Saroji dan bisa mengorek keterangan tentang latar belakangnya secara  detail. Memang pernah istrinya bilang bahwa bang Saroji itu memiliki  suatu nafsu yang besar dan dia juga pernah melakukan hubungan seks  dengan wanita lain selain istri-istrinya namun mpok Esih tak bisa  melakukan apapun untuk mencegahnya. Ia tidak berdaya jika bang Roji  selalu mengancamnya untuk menceraikannya jika terlalu ikut campur. Aku  yang mendengar penuturan mpok Esih itu semakin trenyuh melihat  penderitaan dan tekanan bathin menjadi istri bang Roji yang tidak punya  malu itu.</p>
<p>Kini aku menjalani kehidupan secara normal dan amat bahagia bersama  suami dan putri semata wayangku yang kini berusia tiga tahun ini.Memang  aku rasakan kini kami sudah tidak lagi rutin melakukan kebersamaan di  tempat tidur bersama suamiku.Aku maklum saja karena Mas Dodo sering  keluar kota dan aku disibukan dengan berbagai tetek bengek pekerjaan  kantor, juga rumah tangga yang membuatku seakan lupa akan hak dan  kewajibanku. Kini kami hanya melakukan hubungan badan hanya dua kali  sebulan kadang sekali saja. Memang kuakui terkadang dimalam malam  tertentu aku amat membutuhkan belaian dan sentuhan seorang suami  kepadaku. Namun aku memendamnya sebab suamiku bekerja keras dan  membanting tulang untuk kami juga nantinya. Makanya aku sampai saat ini  masih tetap menjalani malam-malam yang sepi tanpa suamiku.Hingga pada  saat suamiku pulang,kami pun melakukan hubungan badan untuk melepas  rindu kami berdua.Malam itu kami melakukannya beberapa kali hingga aku  pun merasakan kepuasan yang amat membuatku lelah dan capai. Begitupun  dengan suamiku, dia langsung tertidur dengan nyenyak sekali hingga ia  tak menyadari adanya sebuah sms ke handponenya. Aku yang saat itu belum  tertidur dan masih meresapi kenikmatan yang baru aku alami bersama  suamiku meraih HP-nya. Aku tak sampai hati membangunkan suamiku. Iseng  saja aku buka sms itu, dan….aku amat terperanjat dengan kata kata dalam  pesan singkat itu.pesan itu dari seorang wanita yang dari kata katanya  amat membuat bulu kudukku berdiri. Kalimat dalam sms itu mengatakan  bahwa,dia wanita itu amat menikmati hubungan terlarang bersama suamiku  selama ini,dan ingin mengulanginya lagi jika suamiku ke kotanya.</p>
<p>Bagaikan petir disiang hari yang menghantam kepalaku, aku kaget  sekali membacanya. Tidak aku duga sama sekali jika selama ini suamiku  telah menyeleweng dariku.Ia memiliki wanita lain di kota lain. Pantas  saja selama ini ia tidak begitu acuh terhadapku dan seakan tidak  membutuhkan diri aku dalam hubungan biologis.Aku memandang tubuh suamiku  itu yang masih tertidur dengan nyenyaknya. Aku amat bersedih hati,  disaat malam-malam aku menahan gejolak sebagai seorang wanita dan  merindukan belaian suami, namun di tempat lain suamiku malah main gila  dengan wanita lain, rasa marah bersiliweran di dadaku malam itu. Namun  sebagai wanita dewasa dan berpendidikan, aku tidak akan melakukan hal  yang bikin ribut dan pertengkaran. Paginya disaat sarapan, kulihat  suamiku terlihat amat gembira seakan tak terjadi suatu apapun jua. Baru  setelah sarapan pagi itu,aku minta waktu suamiku untuk membicarakan sms  yang aku baca tadi malam. Pagi itu dengan menumpang mobil suamiku, aku  pun menuju tempat yang kami anggap sebagai tempat yang bagus untuk  membicarakannya. Tempat yang kami pilih merupakan sebuah taman kota yang  aku rasa cukup privasi bagi kami berdua, sebelumnya aku telah  menitipkan anakku ke mpok Esih.</p>
<p>Dengan kekakuan yang aku perlihatkan saat itu,membuat suamiku menjadi  bingung.Ia menduga-duga apa yang akan aku bicarakan bersamanya saat  itu.Apalagi,aku memilih tempat di taman kota ini untuk bicara empat mata  padahal kata suamiku di rumah saja kan bisa. Aku lalu dengan perlahan  bilang tentang sms tadi malam. Suamiku sempat bingung dan dengan kaget  ia mencari Hpnya dan membuka sms di hpnya. Ia kaget sekali melihat ada  sms dari wanita itu. Dengan muka merah dan menahan rasa malu yang amat  sangat ia minta maaf dan mengakui bahwa ia telah melakukan kekhilafan di  luar kota. Dengan memohon mohon ia minta agar aku mau memaafkannya. Ia  pun berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku tentu saja tidak begitu  saja percaya akan keterangannya itu. Aku hanya memikirkan nasip putri  kami satu satunya. Apalagi dia akan kehilangan keutuhan keluarganya.  Hatiku amat hancur mendengar pengakuan suamiku itu.Dengan berbagai  alasan dia bilang bahwa ia juga merasa dijebak oleh rekan bisnisnya di  daerah. Dengan memberinya sedikit ultimatum agar menjauhi perbuatannya  itu, akhirnya dengan hati yang tidak karuan aku kembali menerima  suamiku. Namun aku tidak sepenuhnya percaya padanya, ibarat gelas yang  retak amat sulit rasanya untuk menerimanya kembali utuh.Perlu waktu  untuk mengembalikan proses kembali sedia kala.</p>
<p>Kini aku kembali kepada kehidupanku. Aku tetap melayani suamiku  seperti biasanya, namun jika sudah membayangkan saat dia bersetubuh  denganku bayangan akan perbuatannya dengan wanita lain itu kembali  muncul hingga membuatku hilang gairah dan padam. Kini aku hanya  melaksanakan kewajiban sebagai seorang istri kepada suami, ibarat kata  hanya tubuhku saja yang dinikmatinya, bukan lagi hatiku. Aku seakan mati  rasa, bayangan perselingkuhan suamiku membayangiku meski aku tidak  melihatnya secara langsung. Keadaan rumah tanggaku semakin kacau  semenjak kejadian suamiku itu. Suamiku pun tetap beraktifitas dan sering  keluar kota Namun kini keadaan semakin gak karuan.Tampaknya wanita itu  memang tidak memiliki rasa ,sebab pernah aku telpon dan bilang padanya  bahwa suamiku telah memiliki keluarga juga anak.Tampak dia tidak peduli  dengan keadaan kami.Aku tidak kuasa mengambil keputusan,dengan berbagai  pertimbangan dan mengingat masa depan anakku kelak.Kini akupun sudah tak  peduli lagi dengan suamiku.Yang jadi prioritas bagiku adalah bagaimana  membesarkan anakku ini kelak, jika kemungkinan terburuk yaitu perceraian  terjadi.Aku hanya saja sedih karena awalnya keluargaku amat bahagia dan  saling sayang. Berbagai bayangan buruk berkecamuk di pikiranku.Apa  nanti kata keluarga besarku jika aku bercerai dengan suamiku  ini.Tentunya aku yang akan mereka salahkan karena mereka tidak tahu apa  yang sebenarnya terjadi. Jujur saja bagiku tidaklah sulit mencari  pengganti mas Dodo, apalagi aku juga punya pekerjaan juga usia yang  masih muda dan masih cukup mampu menarik hati lawan jenis. Berpikir  demikian aku tak sampai hati jika nantinya anakku akan memiliki ayah  tiri. Aku semakin sedih memikirkannya.</p>
<p>Suamiku masih tetap seperti biasanya pulang dan tidur dirumahku. Kini  keadaan seperti api dalam sekam dan tak mudah di padamkan. Sampai saat  ini aku masih melaksanakan kewajibanku sebagi istri kepada suamiku.  Malam itu suamiku mencumbuiku,namun aku amat susah untuk mengikuti  alunan gairah yang ia pancarkan. Tidak seperti dulunya aku merasakan  kenikmatan di saat berduaan dengannya.Namun aku paksakan diriku menerima  perlakuannya ini.Hingga aku mendengar kehebohan yang cukup membuat kami  menghentikan aktifitas ranjang ini. Suara kehebohan itu berada  dihalaman rumahku. Dengan mengenakan pakaian tidur kembali,aku dan  suamiku buru buru keluar rumah. Di halaman sudah ada dua orang satpam  yang menangkap basah seorang pemuda di dalam halaman rumahku. Rupanya  malam itu rumahku akan disatroni maling,namun berhasil digagalkan  satpam. Dan satpam yang menangkap basah maling itu kebetulan bang Roji.  Dengan wajah babak belur si Maling itu digebukin hingga bonyok. Suamiku  lalu mengikuti satpam yang membawa maling itu ke pos jaga. Rupanya  maling itu adalah pemuda dari kampung sebelah dan selama ini penghuni  kompleks sering kemalingan karena ulahnya. Malam itu juga malingnya di  serahkan ke polisi. Aku sedikit lega, berarti yang mengintip dan  melakukan terror di rumahku adalah maling itu.</p>
<p>Aku pun kini semakin akrab dengan Mpok Esih jika sebelum berangkat  dia sudah ada di rumahku. Jika aku libur ke kantor kami sering  ngobrol-ngobrol mengenai rumah tangga. Aku harus belajar banyak dari dia  karena bagimanapun dia lebih tua dan lebih pengalaman dari aku. Begitu  juga,kini aku tidak berprasangka lagi pada suami mpok Esih yaitu bang  Roji. Bang Roji pun kini sering membantuku mengangkatin barang dari  mobilku jika aku pulang dari mal membawa belanja keperluan sehari hari.  Aku pun sering memberinya sekedar uang rokok kadang juga aku titipin ke  mpok Esih karena bang Roji sering menolak pemberianku. Suatu hari Mpok  Esih,bicara padaku bahwa,ia ingin meminjam uang untuk Dp membeli sepeda  motor. Mpok Esih berjanji akan mengembalikannya dengan angsuran gajinya.  Dengan niat untuk membantunya aku pinjami dia uang. Rupanya dia membeli  motor dengan cara kredit karena setelah dinas bang Saroji bisa mengojek  katanya. Masih menurut Mpok Esih suaminya agak malu jika langsung  bicara padaku atau suamiku sebab keluargaku telah banyak membantunya.  Karena hubungan baikku dan keluarga Mpok Esih terjalin aku agak bisa  melupakan kemelut keluargaku. Aku kini sudah bisa menganggap mereka  adalah saudaraku karena tidak jarang aku minta bantuan kepada mereka  jika aku ada masalah yang tak bisa kuselesaikan, misalnya ada kabel yang  putus atau kadang aliran pompa yang rusak.</p>
<p>Di suatu malam saat suamiku sedang keluar kota, hujan turun dengan  derasnya dan mobilku sempat menerobos genangan air itu. Beberapa saat  menuju jalan kerumahku, mendadak mobilku mogok. Aku kelabakan dan  bingung mau menghubungi siapa malam itu apalagi malam itu disekitar  jalan itu hanya ada satu dua mobil yang lewat. Tiba tiba aku dapat ide  dan aku lalu menelpon ke rumah karena ada mpok Esih. Untunglah dia masih  di rumahku baru menidurkan anakku. Aku minta bantuannya agar memanggil  suaminya untuk menjemputku tidak jauh dari kawasan perumahan ini.Mpok  Esih menyanggupinya. Beberapa menit kemudian Bang Roji datang dengan  sepeda motornya dengan mengenakan mantel hujan. Aku yang masih berdiam  dalam mobil bilang,mobilku mogok kena air dan mungkin mesinnya  terganggu. Lalu bang Roji berusaha membantuku dengan mendorong mobilku.  Naas mobilku tak mau hidup padahal sudah didorongnya agak jauh. Lalu  bang Roji bilang padaku agar mobilku di tumpangi saja dulu di warung  dekat situ. Sedang aku diantar sampai rumah malam itu karena hujan amat  deras. Malam itu terpaksa menumpang di bonceng bang Saroji dengan sepeda  motornya hujan hujanan dan memakai mantel hujan yang agak besar hingga  tubuhku bisa terhindar dari siraman air hujan.Mau tak mau aku duduk  terpaksa seperti laki laki sebab mana mungkin bisa duduk nyamping pake  mantel seperti itu.Aku tak mempedulikannya lagi yang penting malam itu  aku harus sampai rumah,walaupun saat itu aku duduknya merapat ke  punggung bang Roji.Aku yakin dia tak terlalu merasakan pergeseran antara  dadaku dan punggungnya apalagi yang aku tahu ia serius memperhatikan  jalanan yang masih tergenang air.Beberapa saat kemudian aku sampai di  rumah dan dengan berlari aku masuk rumah.Busanaku saat itu basah  sekali,aku langsung ke kamar mandi sementara mpok Esih yang masih berada  di rumahku menemui suaminya dan memberikan handuk kecil untuk mengelap  tubuh suaminya itu.</p>
<p>Sejak itu hubungan keluarga kami semakin erat, tidak jarang aku  mengajak Mpok Esih dan bang Roji untuk jalan jalan ke luar kota, mereka  juga membawa seorang anaknya yang sering bermain dengan anakku. Saat itu  aku membawanya ke pantai Anyer yang cukup indah. Setiba di pantai  itu,aku menyewa dua buah bungalow untik kami.Keluarga bang Roji dan aku  bersama anakku.mereka amat senang sekali aku ajak,bagi mereka entah  kapan bisa bertamasya ke pantai.Di bibir pantai itu aku perhatikan  mereka amat bahagia sekali berlarian bertiga dengan anaknya. Namun  anakku minta ikut juga dengan mereka.Dan dengan senang hati,anakku  berlarian di pinggir pantai dengan mereka.Dari jauh aku perhatikan  kegembiraan itu,dan jauh di lubuk hatiku ada rasa sedih ,sebab disaat  saat libur ini seharusnya anakku mendapat perhatian dari ayah  kandungnya. Namun kini ayahnya sibuk dan di hari libur itu tak ada  memberi kabar. Aku tahu dia kembali jatuh kepelukan wanita itu. Hati  kecilku berkata demikian. Syukurlah kini aku tak lagi mempedulikan  suamiku itu, yang ada dalam hatiku adalah gimana membuat buah hatiku  bahagia. Hingga hari kedua pun kami akhirnya pulang dengan terpancarnya  rona bahagia di wajah keluarga Bang Roji.</p>
<p>Dan hari demi hari berlalu, sebagai seorang wanita dewasa tak bisa ku  pungkiri aku membutuhkan seorang laki laki di kehidupanku apalagi  dimalam malam saat masa suburku ini. Aku seakan melupakan segala  kesalahan suamiku. Aku ingin mereguk kenikmatan ragawi bersamanya.  Disaat suamiku berada di rumah, aku sudah mempersiapkan diri untuk  melaksanakan kewajibanku itu, namun heran kini malah saat bersama suami  tiba-tiba saja gairahku yang sudah naik jadi hambar dan hilang. Aku  berusaha untuk membangunkan kembali keinginanku itu namun tetap hilang  tanpa bekas. Kini yang ada di dalam diriku adalah rasa benci yang amat  sangat kepada suamiku dan tanpa aku duga juga, suamiku pun mulai berkata  kasar padaku. Aku terperanjat dan amat kecewa, selama kami menikah  belum pernah rasanya suamiku berkata kasar seperti itu. Kejadian ini  semakin sering terjadi didalam kehidupan kamar kami. Kamipun lalu larut  dengan kesibukan masing-masing dan seolah hidup dalam bara yang siap  meledak.</p>
<p>Aku amat kasihan pada buah hatiku,sebab kini ia seakan kehilangan  sosok seorang ayah.Padahal dalam usianya saat ini,ia amat  membutuhkannya.Tak heran kadang ia ingin ikut kerumah Mpok Esih untuk  tidur di rumah mpok Esih.Apalagi di sana ada anak Mpok Esih yang sering  mengajakknya main. Juga ia semakin akrab dengan Bang Roji. Ia terlihat  dekat sekali dengan Bang Roji yang ia sebut dengan Pak De.Begitu juga  Bang Roji juga senang dengan putriku itu. Sering Putriku di bawa jalan  jalan dulu saat ia menjemput Mpok Esih. Kadang ia menangis jika Mpok  Esih dan Bang Roji akan pulang. Maka terpaksalah mpok Esih merayunya  dulu hingga tidur lalu baru pulang. Begitu juga putriku sering minta  bang Roji untuk ,dating kerumah disiang hari.Ia amat terhibur dengan  cara Bang Roji menghiburnya.Aku juga mengkhawatirkan itu.Sebab sosok  ayah pada dirinya akan hilang.Aku tak ingin putriku kehilangan sosok  ayahnya,bagaimanapun masalah sedang membelit kami.Hingga terjadilah  peristiwa yang membuatku semakin kacau dan bingung. Putriku dengan  kemanjaannya selalu minta di tidurkan oleh Pak De Roji. Aku tak bisa  melarangnya sebab jika tak dituruti maka dia akan terus menangis malam  harinya. Pernah aku tak mengabulkan permintaanya itu akibatnya aku yang  malah kerepotan. Akhirnya aku membiarkan Bang Roji yang menidurkan  putriku dikamarnya. Sedang Mpok Esih sudah pulang duluan sebab tugasnya  hari itu sudah habis. Tidak jarang aku memanggilkan Bang Roji ke Pos  jaganya untuk menidurkan putriku.</p>
<p>Putriku juga sudah tak lagi terpengaruh jika ayahnya ada di rumah.  Tampaknya ayahnya juga tak lagi memperhatikannya. Kini ia merasa lebih  diperhatikan Bang Roji yang biasa di panggil Pak De Roji. Dan permintaan  putriku itu sering membuatku pusing.Disaat suamiku ke luar kota,  putriku minta bang Roji untuk bobo di kamarnya.Permintaannya membuatku  heran. Dengan berbagai alasan aku bilang saja Pak De sedang kerja dan  tak bisa menemaninya, tapi dia tetap tak percaya.dan malah malam hari  itu aku terpaksa membawanya ke pos jaga sekedar membuktikan perkataanku.  Barulah ia mau pulang setelah di bujuk Bang Roji. Kini Bang Roji jika  tak bertugas maka ia pasti tidur di rumahku. Demi anakku  permintaannyaitu aku penuhi saja. Untunglah istri Bang Roji mau mengerti  akan tugas suaminya itu. Aku merasakan merasa asing jika di malam malam  itu ada orang lain yang tidur dirumahku. Apapun alasannya itu adalah  salah apalagi suamiku tak berada di rumah. Setiap malam hari aku selalu  mengunci pintu kamarku, namun aku tetap kuatir akan terjadinya sesuatu  di luar nalarku.</p>
<p>Keakraban putriku dengan Bang Roji semakin mengkhawatirkanku. Putriku  malah minta agar aku juga ikut menidurkannya di kamarnya dengan  mengikut sertakan pak De Rojinya. Aku tentu terkaget kaget atas  permintaannya.Dengan berbagai alasan aku bilang bahwa itu gak mungkin  apalagi tempat tidurnya sempit, aku memberi alasan apa jadinya jika  ayahnya tahu aku tidur di ranjang anakku bersama bang Roji. Putriku  tetap dengan permintaanya.bagiku ini adalah dilemma, apa jadinya jika  aku tidur seranjang dengan anak dan orang lain yang bukan apa apaku. Aku  tahu,lama lama aku bisa saja terjebak kedalam jurang nista. Lalu aku  bicara pada bang Roji,bahwa jika putriku sudah tidur ia akan keluar  kamar atau keluar rumah,sebab aku tak enak dan tak wajar dilihat orang  lain. Apalagi jika suamiku tahu kejadian ini. Bang Rojipun  menyetujuinya.Setelah anakku tertidur ia pun lantas keluar kamar. Kadang  ia langsung ke rumah istrinya,ya aku maklumi ia akan menggilir  istri-istrinya.Terkadang aku yang keluar kamar jika anakku di tidurkan  bang Roji dan setelah bang Roji keluar kamar barulah aku masuk. Namun  lama kelamaan kejadian ini semakin biasa terjadi, tak jarang bang Roji  langsung tidur di rumahku dan subuhnya baru ia pulang. Namun malam  itu,aku amat lelah sekali,hingga aku tak sadar bahwa bang Roji juga  tidur di kamar anakku dan dengan berdempet-dempet karena sempitnya.  Tubuh kami hanya di batasi oleh tubuh putriku. Namun karena kelalaianku  juga aku tak sadar kadang tanganku bersentuhan dengan tangannya di saat  anakku posisinya mulai tak beraturan.</p>
<p>Malam itu,aku tak sadar bahwa aku telah tidur seranjang dengan orang  lain.Aku tak sadar entah kapan putriku pindah tidur arah bawah kasur  yang cukup sempit itu.Kini di atas ranjang hanya aku dan bang Roji juga  putriku dibagian kakiku.Aku seakan tak menyadari bahwa kaki bang Roji  sudah menempel di betisku dan menggesek gesekan jari kakinya. Aku merasa  geli yang amat sangat dan malah menyambutnya, namun aku terbangun dan  langsung duduk. Aku lalu memandang bang Roji,sepertinya ia pura pura  tidur. Tak lama kemudian ia bangun dan duduk di pinggiran ranjang.  Dengan kaget aku baru mengetahui bahwa anakku sudah berada di lantai.Aku  lalu membangunkannya dan mengendongnya ke atas ranjang. Dengan sedikit  mimik ketus aku minta bang Roji keluar kamar.Ia lalu keluar kamar.Aku  lalu mengunci pintu kamar dari dalam. Mataku tak mau tidur memikirkan  kejadian tadi.Untunglah tadi aku terbangun jika tidak entah apa yang  akan terjadi malam itu.Semalaman aku memikirkan kejadian tadi kemudian  rasa takut mendera aku.</p>
<p>Kini hampir tiap dua malam sekali Bang Roji selalu ada di rumahku. Ia  hanya tak dirumahku jika suamiku ada di rumah. Anehnya putriku tidak  minta agar bang Roji tidur dirumah jika ayahnya ada. Aku pun semakin  memperhatikan pakaianku jika ia berada di kamarku.Tidak jarang aku  selalu memakai pakaian hingga dua lapis,berjaga jaga terhadap segala  kemungkinan. Dan kini di atas ranjangku Bang Roji kembali menidurkan  putriku. Setelah putriku tidur barulah dia keluar kamar dan rumah dan  bertugas.Aku heran kini aku tak lagi menaruh rasa marah atau kuatir pada  sosok Bang Roji. Padahal awalnya aku amat takut terhadap cara dia  memandang tubuhku. Herannya lagi, kini aku malah semakin kagum  kepadanya. Aku merasa dia tidak akan bertindak aneh-aneh padaku. Apalagi  di kamar ini hanya ada aku dan dia juga putriku. Jika ia bajingan bisa  saja aku di paksanya untuk melakukan hal yang lebih tercela lagi, namun  tidak ia lakukan.Aku heran atas sikapku ini. Apakah ini sebagai  perwujudan rasa kesepianku selama ini, aku tak tahu. Jujur saja di  kantor aku sering diajak rekan rekan pria untuk makan malam atau kadang  ngajak nonton. Namun aku tak menghiraukan ajakan mereka sebab aku tak  mau menambah beban masalahku yang sudah rumit ini.</p>
<p>Kehidupan pernikahan aku dan Mas Dodo pun semakin tak karuan.  Jangankan nafkah sebagai tanggung jawab suami pada istri, nafkah bathin  saja dia sudah jarang dia beri. Mungkin ia telah terperdaya wanita  simpanannya di daerah itu. Aku semakin di telantarkan. Aku semakin  membencinya jika sudah berada dan tidur dikamar. Anaknya saja sudah  jarang di gendong juga di sayang sayang apalagi aku. Aku kasihan putriku  satu satunya ini. Ia kini hanya mencurahkan rasa memiliki ayah kepada  Pak De Roji yang biasa membawanya jalan jalan. Putriku amat membutuhkan  figur ayah dimana ia bisa berlindung dan di manja yang semuanya tidak  didapatkannya dari ayah kandungnya. Aku amat kuatir dengan perkembangan  putriku ini. Kekuatiranku amat beralasan sebab dia semakin mau mengikuti  kemana Bang Roji pergi dan selalu nangis minta ikut hingga Mpok Esih  pun kelabakan jika kemauannya tak dituruti. Putriku selalu baru mau diam  jika digendong bang Roji beberapa saat. Pernah suatu hari aku akan ke  rumah orangtuaku dan membawa putriku.Di gerbang pos jaga, bang Roji  sedang tugas. Putriku nangis minta berhenti dan ingin di gendong  beberapa saat oleh Bang Roji. Terpaksalah aku menuruti keingannya ini.  Aku menghentikan mobil tak jauh dari pos jaga.Bang Roji keluar posnya  dan berjalan menuju mobilku. Aku membuka pintu samping dan putriku  langsung menghambur ke pelukan bang Roji. Tak lama memang lalu aku ambil  putriku dari gendongan Bang Roji yang saat itu siap siap akan  memberikannya ke pangkuanku.Disaat aku menyambut tubuh putriku itu  secara tak sengaja tangan bang Roji bersentuhan dengan buah dadaku  beberapa saat. Aku merasa sedikit jengah saat itu sehingga dengan buru  buru aku tarik tubuh putriku dari pelukan bang Roji. Sempat ia minta  maaf atas ketidak sengajaannya tadi. Aku hanya diam saja sambil berlalu  dan terima kasih karena gendongannya pada putriku saat itu.Aku lalu  masuk mobil dan berlalu .</p>
<p>Selama perjalanan aku masih terbayang kejadian barusan. Aku merasa  malu saat di sentuh tadi. Tangan kasar bang Roji seakan mampu merasakan  kelembutan payudaraku. Syukurlah kejadian itu tak diketahui orang lain  karena di samping mobilku yang parkir. Hari itu aku di rumah ibu tak  lama karena akan berbelanja kebutuhan dapur ke mall dan lalu pulang  kerumah. Sesampainya dirumah, aku diBantu bang Roji menurunkan dan  membawa barang bawaanku dari bagasi mobil. Ini adalah kebiasaannya  membantu aku, sedangkan Mpok Esih tak masuk hari ini karena ia pulang  kekampungnya di Kuningan sana. Jadi terpaksa rumah aku kunci saja selama  aku pergi. Sore itu Bang Roji baru selesai aplusan dengan rekannya dan  seperti biasanya ia ada waktu untuk membawa putriku jalan jalan keluar  komplek. Aku pun sibuk memasak makanan untuk malam dan esok di dapur.  Aku agak senang karena putriku sudah dibawa bang Roji jalan jalan,sebab  akhir-akhir ini ia agak rewel. Setelah selesai masak dan aku mandi dan  bersih bersih rumah. Akhir minggu ini aku gak ada acara keluar. Namun  akhir minggu ini suamiku masih di luar kota dan juga tak ada  beritanya.Lalu tiba-tiba terdengar suara putriku dan Bang Roji memasuki  rumahku. Mereka tertawa sambil membawa boneka kesukaan putriku. Setelah  mengantar putriku kerumah, bang Roji minta diri sebab ia akan pulang dan  mandi katanya.Namun Putriku tetap tak mau lepas dari gendongannya walau  dengan berbagai alasan Bang Roji juga berusaha melepaskan putriku.  Akhirnya dia malah nangis dan akupun minta Bang Roji untuk menuruti  kemauannya saja.<br />
“Bang, mandi aja disini ya” kataku “kasihan Suci gak mau diam jika abang  pergi”<br />
Akhirnya terpaksalah Bang Roji mandi di rumahku setelah aku sediakan  handuk cadangan dan juga peralatan mandi yang selalu kusediakan. Malah  Suci anakku minta bang Roji malam itu tidur di rumahku. Aku hanya diam  saja tak bisa melarangnya lagi.</p>
<p>Malam itu,Bang Rojipun menidurkan putriku dikamarnya. Setelah putriku  tidur barulah dia ingin pulang sebentar untuk memberikan uang dapur  pada istri mudanya. Aku sempat bilang padanya agar malamnya ia balik  lagi sebab aku kuatir jika nanti putriku bangun ia akan menanyakannya  dan jika tak ketemu maka ia akan nangis lagi kataku. Bang Roji akhirnya  menyetujui permintaanku itu dan berjanji akan segera balik secepatnya.  Beberapa jam kemudian cuaca berubah hujan deras diiringi angin yang amat  kencang. Sempat jendelaku di hempas angin hingga aku tutup dan kunci  dari dalam. Tak lama kemudian Bang Roji datang namun tidak dengan sepeda  motornya. Ia sengaja memenuhi janjinya agar putriku tak rewel lagi.  Dengan memakai mantel hujan ia buka pagarku yang memang tak di kunci.  Lalu ia kuncikan dari dalam. Sampai di pintu depan ia buka mantel  hujannya dan membunyikan bel rumahku. Aku tahu itu bang Roji lalu  membuka pintu dan lalu memberinya handuk karena percikan hujan  membuatnya tubuhnya basah. Aku mencarikan pakaian bekas suamiku yang  tidak terpakai lagi untuk mengganti bajunya yang basah itu, lalu  memberikan kepadanya.Di kamar mandi ia ganti bajunya dengan kaos yang  kuberikan itu.</p>
<p>Tak lama kemudian ia keluar kamar mandi dengan mengenakan celana  pendek yang telah ia sediakan. Bang Roji,bertanya padaku,bagaimana Suci  putriku apa bangun tadinya, kujawab saja putriku sangat nyenyak  tidurnya. Mungkin sudah capai saat dibawa keliling sore tadi jelasku.  Dia membuka pintu kamar putriku dan seolah itu anak kandungnya ia ciumi  pipi putriku dengan penuh kasih sayang. Aku terenyuh melihatnya, ayah  kandungnya saja sudah tak pernah menciumi putrinya. Aku kagum dan salut  akan perhatian Bang Roji pada putri semata wayangku ini padahal kami  bukanlah siapa siapanya namun perhatiannya pada keluargaku membuatku  semakin kagum dan menilainya amat baik. Malam itupun dia berjalan kearah  ruang tengah untuk menonton acara televisi, sementara aku kedapur  membuatkannya secangkir kopi juga membawakannya makanan kecil.Aku tak  lupa menyilahkannya untuk duduk saja di sofa itu dan tak usah terlalu  sungkan.Aku lalu menaruh kopi dan makanan itu di meja kecil dekat  televisi.Sedang aku lalu mencari majalah yang akan aku baca di  kamarku.Sebab aku ingin ke kamar,apalagi aku kurang merasa nyaman jika  di ruang tengah ini bersama dia. Apalagi hari telah beranjak malam.  Sambil berlalu aku minta jika mau tidur Bang Roji jangan lupa mematikan  TV sebab aku akan masuk kamar. Dia menyanggupinya. Hawa dingin malam itu  membuatku semakin menjadi ingin cepat-cepat masuk kamar.</p>
<p>Baru saja aku masuk kamar dan ingin baca majalah, tiba-tiba lampu  padam. Aku keluar kamar dan syukurlah lampu emergency langsung nyala.  Begitu juga di kamar anakku,jadi dia tak akan terbangun karena lampu  mati. Aku lihat Bang Roji,masih sibuk mematikan TV lalu mengecek kontak  listrik yang berada di luar rumah, siapa tahu ada yang koslet katanya.  Rupanya padamnya lampu karena ada gangguan angin dan dimatikan PLN sebab  lampu jalan juga padam. Dia lantas masuk kedalam rumah.Aku pun bilang  agar dia tidur dikamar putriku saja apalagi di kamar itu tersedia karpet  tebal di lantai yang biasa untuk bermain putriku<br />
“Itu bisa dijadikin alas tidur Bang” kataku.<br />
Dia lalu masuk kamar putriku dan membentangkan karpet itu di lantai.  Akupun membantunya mengambilkan karpet. Tanpa sadar aku terpeleset di  dalam kamar putriku itu, kakiku terantuk kayu tempat tidur karena cahaya  yang kurang terang. Aku meringis kesakitan, Bang Roji mendengar  ringisan kesakitanku. Dia lalu berusaha memapah aku untuk duduk di  pinggiran tempat tidur putriku. Lalu dia menanyakan letak balsam,aku  lalu menunjuk ke arah kotak obat yang terletak di ruang makan dekat  dinding lemari. Beberapa saat Bang Roji keluar mengambil balsam untuk  kakiku ini.Aku masih meringis kesakitan di mata kakiku. Tak lama  kemudian kembali kekamar dan berusaha memijiti mata kakiku yang terasa  sakit. Dengan mengoleskan balsam ke tempat yang sakit dia juga  memijitinya. Aku merasa nyaman dipijit olehnya. Itulah aku merasakan  kulitku di sentuh laki laki lain. Lambat laun rasa sakit mulai berkurang  dan terasa nyaman. Dengan intens ia terus memijiti telapak kakiku dan  dengan sekali hentak aku terkejut karena sakit lalu rasa sakit itu mulai  berkurang. Bang Roji memandangiku dari bawah.<br />
“Bagaimana rasanya Bu?” tanyanya.<br />
“agak enakkan bang” jawabku singkat.</p>
<p>Aku merasakan kini pijitannya mulai naik kearah betisku, aat itu aku  masih duduk di atas pinggiran ranjang putriku dan kulihat dia masih  nyenyak tidurnya. Ia seakan tak terganggu oleh suara hujan yang masih  deras dan angin kencang diluar rumah.Aku mulai merasakan geli di sekitar  betisku. Gerakan pijatannya amat membuatku merasakan kehangatan tangan  Bang Roji dan syukurlah saat itu aku mengenakan celana panjang piyamaku,  jadi betisku yang putih ini masih terlindung dari pandangan matanya.  Beberapa saat setelah merasakan enakkan aku pun turun ke lantai yang  telah dialas dengan karpet tebal yang akan ditiduri Bang Roji.Aku  bersandar di pinggiran kayu tempat tidur putriku.Aku amat berterima  kasih pada Bang Roji atas bantuannya itu. Akupun sempat memujinya yang  pintar mijat, dengan merendah ia bilang itu hanya kebetulan.Aku sempat  kurang nyaman saat dia menyebut aku Bu,padahal dia lebih tua dariku.<br />
“Bang,,,jangan panggil aku Bu, panggil aja aku dik atau nama aja”  kataku, “aku gak enak…apalagi abang lebih tua dariku”<br />
“Baiklah jika begitu dik Risa” jawabnya lagi, “O ya, dik Risa, koq mas  Dodo jarang kelihatan sekarang ya?” tanyanya.<br />
Aku sempat terkejut dia menanyakan tentang suamiku. Lalu aku jawab saja  bahwa suamiku kini ditempatkan di pulau luar jawa, jadi dia lebih banyak  disana dari pada disini terangku.<br />
“Koq dik Risa gak ikut ke sana juga, kan kasian Suci” ,katanya.<br />
“Yah, begitulah Bang, aku kan tidak bisa pindah kerja juga, apalagi kini  aku telah lama kerja di tempat yang sekarang, jadi sayang jika harus  berhenti.” jawabku menutupi kemelut dalam rumah tanggaku.</p>
<p>Kami lalu berbincang mengenai beberapa hal yang memang jarang aku  dengar dari mulut bang Roji. Malam itu aku berkempatan bicara banyak  dengannya juga tentang masa lalu dia dan kedua istrinya. Kami berbincang  hingga malam semakin larut, namun anehnya aku tak merasakan kantuk.  Akupun tak terlalu kuatir jika besok bangun kesiangan, apalagi sabtu dan  minggu aku libur di kantor. Masih di kamar putriku aku seakan menemukan  lawan bicara yang enak diajak bicara. Meskipun aku tahu kadang Bang  Roji amat polos dalam pembicaraan namun aku tahu dia cukup berpengalaman  dalam hal pergaulan bermasyarakat. Kadang aku senyum-senyum mendengar  dia bicara mengenai sifat dari kedua istrinya itu. Dari situ aku tahu ia  bukanlah seorang satpam sembarangan. Dia juga memiliki segudang ilmu  kanuragan juga silat yang di tuntut dari mudanya.Dan merasa pembicaraan  semakin hangat aku pun berusaha keluar kamar anakku untuk mengambil air  minum. Namun baru beberapa gerakan mau berdiri tiba tiba aku tak tahan,  kakiku seakan ngilu. Aku tak sanggup berjalan ke luar, syukurlah aku tak  sampai jatuh karena keburu di sambut Bang Roji ke pangkuannya. Aku di  papahnya duduk kembali di tempat semula.Dia bilang aku jangan berjalan  dulu, biar dia yang ambil minuman katanya. Aku diam saja dan diapun  keluar kamar mengambil yang aku maksud tadi.Kemudian dia kembali ke  kamar dan membawa air minum kekamar.Lalu aku di suruhnya berbaring aja  agar dipijat lagi.Aku mengikuti saja permintaannya itu.Bang Roji lalu  mengambil bantal yang ada di atas ranjang putriku.Lalu diletakkannya di  atas karpet dan aku disuruh rebahan agar gampang dipijat .</p>
<p>Selama dipijat aku merasakan amat rileks meskipun saat itu aku  bersama pria lain. Sambil memijat kami selalu berbincang sampai ke hal  masalah rumahtangga. Aku merasakan kenikmatan pijatannya telah membuatku  kegelian dan merasa tercambuk gairah. Syukurlah saat itu bang Roji tak  melihat perubahan di wajahku.Jujur saja saat itu aku mulai terangsang,  kaki celana panjangku sudah naik kearah lutut. Bang Roji menghentikan  pijatannya,dia merasa aku sudah tak sakit lagi.Aku di suruh untuk  menggerakkan kakiku itu. Syukurlah kembali baik dan gak terasa lagi  sakitnya. Bang Roji lalu bilang dia akan keluar saja sebab malam sudah  larut katanya. Aku lalu berdiri dan minta dia tidur dikamar ini saja,  biar aku yang keluar kamar kataku. bang Roji pun menuruti permintaanku.  Aku kembali bangun dari rebahan dan duduk, Bang Roji pun kembali duduk  diatas karpet itu. Namun dia memandangku dengan senyam senyum. Aku heran  apa yang menyebabkan ia tersenyum seperti itu. Lalu dia bilang,yang  seharusnya memijati aku adalah suamiku, dik Risa ini aneh katanya.  Dengan menutupi keadaan rumah tanggaku, aku bilang saja bahwa suamiku  kini di tempatkan di daerah dan menjadi kepala cabang perusahaanya.  Dengan mengangguk Bang Roji bilang, kenapa aku gak ikut pindah kesana.  Akupun beralasan gak enak meninggalkan pekerjaan yang telah aku rintis  dan memulai yang baru lagi ditempat lain,apalagi kini kami sudah  memiliki rumah yang harus kami selesaikan cicilannya. Ia tampaknya  mengerti dengan keteranganku.</p>
<p>Aku merasa malam semakin dingin, berdiri melihat putriku. Kututupi  tubuhnya dengan selimut tebal, sebab aku kuatir ia akan kedinginan malam  itu.Lalu aku kembali duduk di lantai beralas karpet itu dan ngobrol  lagi dengan Bang Roji, sepertinya dia belum ngantuk, aku juga. Kami  ngobrol masalah Mpok Esih juga istri mudanya kadang diselinggi obrolan  masalah sex dia dengan kedua istrinya. Aku mendengar dengan penuh  perhatian. Diam diam dalam hatiku merasa iri akan perhatian dia pada  istrinya juga rasa tanggung jawabnya pada keluarganya. Amat berbeda  sekali dengan yang dikatakan Mpok Esih selama ini. Sebagai laki laki aku  rasa ia amat bertanggung jawab, tidak seperti suamiku saat ini yang  melalaikan keluarga. Tanpa aku sadari aku menaruh simpati padanya,  meskipun dia adalah seorang satpam dan tukang ojek serabutan. Namun  karena tanggung jawabnya pada keluarga ia bisa menghidupi kedua  keluarganya. Saat itu aku merasa amat kecil didepannya. Herannya aku  semakin tak kuasa mendengar obrolannya yang amat menyentuh hatiku.  Karena merasa capai dengan posisi duduk, akupun merebahkan kepala di  bantal kecil. Sambil rebahan aku mendengarkan kisah juga tentang  kenakalannya dimasa lalu. Aku antusias mendengarnya meski mulai  dihinggapi rasa dingin yang menusuk tulang, padahal aku sudah memakai  celana panjang kimonoku. Bang Roji melihat aku yang kedinginan  menyarankan aku untuk memakai selimut atau sweater. Aku hanya mengambil  selimut dari lemari kamar anakku dua lembar.yang satu buat Bang Roji dan  yang satunya aku pakai.</p>
<p>Kututupi tubuhku dengan selimut, namun Bang Roji belum akan tidur  tampaknya. Aku merasa saat itu seakan bisa menerima dia dan juga  perhatiannya pada kami selama ini. Ia tampaknya tulus memberikan bantuan  tenaga dan juga mau menemani putriku yang tanpa pamrih itu. Heran aku  kini koq semakin merasa dia adalah sosok laki laki yang aku rasa bisa  memberikan perlindungan padaku, pikiran pikiran itu muncul tiba tiba.  Adakah aku telah kehilangan akal sehatku dengan menempatkan seorang pria  yang dulunya amat aku takuti dan curigai karena perbuatannya dan juga  kelakuannya yang amat tidak aku sukai sebagai sosok laki laki pelindung.  Aku semakin kehilangan akal sehatku dan menilai nilai diri Bang Roji  dengan penilaian yang amat plus dan tak menghiraukan dari mana dia dan  bagaimananya sifat dan latar belakangnya selama ini.Aku kini telah  mengenyampingkan peran dan sosok suamiku yang notabene masih sebagai  kepala keluarga dan suamiku yang syah. Disaat itulah aku dikejutkan oleh  panggilan Bang Roji yang tiba tiba mengagetkan aku yang sedang  melamun.Aku tersadar bahwa telah melamunkan hal yang gak aku sadari  itu.Aku lalu hanya senyum dan bilang tadi aku hanya membayangkan apa  yang Bang Roji ucapkan.Ia pun lalu bilang jika aku ngantuk ya tidur aja  kekamar sebab ia masih belum ngantuk katanya. Aku merasa malu saat  diingatkan disaat lamunanku terbang kemana mana. Bang Roji pun  bilang,apa aku punya masalah,sebab dari tadi saat dia ngobrol aku  sepertinya menerawang dan tak nyambung. Dengan muka agak merah, aku  mengangguk dan membenarkan tebakannya itu.Bang Roji pun terdiam dan  hanya memandangku saja, matanya tajam memandang bola mataku.Aku hanya  menundukkan wajahku, tak tahan ditatap seperti itu. Ia lalu berkata,  jika aku tak keberatan ya boleh diutarakan aja katanya lagi. Lalu ia  bertanya apakah selama ini ia dan istrinya sering membuatku merasa  terganggu.Aku jawab bahwa gak ada hubungannya lo Bang dengan keberadaan  Bang Roji disini. Lalu ia menebak lagi, apakah suamiku tak suka jika ia  dan istrinya sering membantuku? Aku hanya menggelengkan  kepalaku,pertanda tebakannya tak benar.Bang Roji lalu bilang,jika ia  menganggu ketenangan aku,ya dia biar keluar kamar saja katanya sambil  berdiri. Aku lalu menahan tangannya agar tidak keluar kamar.Aku heran  kenapa saat itu langsung menahan tangannya untuk berdiri padahal dia  bukanlah siapa siapa aku.</p>
<p>Merasa aku tak menghendaki dia keluar kamar, Bang Roji pun  mengurungkan niatnya.Dia lalu kembali duduk disampingku.Ketika itu  tangannya masih berada di genggamanku.Herannya aku tak juga melepaskan  tangan Bang Roji.Kini kami duduk di lantai dengan berdampingan.Dengan  suara yang agak serak aku minta Bang Roji menemani aku sambil ngobrol  meski aku tak peduli lagi aku bersama siapa malam itu.Apalagi aku lihat  putriku masih terbaring nyenyak dalam tidurnya,ia tak akan tahu  bagaimana problema yang aku rasakan saat ini. Apalagi untuk anak seusia  itu yang masih kecil. Disaat itu sebenarnya aku ingin ada yang  menemaniku dan mendengarkan keluh kesahku yang kini mendera, aku  merasakan Bang Roji cocok untuk diajak ngobrol paling kurang sebagai  penampung unek-unekku. Akupun lalu menumpahkan segala beban yang ada di  hatiku selama ini dan tak lagi memandang dia siapa. Mulai dari saat aku  menempati rumah ini hingga masalah rumah tanggaku yang dilanda dilema.  Dia juga semakin antusias mendengar penuturan aku. Bang Roji pun semakin  merapatkan tubuhnya kepadaku yang pada saat itu aku juga butuh tempat  merebahkan kepalaku.Dalam keadaan labil saat itu,aku mandah saja di dada  bidangnya. Perlahan aku seolah nyaman rebah di dadanya, diapun berusaha  membuatku rileks. Aku mulai merasakan rasa damai dan tentram saat itu.  Bang Roji lalu berusaha membelai belai rambutku.Ada rasa hangat yang aku  rasakan di saat itu.Belaiannya di kepalaku seakan mampu menghilangkan  kegundahanku selama ini.Aku sendiri sebenarnya amat bingung saat  itu.Apakah yang terjadi sebenarnya didalam diriku.Aku pun masih memegang  tangan kiri Bang Roji dan Bang Roji masih membelai rambutku juga  samping pipiku.Aku merasakan semua masalahku selama ini hilang saat  itu.Kini aku memasrahan diri pada Bang Roji.Aku seolah tak memiliki  pilihan lain lagi untuk keluar dari masalah ini.Aku tahu ini amat  bertentangan dengan norma kepatutan dan norma di masyarakat,apalagi dia  adalah seorang satpam yang tidak berhak ikut dalam prolema  keluargaku.Apa sih yang dapat aku harapkan dari dia? pertanyaan  pertanyaan itu sering muncul di benakku.Namun kemudian hilang begitu  saja,seolah aku amat membutuhkan nya tidak saja aku butuh teman curhat  juga butuh hal lain yang tidak aku dapatkan dari suamiku.Namun sebagai  wanita aku masih dibatasi oleh rasa angkuh yang tidak akan meminta  sesuatu itu padanya.</p>
<p>Sebagai laki laki dewasa dan berpengalaman ia seolah tahu apa yang  aku butuhkan.Tanpa bicara ia mulai membelai belai pipiku yang halus dan  memberikan hawa nafasnya ke tengkukku. Rasa geli dan hangat mulai  menjalariku. Aku semakin membiarkannya melakukan itu,dan suatu  kesempatan dengan keberaniannya ia pun mencium bibirku.Aku terkejut dan  melepaskan kulumannya pada bibirku. Kulumannya terlepas, namun anehnya  aku tidak berusaha menjauh dari pelukannya. Aku kemudian melengoskan  wajahku kearah lain padahal aku melakukan itu semua adalah untuk  menghindarkan kesan aku amat butuh saat itu. Tampak Bang Roji bukanlah  laki laki kemaren sore yang bisa aku bikin semaunya. Tanpa di suruh dia  lalu meraih wajahku dan kembali mengulum bibirku beberapa saat.<br />
“Sudah ahhh Bang, aku gak bisa bernafas nih” kataku berusaha melepaskan  kulumannya.<br />
Namun apalah dayaku untuk menahan setiap tindakannya. Dia lalu  melepaskan kulumannya dari bibirku, namun sebelah tangannya sudah  memasuki blus piyamaku. Dengan perlahan dan pasti,jari-jarinya memasuki  belahan dadaku dan berhenti di putting susuku. Rasa geli,juga nafsu  mulai melandaku. Aku tak kuat diperlakukan begitu olehnya. Tanganku  berusaha menahan gerakan jari-jarinya yang sudah berada di dalam bhku  saat itu, bagaimanapun aku merasa malu. Dengan sebisaku aku berusaha  menahan setiap gerakan jari-jarinya di permukaan putting susuku. ekuat  aku menahannya sekuat itu pula ia berusaha memilinnya ingga usahaku  menahannya semakin melemah karena deraan nafsu yang sudah mulai  mempengaruhi setiap sendi tubuhku.</p>
<p>Di perlakukan seperti itu,aku semakin terjerat oleh percikan birahi  yang di kobarkan Bang Roji.Perlahan dan pasti ia berhasil melepas atasan  piyama tidurku. an kini hanya tinggal bh yang hanya menutupi sebagian  kecil didadaku.Aku semakin terjebak ke jurang gairah yang mulai  menampakkan wujudnya. Aku pun kini seolah ikut menerima perlakuannya  saat itu. Rasa hangat yang di pancarkan jari jari Bang Roji di permukaan  kulitku sanggup membuatku merelakan dia melepas pengait bh yang aku  kenakan saat itu. Lalu bibir Bang Roji mulai merayap dan menggigit kecil  putting susuku secara perlahan,dan mampu membuatku seolah kembali  menjadi seorang wanita dewasa yang sempurna.Kulit dadaku seakan rela  menerima semua perlakuannya saat itu.Berulang ulang ia ekspos kedua  bukit dadaku dengan intensitas yang meninggi.Aku serasa di perlakukan  utuh sebagai wanita. Dengan kedua tanganku aku raih kepala Bang  Roji,seakan tak rela ia menyudahi tindakannya itu.Saat ini aku tak  peduli lagi siapa Bang Roji dan apa statusnya,yang penting saat ini  bagiku,bagaimana dahagaku terpuaskan. Merasa aku sudah menerima semua  perlakuannya, Bang Roji membisikkan sesuatu padaku.<br />
“Dik…Rissa, dikamar dik Rissa aja kita lanjutkan…gimana? kasian nanti  Suci bisa bangun” terangnya dengan suara yang menahan sesuatu.<br />
Ia seakan yakin aku akan mau melakukan hubungan yang lebih lagi denganku  malam itu. Aku juga sadar Bang Roji,ingin melakukannya dikamarku agar  anakku tidak terbagun dan tak ingin nantinya anakku mengerti tentang  hubungan yang kami lakukan.Saat ia meminta pindah kekamarku,aku  terbayang sedikit tentang kejadian yang akan terjadi.Apalagi status kami  yang cukup berbeda itu. Masih ada harapan bagiku untuk membatalkan  keinginan Bang Roji saat itu. Sebelum aku bangun dari rebahan di lantai  bersama Bang Roji aku kembali memunguti bh dan atasan piyamaku.Aku  langsung saja mengenakan atasan piyamaku tanpa mengenakan kembali bh  yang telah terlepas dari tubuhku oleh Bang Roji tadi.Bra itu tetap aku  pegang dan aku pun berdiri, lalu membuka daun pintu yang masih tertutup.</p>
<p>Akupun keluar dari kamar anakku dan berjalan kearah kamarku. Bang  Roji saat itu mengikuti aku kekamar. Kudorong pintu kamar dan masuk ke  dalamnya. Sesampai dalam kamar aku duduk diatas ranjangku. Bang Roji  lalu menutup pintu kamar dan menguncinya. Ia lalu duduk disampingku,  diraihnya tanganku dan dibawanya kebibirnya dan diciuminya. Melihat  tingkahnya itu,aku seakan terenyuh akan sikapnya yang terlihat sabar.  Aku yakin tanpa aku mintapun malam ini ia akan melakukan hal yang belum  pernah aku lakukan selain dengan suamiku. Aku tahu ini,amat bertentangan  dengan norma agama dan adat ketimuran yang kuanut, apalagi aku termasuk  wanita Jawa yang amat menjunjung tinggi tata krama, namun saat ini  seakan hilang semua. Perbuatan dan penyelewengan suamiku seakan  mencambuk diriku untuk melakukan pembalasan, meski saat itu aku  menyadari tidaklah benar tindakanku saat ini. Bang Roji,menyadari juga  perbuatannya saat itu,menyalahi hukum dan amat tercela,dengan suara  berat seolah menahan sesuatu dia masih sempat bertanya padaku.<br />
“Dik Rissa rela..akan perbuatan abang ini?” sambil menatap bola mataku  dalam dalam.<br />
Aku pun memandangnya dengan tatapan yang tajam seolah menantang dia  ,namun hanya beberapa saat.Aku kembali menundukkan mukaku ada rasa malu  jika aku memintanya melakukan itu.Bang Roji adalah laki laki dewasa yang  sudah amat banyak pengalaman seolah tahu apa yang harus ia perbuat.  Sikap diamku saat itu seakan persetujuan untuk perbuatannya selanjutnya.  Sambil meraih kedua tanganku lalu tubuhku dibawanya kepelukannya. Kini  tubuh kami amat dekat, meski saat itu kami masih mengenakan pakaian.  Namun karena aku tak memakai bra saat itu,seolah mampu membuatnya  semakin bernafsu padaku. Ketika aku dalam pelukannya,aku merasakan ada  rasa damai dan hangat yang sudah lama tidak aku rasakan lagi.Ada rasa  nyaman dalam pelukan Bang Roji yang bidang dan berotot itu,meski aku  akui ada juga bau yang kurang sedap aku rasakan saat itu.Namun semua  rasa yang ada dalam diriku seolah mampu mengalahkan bau bauan yang  kurang sedap itu.Aku semakin tenggelam dalam sosok tubuh Bang Roji,iapun  lalu mengulum bibirku,Aku berusaha semampunku untuk menerima  kulumannya,namun kembali bau kurang sedap dari mulutnya karena rokok dan  juga makanannya membuatku seakan hilang gairah.</p>
<p>Masih dalam pelukan ketat Bang Roji,akupun kembali terpaksa menerima  kuluman panasnya di bibirku.Rasa geli karena kumisnya yang bergesekan  dengan bibirku mampu membuatku terlena. Apalagi jelajahan lidahnya  didalam rongga mulutku mampu membuatku susah untuk bernafas.Dipancing  seperti itu,aku mau tidak mau membalas kuluman Bang Roji,hingga membuat  lidah kami seakan saling berkait dan ludah kami bercampur satu sama  lainnya.Dengan lincah tangan Bang Rojipun melepas kancing atasan  piyamaku hingga terlepas ke lantai. Jari-jarinya itu pun memilin dan  memutar putting dadaku hingga aku semakin terlonjak nafsuku. Puas  memainkan lidahnya di bibirku mulutnya turun melata dikulit dadaku.  Kembali aku merasakan geli yang amat sangat diperlakukan begitu. Aku  hanya bisa meraih kepalanya yang saat itu berada dibelahan dadaku.  Kalung yang aku gunakan seolah mengganggu aktifitas mulutnya didadaku.  Dengan tangan kirinya ia singkirkan kalungku kearah tengkukku lalu  kembali ia menyedot bukit dadaku bergantian kiri kanan.Berbagai rasa  kembali menderaku. Aku masih meraih kepalanya seakan tak ingin cepat  berlalu.aku merasakan rasa basah di organ vitalku saat itu.beberapa lama  bang Roji menggigit gigit dadaku dengan lembut dan meninggalkan tanda  di dadaku yang putih. Aku hanya mampu memicingkan mataku dan menuruti  perbuatan Bang Roji. Tiba tiba ia menghentikan aktifitasnya pada  dadaku.Aku pun membuka mataku,ingin tahu apa yang menyebabkan ia  menghentikan perbuatannya itu.</p>
<p>Jujur saja aku merasa kecewa karena ia menghentikannya, namun aku  diamkan saja. Rupanya Bang Roji sedang melepaskan kaos yang ia kenakan  dan tampak dadanya yang bidang,juga berbulu lebat. Di bahunya terlihat  sebuah tatto yang aku kurang mengerti gambarnya. Setelah kaos yang ia  kenakan lepas dari tubuhnya iapun langsung melepas celana panjangnya.  Kini ia hanya mengenakan celana dalam yang sudah terlihat menguning dan  ada lubang disana sini. Namun aku juga sempat melihat tonjolan besar  dibalik celana dalamnya itu. Dengan masih memakai celana dalam,bang Roji  berjalan menuju aku. Dia meraih daguku dan kembali mengulum bibirku  beberapa saat. Kemudian aku pun dibaringkannya diatas ranjangku. Saat  aku terbaring menanti Bang Roji, dia terlebih dahulu mematikan lampu  kamar dan menghidupkan lampu meja disamping ranjangku. Dengan hanya  diterangngi lampu tidur,ia menaiki ranjang tempat aku tergolek  pasrah.Aku tergolek lemah diranjang dengan bertelanjang dada dan masih  mengenakan celana pendek piyamaku. Bang Roji menuju kearah kakiku, ia  berusaha melepaskan celana piyamaku. Tidaklah susah melakukan hal itu  sebab aku sudah amat pasrah padanya. Celana yang aku kenakan dilepas dan  diletakkan dilantai samping ranjangku. Kini organ vitalku hanya  tertutup cd putih berbahan katun. Aku berusaha menyilangkan kakiku agar  basah di belahan kemaluanku tak terlihat Bang Roji. Bang Roji tidak  melepaskan cd yang aku kenakan itu.Ia membuka kedua kakiku. Lalu salah  satu tanganku masuk kedalam kain tipis penutup organ vitalku ini. Aku  terkaget tak menduga ia akan memegang kemaluanku. Tanganku langsung  menahan tangannya. Namun ia amat kuat dan tak berhasil kucegah  jari-jarinya mulai masuk ke dalam jepitan kemaluanku.Aku merasakan  seperti disengat aliran listrik yang sanggup membuatku kegelian dan  seakan meledak.</p>
<p>Bang Roji terus mengekspos daging kecil di belahan kemaluanku  membuatku semakin tak mampu menguasai diri. Hingga akhirnya aku orgasme  dan menjerit histeris oleh perbuatan tangan Bang Roji. Lelehan air  cintaku seakan membasahi jari bang Roji.Bang Roji lalu menarik dua  jarinya yang basah oleh air cintaku. Ia membawa kedua jarinya yang basah  itu ke bibirnya dan menjilatnya. Tanpa ragu ia mencicipi air cintaku.  Aku tak sanggup melihat perbuatannya saat itu. Tubuhku semakin lemah  karena orgasme yang kualami setelah beberapa lama tidak lagi aku  dapatkan. Aku tergolek pasrah dengan kedua kaki terbuka. Kini Bang Roji  berusaha melepas cdku yang basah oleh cairan orgasme. Tak sulit ia  melepas cdku saat itu karena aku sudah amat lemah dan aku pun sudah tak  merasa malu karena kini aku sudah telanjang bulat didepan orang lain  selain suamiku. Kepasrahan aku membuatku tak merasakan rasa malu  ditelanjangi saat itu. Aku tak merasakan lagi dinginnya malam yang  diguyur hujan deras saat itu, yang aku rasakan hanya rasa puas,dan  terbang keawang awang. Tubuhku yang basah oleh keringatku pun tak lagi  aku hiraukan juga jejak cupangan di sekujur dadaku. Melihat aku yang  masih telentang menikmati orgasme yang aku dapatkan Bang Roji pun seolah  mengerti aku butuh waktu beberapa saat untuk melepaskan rasa yang kini  menderaku. Tak membutuhkan waktu lama untuk kembali kekeadaan semula.  Aku sadar bahwa Bang Roji juga ingin kupuaskan namun yang pasti dia  ingin menggauli aku seperti hubungan suami istri.Aku merasa bimbang saat  itu.Apakah aku akan membiarkannya memasuki aku atau menghentikannya.Aku  tak punya keberanian saat itu.Aku tahu yang ia ingini seperti umumnya  laki laki ingin hubungan itu bukan hanya kepuasan sepihak seperti yang  aku dapatkan barusan. Bang Roji memandang aku dan dengan tatapan  matanya, ia seakan minta aku rela untuk disetubuhinya. Aku pura pura tak  mengerti apa yang dia ingini itu. Melihat kondisi aku yang sudah sedia  kala,Bang Roji melangkah kearahku. Ia berusaha kembali memancing nafsuku  dengan menciumi balik telingaku hingga tengkuk aku yang masih tersisa  butir-butir keringat. Aku kembali merasakan geli dan gairah yang kembali  muncul. Dengan penuh kesabaran Bang Roji tanpa merasa jijik  sekalipun,menjilati kulitku,mulai dari leher,dada,perut,hingga belahan  kemaluanku. Dia juga menjilati kedua kakiku. Aku merasa seorang ratu  yang diperlakukan seperti itu. Tanpa merasa jijik sedikitpun ia jilati  semua permukaan kulitku yang masih basah oleh keringatku. Punggungku dan  belahan pinggulku tak luput dari jelajahan lidahnya. Aku semakin merasa  salut dan kasihan atas perlakuannya itu padaku. Aku tak akan mungkin  menolak kehendak bang Roji saat itu. Ia memperlakukan aku lebih dari apa  yang selama ini aku bayangkan.Ini juga mungkin rupanya yang membuat  Mpok Esih dan istri mudanya tak mau dipisah oleh bang Roji.</p>
<p>Dengan telaten Bang Roji seperti memandikan aku dengan lidahnya.Tak  terlihat sedikitpun rasa lelah dan bosannya saat itu.Diperlakuakn  seperti itu seakan mampu memacu gairahku saat itu.Dan Bang Roji,lalu  meraih kedua belah buah dadaku dan membelainya dengan lembut.Padahal  saat itu,aku sudah basah sekali di liang kemaluanku. Perlahan dan pasti  pilinan dan rabaan di dadaku mampu membuatku kembali bergairah. Aku  hanya mampu menghentakan kakiku di ranjang sehingga spreynya semakin  kusut. Sedang kedua tanganku hanya memegang rambut Bang Roji yang masih  asik di atas perutku.Ia pun terus turun menuju ke kemaluanku.Kedua  kakiku ia sibakkan dan membuka. Kini tubuh kekar hitam Bang Roji sudah  berada di antara kedua kakiku. Kepalanya singgah di lepitan kemaluanku,  sementara lidahnya terus masuk ke liangku. Seolah memancing lidah Bang  Roji terus merangsek masuk dan memasuki celah organ intimku. Aku hanya  bisa memejamkan mata dan tak mampu membukanya. Aku semakin berada di  titik paling labil saat itu.Aku berusaha menahan rasa geli yang kini  semakin membuatku kepayahan. Bang Roji lalu melepaskan lidahnya dari  liangku. Aku merasa letupan birahi yang akan segera meledak padam  kembali. Bang Roji seakan tahu kelemahan aku. Aku tak tahu harus berbuat  apa,apalagi rasa letupan itu tadinya hampir meledak. Namun Bang Roji  pun bergerak bangun dan mengangkat kedua kaki dan menekuk lututku.  Tampak saat itu Bang roji akan melakukan penetrasi kedalam  kemaluanku.Bang Roji berdiri dan melepaskan penutup kemaluannya,yang  tadi belum dibukanya.Setelah dibukanya penutup kemaluannya itu aku  terkaget. Kemaluan bang Roji membuatku kaget dan takut sekali. Ukurannya  cukup panjang dan besar.Aku serasa tak percaya dengan apa yang aku  lihat saat ini.Aku bergidik karena membayangkan apakah au akan sanggup  menerima benda besar dan panjang itu.Padahal saat itu,kemaluan Bang Roji  belumlah terlalu ereksi.Apalagi jika sudah dalam ukuran maksimal.  Berbagai bayangan ketakutan berkecamuk didalam pikiranku.Aku berusaha  menolakkan tubuhnya agar menjauh dari tubuhku padahal saat itu ia sudah  siap siap untuk melakukan perangsangan kembali kepadaku. Ia terlihat  heran, merasa ada penolakan dari aku saat itu,bang Rojipun menghentikan  Aktifitasnya,namun belum bergerak dari kedua kakiku.Ia bertanya padaku  dengan suara yang agak gugup.<br />
“Adddaa…apa dik Rissa menolak Abangg?”<br />
“Bang…apa gak bisa kita undur saja? Sebab…aku takut? punya  abang…cukup..panjang dan besar” kataku gugup tanpa melihat ke arahnya  karena baru saja didera rasa kaget dan takut saat itu..<br />
Bang Roji mengangguk-angguk saja perkataanku itu. Ia sadar miliknya  cukup besar dan iapun tahu aku akan cukup kaget menerima benda miliknya  itu.</p>
<p>Bang Roji tampaknya tidak mau memaksaku untuk menerimanya saat itu.  Ia cukup mengerti dengan alasan penolakan aku. Ia amat bisa menjaga  perasaanku saat itu. Memang saat itu aku cukup egois dan tak berperasaan  padanya. Namun rasa takut dan ngeri membuatku menolaknya. Bang Roji pun  tak lagi memaksakan kemauannya.Masih dalam posisi diantara kedua  kakiku, ia lalu kembali merebahkan tubuhnya diatas tubuhku. Ia kembali  mengulum bibirku berulang ulang.Sementara keringatku kembali bercucuran  di dahi dan dadaku. Sebagai perwujudan terima kasih aku kepadanya yang  tidak memaksaku melakukan penetrasi aku pun menyambut kulumannya  dibibirku. Lalu ia pun terus turun kearah buah dadaku dan menjilat  putting susuku beberapa kali sambil mengigitnya.Gerakan mulutnya terus  turun kearah perut dan singgah di organ vitalku yang kembali mulai  basah.Aku semakin tak berani memandangnya saat itu.Hanya kedua tanganku  yang terus memegang kepala dan bahunya yang sudah licin karena keringat  apalagi dia sudah menahan birahinya untuk memasuki tubuhku. Ketika ia  terus menjelajahi liang kelaminku, aku makin merasa terbang dan merasa  siap untuk menerimanya. Pikiranku terus bekerja tentang keinginan Bang  Roji itu. Liangku aku rasakan sudah amat basah dan beberapa saat lagi  akan meledak.Bang Roji tampaknya tahu aku akan mendapatkan orgasme,namun  aku dipermainkannya. Ia tiba tiba saja menghentikan jilatannya di  belahanku yang telah basah itu. Cairan di liangku ia telan dan aku  kecewa dengan sikapnya tadi.Aku gagal mendapatkan orgasme untuk yang  kedua kalinya.</p>
<p>Kedua kakiku masih terbuka seolah siap dimasuki kelamin Bang Roji.  Bang Roji memandangku diam.<br />
“Bang Oji jahat…aku abang siksa seperti ini. Bang tolong lah bang…jangan  siksa aku seperti ini!” permintaanku saat itu.<br />
Dengan pandangan yang masih menahan birahi Bang Roji membuka kedua  kakiku terbentang. Aku tak lagi menahannya untuk membuka kedua pahaku  agar ia bisa mengekspos organ kelaminku ini.<br />
“Dik Rissa? abang ingin masuk…apa di bolehkan?” bisiknya.<br />
Ia terlihat amat menjaga perasaanku meski ia juga terlihat amat tersiksa  saat itu.Bang Roji berusaha mempengaruhi mentalku dengan menarik  tanganku untuk memegang kemaluannya yang cukup panjang dan telah siap  dipakai itu. Aku yang menduga ia akan menarik tanganku kearah pinggulnya  tak tahu bahwa tanganku dibawanya kearah kemaluannya. Aku terkejut dan  melepaskan peganganku yang hanya beberapa saat itu. Namun aku sudah  cukup kepayahan saat itu.Rasa gatal di organ vitalku menuntunku  mengizinkannya memasukiku walaupun konsekwensinya aku akan merasa sakit  nantinya. Namun apalah yang terjadi nanti biarlah terjadi, demikian  perkataan bawah sadarku. Dengan sikap diam dan posisi kedua kaki yang  sudah terbuka,Bang Roji lalu mengangkat kakiku. Ia menggeser pinggulnya  kearah lipatan kelaminku.<br />
“Bangggg…sshhh!!!” dengusku “Jaangann kaaasarr ya bangg” pintaku.<br />
Bang Roji diam saja sambil fokus untuk memasukiku. Bertahap dan sangat  lambat ia mulai meretas jalan bagi kemaluannya memasuki aku.Kini dengan  sangat hati hati dan tak ingin menyakiti aku bang Roji sudah menempatkan  kepala kemaluannya di permukaan liangku. Perasaan berdebar dan takut  silih berganti menderaku.Aku pun memicingkan mataku dan hanya berusaha  untuk menahan tubuhnya jika nanti merasa sakit.Perlahan namun pasti  benda panjang dan besar itu,mulai masuk bertahap, aku mulai merasa sesak  di liangku, detik detik pertemuan kelamin kami membuat debar debar aneh  didadaku semakin keras.Dan rasa nyilu namun geli mulai aku  rasakan.Karena licinnya liangku saat itu, juga kondisi aku yang memang  tidak perawan. Tanpa kesulitan berarti kemaluan bang Roji pun masuk  kedalam kemaluanku meski saat itu aku sempat menahan tubuhnya karena  rasa ngilu di liangku.Aku merasakan liangku seakan penuh oleh benda  milik Bang Roji.Bang Roji terus maju kedalam liangku dan iapun  menghentikan gerakannya.Ia mendiamkan kemalauannya didalam liangku yang  sudah serasa penuh.Aku sungguh merasakan rasa nyilu yang amat sangat  juga penuh diorgan intimku ini.Beberapa saat kami sudah menyatu seperti  pasangan suami istri yang sedang memadu kasih.</p>
<p>Setelah kami sudah menyatu, Bang Roji mengulum bibirku.Aku  menerimanya dengan mengulum juga lidahnya yang bermain main membelit  lidahku.Kini kami sudah menyatu satu sama lainnya. Ada rasa penyesalan  dalam sanubariku saat itu. Kini aku tidak beda dengan suamiku yang juga  telah berselingkuh dengan orang lain yang tidak aku kenal. Kini aku  seakan dibutakan oleh rasa dendam kepada suamiku. Aku sudah tak lagi  berusaha menyelamatkan rumah tanggaku yang sudah diambang kehancuran  saat ini. Perbuatanku bersama Bang Roji saat ini merupakan perbuatan  yang tidak terampuni didalam suatu rumah tangga. Namun gejolak dalam  tubuhku saat ini mampu mengenyampingkan pikiran pikiran sehatku selama  ini. Dalam sikap diam beberapa saat itu Bang Roji lalu menghentikan  kulumannya dibibirku.Ia lalu menarik kemaluannya keluar dan masuk lagi.  Beberapa kali ia maju mundur masuk kedalam kelaminku. Tampaknya  kelaminku sudah dapat menerima kelamin Bang Roji, juga rasa nyeri dan  ngilu sudah berangsur hilang diganti rasa nikmat dan birahi yang  meninggi.Aku merasa sudah siap untuk mendapatkan orgasme yang tertunda  tadinya.Gerakan Bang Roji semakin kuat dan cepat.Tubuhku seakan boneka  yang gampang ia gerakan maju mundur. Aku pun mulai didera rasa yang  mungkin tak didapat saat bersama suamiku.Tubuhku bergerak kuat menerima  sodokan kemaluan Bang Roji yang semakin cepat.Kedua Payudaraku juga  bergoyang kuat dan keringatku seolah membanjir di atas kulitku.Aku hanya  merem menikmati gerakan maju mundur bang Roji yang saat itu memegang  pinggulku.Sesekali ia meremas payudaraku yang juga telah mengeras.Dan  muara dari hubungan kelamin kami berdua itu,aku pun semakin merapatkan  kedua kakiku menjepit pinggul bang Roji,dengan dengusan yang aku tahan  ,aku pun semakin meraih bahu Bang Roji hingga gores dan sedikit  berdarah.Aku mendapatkan Orgasme dari persebadanan ini.Aku pun terkulai  lepas dan melepaskan cengkraman di bahunya dan kedua kakiku lantas  terlepas dari panggul Bang Roji.Namun Bang Roji seakan masih ingin terus  memberiku kepuasan sejati.Aku sudah tak berdaya mengikuti gerakan Bang  Roji.Ia masih saja masuk dan keluar berulang ulang hingga aku merasa  nyilu didalam kemaluanku.Tak lama setelah aku mendapatkan Orgasme,Bang  Rojipun lalu memajukan kemaluannya hingga mentok dan melepaskan  spermanya didalam rahimku. Aku tak berusaha melarangnya untuk klimaks  didalam rahimku.Aku juga tak perlu kuatir sebab saat ini aku masih  melakukan kb jadi masih aman.</p>
<p>Setelah bang Roji klimaks,aku merasakan lelehan spermanya yang keluar  dari liangku.Ia tak langsung melepaskan kemaluannya dari liangku.Ia  masih menindihku dan berada diatas tubuhku.tampak ia cukup kelelahan  saat itu.tak lama memang,kemaluan Bang Roji mulai keujud sebelumnya dan  terlepas dari liang kemaluanku. Ia pun terkulai disampingku.Aku pun  berusaha menutupi tubuh kami berdua dengan selimut.Padahal saat itu  hujan masih mengguyur dengan cukup deras.seperti kebiasaan  suamiku,setelah klimaks langsung tertidur. Bang Roji juga demikian, ia  langsung rebah dan ngorok disamping aku.Aku pun membelakangnginya,dan  meresapi kejadian yang baru aku alami itu.Aku berpikir keras ttg  hubunganku yang sudah semakin jauh dengan Bang Roji.Aku pun sempat  terbayang,mungkin begitu juga cara Bang Roji berhubungan dengan kedua  istrinya.Pantas saja kedua istrinya tak mau minta cerai darinya.Sebab  dalam berhubungan Bang Roji amat pengertian dan mampu memuaskan hasrat  kedua istrinya,yang kini aku rasakan juga. Letih dengan hubungan badan  yang baru aku alami dan pikiran pikiran ttg rumah tanggaku,akupun  tertidur membelakangi Bang Roji yang tidur di sampingku saat itu.Tak  lama memang,saat itu telah menunjukan pukul 02.30, hujan telah reda dan  hawa dingin malam menusuk kulitku. Aku terbangun oleh gerakan gerakan  yang aneh di sekujur tubuhku. Aku berusaha membuka mataku dan terliat  Bang Roji sudah berada diantara kedua kakiku.Ia ingin melakukan  persebadanan lagi saat itu.Aku yang juga sudah pulih dari rasa letih  karena sempat tertidur beberapa saat lalu menerima saja keinginan Bang  Roji itu. Tak lama kemudian kami sudah saling mencumbu satu sama  lainnya. Dalam keasikkan kami itu, bang Roji lantas menbisiki aku untuk  melakukan oral padanya. Aku terkaget sebab aku tak sanggup melakukan  pada benda yang cukup besar itu. Apalagi selama aku berhubungan dengan  suamiku aku tak pernah melakukannya. Namun Bang Roji memberiku  pengertian agar aku mau melakukan sebab nantinya aku pasti suka.Dengan  masih gugup dan takut aku mencoba memasukkan kemaluannya kemulutku.  Mulanya bau khas kelamin pria membuatku sedikit jijik, namun karena Bang  Roji yang menuntun aku,makanya aku hanya mampu mengulum batangnya yang  mulai keras itu.Memang Batang Kemaluan Bang Roji amat panjang dan tak  muat oleh mulutku.Untunglah Bang Roji mau mengerti aku yang tak siap  melakukan itu.</p>
<p>Kemudian kami pun saling membelai agar birahi kami kembali  terbakar.Tak memerlukan waktu lama memang,aku pun di minta Bang Roji  untuk naik keti\ubuhnya.Ia hanya telentang dengan kemaluan yang tegak  keras.Aku kemudian berusaha memasukkan tiang tegak milik Bang Roji ke  lipatan kemaluanku.Dan beberapa saat kemudian aku pun bergerak naik  turun. Sungguh hebat sekali sensasi yang aku dapatkan saat itu. Kuakui  bahwa sensasinya amat dapat membuatku cepat orgasme. Sedang bang Roji  masih belum apa apa. Aku terlanjur terkulai disampingnya.Dan Bang Roji  lantas membelai belai payudaraku hingga aku merasa nikmat. Aku lalu  ditelentangkannya dan kedua kakiku dibukanya. Ia masih memilin  payudaraku dan lalu menjilatinya.Mulutnya lalu turun kearah perut dan  liang kelaminku.Disaat aku sudah mulai kembali naik birahi,Bang Roji  lalu memasukkan kemaluannya yang telah keras itu,hingga mentok.Aku  mendengus tertahan,merasa kelaminku penuh.Dan seterusnya ia memaju  mundurkan kemaluannya diliangku,Aku seakan tak diberi waktu bernafas  malam itu.Keringatku kembali membasahi tubuhku.Dan disaat aku akan  mendapatkan kembali orgasme,dengan mencengkram bahunya,Bang Rojipun  semakin kuat dan cepat maju mundur dalam kelaminku.Bunyi bunyi pertemuan  paha dan kelamin kami membuat nafsu kami berdua semakin memuncak. Tiba  tiba aku merasa diserang ribuan rasa nikmat dan terbang. Aku orgasme dan  Bang Rojipun memuncratkan air cintanya dalam tubuhku. Beberapa saat  yang terdengar hanya deru nafas puas kami yang terdengar.bang Roji masih  berdiam di atas tubuhku.Dia lalu melongsor disampingku karena  kemaluannya sudah kembali keukuran semula dan terlepas dari  kelaminku.Aku sangat puas atas kenikmatan ragawi yang diberikan Bang  Roji. Tidak sama dengan yang di berikan suamiku yang setelah puas lalu  menarik kemaluannya dari liangku.Kemudian dengan rasa capai yang terasa  di tulangku aku tertidur berpelukan dengan Bang Roji.Kini Bang Roji  bukan saja sebagai petugas keamanan kompleks namun juga sudah menjadi  orang yang amat penting bagi kehidupan aku dan putriku.</p>
<p>Paginya disaat aku terbangun,aku buru-buru membangunkan Bang Roji  agar jangan sampai kepergok putri kecilku. Bang Roji cukup paham akan  kekuatiranku ini.Ia lantas mengenakan pakaiannya yang sudah berceceran.  Aku sempat melihat benda yang semalam memasukiku itu yang kini terkulai  lemas. Dengan sedikit malu aku lengoskan mukaku dari pandangan mesra  Bang Roji. Setelah pakaiannya terpasang ia pun keluar kamar. Bang Roji  langsung pulang kerumahnya,mumpung masih sepi dan belum ada yang  tahu.Aku pun lantas turun dari pembaringan,namun rasa nyilu dan pegal  dipersendian tubuhku membuatku bermalas malasan hari Sabtu itu.Untunglah  hari itu aku tak masuk kantor.Aku berusaha memunguti pakaiannku yang  juga berceceran di lantai dan memasukannya kedalam kain kotor.Aku pun  membersihkan kain sprey yang juga sudah awut awutan ditambah oleh adanya  noda noda cairan sperma dan keringat kami berdua.Aku lalu masuk kekamar  mandi untuk mandi dan membersihkan tubuhku yang aku rasakan  lengket-lengket disana sini. Setelah mandi dan berganti pakaian, aku pun  memasukkan kain kotorku kedalam mesin cuci. Pagi itu aku mencuci semua  pakaian kotorku juga milik putriku.Tak lama memang aku pun  menjemurnya.Aku lihat dikamar putriku, rupanya dia sudah bangun dan aku  ajak dia untuk mandi pagi itu.Setelah memandikan putriku aku pun memasak  makanan yang akan aku makan berdua dengan anakku.Pagi itu perutku  terasa lapar ,karena malamnya memang habis bertarung birahi dengan Bang  Roji.Aku sempat senyum sendiri membayangkan yang kami perbuat malam  tadi.</p>
<p>Setelah semuanya beres dan aku juga sudah minum suplement agar  tubuhku tetap bugar,aku pun mengajak putriku untuk jalan keluar.Sebab  aku merasa berdosa padanya akibat perbuatanku dan bang Roji malam tadi.  Dengan mobil aku ajak putriku jalan jalan ke pusat perbelanjaan. Setelah  beberapa jam melakukan jalan jalan dan membeli segala keperluan,aku pun  balik pulang.Dan di gerbang menuju kompleks,aku kami bertemu Bang Roji  yang sedang tugas.Putriku minta berhenti dan ia ingin bertemu Bang  Roji.Lalu tiba-tiba saja putriku minta agar kami jalan-jalan ke Anyer  lagi. Ia ingin main air laut katanya.<br />
“Maaaa…Cici ingin ke pantai, bareng Pak Roji!” katanya dengan suara yang  masih cadel.<br />
Aku memandang Bang Roji. Dengan alasan Pak Roji masih tugas aku berusaha  menenangkan putriku. Namun Bang Roji bilang Bahwa ia tugas sampai jam  15,00.<br />
“Nah sorenya kita bisa kesana dik Rissa” terang Bang Roji, “kan Besok  hari minggu,abang bisa libur.”<br />
Aku pun terpaksa menuruti kemauan putriku itu. Setelah menyiapkan bekal  seadanya, sore itu kami berangkat ke pantai Anyer bertiga dengan Bang  Roji dan putriku. Selama perjalanan aku yang menyetir sebab Bang Roji  tak bisa nyetir. Dalam perjalanan itu, putriku dan Bang Roji asik  bercanda dan bermain main.Terdengar tawa keduanya yang duduk di bangku  belakang. Entah apa yang diketawakan mereka berdua. Tampak sekali  putriku butuh sosok ayah, dia terlihat manja bersama Bang Roji. Sesampai  di Anyer,kamipun turun dan aku mengurus sewa villa yang akan kami  tempati.</p>
<p>Aku dan Bang Roji memasukki villa dan membawa segala keperluan yang  telah aku siapkan dari rumah.Aku pun lantas mengeluarkan makanan juga  penganan yang akan kami santap malam nanti.Sementara aku di Villa asik  masak dan menyiapkan makanan, Bang Roji dan putriku asik juga bermain di  pantai hingga senja menjelang. Setelah puas bermain main di pantai,  putriku aku bersihkan dengan air hangat dan suapkan makanannya. Mungkin  karena telah lelah selama perjalanan dan main air laut, putriku pun  tertidur. Akupun membaringkannya di kamar yang satunya lagi agar ia bisa  dengan nyenyak tidur. Saat aku menidurkan putriku, bang Roji sedang  duduk di beranda villa,sambil menghisap rokok.Aku pun memanggilnya untuk  makan sebab aku tahu ia tentunya sudah lapar juga.Malam itu kami pun  makan berdua di meja makan ruang tengah villa. Setelah makan dan menutup  makanan dengan tudung yang aku bawa dari rumah, aku pun keluar villa  untuk mencari angin. Aku berjalan menyusuri bibir pantai seorang diri  dan tak lama kemudian aku sampai di pantai dekat villa.tampak Bang Roji  masih duduk dipinggir pantai dekat Villa.Ia sengaja tak jauh dari villa  sebab kuatir nanti putriku terbagun dan nangis.Apalagi katanya ia ingin  menjaga villa agar tak dimasuki maling,sebab didaerah itu sering terjadi  kehilangan katanya.</p>
<p>Melihat aku yang berada di pantai dekat villa, Bang Roji berjalan  kearahku.Dia lalu meraih tanganku.Seoalah kami pasangan suami istri  iapun lantas menciumi tanganku, aku lantas dipeluk dan kamipun berjalan  kearah villa. Masih dalam berpelukan kamipun masuk villa. Bang Roji lalu  menutup pintu vila dan mengandengku kekamar. Sampai dalam, kamipun naik  ke pembaringan.Aku tak sanggup berkata apa apa sebab kami akan  menjalani sorga dunia yang baru kami lakukan.Tidak terlalu berlama lama  kamipun sudah dalam keadaan bugil. Dengan cumbuan dan rabaan yang cukup  intens di payudara dan liang intimku, malam itu pun kami melakukan  hubungan kelamin untuk yang kesekian kalinya. Bang Roji kurasakan amat  perkasa dan mengerti apa yang aku inginkan. Kini aku sudah menemukan  seseorang yang mampu mengisi hari hariku, meski aku merasa sedikit  cemburu jika ia berada di rumah istri istrinya. Malam itu di vila yang  aku sewa, aku kembali dihantarkan Bang Roji menggapai kepuasan sebagi  wanita dewasa seutuhnya. Kini aku mendapatkan kepuasan itu dari orang  yang aku curigai dulu sering mengintipku itu, apalagi dulunya aku amat  tak suka padanya, namun kini aku sudah bisa menerimanya luar dalam. Aku  selalu merasa puas bersetubuh dengannya, selain kepuasan seksual, juga  kepuasan psikologis mampu membalaskan sakit hatiku pada suamiku yang  juga berselingkuh di luar sana.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelayu.com/cerita-dewasa/membalas-selingkuh-suamiku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Janda Muda Cantik</title>
		<link>http://cerita.modelayu.com/cerita-dewasa/janda-muda-cantik.html</link>
		<comments>http://cerita.modelayu.com/cerita-dewasa/janda-muda-cantik.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Feb 2011 07:42:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pendongeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelayu.com/cerita-dewasa/janda-muda-cantik.html</guid>
		<description><![CDATA[Maaf… bisa geser mbak?sapaku membangunkan cewek yang tertidur di bis  dewi sri jurusan jakart.
emang dah penuh ya?jawabnya agak bermalas2an.
akhirnya saya duduk di sampingnya,bispun mulai melaju menuju tujuan.
pada mulanya kami saling diem,aku memulai membuka percakapan.
mau ke mana mbak…
ke jakarta…jawabnya..
lama-lama kami mulai akrab karena aku sedikit mengorek ttg dirinya dan  bercerita juga tentang masalaluku berpacaran.dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Maaf… bisa geser mbak?sapaku membangunkan cewek yang tertidur di bis  dewi sri jurusan jakart.<br />
emang dah penuh ya?jawabnya agak bermalas2an.<br />
akhirnya saya duduk di sampingnya,bispun mulai melaju menuju tujuan.<br />
pada mulanya kami saling diem,aku memulai membuka percakapan.<br />
mau ke mana mbak…<br />
ke jakarta…jawabnya..<br />
lama-lama kami mulai akrab karena aku sedikit mengorek ttg dirinya dan  bercerita juga tentang masalaluku berpacaran.dari situ aku mulai  memberanikan diri memegang tangannya.ternyata walau agak menolak genit  tapi dia tetap diam ketika kuremas dan kuelus tangannya.<br />
aku mulai mengeluarkan jurusku,kupijit-pijit tanganya dan dia menikmati.<br />
wah pinter juga yah lo mijit,mau dong pijitin…guraunya.<br />
langsung saja ku teruskan memijit mulai pungggung dan merambat ke daerah  di sekitar dadanya.dia diam saja dan mulai mendengus kenikmatan.karena  bis melaju kencang dan lampu dimatikan,maka aku bisa lebih leluasa  melakuakan aksiku.sesekali orang yang duduk di belakangku bangun dan  melihat apa yang kami perbuat.<br />
ah…sebodoh amat,yang penting gw seneng dan cewek disamping gw juga  menikmati…begitu gumamku dalam hati.<br />
hampir semalam suntuk aku kerjain dia,yang tadinya hanya memijit lama  kelamaan gw remas toketnya.ternyata dia juga mnikmati,maka kuteruskan  aksiku.kususupkan tanganku melalui kaos bagian bawahnya dan yanng satu  lagi aku buat memainkan memeknya.dia menggelinjang kenikmatan.<br />
ihhhhhhhh mas sksd deh sindirnya..<br />
emang apa sksd ?tanyaku<br />
sok tahu sok dekat…<br />
owwwwwww….<br />
lo juga suka kan?<br />
dia hanya tersenyum.lalu kuteruskan pekerjaanku sampe dia klimaks.tak  terasa sudah sampai pulo gadung dan dia mau cepat-cepat berangkat  kerja.makanya dia langsung ngacir naik ojek karena takut  kesiangan.untungnya saat di bisa kita saling tuker hp dan janjian mau  ketemuan sabtu sorenya.<br />
singkat cerita…<br />
sore itu ku tunggu dia di terminal tanjung priok,karena kemacetan yanng  di sebabkan naiknya harga BBM (waktu itu pas hari pertama naik) maka dia  agak terlambat,waktu aku telp dia kubilang,udah naik ojek aja ntar gw  yang bayarin.<br />
mau kemana kita sri….<br />
kemana aja deh mas katanya….<br />
ya udah ke ancol aja yuk..<br />
aku dah sangat bernafsu begitu dia sambut ajakanku.yanng ada dalam  benakku hanya bagaimana aku bisa ngentot sama dia.<br />
sesampainya di ancol kupilih tempat yang agak sepi agar bisa bebas  bermesraan.tapi saat aku minta dia untuk saling merangsang dia malah gak  mau,malu katanya.<br />
ya udah kita jalan-jalan aja yuk.akhirnya kita jalan sampe jam 10 malam.<br />
sri kalo malam gini dah gak ada angkutan neh,gemana kalo kita cari  tempat nginap aja?<br />
nggak akh takut…katanya.<br />
takut kenapa?aku janji gak ku apa-apain deh,swear…<br />
walau agak lama kurayu namun akhirnya membuahkan hasil juga.lalu kami  naik mobil jurusan kota dan naik lagi sampe pasar baru.langsung saja aku  ajak dia masuk ke hotel ***.karena dia belom pernah masuk  hotel,kelihatan sekali dia sangat canggung.<br />
sesampainya didalam aku dah gak sabar lagi,tapi dia menolak waktu kuajak  ML,ya udah kita cerita-cerita dulu.sambil cerita kurangsang dia,kuremas  susunya dan kusedot-sedot putingnya.ternyata di situlah titik  lemahnya,dia nggak tahan lagi.ku lucuti semua pakaian yang ada tanpa dia  sadari,mungkin saking nikmatnya hingga dia gak memperhatikan apa yang  kulakukan.mulai kususuri semua kulitnya,ku jilati telinga  belakangnya.dia semakin  menggelinjang.massssssss….ohhhh..enakkkkkkkkkk..trss  masasssssss..ceracaunya.kuturunkan jilatanku sampai ke kedua  payudarannya.kusedot-sedot dan ku remas-remas keduannya bergantian.dia  semakin melayang terbang ke awan.jilatanku trs merembet sampai akhirnya  kujilat dan kumainkan memeknya.ternyata sudah basah…enak ya say?…<br />
ssssssss iya mas…trs mas…….ohhhhh.ssssssshh…terus ku mainkan memeknya  sampe bener-bener siap..aku tidak mau membuang kesempatan  sia-sia,kupasangkan kontolku tepat di depan pintu memeknya.selagi dia  menikmati rangsangankku di kedua payudara dan mulut serta kupingnya,ku  masukkan saja kontolku.aku langsung tancap sampe bener-bener  mentok.walaupun sudah janda tapi ternyata masih seret banget.(dari  cerita-cerita kami, ku tahu bahwa dia sudah bukan gadis lagi,dia janda  di tinggal suaminya,makanya dia sangat hot ketika dirangsang  sedikit)tanpa ba-bi-bu terus ku genjot tubuhnya sampai ranjang hotel  berderit.dia merem melek menikmati apa yang ku lakukan.masssssss sssshh  nikmat masssss…lama aku entot dia sampe akhirnya ku gak kuat dan  keluarlah spermaku di dalam memeknya.dia kaget dan tersadar bahwa aku  sudah menjerumuskan dia ke lubang kenikmatan.dia menatapku sambil  bertanya.mas tadi mas masukin yah kontolnya?…<br />
iya ..emang kamu gak terasa?<br />
iya sih enak banget,tapi kok dimasukkin sih?kan dah janji..<br />
iya deh sory-sory..aku gak tahan soalnya.<br />
akhirnya dia nangis di dadaku,terasa damai hatiku ada cewek nangis di  dadaku.<br />
setelah beristirahat dan cerita-cerita ttg kehidupannya,aku mulai  merangsang dia lagi.sekarang dia sudah tidak menolak sama sekali.dia  menikmati semua yang ada.mungkin sudah terlanjur pikirnya.ku kulum  bibirnya,kumainkan lidahku didalam mulutnya.dia mulai berreaksi  menyambut kenikmatan yang kuberikan.kuremas-remas susunya.dia semakin  menggelinjang tidak karruan.lalu kucium dan ku sedot kedua putingnya  bergantian sambil kuremas-remas mesra.dia semakin tidak tahan.ku  elus-elus vaginanya.kujilati lagi dan kumainkan klitorisnya,dia  mengerang dahsyat.ssssssssshhhhhhhh…masssss..ouuuuuhhhhhhgggggf..trs  mas..enakkkk…iiya say jawabku.<br />
sekarang masukin yah say?<br />
dia hanya diam sambil menatapku sayu.<br />
lalu ku atur posisi,ku letakkan pantatnya di pingir ranjang,aku  berdiri,sementara kontolku sudah tepat di depan liang  surganya.kumasukkan pelan-pelan.dia merintih keenakan.ayo  mas..lakukan..puaskan dahagaku..aku dah gak kuat….<br />
ku tekan pelan2 kontolku,clep..blesssss..masuk semuanya walau masih  sulit.kudiamkan sebentar sambil memberi dia kesempatan menerima kontolku  yang cukup besar.<br />
mulai ku goyanng dan ku genjot maju mundur pelan…pelan dan akhirnya  lebih cepat kugenjot dia.sssssssshhhhhh yeahhhhh..ayo mas terus mas…enak  banget mas…<br />
setelah agak lama kuminta ganti posisi.say..sekarang ganti gaya yah..lo  nungging..yah..<br />
lalu kuangkat pantanya sampe nunging.aku naik keranjang dan memasang  kontolku pas di luang vaginanya.ku elus seluruh kulit punggungnya.ku  cium dan ku jilat-jilat telinga belakangnya….ayo mas..masukin..dah gak  tahan nih….<br />
iya say…kutekan kontolku merangsek ke dalam lubang  nikmatnya.blesss..masuk juga kontolku di telan memeknya.terasa lebih  sempit.ku genjot lagi dan lagi.sampai dia gak tahan dan mengerang  panjang…kontolku terasa di sedot masuk kedalam,di pijat enak  sekali…….ohhhhhhh masssssssss aku keluaaaaarrrrrr….<br />
ku biarkan kontolku di dalam memeknya,sambil memberi kesempatan dia  istirahat,lalu ku ganti posisinya terlentang.<br />
kuangkat kedua kakinya ke pundakku,dan kumasukkan lagi kontolku,dia  masih diam.ku genjot terus memeknya,gw dah gak sabar mau ngentot dia  sampe lemes…<br />
akhirnya dia berreaksi,dia goyangkan pantanya dan sesekali ikut naik  turun.<br />
sssssssseehhhhhhhh..ogffffffffff nikmat mas,trs …</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelayu.com/cerita-dewasa/janda-muda-cantik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembantuku yang baru</title>
		<link>http://cerita.modelayu.com/cerita-dewasa/pembantuku-yang-baru-2.html</link>
		<comments>http://cerita.modelayu.com/cerita-dewasa/pembantuku-yang-baru-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Feb 2011 07:41:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pendongeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelayu.com/cerita-dewasa/pembantuku-yang-baru-2.html</guid>
		<description><![CDATA[
Aku adalah seorang ayah dari 2 orang anak lelaki yang berusia 9 dan  4 tahun. Isteriku bekerja sebagai Direktur di suatu prusahaan swasta.  Kehidupan rumah tanggaku harmonis dan bahagia, kehidupan seks-ku dengan  isteriku tidak ada hambatan sama sekali. Kami memiliki seorang pembantu,  Sumiah namanya, berumur kurang lebih 23 tahun, belum kawin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Aku adalah seorang ayah dari 2 orang anak lelaki yang berusia 9 dan  4 tahun. Isteriku bekerja sebagai Direktur di suatu prusahaan swasta.  Kehidupan rumah tanggaku harmonis dan bahagia, kehidupan seks-ku dengan  isteriku tidak ada hambatan sama sekali. Kami memiliki seorang pembantu,  Sumiah namanya, berumur kurang lebih 23 tahun, belum kawin dan masih  lugu karena kami dapatkan langsung dari desanya di Jawa Timur. Wajahnya  biasa saja, tidak cantik juga tidak jelek, kulitnya bersih dan putih  terawat, badannya kecil, tinggi kira-kira 155 cm, tidak gemuk tapi  sangat ideal dengan postur tubuhnya, buah dadanya juga tidak besar,  hanya sebesar nasi di Kentucky Fried Chicken.</p>
<p>Cerita ini terjadi pada tahun 1999, berawal ketika aku pulang kantor  kurang lebih pukul 14:00, jauh lebih cepat dari biasanya yang pukul  19:00. Anakku biasanya pulang dengan ibunya pukul 18:30, dari rumah  neneknya. Seperti biasanya, aku langsung mengganti celanaku dengan  sarung kegemaranku yang tipis tapi adem, tanpa celana dalam. Pada saat  aku keluar kamar, nampak Sumiah sedang menyiapkan minuman untukku,  segelas besar es teh manis.</p>
<p>Pada saat dia akan memberikan padaku, tiba-tiba dia tersandung karpet  di depan sofa di mana aku duduk sambil membaca koran, gelas terlempar  ke tempatku, dan dia terjerembab tepat di pangkuanku, kepalanya  membentur keras kemaluanku yang hanya bersarung tipis. Spontan aku  meringis kesakitan dengan badan yang sudah basah kuyup tersiram es teh  manis, dia bangun membersihkan gelas yang jatuh sambil memohon maaf yang  tidak henti-hentinya.</p>
<p>Semula aku akan marah, namun melihat wajahnya yang lugu aku jadi  kasihan, sambil aku memegangi kemaluanku aku berkata, “Sudahlah nggak  pa-pa, cuman iniku jadi pegel”, sambil menunjuk kemaluanku.<br />
“Sum harus gimana Pak?” tanyanya lugu.<br />
Aku berdiri sambil berganti kaos oblong, menyahut sambil iseng, “Ini  musti diurut nih!”<br />
“Ya, Pak nanti saya urut, tapi Sum bersihin ini dulu Pak!” jawabnya.</p>
<p>Aku langsung masuk kamar, perasaanku saat itu kaget bercampur senang,  karena mendengar jawaban pembantuku yang tidak disangka-sangka. Tidak  lama kemudian dia mengetuk pintu, “Pak, Mana Pak yang harus Sum urut..”  Aku langsung rebah dan membuka sarung tipisku, dengan kemaluanku yang  masih lemas menggelantung. Sum menghampiri pinggir tempat tidur dan  duduk.<br />
“Pake, rhemason apa balsem Pak?” tanyanya.<br />
“Jangan.. pake tangan aja, ntar bisa panas!” jawabku.</p>
<p>Lalu dia meraih batang kemaluanku perlahan-lahan, sekonyong-konyong  kemaluanku bergerak tegang, ketika dia menggenggamnya.<br />
“Pak, kok jadi besar?” tanyanya kaget.<br />
“Wah itu bengkaknya mesti cepet-cepet diurut. Kasih ludahmu aja biar  nggak seret”, kataku sedikit tegang.<br />
Dengan tenang wajahnya mendekati kemaluanku, diludahinya ujung  kemaluanku.<br />
“Ah.. kurang banyak”, bisikku bernafsu.<br />
Kemudian kuangkat pantatku, sampai ujung kemaluanku menyentuh bibirnya,  “Dimasukin aja ke mulutmu, biar nggak cape ngurut, dan cepet keluar yang  bikin bengkak!” perintahku seenaknya.</p>
<p>Perlahan dia memasukkan kemaluanku, kepalanya kutuntun naik turun,  awalnya kemaluanku kena giginya terus, tapi lama-lama mungkin dia  terbiasa dengan irama dan tusukanku. Aku merasa nikmat sekali. “Akh..  uh.. uh.. hah..” Kulumannya semakin nikmat, ketika aku mau keluar aku  bilang kepadanya, “Sum nanti kalau aku keluar, jangan dimuntahin ya,  telan aja, sebab itu obat buat kesehatan, bagus sekali buat kamu”,  bisikku. “Hepp.. ehm.. HPp”, jawabnya sambil melirikku dan terus  mengulum naik turun.</p>
<p>Akhirnya kumuncratkan semua air maniku. “Akh.. akh.. akh.. Sum..  Sum.. enakhh..” Pada saat aku menyemprotkan air maniku, dia diam tidak  bergerak, wajahnya meringis merasakan cairan asing membasahi  kerongkongannya, hanya aku saja yang membimbing kepalanya agar tetap  tidak melepas kulumannya.</p>
<p>Setelah aku lemas baru dia melepaskan kulumannya, “Udah Pak?, apa  masih sakit Pak?” tanyanya lugu, dengan wajah yang memelas, bibirnya  yang basah memerah, dan sedikit berkeringat. Aku tertegun memandang Sum  yang begitu menggairahkan saat itu, aku duduk menghampirinya, “Sum kamu  capek ya, apa kamu mau tahu kalau kamu diurut juga kamu bisa seger kayak  Bapak sekarang!”<br />
“Nggak Pak, saya nggak capek, apa bener sih Pak kalo diurut kayak tadi,  bisa bikin seger? tanyanya semakin penasaran. Aku hanya menjawab dengan  anggukan dan sambil meraih pundaknya kucium keningnya, lalu turun ke  bibirnya yang basah dan merah, dia tidak meronta juga tidak membalas.  Aku merasakan keringat dinginnya mulai keluar, ketika aku mulai membuka  kancing bajunya satu persatu, sama sekali dia tidak berontak hingga  tinggal celana dalam dan Bh-nya saja.</p>
<p>Tiba-tiba dia berkata, “Pak, Sum malu Pak, nanti kalo Ibu dateng  gimana Pak?” tanyanya takut.<br />
“Lho Ibu kan baru nanti jam enam, sekarang baru jam tiga, jadi kita  masih bisa bikin seger badan”, jawabku penuh nafsu. Lalu semua kubuka  tanpa penutup, begitu juga aku, kemaluanku sudah mulai berdiri lagi. Dia  kurebahkan di tepi tempat tidur, lalu aku berjongkok di depan  dengkulnya yang masih tertutup rapat, “Buka pelan-pelan ya, nggak pa-pa  kok, aku cuma mau urut punya kamu”, kataku meyakinkan, lalu dia mulai  membuka pangkal pahanya, putih, bersih dan sangat sedikit bulunya yang  mengitari liang kewanitaannya, cenderung botak.</p>
<p>Dengan ketidaksabaranku, aku langsung menjilat bibir luar  kewanitaannya, tanpa ampun aku jilat, sesekali aku sodokkan lidahku ke  dalam, “Akh.. Pak geli.. akh.. akuhhfh..” Klitorisnya basah mengkilat,  berwarna merah jambu. Aku hisap, hanya kira-kira 5 menit kulumat liang  kewanitaannya, lalu dia berteriak sambil menggeliat dan menjepit  kepalaku dengan pahanya serta matanya terpejam. “Akh.. akh.. uahh..”  teriakan panjang disertai mengalirnya cairan dari dalam liang  kewanitaannya yang langsung kujilati sampai bersih.</p>
<p>“Gimana Sum, enak?” tanyaku nakal. Dia mengangguk sambil menggigit  bibir, matanya basah kutahu dia masih takut. “Nah sekarang, kalau kamu  sudah ngerti enak, kita coba lagi ya, kamu nggak usah takut!”. Kuhampiri  bibirnya, kulumat bibirnya, dia mulai memberikan reaksi, kuraba buah  dadanya yang kecil, lalu kuhisap-hisap puting susunya, dia  menggelinjang, lama kucumbui dia, hingga dia merasa rileks dan mulai  memberikan reaksi untuk membalas cumbuanku, kemaluanku sudah tegang.</p>
<p>Kemudian kuraba liang kewanitaannya yang ternyata sudah berlendir dan  basah, kesempatan ini tidak kusia-siakan, kutancapkan kemaluanku ke  dalam liang kenikmatannya, dia berteriak kecil, “Aauu.. sakit Pak!”.  Lalu dengan perlahan kutusukkan lagi, sempit memang, “Akhh.. uuf sakit  Pak..”. Melihat wajahnya yang hanya meringis dengan bibir basah,  kuteruskan tusukanku sambil berkata, “Ini nggak akan lama sakitnya,  nanti lebih enak dari yang tadi, sakitnya jangan dirasain..” tanpa  menunggu reaksinya kutancapkan kemaluanku, meskipun dia meronta  kesakitan, pada saat kemaluanku terbenam di dalam liang surganya kulihat  matanya berair (mungkin menangis) tapi aku sudah tidak memikirkannya  lagi, aku mulai mengayunkan semua nafsuku untuk si Sum.</p>
<p>Hanya sekitar 7 menit dia tidak memberikan reaksi, namun setelah itu  aku merasakan denyutan di dalam liang kewanitaannya, kehangatan cairan  liang kewanitaannya dan erangan kecil dari bibirnya. Aku tahu dia akan  mencapai klimaks, ketika dia mulai menggoyangkan pantatnya, seolah  membantu kemaluanku memompa tubuhnya. Tak lama kemudian, tangannya  merangkul erat leherku, kakinya menjepit pinggangku, pantatnya naik  turun, matanya terpejam, bibirnya digigit sambil mengerang, “Pak.. Pak  terus.. Pak.. Sum.. Summ..Sum.. daapet enaakhh Pak.. ahh..” mendengar  erangan seperti itu aku makin bernafsu, kupompa dia lebih cepat dan..  “Sum.. akh.. akh.. akh..” kusemprotkan semua maniku dalam liang  kewanitaannya, sambil kupandangi wajahnya yang lemas. Aku lemas, dia pun  lemas.</p>
<p>“Sum aku nikmat sekali, habis ini kamu mandi ya, terus beresin tempat  tidur ini ya!”, suruhku di tengah kenikmatan yang kurasakan.<br />
“Ya Pak”, jawabnya singkat sambil mengenakan pakaiannya kembali.<br />
Ketika dia mau keluar kamar untuk mandi dia berbalik dan bertanya,  “Pak.. kalo pulang siang kayak gini telpon dulu ya Pak, biar Sum bisa  mandi dulu, terus bisa ngurutin Bapak lagi”, lalu ngeloyor keluar kamar,  aku masih tertegun dengan omongannya barusan, sambil menoleh ke sprei  yang terdapat bercak darah perawan Sum.</p>
<p>Saat ini Sum masih bekerja di rumahku, setiap 2 hari menjelang  menstruasi (datang bulannya sangat teratur), aku pulang lebih awal untuk  berhubungan dengan pembantuku, namun hampir setiap hari di pagi hari  kurang lebih pukul 5, kemaluanku selalu dikulumnya saat dia mencuci di  ruang cuci, pada saat itu isteriku dan anak-anakku belum bangun.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelayu.com/cerita-dewasa/pembantuku-yang-baru-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nafsu Birahi Bu Misye</title>
		<link>http://cerita.modelayu.com/cerita-dewasa/nafsu-birahi-bu-misye.html</link>
		<comments>http://cerita.modelayu.com/cerita-dewasa/nafsu-birahi-bu-misye.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Feb 2011 07:40:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pendongeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelayu.com/?p=959</guid>
		<description><![CDATA[
Bu Misye dalam perjalanan pulang dari tempat ia bekerja terpaksa   berteduh karena dia tidak membawa jas hujan. Bu Misye berteduh di sebuah   bangunan yang belum jadi namun sudah beratap. Setelah menyandarkan   motornya Bu Misye mencari tepat duduk dan ternyata ada sebuah kursi   panjang. Pakaian yang dikenakan suadah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Bu Misye dalam perjalanan pulang dari tempat ia bekerja terpaksa   berteduh karena dia tidak membawa jas hujan. Bu Misye berteduh di sebuah   bangunan yang belum jadi namun sudah beratap. Setelah menyandarkan   motornya Bu Misye mencari tepat duduk dan ternyata ada sebuah kursi   panjang. Pakaian yang dikenakan suadah basah semua, Bu Misye sebelumnya   berniat untuk tidak berteduh namun karena hujannya semakin lebat dan   disertai angin dan petir maka ia memutuskan untuk berteduh, walaupun   dalam hatinya cemas karena hari sudah menjelang gelap namun tanda-tanda   hujan akan reda belum muncul.</p>
<p>Belum lama duduk datang seorang pemuda tanggung yang juga akan   berteduh. Setelah menyandarkan Tiger yang dipakainya, pemuda itu   cepat-cepat masuk ke bangunan yang belum jadi tersebut. Bu Misye pertama   agak khawatir dengan pemuda tersebut namun akhirnya kekhawatirannya   akhirnya hilang karena melihat penampilannya juga keramahannya. Bu Misye   melempar senyum dibalas dengan senyum oleh  pemuda tersebut.</p>
<p>Pemuda tanggung tersebut berkulit putih bersih dan wajah yang diakui   oleh Bu Misye memang tampan. Pemuda tersebut duduk di kursi panjang  agak  berjauhan letaknya dengan Bu Misye.</p>
<p>“Cuma sendirian Bu?” pemuda tersebut memulai pembicaraan.</p>
<p>“Iya Dik” Bu Misye menjawab.</p>
<p>“Adik dari mana?” lanjutnya.</p>
<p>“Dari rumah teman, sedang Ibu sendiri dari mana?” pemuda itu   menyambung.</p>
<p>“Dari tempat kerja Dik” Bu Misye menjawab.</p>
<p>“Koq sampai sore Ibu, memang tidak dijemput oleh suami atau putra   Ibu?” pemuda tersebut kembali bertanya.</p>
<p>“Ndak Dik.. walau udah tua Ibu berusaha sendiri lagian anak-anak Ibu   udah berkeluarga semua” Bu Misye menyahut.</p>
<p>“Eh Adik masih kuliah kelihatannya, nama Adik siapa biar enak kalau   manggilnya” lanjut Bu Misye, walau dalam hatinya dia agak bingung kenapa   harus bertanya namanya.</p>
<p>“Iwan Ibu, masih kuliah semester pertama, nama Ibu?” jawab pemuda   tersebut.</p>
<p>“Misye” jawab Bu Misye.</p>
<p>“Ibu umurnya berapa koq ngakunya sudah tua?” Iwan bertanya.</p>
<p>“Udah hampir limapuluh Dik Iwan” jawab Bu Misye.</p>
<p>“Koq masih keliatan lebih muda dari usia Bu Misye lho?” lanjut Iwan.</p>
<p>Pembicaraan terhenti sebentar. Baju yang dipakai oleh Bu Misye yang   basah secara jelas mencetak buah dadanya yang sekal terbungkus oleh BH   hitam yang keliatan sangat menantang di usianya. Rambutnya yang teruarai   lurus sebahu tampak basah juga. Kulitnya yang putih tampak titik air   yang masih membasahinya. Iwan terus memandangi tubuh yang Bu Misye.</p>
<p>“Tubuh Ibu masih bagus lho, Bu Misye tentu sangat bisa merawat tubuh”   tiba-tiba Iwan memecah kesunyian.</p>
<p>Bu Misye agak kaget dengan pertanyaan Iwan. Dia agak tersinggung   dengan pertannyan itu apalagi mata Iwan yang tidak lepas dari dadanya.   Anak ini ternyata agak kurang ajar.</p>
<p>Belum lagi keterkejutannya hilang, Iwan berkata lagi, “Tentu suami ibu  sendiri  sangat senang dengan istri yang secantik dan semolek Bu  Misye”  Iwan berkata sambil meremas-remas kemaluannya yang masih  dibungkus  celananya.</p>
<p>Melihat situasi yang kurang baik itu, Bu Misye tidak menjawab, dia   langsung berdiri menuju ke motornya walaupun hujan tampaknya semakin   menjadi-jadi. Namun tangan Iwan lebih dulu menyahut tangan Bu Misye. Bu   Misye semakin marah.</p>
<p>“Kau mau apa haa?” hardiknya.</p>
<p>“Hujan masih lebat, sedang kita cuma berdua.. saya menginginkan Ibu”   sahut Iwan dengan santainya sambil merangkul Bu Misye dari belakang.</p>
<p>“Menginginkan apa?” Bu Misye agak berteriak sambil berusaha   melepaskan pelukan Iwan.</p>
<p>“Menginginkan tubuh Ibu..” Iwan berkata sambil tangannya beraksi   menggerayangi tubuh Bu Misye dari belakang.</p>
<p>“Jangan Dik Iwan.. apa kamu nggak merasa umurku.. sebaya dengan   ibumu” Bu Misye berusaha untuk mengingatkan.</p>
<p>“Justru itu saya suka” Iwan menyahut.</p>
<p>Tangan kirinya merangkul Bu Misye dari belakang, tangan kananya   berusaha menyingkap rok yang dipakai Bu Misye setelah tersingkap ke atas   Iwan mengeluarkan penisnya yang sudah keras berdiri. Tak ketinggalan  CD  yang dipakai oleh Bu Misye dipelorotkan ke bawah.</p>
<p>Tangan Iwan meraba-raba memek Bu Misye yang ditumbuhi oleh jembut   yang rimbun. Jarinya berusaha masuk ke lubang kenikmatan Bu Misye.</p>
<p>“Dik Iwan.. To.. long.. hentika.. ka.. ka.. ka.. mu nggak se..   harusnya mela.. kuka.. ini.. Dik Iwan Iwan..” Bu Misye berusaha   mengingatkan lagi dengan terbata-bata.</p>
<p>“Ah.. Jangan.. Dik Iwan.. Ibu.. sudah tua.. ingat..” tambahnya lagi.</p>
<p>Iwan tidak menggubris kata-kata Bu Misye jarinya sudah masuk ke   vagina Bu Misye dan bermain-main di dalamnya. Kemudian Iwan berusaha   membalikkan tubuh Bu Misye, setelah itu dengan kasar Iwan mendorong   tubuh molek itu sehingga jatuh terjerebab ke tanah. Dengan posisi duduk   mengkangkang Bu Misye berusaha bangkit lagi dari duduknya. Pahanya yang   mulus tersingkap sampai ke pangkalnya. Pakaian bagian atas  acak-acakkan  tampak sebagian kutang warna hitam yang seolah tak mampu  menahan volume  buah dada indah Bu Misye.</p>
<p>Belum sempat berdiri Iwan berkata sambil melepaskan celana dan   bajunya, “Bu Misye, anda berteriakpun tak akan ada orang yang   mendengar.. tempat ini agak jauh dari rumah penduduk sebaiknya Bu Misye   tidak usah macam-macam”</p>
<p>“Aku tak kan sudi melayani kamu.. anak muda” Bu Misye setengah   berteriak.</p>
<p>“Sudah jangan banyak bicara lepaskan pakaianmu.. cepat.. daripada aku   menyakiti Ibu” sahut Iwan sambil melepaskan celana dalamnya, tampak   batang kontolnya yang sudah mengacung keras.</p>
<p>Airmata Bu Misye mulai berlinang. Dia merasa sangat ketakutan dan   galau hatinya. Dia merasa tak berharga dihadapan anak muda yang pantas   menjadi anaknya. Dia juga merasa menyesal berteduh di tempat itu, dia   merasa juga menyesali pakaian kerja yang sering ia kenakan. Rok yang   terlalu tinggi dan baju yang transparan yang memperlihatkan BHnya yang   seakan tidak muat menahan buah dadanya, sehingga membuat para lelaki   yang menatapnya seolah menelanjanginya. Namun dalam hatinya berkata juga   bahwa baru sekarang dia melihat kemaluan lelaki yang besar, ******   suaminya tidak sebesar itu. Darahnya berdesir kencang.</p>
<p>Belum hilang keterpanaannya sudah dikejutkan oleh suara Iwan lagi,   “Cepatt! Sudah nggak tahan nih..”</p>
<p>Karena dilanda ketakutan, dengan perlahan tangan Bu Misye melepas   satu persatu kancing bajunya. Tampaklah payudaranya yang dibungkus oleh   BH hitam.</p>
<p>“Cepat lepas kutangmu!” bentak Iwan.</p>
<p>Dalam hati Bu Misye berkata anak muda memang nggak sabaran. Setelah   melepas BHnya, tumpahlah payudara Bu Misye yang masih tampak sekal dan   menggairahkan, puting susunya yang coklat kehitam-hitaman tampak   menantang sekali.</p>
<p>Iwan jongkok di dekat Bu Misye tangannya mulai menggerayangi payudara   Bu Misye.</p>
<p>“Uh.. ah.. ah..” rintih Bu Misye ketika tangan Iwan memilin milin   putingnya.</p>
<p>Tidak puas memilin-milin mulut Iwan mulai mendarat di pucuk anggur   itu. Lidahnya menari-nari dan ketika dihisap keras-keras Bu Misye hanya   bisa menggigit bibir bagian bawah dan memejamkan matanya. Setelah puas   dengan buah dada Bu Misye Iwan bangkit kemudian mendekatkan kontolnya   yang besar tersebut ke mulut wanita paruh baya yang lemah itu.</p>
<p>“Hisap.. Bu Misye” perintahnya.</p>
<p>“Cepatt!” bentak Iwan ketika Bu Misye belum juga melakukan apa yang   ia kehendaki.</p>
<p>Akhirnya Bu Misye mengulum batang zakar. Pertama dia melakukan hampir   saja dia muntah karena selama hidupnya dia baru melakukan beberapa  kali  dengan suaminya. Bu Misye seakan tidak percaya apa yang dia  lakukan  sekarang, dia di tempatnya bekerja adalah orang yang dihormati  sedang di  kampungnya dia juga orang yang disegani Ibu-Ibu. Namun pada  saat ini  dia sedang melakukan hal yang jorok hingga tentu kehormatannya  sebagai  wanita hilang sama sekali.</p>
<p>Iwan dengan kasar memaju mundurkan kontolnya sehingga terdengar suara   nyaring menggairahkan. Setelah puas Iwan bangkit lagi kemudian di   mengambil posisi ditengah-tengah di antara kaki mulus Bu Misye.</p>
<p>Sambil mengelus-elus kontolnya yang sudah sangat keras, Iwan berkata,   “Bu Misye lebarkan lagi agar lebih mudah”</p>
<p>Hal yang sangat mendebarkan bagi Bu Misye akan terjadi dengan   perlahan Bu Misye membuka lebar kakinya sehingga tampaklah memeknya yang   tampak merekah dengan bibirnya yang agak menggelambir. Perlahan dan   pasti Iwan menuntun kontolnya memasuki lobang kenikmatan Bu Misye. Iwan   merasakan kehangatan memek Bu Misye dan kekencangannya seakan meremas   rudal Iwan. Sebaliknya Bu Misye yang sedari tadi dengan berdebar   menantikan hal tersebut seakan terhenti detak jantungnya ketika ia mulai   ditusuk oleh anak muda ini. Seakan merobek barang paling berharga yang   dimilikinya.</p>
<p>Ketika Iwan mulai mempercepat genjotannya tampaknya Bu Misye juga   sudah mulai melambung ke awan. Sementara diluar hujan seakan belum mau   berhenti. Iwan semakin mempercepat genjotannya. Buah dada Bu Misye   tergoncang-goncang kesana-kemari. Bu Misye yang semula pasif sedikit   memberi perlawanan dengan menggoyangkan pantatnya. Tangannya mengepal   memukul lantai, kepalanya bergoyang menahan hawa birahi yang semakin   meninggi.</p>
<p>Akhirnya Bu Misye tidak kuat menahan cairan yang semula ia   bendung-bendung, lobang memek Bu Misye mengerut kencang ketika dia   mencapai puncak. Bu Misye malu kenapa dia bisa orgame padahal ia tidak   menginginkan itu. Yang lebih membuat dia bertambah malu adalah Iwan   seakan mengetahui hal tersebut. Iwan tersenyum sambil terus mempercepat   genjotannya. Dalam hatinya dia berkata ternyata kau juga merasakan   kenikmatan juga. Dan tampaknya Iwan juga akan sampai ke puncak. Dan   terdengar lenguhan panjang Iwan ketika batang kontolnya ia tancapkan   dalam-dalam sambil merangkul erat Bu Misye keluarlah cairan sperma   membanjiri lobang memek Bu Misye.</p>
<p>Iwan terkulai lemas diatas tubuh bugil  Bu Misye jiwa mereka  seolah  melayang sejenak.</p>
<p>Setelah itu Iwan bangkit dan mengambil pakaiannya sambil berkata, “Bu   Misye berpakaianlah, tampaknya hujan sudah mulai reda, memek Ibu  ueenak  sekali, terima kasih ya Bu Misye”.</p>
<p>Bu Misye menatap Iwan dalam hatinya bercampur antara marah, gundah,   galau. Namun satu hal yang dia tidak pungkiri bahwa dia juga menikmati   perkosaan yang dilakukan Iwan.</p>
<p>Akhirnya Bu Misye memunguti pakaian kemudian mengenakannya kembali.   Mereka berjalan ke arah motor mereka tanpa bersuara.</p>
<p>Tampaknya hujan sudah reda. Bu Misye menghidupkan mesin motornya,   namun ia dihentikan lagi oleh Iwan.</p>
<p>Iwan berkata, “Bu Misye saya minta maaf akan kelancangan saya, saya   tidak bisa menahan gejolak nafsu saya..”</p>
<p>Bu Misye tak menjawab. Ia hanya menatap wajah Iwan dengan mata yang   berkaca-kaca. Iwan diam kemudian Iwan mendekatkan wajahnya dan ciuman   hangat ia daratkan ke bibir Bu Misye. Pertama Bu Misye diam namun   akhirnya Bu Misye membalas ciuman tersebut. Lidah mereka saling   bertautan. Sejenak kemudian Bu Misye tersadar dan melepaskan ciuman   tersebut kemudian melajukan kendaraannya.</p>
<p>Iwan hanya terdiam terpaku kemudian menaiki kendaraannya ke arah yang   berlawanan. Bu Misye menerobos hujan rintik-rintik dengan perasaan  yang  sebenarnya terpuaskan.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelayu.com/cerita-dewasa/nafsu-birahi-bu-misye.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah indah pengalamanku</title>
		<link>http://cerita.modelayu.com/cerita-dewasa/kisah-indah-pengalamanku.html</link>
		<comments>http://cerita.modelayu.com/cerita-dewasa/kisah-indah-pengalamanku.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Feb 2011 07:39:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pendongeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelayu.com/cerita-dewasa/kisah-indah-pengalamanku.html</guid>
		<description><![CDATA[Satu saat tepatnya bulan Agustus 2001, aku pindah kerja ke kota Mlg.  Sesampai di stasiun kereta api jam 8 pagi aku langsung naik becak dan  melintas jalan K yang cukup terkenal lalu meminta kepada tukang becak  untuk segera diantar ke hotel yang mempunyai cukup fasilitas. Aku  menurunkan tas koperku di depan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Satu saat tepatnya bulan Agustus 2001, aku pindah kerja ke kota Mlg.  Sesampai di stasiun kereta api jam 8 pagi aku langsung naik becak dan  melintas jalan K yang cukup terkenal lalu meminta kepada tukang becak  untuk segera diantar ke hotel yang mempunyai cukup fasilitas. Aku  menurunkan tas koperku di depan hotel R. Setelah cukup istirahat aku  berniat ingin sarapan, karena semalam di kereta api aku tidak makan.  Namun ketika keluar dan akan mengunci pintu kamar, aku terkejut melihat  beberapa wanita memakai pakaian swimsuit melintas dibelakangku. “Ada apa  gerangan?”, dalam hati aku bertanya. Rasa ingin tahuku begitu besar,  sehingga membuat perutku rasanya menjadi kenyang. Aku coba mengikuti  para wanita tersebut dari belakang dan.., wowww.., betapa bahenolnya  pantat mereka. Sesaat aku berhenti dan.., ternyata mereka adalah  pengujung biasa yang hanya ingin latihan fitness.  Beberapa saat aku  memperhatikan mereka, dan ketika itu juga terdengar suara wanita  menggoda menyapaku “Mau fitness juga Mas?”, aku mencoba berbalik  badan.., ya ampun!, seorang wanita memakai swimsuit warna pink dengan  body yang aduhai dan mempunyai rambut lurus terurai hingga pundak  menghampiriku sambil tersenyum.  “Wah senyumnya begitu menggoda pikirku  dalam hati”, hingga aku sejenak terdiam bagai patung tapi biji mataku  berjalan dari atas ke bawah memperhatikan wanita tersebut yang mempunyai  kaki begitu panjang dan indah. “Ohh.., tidak!, hanya lihat-lihat saja”,  jawabku. “Mas.., dari mana?”, wanita tersebut kembali bertanya.  “Malang.., saya sedang tugas ke sini, dan kebetulan saya menginap di  hotel ini, anda sendiri sedang apa disini?” aku memberanikan diri balik  bertanya. “Sebenarnya aku ke sini mau fitness, tapi sudah full.., jadi  aku mengubah rencana ingin berenang saja, kebetulan kolam renangnya  bersebelahan dengan ruangan fitness”. Kesunyian memecahkan pembicaraan  kami sejenak.., dan “Oh, ya.., Sony namaku.., kamu siapa?”, aku mencoba  berkenalan. “Namaku Juliet.., aku orang Jakarta, aku kuliah di sini, aku  sering ke hotel ini hanya untuk fitness dan berenang” jawab Juliet.  “Kalau begitu kita sama-sama saja ke kolam renang”, aku coba mengajak.  “Emang Mas Sony mau berenang juga ya..”, tanya Juliet. Aku terkejut  sambil menelan ludah.., gawat! aku kan nggak bisa berenang yachh.., “,  pikirku dalam hati. “Oh, tidak.., tidak! kamu saja yang berenang, aku  pesan makanan dan minuman, kebetulan aku belum sarapan”, jawabku sambil  memanggil pelayan. “Oke dech kalau begitu.., Juliet sekalian minta  minuman berenergi boleh nggak..?”. Langsung aku jawab, “Boleh-boleh..,  mau berapa botol?”, dan byuurr Juliet menjatuhkan badannya yang sexy itu  ke kolam”, aku pesan satu botol saja yach..”, jawab Juliet manja dari  dalam kolam. Setelah 30 menit Juliet baru beranjak dari kolam renang dan  langsung glek.., glek.., glek.., satu botol kecil minuman berenergi  langsung kering diteguk Vina. “Pantas Vina mempunyai body begitu aduhai,  dan pasti mempunyai gairah seks yang tinggi”, aku mengira-ngira.  “Mas  Sony, berapa lama di sini?”, tanya Juliet sambil mengusap-usap rambutnya  dan menjatuhkan pantatnya di kursi malas di sampingku. “Enggak lama  kok, hanya 2 hari” jawabku berbohong, padahal aku harus 1 bulan menetap  di kota Y, karena tugas yang akan aku lakukan cukup berat. Angin  sepoi-sepoi mengusap pembicaraan kami berdua, rasanya kami sudah cukup  akrab meskipun perkenalan kami baru berlangsung beberapa jam dan tak  terasa waktu menunjukan pukul 10 pagi. “Kamu mandi dan ganti pakaian di  kamarku saja”, aku memberanikan diri memberi tawaran pada Juliet yang  sejak tadi melonjorkan badannya dengan tangan ke atas sehingga dengan  bebas bulu ketiaknya menari-nari tertiup angin. “Boleh dech..”, jawab  Juliet singkat. Sampai di kamar, timbul rasa birahiku karena tergoda  bentuk tubuh Juliet yang menggigit seluruh persendianku. “Mas Son..,  nanti malam Jul boleh ke sini nggak?, karena sekarang aku mau kuliah  dulu, Mas juga kan mau tugas dulu kan..?”, tanya Juliet ketika keluar  dari kamar mandi dengan pakaian sudah rapi. Pertanyaan Juliet itu  sekaligus mengundang ribuan setan mempengaruhi pikiranku mencari akal  untuk merayu Juliet agar dapat aku setubuhi. “Boleh Jul.., datang saja”,  jawabku sambil memegang pundak Juliet yang mempunyai umur 23 tahun  tinggi badan 167 cm. Juliet diam saja saat aku pegang pundaknya, malah  dia menatapku tajam. Aku tak berdaya akan tatapan matanya yang begitu  indah. Suasana hening.., dan perlahan aku goyangkan kepalaku untuk  mencoba menyentuh bibirnya.  “Jangan Mas.., aku sudah pakai lipstik,  nanti berantakan lagi” jawab Juliet menolak dengan halus. Aku jadi  penasaran, tapi aku yakin dari tatapan matanya tersembunyi ada kesan  frustasi dalam diri Juliet, tapi aku tidak mau mencoba berusaha tau ada  apa sebenarnya yang terjadi tehadap diri Juliet. Karena pikiranku sudah  kacau termakan keindahan lekuk tubuh Juliet yang begitu menggoda. “Ting  tong.., ting tong.., ting tong..”, tepat pukul 7 malam suara bell kamar  berbunyi 3 kali, aku segera menghampiri pintu dan saat kubuka.., wuuaahh  kulihat Juliet berdiri manis dengan mengenakan gaun tipis panjang warna  biru muda dengan tali kecil di pundak hingga terlihat anggun. Terlihat  bercak dua bulatan BH di dadanya dan celana dalam mungil yang tembus  pandang tersorot lampu utama saat aku nyalakan. “Mau mengajak jalan ke  mana yach..? Kalau ke disco tidak mungkin, pasti makan malam, sebab  Juliet mengenakan pakaian resmi untuk pesta”, dalam hati aku  bertanya-tanya. “Masuk Jul.., aku masih pakai handuk dan mau ganti  pakaian dulu, aku baru selesai mandi”, jawabku sambil menarik tangan  Juliet yang mulus putih bersih.  “Bleekk!” pintu kamar kututup dan..,  terkejut aku tiba-tiba jemari lentik nan lembut memegang jemariku yang  kasar yang setiap hari memegang obeng dan solder ketika aku mengunci  pintu. Aku berbalik badan dan sambil berdiri langsung aku belai rambut  Juliet yang halus lurus terurai.., aku teruskan belaianku ke wajah  Juliet yang berbentuk oval dan terlihat ada rasa penyesalan bercampur  keputus-asaan juga keinginan untuk melakukan persetubuhan yang paling  melekat.., kulanjutkan belaianku menyusuri pundak.., “Ohh Mas..”, jawab  Juliet lirih sambil memejamkan matanya isyarat meminta untuk dicium. Aku  tatap bibirnya tidak berwarna merah muda lagi saat Juliet pakai di  siang hari tadi, mungkin ini menandakan aku boleh menciumnya. Aku dekap  Juliet dengan mesra seperti layaknya seorang istri di malam pertama.  Dengan lembut aku hunjamkan ciuman dengan deras ke bibir Juliet yang  tipis menggoda. Tak disangka.., Juliet membalas dengan menjulurkan  lidahnya kedalam mulutku dan memainkannya dengan lihai. Aku segera  membelai dan menciumi tengkuk leher panjang Juliet sampai pundak dan..,  ting..!, aku lepas tali gaunnya, hingga gaun terusan sampai kaki itu  terjatuh ke lantai.  Kini hanya BH ukuran 36C tanpa tali ke pundak yang  ada di hadapanku siap aku mangsa. “Ahh.., ouuhh.., Mass.., beri Jul  kepuasan..” terdengar suara Juliet meminta dengan pasrah yang saat itu  juga terdengar degupan jantung Juliet yang berdetak keras dengan nafas  terengah-engah apalagi disaat aku mencoba membuka BH-nya yang yang tipis  berwarna putih. Woowww.., indah sekali buah dada Juliet yang menonjol  ke depan dengan puting kecil dan dikelilingi aurora yang kecil pula dan  penuh kehangatan itu. “oouuhh.., Mass.., isap.., isap dong Mass Sonn..”  pinta Juliet memelas.  Aku langsung melahap dua buah gunung kembar itu  dengan hisapan dan jilatan yang liar sehingga membangunkan kemaluanku  yang bersembunyi di balik handuk, sepertinya kemaluankupun sudah tidak  sabar menggedor-gedor dan menjatuhkan handuk hingga aku kini telanjang  bulat. Aku semakin gencar melancarkan serangan ke seluruh tubuh Juliet  yang wangi khas parfum true love, aku meremas buah dada kiri Juliet dan  menjilati buah dada kanan Juliet sambil memeluk dan mengelus-eluskan  tanganku di punggung Juliet sampai ke pantat. Juliet mendengus keenakan  dan membuang kepalanya ke belakang dengan otomatis dadanya membusung ke  depan dan makin tampak pula keindahan buah dadanya yang menonjol  membesar.  “Terus Mass.., ouugghh.., yang keras isapnya Mass..”, Juliet  memaksa. Perlahan aku pelorotkan CD Juliet yang tipis berwarna putih dan  berbunga di tengahnya hingga dengkul dan tanpa dikomando aku telah  benamkan kepalaku di hadapan liang kewanitaan Juliet yang tersembunyi  dibalik bulu-bulu halus yang lebat tak terkira. Ohh.., honey.., please  go on.., ouuhh.., sepertinya Juliet kurang bebas, akhirnya dia  pelorotkan sendiri CD-nya sampai kini dia benar-benar bugil tanpa  sehelai benangpun menempel di tubuh indahnya itu. Sambil berdiri Juliet  membuka kakinya lebar-lebar untuk menyerahkan lubang kenikmatannya yang  menganga agar segera dijilat. “Ssstt.., sluupp.., eehhmm.., ohh.. Juliet  betapa sempitnya memekmu”, pikirku yang terus membungkuk dan menjilati  clitoris Juliet yang nangkring di pintu gua yang penuh misterius namun  penuh kenikmatan itu.  “Ougghh.., oouuhh.., eehhmm..” Juliet mendesah  dan.., sseerr.., cairan mani membanjiri liang kewanitaan yang membuatku  semakin mudah meluncurkan kemaluanku untuk menembus liang kewanitaan  Juliet. Kebangkitan birahi Juliet makin membara dan mulai  memutar-mutarkan pantatnya yang gempal dan bulat seirama dengan jilatan  lidahku yang lincah menari-nari di sekitara clitoris dengan  sekali-sekali memasukan lidahku ke dalam gua yang gelap gulita. Juliet  menggelinjang keenakan. Aku begitu merasakan kenikmatan begitupun Juliet  yang menarik-narik rambutku dengan ganas.., bagai seorang wanita yang  sudah lama haus menantikan kenikmatan yang tiada tara itu. “Oohh..,  honey masukin cepat kemaluannya”, pinta Juliet tak sabar sambil  menjatuhkan kedua tangannya ke sofa dan menjulurkan pantatnya ke  belakang dengan kaki mengangkang.  Kini Juliet dalam posisi berdiri  menungging kebelakang siap menerima kemaluanku dari belakang. Sleebb..,  kemaluanku menembus lorong gelap menuju singgasananya dengan perlahan.  “Oouuhh.., nikmat sekali Maass.., terus perlahan Maass.., acchhkk..,  jangan berhenti Maass..” Juliet memohon lirih, diputar-putarkan  pantatnya dari kiri ke kanan dan sebaliknya, sehingga rasa geli  menyelimuti kemaluanku yang keluar masuk di liang senggama Juliet yang  sempit tapi lembut. Aku semakin mengganas tatkala aku dengar desahan  Juliet yang tiada hentinya. “Oouugghh.., acchhkk.., yang cepat.., yang  keras.., Mass.., Mass.., oouugghh.., Maass..!”. Seerr.., terasa basah  mengguyur kemaluanku yang masih berdiri tegak itu. Sehingga terdengar  bunyi clep.., clep.., liang surga Juliet mulai becek, Juliet  mengeluarkan kemaluanku dan.., slupp.., sluupp.., sstt.., Juliet  langsung melahap kemaluanku dan mengisap dengan rakusnya, sesekali dia  julurkan lidahnya untuk menjilati dua buah biji kemaluanku hingga lubang  anus yang membuatku mengelinjang kegelian.  Setelah puas memainkan  kemaluanku, sepertinya Juliet meminta kembali untuk diserang dan dia  menarikku ke kamar mandi hingga ke bath tab dengan memegang kemaluanku.  Aku seperti kerbau dungu yang mau menuruti perintah tuannya, namun jika  kerbau yang ditarik hidungnya, tapi aku yang ditarik kemaluanku yang  sedang menegang. Juliet membuka kran air dingin tanpa air panasnya, jadi  terasa dingin sekali tatkala kami berdua menjatuhkan diri kedalam bath  tab tersebut.., namun tidak mengecilkan semangat kemaluankku yang masih  terus menjulang tegang. Juliet menutup air kran setelah bath tab terisi  sedikit sekedar membasahi alas bath tab. Juliet kembali menjilati  kemaluanku.., selangkanganku. Aku tidak mau kalah, akhirnya aku bangkit  dan aku tidur kembali membalikkan tubuhku sehingga kepalaku kini berada  tepat di depan liang kewanitaan Juliet yang telah dari tadi menganga  minta dijilat. Dalam keadaan posisi 69, Juliet berada di bawah dengan  kaki merenggang diangkat ke sisi-sisi bath tab, Juliet mengangkat  pantatnya sambil digoyang-goyang dengan dengan cepat karena semakin geli  oleh jilatan lidahku yang menusuk-nusuk hingga dalam.  “Oouuhh..,  Maass.., masukin dong sayang.., Jul sudah nggak tahan nich..”, Juliet  mengeluh minta dimasukin. Akhirnya kami merubah posisi, giliran Juliet  yang berada di atas, sedang aku di bawah. Dengan posisi berjongkok  Juliet langsung menangkap kemaluanku dan menuntunnya masuk kedalam  lubangnya yang sudah basah dengan campuran mani dan air kran juga air  ludahku. Sleebb.., sleebb.., perlahan Juliet menaik-turunkan tubuhnya  sambil memegang dadaku yang plontos tanpa bulu sedikitpun. Aku lihat  mata Juliet merem-melek keenakan sambil mengigit-gigitkan bibirnya yang  mungil itu dengan sesekali mendesah. “Aahh.., acchh.., oouucchh..,  Mass.., nikmat sekali, kamu hebat mass.., bisa bikin aku puas.., oouuhh!  acchh..! uuhh.., baru kali ini aku merasakan kepuasan.., oouugghh..!”,  Juliet mengerang merasakan kenikmatan yang tiada tara.  Juliet semakin  mempercepat gerakannya dan terdengar suara bleb.., bleb.., yang begitu  keras antara pantat Juliet yang besar dengan pahaku, berpadu dengan  suara teriakan Juliet yang meminta ampun merasakan ngilu atas gesekan  kemaluanku dengan liang kewanitaan Juliet. “Mass Sonn.., Jul mau keluar  lagi.., kita keluarin sama-sama yach say..?”, pinta Juliet lagi memelas  dengan suara sedikit gemetaran menahan rasa nikmat yang segunung.  “Ouugghh.., honey.., aku mau keluar.., ayo sayang.., lebih cepat, lebih  cepat lagi sayang.., ouugghh..!”, aku mendengus. “oouuhh..,.  aacckkhh..!!”, Juliet berteriak keras sambil menggaruk dadaku kuat-kuat  merasakan kenikmatan dunia yang hebat itu. Cret.., cret.., cret..,  cret.., cairan maniku membasahi lubang kenikmatan Juliet dan terasa  becek sekali, tapi rasa itu menghilang dengan secara mendadak kemaluanku  yang masih mendarat di lubang kemaluan Juliet dipijit dengan keras oleh  liang senggama Juliet yang kembang kempis. “Terima kasih ya Mas Son..,  sudah memberi kepuasan kepada Juliet” ucapan Juliet membisik di  telingaku dan Juliet langsung terkulai lemas di atas tubuhku dan tanpa  sadar dia terbaring lelap dengan keadaan telanjang bulat, indah dan  mulus sekali tubuhnya walau sudah 3 kali orgasme, bau aroma True  Love-nyapun tetap melekat di tubuhnya.  Aku peluk tubuhnya dengan mesra  dan akupun mulai tertidur, sebelumnya aku buka penyumbat air bath tab  supaya airnya mengalir keluar dan tidak menggenang di dalam bath tub.  “Kalau airnya nggak dibuang bisa masuk angin aku.., apalagi dalam  keadaan capek begini”, pikirku dalam hati. Kamipun tertidur lelap sampai  pagi di dalam bath tab. Ternyata Juliet wanita yang kawin diusia muda  dan melanjutkan kuliah di kota “Mlg”, tapi tidak pernah mendapatkan  kepuasan seks dari suaminya, karena kemaluan suaminya impoten.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelayu.com/cerita-dewasa/kisah-indah-pengalamanku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sri Janda Kembang Penuh Nafsu</title>
		<link>http://cerita.modelayu.com/cerita-dewasa/sri-janda-kembang-penuh-nafsu.html</link>
		<comments>http://cerita.modelayu.com/cerita-dewasa/sri-janda-kembang-penuh-nafsu.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Feb 2011 09:29:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pendongeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Seru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelayu.com/?p=935</guid>
		<description><![CDATA[Telah belasan tahun berpraktek aku di kawasan kumuh ibu kota, tepatnya di kawasan Pelabuhan Rakyat di Jakarta Barat. Pasienku lumayan banyak, namun rata-rata dari kelas menengah ke bawah. Jadi sekalipun telah belasan tahun aku berpraktek dengan jumlah pasien lumayan, aku tetap saja tidak berani membina rumah tangga, sebab aku benar-benar ingin membahagiakan isteriku, bila aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Telah belasan tahun berpraktek aku di kawasan kumuh ibu kota, tepatnya di kawasan Pelabuhan Rakyat di Jakarta Barat. Pasienku lumayan banyak, namun rata-rata dari kelas menengah ke bawah. Jadi sekalipun telah belasan tahun aku berpraktek dengan jumlah pasien lumayan, aku tetap saja tidak berani membina rumah tangga, sebab aku benar-benar ingin membahagiakan isteriku, bila aku memilikinya kelak, dan kebahagiaan dapat dengan mudah dicapai bila kantongku tebal, simpananku banyak di bank dan rumahku besar.</p>
<p>Namun aku tidak pernah mengeluh akan keadaanku ini. Aku tidak ingin membanding-bandingkan diriku pada Dr. Susilo yang ahli bedah, atau Dr. Hartoyo yang spesialis kandungan, sekalipun mereka dulu waktu masih sama-sama kuliah di fakultas kedokteran sering aku bantu dalam menghadapi ujian. Mereka adalah bintang kedokteran yang sangat cemerlang di bumi pertiwi, bukan hanya ketenaran nama, juga kekayaan yang tampak dari Baby Benz, Toyota Land Cruiser, Pondok Indah, Permata Hijau, Bukit Sentul dll.<br />
<span id="more-935"></span><br />
Dengan pekerjaanku yang melayani masyarakat kelas bawah, yang sangat memerlukan pelayanan kesehatan yang terjangkau, aku memperoleh kepuasan secara batiniah, karena aku dapat melayani sesama dengan baik. Namun, dibalik itu, aku pun memperoleh kepuasan yang amat sangat di bidang non materi lainnya.</p>
<p>Suatu malam hari, aku diminta mengunjungi pasien yang katanya sedang sakit parah di rumahnya. Seperti biasa, aku mengunjunginya setelah aku menutup praktek pada sekitar setengah sepuluh malam. Ternyata sakitnya sebenarnya tidaklah parah bila ditinjau dari kacamata kedokteran, hanya flu berat disertai kurang darah, jadi dengan suntikan dan obat yang biasa aku sediakan bagi mereka yang kesusahan memperoleh obat malam malam, si ibu dapat di ringankan penyakitnya.</p>
<p>Saat aku mau meninggalkan rumah si ibu, ternyata tanggul di tepi sungai jebol, dan air bah menerjang, hingga mobil kijang bututku serta merta terbenam sampai setinggi kurang lebih 50 senti dan mematikan mesin yang sempat hidup sebentar. Air di mana-mana, dan aku pun membantu keluarga si ibu untuk mengungsi ke atas, karena kebetulan rumah petaknya terdiri dari 2 lantai dan di lantai atas ada kamar kecil satu-satunya tempat anak gadis si ibu tinggal.</p>
<p>Karena tidak ada kemungkinan untuk pulang, maka si Ibu menawarkan aku untuk menginap sampai air surut. Di kamar yang sempit itu, si ibu segera tertidur dengan pulasnya, dan tinggallah aku berduaan dengan anak si ibu, yang ternyata dalam sinar remang-remang, tampak manis sekali, maklum, umurnya aku perkirakan baru sekitar awal dua puluhan.</p>
<p>“Pak dokter, maaf ya, kami tidak dapat menyuguhkan apa apa, agaknya semua perabotan dapur terendam di bawah”, katanya dengan suara yang begitu merdu, sekalipun di luar terdengar hamparan hujan masih mendayu dayu.<br />
“Oh, enggak apa-apa kok Dik”, sahutku.<br />
Dan untuk melewati waktu, aku banyak bertanya padanya, yang ternyata bernama Sri.</p>
<p>Ternyata Sri adalah janda tanpa anak, yang suaminya meninggal karena kecelakaan di laut 2 tahun yang lalu. Karena hanya berdua saja dengan ibunya yang sakit-sakitan, maka Sri tetap menjanda. Sri sekarang bekerja pada pabrik konveksi pakaian anak-anak, namun perusahaan tempatnya bekerja pun terkena dampak krisis ekonomi yang berkepanjangan.</p>
<p>Saat aku melirik ke jam tanganku, ternyata jam telah menunjukkan setengah dua dini hari, dan aku lihat Sri mulai terkantuk-kantuk, maka aku sarankan dia untuk tidur saja, dan karena sempitnya kamar ini, aku terpaksa duduk di samping Sri yang mulai merebahkan diri.</p>
<p>Tampak rambut Sri yang panjang terburai di atas bantal. Dadanya yang membusung tampak bergerak naik turun dengan teraturnya mengiringi nafasnya. Ketika Sri berbalik badan dalam tidurnya, belahan bajunya agak tersingkap, sehingga dapat kulihat buah dadanya yang montok dengan belahan yang sangat dalam. Pinggangnya yang ramping lebih menonjolkan busungan buah dadanya yang tampak sangat menantang. Aku coba merebahkan diri di sampingnya dan ternyata Sri tetap lelap dalam tidurnya.</p>
<p>Pikiranku menerawang, teringat aku akan Wati, yang juga mempunyai buah dada montok, yang pernah aku tiduri malam minggu yang lalu, saat aku melepaskan lelah di panti pijat tradisional yang terdapat banyak di kawasan aku berpraktek. Tapi Wati ternyata hanya nikmat di pandang, karena permainan seksnya jauh di bawah harapanku. Waktu itu aku hampir-hampir tidak dapat pulang berjalan tegak, karena burungku masih tetap keras dan mengacung setelah ’selesai’ bergumul dengan Wati. Maklum, aku tidak terpuaskan secara seksual, dan kini, telah seminggu berlalu, dan aku masih memendam berahi di antara selangkanganku.</p>
<p>Aku mencoba meraba buah dada Sri yang begitu menantang, ternyata dia tidak memakai beha di bawah bajunya. Teraba puting susunya yang mungil. dan ketika aku mencoba melepaskan bajunya, ternyata dengan mudah dapat kulakukan tanpa membuat Sri terbangun. Aku dekatkan bibirku ke putingnya yang sebelah kanan, ternyata Sri tetap tertidur. Aku mulai merasakan kemaluanku mulai membesar dan agak menegang, jadi aku teruskan permainan bibirku ke puting susu Sri yang sebelah kiri, dan aku mulai meremas buah dada Sri yang montok itu. Terasa Sri bergerak di bawah himpitanku, dan tampak dia terbangun, namun aku segera menyambar bibirnya, agar dia tidak menjerit. Aku lumatkan bibirku ke bibirnya, sambil menjulurkan lidahku ke dalam mulutnya. Terasa sekali Sri yang semula agak tegang, mulai rileks, dan agaknya dia menikmati juga permainan bibir dan lidahku, yang disertai dengan remasan gemas pada ke dua buah dadanya.</p>
<p>Setalah aku yakin Sri tidak akan berteriak, aku alihkan bibirku ke arah bawah, sambil tanganku mencoba menyibakkan roknya agar tanganku dapat meraba kulit pahanya. Ternyata Sri sangat bekerja sama, dia gerakkan bokongnya sehingga dengan mudah malah aku dapat menurunkan roknya sekaligus dengan celana dalamnya, dan saat itu kilat di luar membuat sekilas tampak pangkal paha Sri yang mulus, dengan bulu kemaluan yang tumbuh lebat di antara pangkal pahanya itu.</p>
<p>Kujulurkan lidahku, kususupi rambut lebat yang tumbuh sampai di tepi bibir besar kemaluannya. Di tengah atas, ternyata clitoris Sri sudah mulai mengeras, dan aku jilati sepuas hatiku sampai terasa Sri agak menggerakkan bokongnya, pasti dia menahan gejolak berahinya yang mulai terusik oleh jilatan lidahku itu.</p>
<p>Sri membiarkan aku bermain dengan bibirnya, dan terasa tangannya mulai membuka kancing kemejaku, lalu melepaskan ikat pinggangku dan mencoba melepaskan celanaku. Agaknya Sri mendapat sedikit kesulitan karena celanaku terasa sempit karena kemaluanku yang makin membesar dan makin menegang.</p>
<p>Sambil tetap menjilati kemaluannya, aku membantu Sri melepaskan celana panjang dan celana dalamku sekaligus, sehingga kini kami telah bertelanjang bulat, berbaring bersama di lantai kamar, sedangkan ibunya masih nyenyak di atas tempat tidur.</p>
<p>Mata Sri tampak agak terbelalak saat dia memandang ke arah bawah perutku, yang penuh ditumbuhi oleh rambut kemaluanku yang subur, dan batang kemaluanku yang telah membesar penuh dan dalam keadaan tegang, menjulang dengan kepala kemaluanku yang membesar pada ujungnya dan tampak merah berkilat.</p>
<p>Kutarik kepala Sri agar mendekat ke kemaluanku, dan kusodorkan kepala kemaluanku ke arah bibirnya yang mungil. Ternyata Sri tidak canggung membuka mulutnya dan mengulum kepala kemaluanku dengan lembutnya. Tangan kanannya mengelus batang kemaluanku sedangkan tangan kirinya meremas buah kemaluanku. Aku memajukan bokongku dan batang kemaluanku makin dalam memasuki mulut Sri. Kedua tanganku sibuk meremas buah dadanya, lalu bokongnya dan juga kemaluannya. Aku mainkan jariku di clitoris Sri, yang membuatnya menggelinjang, saat aku rasakan kemaluan Sri mulai membasah, aku tahu, saatnya sudah dekat.</p>
<p>Kulepaskan kemaluanku dari kuluman bibir Sri, dan kudorong Sri hingga telentang. Rambut panjangnya kembali terburai di atas bantal. Sri mulai sedikit merenggangkan kedua pahanya, sehingga aku mudah menempatkan diri di atas badannya, dengan dada menekan kedua buah dadanya yang montok, dengan bibir yang melumat bibirnya, dan bagian bawah tubuhku berada di antara kedua pahanya yang makin dilebarkan. Aku turunkan bokongku, dan terasa kepala kemaluanku menyentuh bulu kemaluan Sri, lalu aku geserkan agak ke bawah dan kini terasa kepala kemaluanku berada diantara kedua bibir besarnya dan mulai menyentuh mulut kemaluannya.</p>
<p>Kemudian aku dorongkan batang kemaluanku perlahan-lahan menyusuri liang sanggama Sri. Terasa agak seret majunya, karena Sri telah menjanda dua tahun, dan agaknya belum merasakan batang kemaluan laki-laki sejak itu. Dengan sabar aku majukan terus batang kemaluanku sampai akhirnya tertahan oleh dasar kemaluan Sri. Ternyata kemaluanku cukup besar dan panjang bagi Sri, namun ini hanya sebentar saja, karena segera terasa Sri mulai sedikit menggerakkan bokongnya sehingga aku dapat mendorong batang kemaluanku sampai habis, menghunjam ke dalam liang kemaluan Sri.</p>
<p>Aku membiarkan batang kemaluanku di dalam liang kemaluan Sri sekitar 20 detik, baru setelah itu aku mulai menariknya perlahan-lahan, sampai kira-kira setengahnya, lalu aku dorongkan dengan lebih cepat sampai habis. Gerakan bokongku ternyata membangkitkan berahi Sri yang juga menimpali dengan gerakan bokongnya maju dan mundur, kadangkala ke arah kiri dan kanan dan sesekali bergerak memutar, yang membuat kepala dan batang kemaluanku terasa di remas-remas oleh liang kemaluan Sri yang makin membasah.</p>
<p>Tidak terasa, Sri terdengar mendasah dasah, terbaur dengan dengusan nafasku yang ditimpali dengan hawa nafsu yang makin membubung. Untuk kali pertama aku menyetubuhi Sri, aku belum ingin melakukan gaya yang barangkali akan membuatnya kaget, jadi aku teruskan gerakan bokongku mengikuti irama bersetubuh yang tradisional, namun ini juga membuahkan hasil kenikmatan yang amat sangat. Sekitar 40 menit kemudian, disertai dengan jeritan kecil Sri, aku hunjamkan seluruh batang kemaluanku dalam dalam, kutekan dasar kemaluan Sri dan seketika kemudian, terasa kepala kemaluanku menggangguk-angguk di dalam kesempitan liang kemaluan Sri dan memancarkan air maniku yang telah tertahan lebih dari satu minggu.</p>
<p>Terasa badan Sri melamas, dan aku biarkan berat badanku tergolek di atas buah dadanya yang montok. Batang kemaluanku mulai melemas, namun masih cukup besar, dan kubiarkan tergoler dalam jepitan liang kemaluannya. Terasa ada cairan hangat mengalir membasahi pangkal pahaku. Sambil memeluk tubuh Sri yang berkeringat, aku bisikan ke telinganya, “Sri, terima kasih, terima kasih..”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelayu.com/cerita-dewasa/sri-janda-kembang-penuh-nafsu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saya istri yang bener bener nakal</title>
		<link>http://cerita.modelayu.com/cerita-dewasa/saya-istri-yang-bener-bener-nakal.html</link>
		<comments>http://cerita.modelayu.com/cerita-dewasa/saya-istri-yang-bener-bener-nakal.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 09:36:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pendongeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[istri nakal]]></category>
		<category><![CDATA[istri simpanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelayu.com/?p=954</guid>
		<description><![CDATA[Usia perkawinan kami menjelang 10 tahun, untuk menghindari kejenuhan biasanya kami refreshing dengan menginap di ubud. Anak anak ditinggal di Surabaya karena mereka juga sudah cukup besar. 2-3 hari suami cuti sudah cukup mencharge ulang hubungan percintaan kami.
Kali ini kami berdua kembali menginap di ubud bali. Kamar yang kami dapat sungguh luar biasa karena berada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Usia perkawinan kami menjelang 10 tahun, untuk menghindari kejenuhan biasanya kami refreshing dengan menginap di ubud. Anak anak ditinggal di Surabaya karena mereka juga sudah cukup besar. 2-3 hari suami cuti sudah cukup mencharge ulang hubungan percintaan kami.</p>
<p>Kali ini kami berdua kembali menginap di ubud bali. Kamar yang kami dapat sungguh luar biasa karena berada di puncak bukit dengan kaca yang terbuka di sekeliling kamar. Pemandangan yang luar biasa terhampar di depan mata. Bercinta di tempat seperti ini sungguh menggairahkan.<span id="more-954"></span></p>
<p>Belum lagi acara di malam hari yang diadakan oleh pihak hotel, sungguh menarik, dimulai dari pementasan tari bali yang indah, acara makan malam yang romantic dan diakhiri dengan melepaskan kepenatan di diskotik yang mulai dibuka pukul 10 malam sampai pagi.</p>
<p>. Sengaja aku memakai pakaian yang mengundang, rok mini sexy yang melekat erat di tubuhku dengan belahan dada yang sangat terbuka menyembulkan buah dadaku yang montok. Suamiku tidak keberatan bahkan menikmati ketika para mata lelaki melihatku dengan pandangan nafsu. “Rin..lihat cowok di ujung itu, matanya tidak lepas dari tubuhmu…heheheh” Suamiku berbisik sambil senyum senyum bangga. “mas nggak cemburu, Rini dilihat sama cowok cowok itu…”bisikku sambil memeluk pinggangnya.</p>
<p>“hmmmm…rasa bangganya memiliki kamu mengalahkan cemburuku…sayang…eh coba Rin mereka kamu goda…ajak kenalan gitu…aku pengen tahu sejauh mana keberanian mereka.” Suamiku mencoba bermain api.</p>
<p>“Eh…jangan mas..!” Bisikku “ Kalo kebablasan gimana hayo…”<br />
“hahahaha nggak papa sekali kali ngedate ama cowok lain gak papa asal nggak keterusan…” Suamiku tersenyum senyum.</p>
<p>Aku sempat berkenalan dengan beberapa pemuda menarik, mereka ganteng ganteng juga. Andi, Budi, …hmmm cowok cowok brondong yang menggairahkan. Suasana yang mulai menghangat membuatku berpikir untuk mencoba sedikit nakal. Dari dulu aku mempunyai fantasi threesome atau gang bang…mungkin tidak ada salahnya dicoba, mumpung suamiku sedikit memberi keleluasaan.</p>
<p>Dan sepertinya sangat menggairahkan, bercinta dengan orang lain disaat suami ada di dekat kita. Hmmm tapi bagaimana caranya..?</p>
<p>Aku biarkan suasana mengalir , lebih panas, lebih menggairahkan, dan mereka mulai berani memelukku. Bahkan Andi sempat meremas payudaraku. Kucari suamiku ternyata dia mabuk di pojok. Aku lebih berani untuk mengundang mereka dan mengutarakan keinginanku dan ternyata mereka antusias sekali, tentu saja…bercinta gratis dengan istri orang..masih sexy lagi…hm..hmmm.hmm..</p>
<p>Cuma aku harus berpikir bagaimana caranya agar suamiku tidak tahu…timbul ide bagus di benakku.</p>
<p>Rin…dimana kamu ingin making love ? suamimu kan menempel kamu terus tuh..” Bisik Andi. “Tenang…gw bisa kasih obat tidur..kita nanti main di sampingnya…ok ? “ Kataku tersenyum.</p>
<p>“Hoho..kamu nakal sekali Rin…ML disamping suami…? ” Tawa Andi.<br />
Seperti yang sudah aku rencanakan, suamiku ketika masuk kamar sudah dalam keadaan mabuk, aku beri sedikit dosis rendah obat tidur di minumannya, membuatnya terlelap dengan cepat.</p>
<p>Rencana nakalku berhasil, dengan cepat aku buka pintu kamar hotel dimana Andi sudah menunggu. “ Rin…aku ajak Budi ya…supaya lebih seru..gimana” Tanya Andi.</p>
<p>Hmmm aku sungguh tidak keberatan, karena seperti yang sudah aku jelaskan bahwa threesome salah satu fantasi liarku. Aku mempunyai fantasi seks yang cukup liar dimulai dari threesome dan bondage. Memang belum ada salah satupun fantasi yang terealisasi tapi aku sudah memutuskan di bali ini semua harus terlaksana, terutama bondage…entah terkadang aku menikmati kalau suamiku bercinta dengan sedikit kasar, sedikit ganas…sungguh berbeda…entah..</p>
<p>Sebelum menutup pintu Andi sudah memelukku erat dan meremas pantatku. “ hmmmm sekel banget pantatmu Rin…kamu sexy sekali. “ Bisik Andi sambil melumat bibirku. Sementara Budi hanya tersenyum sambil melepas kemejanya.</p>
<p>Aku memang menyukai sex singkat. Session pertama harus cepat, session kedua baru santai.</p>
<p>“Rin bener neeeh suamimu gak bangun…hehehe asyik banget dong bercinta di samping suami yang ketiduran…bisa aja idemu…lebih merangsang ya Rin ? “ Tanya Rudi, kini tubuhnya sudah sepenuhnya bugil , terlihat batangnya yang sungguh menarik. Tidak terlalu panjang tapi diameternya mantap, yang penting beda dengan milik suamiku. Ukuran tidak terlalu penting.<br />
Tangan Andi sudah menyelusup ke balik bra ku dan meremas lembut, sementara Budi sibuk menciumi paha…hmmm geli geli enak…</p>
<p>Andi menghempaskan tubuhku di samping suamiku yang tertidur nyenyak, dengan cepat melumat buah dada kiriku yang kini terbuka lebar. Budi tidak mau kalah dengan merebahkan badannya di samping kanan tepat di sebelah suamiku, juga sibuk melumat buah dada kananku. Wow..wow.wow sungguh menggetarkan, dadaku bergemuruh mendapatkan perlakuan seperti ini.</p>
<p>“ Rin…jantungmu kok keras banget berdetaknya….gue jadi ngeri “ Bisik Budi sambil sibuk menggigit gigit telingaku. “ hei guys….gue belum pernah tidur sama cowok lain…langsung threesome lagi !…kalian beruntung banget…ngerti nggak…”protesku.</p>
<p>“Baru pertama kali !? “ Budi terkaget kaget, Andi sampai harus melepas kuluman bibirnya dari putting dadaku.</p>
<p>“Huuussss…ngapain dilepas..”tanganku menarik kepala Andi dan membenamkannya kembali ke payudaraku.</p>
<p>Sambil tersenyum nakal, lidah Budi menari nari dari perut ke bawah dan makin ke bawah. “ Tenang Rin…kamu bakal puas dan nggak akan melupakan pengalaman pertamamu…ok ?”</p>
<p>Gilaaaa jilatan Budi lebih canggih dari suamiku. Nafasku mulai tersengal sengal. Aku sungguh tidak menduga kalau kenikmatannya melebihi ekspetasiku.<br />
Tiba tiba aku merasa benda tumpul menyelusup penuh ke miss V ku…ups enaaakk..tapi…” Bud !! pake kondom !! gue gak mau tanpa kondom ! ok ? tarik lagi..! jangan merusak mood ku..”kataku tegas.</p>
<p>“Sorry…sorry Rin…ok ambil dulu. “Sambil berjingkat Budi mengambil kondom di saku celana jeansnya.</p>
<p>“Kalo gitu gue dulu..hehe” Andi yang memasang kondomnya dengan buru buru segera memposisikan batangnya ke hadapan miss V ku, dan dengan tidak menunggu lama segera menghunjamkan dalam dalam…uuuffff.. sekali lagi nikmat.!!</p>
<p>Budi yang tidak jadi mengambil kondomnya segera mengarahkan batangnya ke mulutku. Ahhh threesome memang nikmat….Andi mengocok lebih cepat kali ini, , kulirik suamiku yang meskipun tempat tidur berguncang keras, dia sama sekali tidak terganggu. Memang bercinta di depan suami yang tertidur memberi sensasi yang berbeda. Getaran yang lain dari yang lain, antara takut ketahuan, kenikmatan tiada tara bercampur menjadi satu…hehe gue nakal banget ya…</p>
<p>“Gantian dong…”rintihku, aku ingin disetubuhi bergantian kali ini.</p>
<p>“Gimana Rin?…nikmat Rin?… enak Rin?…ahhhh kamu sexy sekali… kamu nakal sekali “ Kata Andy sambil menepuk keras pantatku. Batangnya makin kencang menghajar miss V ku.</p>
<p>“ Tepuk lagi dooong…please…yang agak keras…ahhh!” Rintihku.<br />
“Lebih keras !! Andi..please ….gigit punggungku…please ahhhh…”Teriakku.</p>
<p>Plak ! tiba tiba Budi menampar pelan pipiku, tangannya segera menjambak rambutku dan menariknya ke atas. Kepalaku yang mendongak ke atas membuat mulutku terbuka lebar, dengan cepat Budi mengisinya dengan batang mantapnya. Ufffff…gue sampe kesedak tapi nikmat…batang Budi tidak panjang tapi diameternya 1,5 kali milik suamiku. Aku lebih suka yang begini, kalau terlalu panjang malah nggak nyaman karena terlalu mentok. Hmmm…baunya khas…beda dengan milik suamiku. Sengaja aku gigit gigit karena gemas. Gila…ada juga batang yang sexy kaya begini. Nggak bosan aku menjilatinya. Kocokanku dan lumatan bibirku membuat keluar cairan bening di ujung batangnya….hmm mulai terangsang neeehh..</p>
<p>“Sepertinya kamu suka bondage Rin…gimana kali kita coba juga ok ? mau ?” Tanpa menunggu jawabanku Andi sibuk merobek robek gaun tipisku menjadi tali.</p>
<p>Kalo nikmat begini kenapa harus menolak “ Terserah kalian …yang penting gue pengen puas malem ini…! Ayo…Bud..jangan berhenti please…!” Teriakku histeris saking nikmatnya.</p>
<p>Ayo Rin aku ikat tanganmu ya…jangan kuatir nggak terlalu keras kok…pengen posisi nungging atau gimana ?….”Tanya Andi mengikat lembut tanganku ke besi tempat tidur, lidahnya menari nari kadang di leherku, buah dadaku membuatku kegelian.” Nungging please Bud..please…masukkan dalam dalam ya…janji lho….yang keras pokoknya…siksa aku please perkosa aku please….ayoooo..”.Rintihku<br />
Posisiku benar benar menggairahkan. Menungging dengan kedua kaki dan tangan terikat di tempat tidur, sementara suamiku menggeletak tertidur dengan nyenyak. Bisa kalian bayangkan…sexy bukan ?</p>
<p>Andi benar benar tidak membuang waktu, posisi yang menungging membuat batangnya menghunjam penuh dalam dalam. Kedua tangannya dengan keras menarik pinggangku agar batangnya masuk seluruhnya. Deritan tempat tidur besi membuat suasana lebih menggairahkan. Badanku terasa bergetar hebat…menjelang orgasme…uhhhh…kedua pahaku terasa kaku. Aku pejamkan mataku, sementara Andi makin mempercepat hentakannya. “Ahhhh !!! aahhh!! Andi ternyata ejakulasi terlebih dahulu. Batangnya terasa berdenyut denyut. “Gantian cepet…aku belum nyampe…cepet! Teriakku.</p>
<p>Sigap sekali Budi mengganti posisi Andi, karena tahu aku menjelang orgasme, Budi tidak mengurangi ritme hentakan yang sudah dibangun oleh Andi. Luar biasa nikmat sekali. Mataku terasa gelap…ohhhhhhh aku …aku orgasmeeee..!!! denyutan vaginaku bertambah cepat.</p>
<p>Tiba tiba suami mengerang pelan disebelahku ! kami terdiam terpaku….ups !! mungkin suamiku terganggu gara gara tempat tidur terlalu bergoyang keras. Aku gosok gosok pelan punggungnya agar tertidur lagi…hihihi gue bener bener nakal ya. Budi tersenyum senyum sambil mengocok pelan batangnya di vaginaku.</p>
<p>Agar aman, Budi menurunkan ritmenya, kali ini dia ingin menikmati persetubuhan ini. Sementara tubuhku lemas sekali, tetapi karena kondisi terikat tubuhku tidak bisa bergerak leluasa. Tiba tiba terasa batang Andi mengganti posisi batang Budi…uhhhh kok lebih enak ya… Mataku masih terpejam menikmati. “Kok kamu lagi sih An…Budi kan belum keluar…kasihan dong” Kataku pelan.<br />
Tidak sampai 5 menit, Andi sudah mengerang keras hmmm sudah dua kali dia ejakulasi. Aku masih memjamkan mata menikmati. Budi kembali menghunjamkan batangnya tetapi kali ini tangannya meremas rambutku..uhhhh ..”hmmm batang kalian kok lebih enak sihh…kok lain…? Bisikku.</p>
<p>Penasaran aku buka mataku menoleh ke belakang..hah !! Ada beberapa laki laki lain masuk kedalam kamarku ?! Mereka semua sibuk mengocok batangnya masing masing “Andiii! Apa apan ini !!..Teriakku.</p>
<p>“Tenang …tenang..Rin…kenalkan ini Robert..”Kata Andi sambil menunjuk laki laki yang tengah menyetubuhiku dari belakang. “Dan yang sebelumnya tadi, kenalkan Doni…”</p>
<p>“Kami ber enam sekarang, kamu nggak keberatan kan dipuaskan oleh 6 laki laki ? Fantasimu bakal terpenuhi Rin”…Kata Andi kalem..</p>
<p>“Aaaaah jangan begitu dong…gue ngeri…aduuuhhh gimana sih….”Aku mulai panik. NGeri juga kalo digilir banyak cowok begini meski aku pernah berfantasi gila gilaan digilir puluhan cowok. Tapi apa harus malam ini…rasanya aku belum siap…Dan lagi kalo suamiku tiba tiba bangun terus melihat aku lagi disetubuhi habis habisan gimana hayo….aduhhh tapi batang Robert yang mengaduk aduk vaginaku sungguh enak..Aku kembali meracau “ lebih cepaaaat…lebih cepat….uhhhh…ayooo…” Robert mengayun pinggangnya lebih kuat membuat pantatku berbunyi keras kena hempasan pahanya. Robert cepat mengerang, dan didalam vaginaku terasa ada cairan mengalir…kurang ajar ! rupanya mereka tidak memakai kondom.<br />
“Hei ! pakai kondomnya dong..! eh kok kalian tambah banyak ?“ Aku protes berat karena kuatir juga kalo mereka nggak bersih dan mengapa sekarang ada 15 cowok ?</p>
<p>“Rin kalo pake kondom dengan 15 cowok begini kamu bakal lecet, mending tanpa kondom deh, aku jamin temen temen bersih kok. Mereka semua masih perjaka loh…bayangin kamu merawanin 13 perjaka…asyik kan ? Andi sibuk promosi.</p>
<p>“nggak mau ! Andi please jangan dong…jangan masukin sperma kalian ke tubuhku……pake kondom dong please…pokoknya jangan masukkan sperma kalian…please”</p>
<p>“Rin…mereka kan masih perjaka…dijamin gak sampe 5 menit semburatlah…ok ? tapi oklah kita semua pake kondom….ok guys !! setuju !! kata Andi ke mereka.</p>
<p>Tanpa menunggu jawabanku lagi, mereka langsung menggilirku habis habisan. Aku hanya bisa pasrah nikmat ketika batang batang mereka bergantian menyetubuhiku. Memang benar rata rata Cuma 3 menit…tapi masalahnya mereka tidak berhenti di ronde pertama, istirahat 5 menit sudah recovery lagi, artinya masing masing cowok rata rata 3 kali menyetubuhiku… sama saja, rasanya bibir vaginaku menebal. Tapi terus terang saja aku mengalami multi orgasme.</p>
<p>Aku benar benar kelelahan ketika Andi mencoba memasukkan batangnya ke anusku. “Andi please jangan dong…gue belum pernah…” rengekku.</p>
<p>Tapi Andi tidak menghentikan usahanya. Gila anak ini…” Please jangan dong..”rengekku lagi.</p>
<p>“Hmmm..Rin kamu bilang tadi pengen coba bondage…nanggung dong kalo Cuma begitu aja, gue masukin ya…pokoknya gue masukin deh..loe nangis gue nggak perduli, pokoknya kita semua menikmati tubuhmu sepuas puasnya…bukankah itu yang kamu minta Rin ? “Kata Andi mulai kasar.</p>
<p>Andi mulai menekan batangnya ke anusku…duuuhhh perih banget ! Sementara Robert, Doni, Agung dan cowok cowok lain mengocok batangnya di wajahku sambil sesekali memukulkannya ke wajahku. Agung bahkan memaksa aku melumat batangnya. sementara batang Andi mulai masuk makin dalam…</p>
<p>“jangan keluarkan sperma kalian di wajahku ok ? gue nggak mau…ok ? Pintaku memelas…Aku memang menikmati digilir tapi tidak untuk merasakan sperma mereka, bagiku hanya sperma suamiku yang boleh masuk ke dalam tubuhku. Tadi aku kecolongan si Robert, kurang ajar banget..!!</p>
<p>“Ayo Rin ! nikmati ! ini yang kamu minta bukan ?! “ Andi mulai menggoyangkan batangnya perlahan. Aku belum pernah anal, dan memang ternyata cukup menyakitkan. Tetapi karena sudah terlanjur basah aku harus bisa menikmatinya. Ahhh ternyata masuk depan belakang ini memang nikmat…gila nikmat banget.</p>
<p>“Rin sekarang teman teman ingin mengisi vaginamu dengan sperma mereka bagaimana ….mau kan…? “ Tanya Andi.</p>
<p>“Jangan Di…gue udah bilang jangan…udah nikmati aja…kenapa sih harus masukin sperma kalian…becek..nggak enak…” Rengekku.</p>
<p>“Hmmmm, tapi kamu tidak ada pilihan lain bukan kalau kami paksa….”Senyum culas Andi mengembang.</p>
<p>“Ayolah Rin….Cuma 15 cowok kok….udah gini aja, mereka nggak usah coitus lagi, tadi kan udah..kali ini cuma onani didepan vaginamu, trus vagina elo gue buka lebar lebar agar sperma mereka masuk semua…ok ? Mereka penasaran neeeh …sperma 15 cowok muat nggak ke dalam satu vagina… ok ya Rin…” Rayu Andi.</p>
<p>“Duuuhhh Di..please gue nggak bisa nikmatin…dan lagi sprei jadi basah semua dong…kalo suami gue bangun gimana dong lihat sperma berceceran…ayolah plesase bukain ikatan gue ya…udah puas semua kan ? Dan lagi suami gue bentar lagi bangun, gue gak sempat bersih bersih dong “ Gue kuatir juga kalo mereka melaksanakan aksinya. Terus terang gak siap deh kalo vagina gue di isi sprema mereka…gila apa !</p>
<p>Tapi dasar mereka cowok bandel, tangan tangan mereka sudah sibuk mengocok masing masing batangnya. Arrrghhh !! gue bener bener sebel …hhhh tangan dan kaki gue bener bener terikat, mati kutu sama sekali tidak bisa bergerak. Sementara Jemari Andi sibuk mengobok obok vaginaku…aduh..diapain sih punya gue…!</p>
<p>Budi mulai mendekatkan batangnya ke vaginaku dan….ahhh kurang ajar…! Spermanya disemprotkan keras keras, tentu saja langsung masuk karena bibir vaginaku dibuka lebar oleh jari jari Andi..<br />
Doni mengikuti dari belakang…diikuti Rudi, Robert, Syuman dan aaahhh…sungguh kurang ajar mereka.</p>
<p>“Rin…coba lihat…terisi penuh kan…semua bisa masuk lohhh…” Andi tersenyum senyum.</p>
<p>“Di…coba gue masukin batang gue…luber nggak hahahaha “ Robert segera menghunjamkan batangnya, tentu saja sprema di dalamnya muncrat keluar kena tekanan dari luar…</p>
<p>Ok ..Rin gimana kalo kamu kami biarkan terikat begini…surprise untuk suamimu…ok ? hehehe”</p>
<p>“Andi..jangan dong please…lepasin dong ikatan gue…please..” Aku mulai panik.<br />
“Nggak mau…biar suamimu tahu kalo kamu nakal…ok ? kami pergi thanks honey….” Andi menepuk nepuk pipiku.</p>
<p>Arggghhh bang**t..!! Andi !! lepasin gue dong…gue teriak neeeh !!!” Ancam ku.</p>
<p>Ups !!! kalo gitu mulut kamu perlu ditutup sayang…”Tangan andi mengambil sobekan kain bajuku untuk menyumpal mulutku…ahhhh kurang ajar !!!</p>
<p>Mereka menutup pintu dan membiarkan aku terikat, aduhhh bagaimana kalau suamiku bangun nanti…!! Aduhhh gimana alasanku nanti ? …mataku jadi gelap…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelayu.com/cerita-dewasa/saya-istri-yang-bener-bener-nakal.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>36</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bercinta Dengan 2 Orang Sahabat</title>
		<link>http://cerita.modelayu.com/cerita-dewasa/bercinta-dengan-2-orang-sahabat.html</link>
		<comments>http://cerita.modelayu.com/cerita-dewasa/bercinta-dengan-2-orang-sahabat.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Feb 2010 16:37:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pendongeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Nyata]]></category>
		<category><![CDATA[cerita bercinta]]></category>
		<category><![CDATA[cerita mesum]]></category>
		<category><![CDATA[cerita ngentod]]></category>
		<category><![CDATA[cerita panas]]></category>
		<category><![CDATA[cerita sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelayu.com/?p=952</guid>
		<description><![CDATA[Pengalamanku kali ini berawal dari hari ulang tahunku yang ke 32. Kebetulan ulang tahunku kali ini pas jatuh pada hari Minggu, maka aku melewatkannya di rumah saja bersama anakku satu-satunya yang baru berusia 5 tahun. Sempat juga aku teringat pada mantan suamiku, karena tahun lalu kami masih merayakan ulang tahunku bersama. Kami baru bercerai beberapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengalamanku kali ini berawal dari hari ulang tahunku yang ke 32. Kebetulan ulang tahunku kali ini pas jatuh pada hari Minggu, maka aku melewatkannya di rumah saja bersama anakku satu-satunya yang baru berusia 5 tahun. Sempat juga aku teringat pada mantan suamiku, karena tahun lalu kami masih merayakan ulang tahunku bersama. Kami baru bercerai beberapa bulan yang lalu.</p>
<p>Sore-sore, ada SMS masuk. Jantungku langsung bergemuruh ketika membaca pengirimnya: Tomi, salah satu selingkuhanku yang sekarang bekerja dan berdomisili di Semarang. Aku senang sekali karena ternyata dia masih ingat ulang tahunku. Tomi memang termasuk laki-laki yang romantis, dia selalu memperhatikan hal-hal kecil yang dapat membuat hatiku senang. Usianya lebih muda 2-3 tahun dibanding aku, belum berumah tangga, tapi pengalaman sex-nya lumayan.<span id="more-952"></span></p>
<p>Yang lebih membuat aku girang luar biasa, ternyata Tomi ada di Jakarta. Dia bilang melalui SMS, dia sengaja datang untuk merayakan ulang tahunku.</p>
<p>“Aku selalu kangen sama kamu,” tulisnya. “Aku juga,” balasku. “Kamu kangen apanya?” “Kangen jepitannya!” ”Jepitan yang mana? Yang atas apa yang bawah?” “Dua-duanya!”</p>
<p>Aku selalu berdesir-desir kalau menerima SMS seperti itu dari Tomi. Bukan apa-apa, obrolan seperti itu selalu mengingatkan aku pada petulangan-petualangan sex yang pernah kami lakukan. Tomi termasuk pandai bermain cinta, itu sebabnya hubungan kami termasuk langgeng, sudah berjalan hampir 4 tahun. Dengan cowok-cowok lain aku lebih suka untuk tidak menjalin hubungan berlama-lama.</p>
<p>Singkat cerita, kami janji bertemu di sebuah hotel yang dulu termasuk sering kami pakai untuk rendezvous. Aku datang lebih dahulu, langsung cek in, lalu menunggu Tomi di dalam kamar. Aku SMS Tomi untuk memberitahu nomor kamar.</p>
<p>“Aku masih di jalan,” balas Tomi. “Macet, padahal udah ngaceng nihhh…” “Ya udah, dielus-elus aja dulu, sementara nunggu jepitan nikmat.” “Aku gak sabaran nih, udah dari kemaren ngebayangin ML sama kamu.” “Aku jadi ngebayangin punyamu, lagi ngaceng, keras, gede. Pasti sedap tuh diisep.” “Emang cuma mau ngisep?” “Aku sih cuma mau ngisep, tapi gak tau deh memekku!” ”Uuuuh, jadi makin ngaceng nih, tau?! Awassss yaaa!” “Memekku juga mulai basah tau, Yang?!” “Tolong rabain memek kamu untukku.” “Gak usah diajarin, dari tadi juga udah kuraba-raba!” Kami terus ber-SMS ria sementara Tomi dalam perjalanan menuju hotel. Pintu kamar sengaja tidak kukunci supaya Tomi dapat langsung masuk. Aku rebahan di ranjang dengan gelisah. Kirim-kiriman SMS seperti itu membuat aku terangsang hebat. Vaginaku benar-benar basah, buah dadaku mengeras, tidak sabar ingin cepat-cepat mereguk nikmat bersama Tomi.</p>
<p>Untungnya Tomi muncul tidak lama kemudian. Karena sudah kuberitahu bahwa pintu kamar tidak kukunci, dia langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Aku sedikit terkejut, tapi senang sekali. Tanpa beranjak dari ranjang, kukembangkan kedua tanganku untuk menyambut Tomi dengan pelukan.</p>
<p>Tomi mengunci pintu, lalu langsung membuka celana panjang berikut celana dalamnya. Aku tertawa melihat batang kemaluannya nampak sudah mengacung tegak. Lucu, sekaligus menggairahkan. Sementara Tomi membuka pakaiannya dengan terburu-buru, aku juga bergegas membuka kaos ketat dan rok mini yang kukenakan. Tomi memandang tubuhku yang hanya tinggal ber-bh dan celana dalam dengan rupa amat bernafsu.</p>
<p>Tanpa ba-bi-bu, dia langsung menerkam aku di ranjang. Kami langsung bergumul, berciuman bibir dengan panas bergelora. Kedua tangan Tomi liar meremas-remas apapun pada tubuhku. Celana dalamku diturunkannya dengan tergesa-gesa.</p>
<p>“Aku gak tahan, Yang…, kita langsung ngentot yaaa…. Ngobrolnya nanti aja, oke?”</p>
<p>Nafasnya sudah ngos-ngosan, aku hafal betul bagaimana Tomi kalau sudah diamuk birahi. Tentu saja aku tidak keberatan untuk langsung bersetubuh seperti permintaan Tomi, karena aku juga sudah amat sangat bergairah sedari tadi.</p>
<p>Kubuka pahaku memberi jalan. Tomi mencumbu sepasang payudaraku sambil mengarahkan rudalnya pada vaginaku. Terasa kepalanya yang besar menyeruak mulut vaginaku yang basah. Nikmat sekali. Kuresapi nikmatnya terobosan batang kemaluan Tomi pada liang vaginaku sambil memejamkan mata. Sleseeeeeppp….. blessss…!</p>
<p>“Ooooh…., enak banget, Sayaaang…,” rintihku. “Aku kangen kontol kamuuu….” “Aku juga kangen banget, Sayaaang…. Aku kangen ngentot sama kamuuu…” “Sekarang entot aku…, entot aku, Sayaaang….”</p>
<p>Tomi semakin bernafsu, gerakannya jadi semakin brutal dan agak kasar. Justru itu yang aku suka. Batang kemaluannya yang luar biasa keras terasa memenuhi liang vaginaku, menyentak-nyentak hingga ke ujung lorong kenikmatan milikku.</p>
<p>“Aaaakkkhhh…, asyiiiikkk, Saaayyy…., yahhh…, teken yang kenceng…, yahhh… gitu dooong…, uuuuggghhh…”</p>
<p>Dia menyentak-nyentaik batang kemaluannya lagi, semakin keras, semakin cepat dan bertenaga. Aku semakin lepas kontrol, jeritanku makin menjadi-jadi akibat dilanda nikmat yang luar biasa. “Aaaarrgghh…., gilaaa…! Kontolmu sedap banget, Sayaaang… Entot memekku, Sayaaang…, yah…, yaaahh, gituuuuuhh…, aaarggghhhh…., yang keras, yang kerassss…., ooohhhh, kontol kamu sedap, Sayaaang!”</p>
<p>Aku memang termasuk type perempuan yang “heboh” bila sedang bersetubuh. Semakin nikmat persetubuhan yang kurasakan, rintihan dan eranganku pasti akan semakin keras dan jorok. Dulu aku malu dengan perilaku sex-ku yang satu itu, karena takut dinilai perempuan murahan yang maniak, tapi lama-kelamaan aku justru menikmatinya. Kenyataannya banyak laki-laki yang justru menyukai erotisme seperti itu, karena mereka jadi merasa sangat perkasa dan semakin bergairah karena merasa berhasil membuat aku keenakan.</p>
<p>Tomi semakin kuat menggecak-gecak batang kemaluannya di dalam vaginaku, seiring dengan semakin kuatnya rintihan dan eranganku. Kurasakan klimaksku sudah sangat dekat. Kuangkat-angkat pinggulku setiap kali Tomi menggecak, sehingga batang kemaluannya yang besar dan keras itu menghunjam-hunjam semakin dalam. Nikmat luar biasa.</p>
<p>Kami terus bersetubuh, berganti-ganti posisi. Terakhir, ketika orgasmeku telah semakin dekat, Tomi membalikkan tubuhku hingga membelakanginya. Aku segera mengerti. Lekas-lekas aku menungging di atas ranjang dengan kedua tangan berpegangan pada pinggiran jendela kamar. Lalu kembali Tomi menggenjotku dari belakang. Aku berusaha mengimbangi dengan menggerak-gerakkan pinggul. Setiap dia menekan, kudorong pantatku ke belakang, demikian pula sebaliknya. Kudengar nafas Tomi kian memburu, diselingi suara lenguhannya setiap kali dia menggecak batang penisnya kuat-kuat.</p>
<p>Akhirnya aku melolong lebih dahulu. Aku orgasme!</p>
<p>“Ooooooooorrggghhhhh……!!! Toooommmm, aku keluaaaarrr….!!!!”</p>
<p>Tomi semakin bersemangat, digecak-gecaknya kemaluannya semakin kuat dan cepat. Tubuhku terguncang-guncang semakin hebat. Sementara kemaluanku berkedut-kedut saat aku mencapai klimaks, kugoyang-goyangkan pinggulku maju-mundur dengan cepat dan kuat untuk mengimbangi gerakan Tomi. Aku tahu pasti, sebentar lagi dia pun akan mencapai puncak kenikmatannya.</p>
<p>“Oh, ah, uuughhh..!!! Memek kamu enak, Sayang…., aku hampir keluar, aku hampir keluar, adduuhhhh…., enak sekalih, enak sekali memek kamuhhhh…., oooorrrgghhh.., aaarrgghhh…., uuuuggghhh…., aaaaaaaarrrgghhhhh……..!!!”</p>
<p>Tomi menyemprotkan spermanya banyak sekali. Terus kugoyang-goyang pinggulku agar dia lebih merasa nikmat. Dia melenguh-lenguh sambil meremasi buah dadaku yang bergelantung, sementara air maninya menyemprot-nyemprot di dalam vaginaku.</p>
<p>Setelah itu Tomi menghempaskan nafasnya yang berat. Dipeluknya tubuhku. Kami lalu bercium-ciuman sambil berangkulan di ranjang.</p>
<p>“Kamu apa kabar selama ini, Sayang?” tanya Tomi sambil membelai-belai keningku yang berkeringat. Bayangkan, setelah bersetubuh demikian panas, dia baru sempat menanyakan kabarku. Aku tersenyum.</p>
<p>“Baik,” jawabku. “Kamu sih, sombong, mentang-mentang udah jadi boss!” “Aku selalu kangen sama kamu, tau?!” “Aku juga, soalnya kamu yang paling hebat!” “Hebat apanya?” Aku tersenyum, kugenggam batang kemaluan Tomi sebagai jawaban. Tomi mengikik, dan penisnya otomatis bergerak membesar kembali.</p>
<p>“Tuh kan, baru dibilang paling hebat, dia langsung bangun lagi!” aku menggoda sambil mengelus-elus batang penis Tomi yang kian mengeras. Kuangkat pahaku, menyilangi paha Tomi, lalu kugesek-gesekkan ujung penisnya ke belahan vaginaku. Tomi menyeringai. Tubuhku dipeluknya lebih erat, lalu kami berciuman bibir. Hangat, tandas, dan lama…</p>
<p>Selanjutnya kami memulai permainan ronde kedua. Seperti biasa, Tomi memang kuat dan tahan lama. Entah berapa lama kami bersetubuh untuk yang kedua kali malam itu, yang jelas akhirnya kami mencapai orgasme dalam waktu bersamaan. Setelah itu kembali beristirahat. Buang air, mencuci tubuh di kamar mandi, pesan makan malam, ngobrol-ngobrol, lalu bercumbu lagi.</p>
<p>Pagi-pagi aku pulang, ganti baju dan langsung berangkat lagi ke kantor. Sebetulnya aku capek sekali setelah mendaki puncak nikmat berkali-kali sepanjang malam, tapi hari itu boss ada meeting di kantor, jadi tidak mungkin aku membolos (aku bekerja sebagai sekretaris direksi). Lagipula, kenikmatan berkali-kali yang diberikan Tomi, justru membuat pikiranku menjadi cerah dan semangat menjadi tinggi.</p>
<p>Sebelum berpisah, Tomi mohon maaf karena tidak bisa menemui aku lagi karena banyak hal yang harus dikerjakannya. Dia lalu meminta aku mengantarnya ke bandara bila nanti dia kembali ke Semarang. Aku setuju saja.</p>
<p>Kamis sore, Tomi menjemput aku di kantor untuk mengantarnya ke bandara seperti yang sudah kami sepakati tempo hari. Tapi dia tidak sendiri, melainkan ditemani seorang cowok ganteng. Aku diperkenalkan dengan cowok itu yang ternyata sahabat Tomi sejak mereka masih sama-sama remaja. Namanya Irvan, usianya nampak sedikit lebih muda dibanding Tomi.</p>
<p>Ketika berkenalan, aku sempat mencuri pandang ke arah bokongnya. Lumayan gede. “Kalo neken, kayaknya nikmat nih,” pikirku langsung ngeres. Pada saat yang sama, aku melihat sekilas dia melirik ke arah dadaku. Saat itu aku mengenakan blazer dan daleman tanktop yang telah kubuka 2 buah kancingnya sejak dari kantor, sehingga belahan dadaku yang penuh nampak terlihat jelas. Darahku kontan berdesir lebih cepat menyadari Irvan tertarik pada buah dadaku yang berukuran 36C.</p>
<p>Tomi duduk di kursi belakang bersamaku, sementara Irvan sendirian di depan menjadi “sopir”. Kami langsung tancap gas, masuk tol menuju bandara.</p>
<p>Di perjalanan, kami ngobrol-ngobrol biasa pada mulanya. Cerita macam-macam, diselingi tawa dan gurauan. Irvan sesekali nimbrung. Sekitar sepuluh menit sejak berangkat dari kantor, Tomi merapatkan duduknya. Sambil ngobrol, Tomi mulai menggerayangi aku, pahaku dielus-elus, jarinya nakal menekan-nekan belahan vaginaku. Aku bilang, “Eeeh, jangan dong, Yang, gak enak sama Irvan….” Tapi Tomi tahu, aku tidak sungguh-sungguh menolak perlakuannya itu. Buktinya aku membiarkan jemarinya menelusup ke balik celana dalamku, bahkan pahaku mengangkang memberi jalan. Sesungguhnya aku hanya takut tidak dapat mengendalikan diri, padahal tempat dan situasi tidak terlalu kondusif untuk suatu persetubuhan.</p>
<p>Entah bagaimana, tahu-tahu Irvan berkata, “Santai aja, aku ngerti kok…” Aku melihat dia mengerling nakal kepadaku dari kaca spion. Nafsuku jadi semakin bangkit. Masabodo’ ah, pikirku. Maka, aku diam saja menikmati rabaan-rabaan Tomi pada selangkanganku.</p>
<p>“Ssssssshhhhh……, geli tau, Yang?!!” desisku sambil mengangkangkan kaki lebih lebar. Tomi jadi makin bersemangat. Celana dalamku diturunkannya cepat-cepat sembari menciumi batang pahaku.</p>
<p>“Buka blazer kamu, Sayaaang…!” katanya memberi instruksi, sementara dia sendiri sibuk membuka kait rok mini yang kukenakan. Aku benar-benar tidak peduli lagi pada Irvan, langsung saja kuturuti permintaan Tomi untuk membuka blazer.</p>
<p>“Buka semua deh, Yaaang…,” Tomi merayu sambil bergerak hendak menciumi kedua pahaku kembali. Rokku sudah dicampakkannya, sehingga bagian bawah tubuhku sudah telanjang. Aku tinggal mengenakan tanktop dan bh sekarang.</p>
<p>“Kamu gila, tau gak sih?!” aku mendesis menikmati jilatan lidah Tomi pada pahaku, lalu kuturuti permintaannya. Kubuka tanktop dengan agak tergesa. Ketika aku membuka bh, kulihat Irvan memperhatikan dari kaca spion. Cuek aja, ah, batinku dengan penuh nafsu.</p>
<p>Sambil menjilat-jilat pangkal pahaku, sebelah tangan Tomi mulai meremas-remas sepasang payudaraku yang telanjang. Aku mengerang. Tomi lalu mengangkangkan pahaku lebih lebar, lidahnya merayap menuju vaginaku yang merekah basah. Aku mengerang lebih kuat ketika kurasakan ujung lidahnya menjilat-jilat belahan vaginaku. Selanjutnya aku semakin lupa diri. Tomi memang sudah hafal betul bagaimana membuat birahiku cepat bangkit. Kemaluanku dicumbu dan dilumatnya habis-habisan. Diobok-obok dengan jari, dihisap, dikenyot. Aku benar-benar tidak kuat menahan diri untuk menjerit-jerit.</p>
<p>“Sayaaang…, oooohhh…, yessss..!! Terus isep….oooouuwww!!! Ooohhh…., aduuh, gilaaa…, enak banget, Sayaaang…, aaahhh…, ooouuwwww… aaarrggghhh…, terus, Sayaaang…, aaahhh…, ooooookkkhhh…”</p>
<p>Aku membuka pahaku lebih lebar lagi sambil menekan-nekan kepala Tomi agar tambah masuk ke vaginaku yang terasa megap-megap keenakan. Aku benar-benar lupa diri, tak ada lagi rasa malu ataupun sungkan. Sempat kulirik Irvan, nampak mukanya agak tegang, namun itu justru menambah gairahku. Aku malah mengerang, merintih, dan menjerit semakin menjadi-jadi.</p>
<p>“Nikmaaat, oooh…, iseep teruusss…, oh, oh, oh, aaah, ooohhh…, teruuusss, isep itilku, kacangkuu…., yaaah, kenyot terus, Sayaaang…, yaaah.., kenyooot…, sedaaaap…”</p>
<p>Entah bagaimana, tiba-tiba ada hasrat aneh di dalam dadaku untuk membakar birahi Irvan yang aku tahu sudah tidak sepenuhnya berkonsentrasi ke jalan. Semakin kusadari betapa dia tertarik dengan apa yang tengah kulakukan bersama Tomi, semakin aku bernafsu untuk menggoda kelelakiannya.</p>
<p>Aku melihat Irvan agak menurunkan kaca spion, sehingga dia pasti bisa jelas melihat tubuhku di kaca itu. Rupanya sengaja dia mau menonton. Tahu begitu, birahiku semakin menggebu-gebu. Kuremas-remas sendiri kedua payudaraku yang telanjang sambil terus merintih dan mengerang. Kulihat Irvan ternganga, mulutnya membentuk ucapan “ugh”. Ingin rasanya aku meremas batang kemaluannya yang aku tahu pasti sudah semakin tegang dan keras menyaksikan pertunjukan sex gratis dari kaca spion. Berpikir begitu, birahiku jadi semakin tinggi, apalagi Tomi terus mencumbui kemaluanku. Rintihan-rintihan nikmat keluar begitu saja dari mulutku, liar tak terkendali.</p>
<p>“Ooooh, isep, Sayaaang…, terussss…, kerjain memekku……Aduuuh, gilaaa…, sedap, nikmat, ah, uhhhh, memekku basah banget…, lap dulu dong, Sayaaang…”</p>
<p>Kuangkat kepala Tomi dari selangkanganku. Tomi bangkit, tapi bukan untuk melap seperti permintaanku, melainkan justru membuka semua celananya, Kemaluannya telanjang, mengacung tegak, keras seperti tongkat kayu.</p>
<p>“Oooh.., aku isep kontolmu ya Sayang.., aku kenyot ya?”</p>
<p>Tomi melenguh ketika aku mengurut kemaluannya yang keras menggairahkan, lalu katanya, “Aku nggak tahan, Sayang…, aku mau fuck kamu.., aku pengen ngentot disini!”</p>
<p>Sambil berkata begitu, tubuhku didorongnya agak kasar sampai aku rebahan di jok. Kunaikkan sebelah kakiku tinggi-tinggi ke sandaran jok, sementara yang sebelah lagi menjuntai ke bawah. Tomi semakin lupa diri menyaksikan posisiku yang mengangkang.</p>
<p>“Kita ngentot ya, Sayang?” bisiknya dengan suara agak serak sambil menciumi buah dadaku yang montok. “Aku masukin kontolku yaaa…., aku nggak tahan…, aku kangen sama memek kamu…”</p>
<p>“Aaaakkhhh.., sedaaap…., yesss…, ooohhh, kontol kamu udah masuk, Sayaang… Yaaahhhh, teken terus sampe mentok.., teruuussss…”</p>
<p>Tomi mendorong batang kemaluannya yang besar dan keras itu hingga terasa mentok di dasar vaginaku. Kuangkat pinggulku tinggi-tinggi, menyambut sodokan Tomi yang semakin kuat. Tomi mengenyoti puting susuku sembari menggecak-gecak penisnya yang perkasa di liang kemaluanku. Kami semakin lupa diri, sama sekali tidak peduli lagi pada Irvan.</p>
<p>“Uuuuuggghhh…, ooooohhhhh…, aaaarrrggghhhhh…,” kami teriak-teriak berbarengan, menyalurkan nikmat yang tak terkira.</p>
<p>“Sayaaang, entot aku, Yaaang…, ahhh, kontolmu sedaaap, ooohhh…, memekku enak banget nih dientot kamu… Ohhh, kita fuck terus, Sayang, yaaahhh…, gesek terusss, tekeeeennn, goyang, puter, auh, entot terus memekku, Sayaaang…., entot terussss..”</p>
<p>Aku terus menjerit-jerit, seperti biasa bila tengah didera nikmat bersetubuh. Entah berapa menit Tomi menghantam vaginaku dengan penisnya yang perkasa, tahu-tahu kurasakan badanku agak panas dan semakin ringan. Goyanganku jadi semakin cepat, liar tak terkendali. Orgasmeku sudah dekat.</p>
<p>“Yaaang, aku mau keluaaaar…!” otomatis aku mengerang semakin kuat. “Keluaaaar!!! Aku mau keluaaar……!!! Oooooohh, fuck me terussss!! Entoootttt…., ngeweeeee… entoooot…, ngeweee aaaaaaarghhhh….”</p>
<p>Aku orgasme. Tubuhku serasa melayang tinggi sekali. Nikmat luar biasa.</p>
<p>“Oh my God, oh my God, ngentot nikmaaat, ngentot sedaaap, aku suka kontol kamu, Sayaaang…, aku suka ngentot sama kamu….. Oooooooookkkhhhh,” aku melolong sejadi-jadinya, sementara Tomi mengocok penisnya semakin kuat dan cepat. Terasa batang kemaluannya menghunjam-hunjam di dalam liang vaginaku yang telah banjir oleh cairan orgasme. Beberapa saat kemudian….,</p>
<p>“Oh, ah, oh, aku juga mau keluar…, enak banget, ahhh, enak ngentot sama kamu, ohhh, aku suka ngentotin kamu…, aku mau keluar, aku mau keluar, yah, oh, aaaahhh, uuuugghhh, aaaaaaarrrggghhh….”</p>
<p>Setelah itu yang terdengar hanya suara desah. Sejenak aku melupakan Irvan, sama sekali tak terpikirkan olehku bagaimana kira-kira reaksinya mengetahui ada orang bersetubuh di jok belakang, sementara dia sedang menyopir sendirian di depan. Tomi lebih-lebih tidak peduli. Dia asyik memeluk tubuh bugilku, sambil mengatur nafasnya yang memburu.</p>
<p>Agak lama kami membisu dalam sisa-sisa kenikmatan seperti itu, sampai tiba-tiba terdengar suara Irvan.</p>
<p>“Ehm, udah mau nyampe nih, rapi-rapi, deh!” katanya nenyadarkan aku dan Tomi. Kami bangun, merapikan pakaian masing-masing dengan agak tergesa. Sekilas aku lihat kaca spion sudah pada posisi semula.</p>
<p>“Sorry ya, coy, kita lupa diri,” kata Tomi basa-basi. Aku pura-pura tidak memperhatikan, sibuk mengenakan kembali celana dalamku, tapi sesungguhnya aku melirik pada Irvan yang mesem-mesem penuh arti.</p>
<p>Sementara berpakaian, aku pikir lebih baik aku tidak mengenakan bh lagi. Kancing tanktop kembali kubiarkan terbuka 2 buah. Gila memang, saat itu di otakku sudah terbayang bagaimana indahnya sebentar lagi aku tinggal berdua saja dengan cowok seganteng Irvan.</p>
<p>Ketika tiba di bandara, Tomi meminta Irvan untuk langsung saja mengantarkan aku pulang. Katanya, “Kamu tidur aja di jok belakang, nanti dibangunin Irvan kalo udah sampe rumah.” Dia lalu menerangkan alamat rumahku kepada Irvan.</p>
<p>Begitu mobil berangkat meninggalkan bandara, aku langsung pindah ke jok depan.</p>
<p>“Biarin aja di belakang, kan kamu mau tidur?!” Irvan berbasa-basi. Aku tersenyum sambil merapikan posisi dudukku. Kuturun-turunkan rok mini yang kukenakan guna menutup paha mulusku yang tersingkap, tapi sebenarnya gerakan itu justru kusengaja untuk memancing perhatian Irvan. Kulihat matanya mengerling pada pahaku, berarti pancinganku mengena.</p>
<p>“Mas, tadi sorry ya, kamu jadi gak konsen ke jalan,” kataku kemudian. “Si Tomi emang suka gila, kadang-kadang…, gak bisa nahan kalo lagi pengen…”</p>
<p>Beberapa saat Irvan tidak menjawab, lalu tiba-tiba dia berkata dengan suara yang agak tercekat. Nampaknya dia masih sangat dipengaruhi birahi. “Mbak tau gak, aku baru kali ini lihat orang ML langsung dengan mata kepalaku sendiri.” “Aku juga baru sekali ini ditonton begitu, Mas! Tau gak sih, sebenernya aku malu banget…, tapi gimana dong?! Sex emang gitu kan, kadang-kadang bikin kita lupa diri…!” “Iya sih, gak apa-apa kok, aku ngerti…, tapi bukannya tadi mbak tambah bergairah karena tau aku ‘ngintip? Bukannya mbak malah sengaja manas-manasin aku?”</p>
<p>Duh, malu banget…. “Kok tau sih?” akhirnya kucetuskan saja keherananku. Kepalang basah, aku bertanya begitu sambil mencubit mesra lengan Irvan. Dia tersenyum sambil terus memandang ke arah jalan.</p>
<p>“Jangan manggil ‘mbak’ ah, gak enak…,” kataku kemudian sambil menatap wajah Irvan dari samping. Keren banget, batinku. “Kamu juga jangan panggil ‘mas’ dong yaaa…,” jawab Irvan, sambil meletakkan tangan kirinya di atas pahaku. Aku langsung terdiam seribu basa, jantungku kontan bergemuruh. Nekad juga nih orang, pikirku. Sekilas Irvan mengerling ke arahku, lalu perlahan telapak tangannya mulai bergerak-gerak mengusapi paha mulusku yang tersingkap. Kurang ajar, tapi aku suka sekali.</p>
<p>Otomatis laju mobil kami jadi perlahan. Irvan mengambil lajur paling kiri supaya tidak mengganggu perjalanan mobil lain, mengingat kami masih berada di jalan tol.</p>
<p>Aku pura-pura tidak terpengaruh pada rabaan-rabaan Irvan, hanya saja mulutku seperti terkunci. Bulu-bulu romaku terasa meremang. Gila, baru diraba paha, birahiku sudah amat terangsang. Cowok ini pasti lihai, batinku penuh harap. Pahaku sesekali diremasnya dengan lembut, lalu tangannya merayap semakin naik. Karena tidak tahan, tahu-tahu kucubit lengannya. Dia tersenyum sedikit.</p>
<p>“Masih enak?” tanyanya setengah berbisik.</p>
<p>Aku tidak menjawab, tapi kepalaku mengangguk-angguk cepat. Irvan makin bersemangat, tangannya meraba pahaku kian tinggi, menelusup ke balik rok. Aku menggigit bibir seraya menggeser dudukku lebih mendekat.</p>
<p>Lalu terasa jari-jarinya telah menyentuh selangkanganku. Darahku kian berdesir-desir. Nafsu sex-ku memang besar, birahiku cepat sekali naik, padahal tadi aku baru saja mencapai orgasme yang luar biasa bersama Tomi.</p>
<p>“Kamu bisa konsen?” tanyaku, suaraku mulai parau karena birahiku mulai tinggi. Irvan tidak menjawab, malah menelusupkan jarinya ke vaginaku. Otomatis pinggulku terangkat dan kedua pahaku merenggang. Terasa jari-jari Irvan menggesek-gesek lembut belahan vaginaku. Nikmat sekali.</p>
<p>“Masih enak ya?” bisik Irvan bersemangat, mungkin dia tahu aku demikian terangsang. “Bangeeettt…,” jawabku tanpa malu-malu lagi. Mulutku mulai mengeluarkan desis-desis kenikmatan. “Sssshhhhh…., aaaahhhh…, enak bangeeettt…. Kamu pinter…!!”</p>
<p>Sandaran jok kurebahkan sedikit supaya posisiku lebih nyaman. Cepat kuturunkan celana dalamku, kubuka sekalian, lalu aku duduk mengangkang. Sementara itu, tangan Irvan tak sedetikpun lepas dari selangkanganku.</p>
<p>Jari tengahnya terasa menyusup, menggelitik-gelitik clitorisku yang sudah sangat basah. Sesekali diremasnya gundukan kemaluanku. Jari-jarinya bergerak lembut namun amat terampil. Nikmatnya tak terkatakan.</p>
<p>“Sssshhhh….., aaarrrgghhhh….., ssshhhh…., aaaaaarrrggghhhh…..,” aku terus mendesis-desis keenakan. Jari tengah Irvan mulai mengocok-ngocok, bergerak cepat maju-mundur di liang vaginaku yang licin oleh lendir. Dudukku jadi semakin melonjor dan mengangkang. Irvan memasukkan lagi satu jarinya, lalu masuk lagi yang ketiga tak lama kemudian. Aku mulai menjerit-jerit, nikmat sekali diobok-obok dengan tiga jari.</p>
<p>Aku mulai lupa diri akibat diamuk birahi. Seperti biasa, mulutku terus mendesis, mengerang, merintih, mengeluarkan kata-kata nikmat penuh nafsu. Karena semakin tidak tahan, tanganku begitu saja meraba selangkangan Irvan. Gila, tonjolannya besar sekali! Aku jadi semakin bernafsu. Cepat kutarik ritsleting celananya, dia membantu membuka gesper lalu mengeluarkan batang kemaluannya.</p>
<p>“Aauwww! Punya kamu gede bangetttt…..” Irvan tampak blingsatan mendengar komentar spontanku. Sungguh aku tidak bohong, penisnya memang luar biasa besar dan panjang. Aku tidak tahan, batang kemaluannya kuremas-remas dengan gemas.</p>
<p>“Gedean mana sama Tomi?” tanya Irvan kemudian, sementara aku asyik mengelus-elus batang kemaluannya yang menjadi semakin keras. “Dia gede, tapi kamu super gede!” Irvan tertawa mendengar jawabanku. “Isep ya?” tanyaku. Irvan mengangguk-angguk. Joknya lebih dimundurkan sedikit supaya memudahkan aku melakukan blow job.</p>
<p>Aku cengkeram penuh batang penis Irvan, aku jilat ujungnya yang ternvata sudah keluar cairan bening. Kuangkat kepalaku sejenak sambil menatap Irvan yang harus membagi konsentrasinya ke jalan. “Kamu masih bisa nyetir kan? Hati-hati nabrak lho ya….”</p>
<p>Irvan tidak menjawab. Tangan kirinya menyusup, meremas buah dadaku yang terasa keras memuai akibat birahi. Aku jadi semakin tidak peduli apapun lagi, kumasukkan kepala penis Irvan ke dalam mulutku. Aku hisap perlahan. Batang penis itu berdenyut sedikit, membuat aku tambah bernafsu. Aku hisap lebih kuat ujungnya, lalu aku masukkan semua ke mulut sambil aku putar-putar. Irvan mulai merintih-rintih keenakan.</p>
<p>“Oooh…., ssshhh…, gilaaa.., sedap isepan kamu, aaarggh…, kenyot terus, Sayaaang…, yaaahhhh”</p>
<p>Aku kocok terus penisnya, kadang pelan, lalu cepat, lalu kupelankan lagi, lalu cepat lagi, pelan lagi, cepat lagi. Begitu terus sambil aku hisap-hisap. Biji pelirnya aku usap-usap. Dia lebih mengangkang. Aku mengerti, kuturunkan mulutku, kukenyot-kenyot buah zakarnya.</p>
<p>“Aaah…, sssssshhhh…, uugh, enak bangeeet,” Irvan mengerang-erang sambil meremasi buah dada montokku.</p>
<p>“Aku gak tahan,” katanya lagi. “Aku mau ngewek sama kamu, mau ngentot sama memek kamu….” Nafasnya ngos-ngosan, tangannya kembali merogoh-rogoh vaginaku.</p>
<p>“Iya, Sayang, aku juga pengen banget dientot kontol kamu,” aku menjawab dengan nafas yang tak kalah ngos-ngosan, sambil menciumi dan menjilat-jilat kepala penis Irvan yang merah mengkilat.</p>
<p>“Aaah…, yuk, di mana ya?” “Mampir hotel aja…, cari yang deket-deket sini…”</p>
<p>Selanjutnya aku kembali sibuk menghisapi kemaluan Irvan, sementara dia setengah ngebut menuju arah Ancol. Tidak terlalu lama, kami tiba di sebuah hotel kecil yang cukup nyaman dan bersih. Begitu sampai di muka lobby, aku langsung turun, check in, lalu bergegas masuk kamar, sementara Irvan memarkirkan mobil.</p>
<p>Di kamar aku langsung membuka tanktop, dan melemparnya begitu saja di lantai. Lalu aku masuk kamar mandi untuk buang air kecil. Kubuka rokku, kugantung di pintu kamar mandi. Kini aku telanjang bulat karena celana dalam sudah kutanggalkan sejak di dalam mobil.</p>
<p>Keluar dari kamar mandi, Irvan persis masuk kamar. Matanya terbeliak melihat tubuh sintalku yang tidak berpenutup sehelai benangpun. “Body kamu bagus banget,” dia memuji sembari mengecup putting susuku yang sudah mengeras sedari tadi. Tubuhku disandarkannya di tembok depan kamar mandi. Lalu diciuminya sekujur tubuhku, mulai dari pipi, kedua telinga, leher, hingga ke dadaku. Sepasang payudara montokku habis diremas-remas dan diciumi. Putingku setengah digigit-gigit, digelitik-gelitik dengan ujung lidah, juga dikenyot-kenyot dengan sangat bernafsu.</p>
<p>“Toket kamu fantastis,” desisnya. “Aku udah nafsu kepingin ngenyot ini sejak aku liat dari kaca spion….” “Aku tau,” jawabku sembari meremas tonjolan kemaluannya. Dengan bergegas, kutarik ritslitingnya, lalu kuloloskan celana hingga celana dalamnya. Mengerti kemauanku, dia lalu duduk di pinggir ranjang dengan kedua kaki mengangkang. Dibukanya sendiri kemejanya, sementara aku berlutut meraih batang penisnya, sehingga kini kami sama-sama bugil.</p>
<p>Agak lama aku mencumbu kemaluannya, Irvan minta gantian, dia ingin mengerjai vaginaku. Tapi kataku, “Masukin aja yuk, aku udah pengen ngerasain kontol kamu!” Irvan tersenyum lebar. “Udah gak sabar ya?” godanya. “Iya, pengen dientot, kontolmu pasti enak…, gede, montok…!”</p>
<p>Irvan menarik tubuhku. Kami berpelukan, berciuman rapat sekali, berguling-guling di atas ranjang. Ternyata Irvan pintar sekali bercumbu. Birahiku naik semakin tinggi dalam waktu yang sangat singkat. Terasa vaginaku semakin berdenyut-denyut, lendirku kian membanjir, tidak sabar menanti terobosan batang kemaluan Irvan yang super besar.</p>
<p>Berbeda dengan Tomi, Irvan nampaknya lebih sabar. Dia tidak segera memasukkan batang penisnya, melainkan terus menciumi sekujur tubuhku. Terakhir dia membalikkan tubuhku hingga menelungkup, lalu diciuminya kedua pahaku bagian belakang, naik ke bongkahan pantatku, terus naik lagi hingga ke tengkuk. Birahiku menggelegak-gelegak.</p>
<p>“Udah, Sayaaaang…..,” rengekku memohon. “Please…., masukiiiinnn…”</p>
<p>Irvan menyelipkan tangan kirinya ke bawah tubuhku, tubuh kami berimpitan dengan posisi aku membelakangi Irvan, lalu diremas-remasnya buah dadaku. Lidahnya terus menjilat-jilat tengkuk, telinga, dan sesekali pipiku. Sementara itu tangan kanannya mengusap-usap vaginaku dari belakang. Terasa jari tengahnya menyusup lembut ke dalam liang vaginaku yang basah merekah.</p>
<p>“Memek kamu bagus, tebel, pasti enak ngentot sama kamu….,” dia berbisik persis di telingaku. Suaranya sudah sangat parau, pertanda birahinya pun sama tingginya dengan aku. Aku tidak bisa bereaksi apapun lagi. Kubiarkan saja apapun yang dilakukan Irvan, hingga terasa tangan kanannya bergerak mengangkat sebelah pahaku.</p>
<p>Mataku terpejam rapat, seakan tak dapat lagi membuka. Terasa nafas Irvan semakin memburu, sementara ujung lidahnya menggelitiki lubang telingaku. Tangan kirinya menggenggam dan meremas gemas buah dadaku, sementara yang kanan mengangkat sebelah pahaku semakin tinggi. Lalu…, terasa sebuah benda tumpul menyeruak masuk ke liang vaginaku dari arah belakang. Oh, my God, dia telah memasukkan rudalnya….!!!</p>
<p>Sejenak aku tidak dapat bereaksi sama sekali, melainkan hanya menggigit bibir kuat-kuat. Kunikmati inci demi inci batang kemaluan Irvan memasuki liang vaginaku. Terasa penuh, nikmat luar biasa.</p>
<p>“Oooooohhhhh….,” sesaat kemudian aku mulai bereaksi tak karuan. Tubuhku langsung menggerinjal-gerinjal, sementara Irvan mulai memajumundurkan tongkat wasiatnya. Mulutku mulai merintih-rintih tak terkendali.</p>
<p>“Tuh kan, kontolmu enaaaak …!!!,” kataku setengah menjerit.</p>
<p>Irvan tidak menjawab, melainkan terus memajumundurkan rudalnya. Gerakannya cepat dan kuat, bahkan cenderung kasar. Tentu saja aku semakin menjerit-jerit dibuatnya. Batang penisnya yang super besar itu seperti hendak membongkar liang vaginaku sampai ke dasar.</p>
<p>“Ooooohhhh…., tolooooonggg.., gustiiii…!!!” Irvan malah semakin bersemangat mendengar jerit dan rintihanku. Aku semakin erotis. “Aaaahhhh, kontolmuuu…, ooooohh, aaaarrrghhh…, kontollmuuu…, ooohhhh…!!!”</p>
<p>Irvan terus menggecak-gecak. Tenaganya kuat sekali, apalagi dengan batang penis yang luar biasa keras dan kaku. Walaupun kami bersetubuh dengan posisi menyamping, nampaknya Irvan sama sekali tidak kesulitan menyodokkan batang kemaluannya pada vaginaku. Orgasmeku cepat sekali terasa akan meledak.</p>
<p>“Aku mau keluar! Aku mau keluaaar!!” aku menjerit-jerit. “Yah, yah, yah, aku juga, aku juga! Enak banget ngentot sama kamu!” Irvan menyodok-nyodok semakin kencang. “Sodok terus, Sayaaang!!!” “Yah, ooohhh, yaaahhh, uuuuggghhh!!!” “Teruuuuussss….., aaarrggghh…., sssshhhh…., ohhh…, sodok terus kontolmuuuu…!” “Oh, ah, uuugghhh…” “Enaaak…., kontol kamu enak, kontol kamu sedap, yahhh, teruuuusssss…, entot aku terus, Sayaaang…, sodok terusssss…., entooootttt…., yaaaahhhhhh…..!!!” “Oooorrrgghhh…., yaaahhhh…., uuuugggghhhh… sssshhhh…, aaarrggghhh…”</p>
<p>Pada detik-detik terakhir, tangan kananku meraih pantat Irvan, kuremas bongkahan pantatnya, sementara paha kananku mengangkat lurus tinggi-tinggi. Terasa vaginaku berdenyut-denyut kencang sekali. Aku orgasme!</p>
<p>Sesaat aku seperti melayang, tidak ingat apa-apa kecuali nikmat yang tidak terkatakan. Irvan mengecup-ngecup pipi serta daun telingaku. Sejenak dia membiarkan aku mengatur nafas, sebelum kemudian dia memintaku menungging. Aku baru sadar bahwa ternyata dia belum mencapai orgasme.</p>
<p>Kuturuti permintaan Irvan. Dengan agak lunglai akibat orgasme yang luar biasa, kuatur posisi tubuhku hingga menungging. Irvan mengikuti gerakanku, batang kemaluannya yang besar dan panjang itu tetap menancap dalam vaginaku.</p>
<p>Lalu perlahan terasa dia mulai mengayun pinggulnya. Ternyata dia luar biasa sabar. Dia memajumundurkan gerak pinggulnya satu-dua secara teratur, seakan-akan kami baru saja memulai permainan, padahal tentu perjalanan birahinya sudah cukup tinggi tadi.</p>
<p>Aku menikmati gerakan maju-mundur penis Irvan dengan diam. Kepalaku tertunduk, kuatur kembali nafasku. Tidak berapa lama, vaginaku mulai terasa enak kembali. Kuangkat kepalaku, menoleh ke belakang. Irvan segera menunduk, dikecupnya pipiku.</p>
<p>“Kamu hebat banget,” kataku terus terang. “Kukira tadi kamu udah hampir keluar!” “Emangnya kamu suka kalo aku cepet keluar?”</p>
<p>Aku tersenyum, kupalingkan mukaku lebih ke belakang. Irvan mengerti, diciumnya bibirku. Lalu dia menggenjot lebih cepat. Dia seperti mengetahui bahwa aku mulai keenakan lagi. Maka kugoyang-goyang pinggulku perlahan, ke kiri dan ke kanan.</p>
<p>Irvan melenguh. Diremasnya kedua bongkah pantatku, lalu gerakannya jadi lebih kuat dan cepat. Batang kemaluannya yang luar biasa keras menghunjam-hunjam vaginaku. Aku mulai mengerang-erang lagi.</p>
<p>“Oooorrrgghhhh….., aaahhhhh….., ennaaak….., kontolmu enak bangeeeettt…!!”</p>
<p>Ivan tidak bersuara, melainkan menggecak-gecak semakin kuat. Tubuhku sampai terguncang-guncang. Aku menjerit-jerit. Cepat sekali, birahiku merambat naik semakin tinggi. Kurasakan Irvan pun kali ini segera akan mencapai klimaks. Maka kuimbangi gerakannya dengan menggoyangkan pinggulku cepat-cepat. Kuputar-putar pantatku, sesekali kumajumundurkan berlawanan dengan gerakan Irvan. Cowok itu mulai mengerang-erang pertanda dia pun segera akan orgasme.</p>
<p>Tiba-tiba Irvan menyuruhku berbalik. Dicabutnya penisnya dari kemaluanku. Aku berbalik cepat. Lalu kukangkangkan kedua kakiku dengan setengah mengangkatnya. Irvan langsung menyodokkan kedua dengkulnya hingga merapat pada pahaku. Kedua kakiku menekuk mengangkang. Irvan memegang kedua kakiku di bawah lutut, lalu batang penisnya yang keras menghunjam mulut vaginaku yang menganga.</p>
<p>“Aaaaarrgghhh…!!!” aku menjerit. “Aku hampir keluar!” Irvan bergumam. Gerakannya langsung cepat dan kuat. Aku tidak bisa bergoyang dalam posisi seperti itu, maka aku pasrah saja, menikmati gecakan-gecakan keras batang kemaluan Irvan. Kedua tanganku mencengkeram sprei kuat-kuat.</p>
<p>“Terus, Sayang…, teruuuusss…!” desahku. “Ooohhh, enak sekali…., aku keenakan…, enak ngentot sama kamu!” “Aku juga, aku juga, memekku keenakaaaan….!” “Aku udah hampir keluar, Sayaaang…., memek kamu enak bangeeeet….” “Aku juga mau keluar lagi, tahan dulu! Terussss…., yaaah, aku juga mau keluaaarrr!” “Ah, oh, uughhh, aku gak tahan, aku gak tahan, aku mau keluaaar….!” “Yaaaahhh teruuuussss, sodok terussss!!! Aku enak, aku enak, Sayaaang…, aku mau keluar, aku mau keluar, memekku keenakan, aku keenakan ngentot sama kamu…., yaaahhhh…, teruuusss…, aaarrgghhh…., ssshhhhhh…, uuugghhh…, aaaaaarrrghhh!!!!”</p>
<p>Tubuhku mengejang sesaat sementara otot vaginaku terasa berdenyut-denyut kencang. Aku menjerit panjang, tak kuasa menahan nikmatnya orgasme. Pada saat bersamaan, Irvan menekan kuat-kuat, menghunjamkan batang kemaluannya dalam-dalam di liang vaginaku.</p>
<p>“Ooooooohhhhh….!!!” dia pun menjerit, sementara terasa kemaluannya menyembur-nyemburkan cairan mani di dalam vaginaku. Nikmatnya tak terkatakan, indah sekali mencapai orgasme dalam waktu persis bersamaan seperti itu.</p>
<p>Lalu tubuh kami sama-sama melunglai, tetapi kemaluan kami masih terus bertautan. Irvan memelukku mesra sekali. Sejenak kami sama-sama sibuk mengatur nafas.</p>
<p>“Enak banget,” bisik Irvan beberapa saat kemudian. “Hmmmmm….” Aku menggeliat manja. Terasa batang kemaluan Irvan bergerak-gerak di dalam vaginaku. “Memek kamu enak banget, bisa nyedot-nyedot gitu…” “Apalagi kontol kamu…, gede, keras, dalemmm…” “Kamu ngantuk gak? Kita nginep di sini aja yuk…!” “Kalo tidur sih mendingan di rumah masing-masing aja!” “Justru itu, aku mau kita ngentot sampe pagi…!”</p>
<p>Berkata begitu, Irvan bergerak menciumi aku lagi. Kali ini diangkatnya tangan kananku, lalu kepalanya menyusup mencium ketiakku. Aku mengikik kegelian. Irvan menjilati keringat yang membasahi ketiakku. Geli, tapi enak. Apalagi kemudian lidahnya terus menjulur-julur menjilati buah dadaku.</p>
<p>Irvan lalu menetek seperti bayi. Aku mengikik lagi. Putingku dihisap, dijilat, digigit-gigit kecil. Kujambaki rambut Irvan karena kelakuannya itu membuat birahiku mulai menyentak-nyentak lagi. Irvan mengangkat wajahnya sedikit, tersenyum tipis, lalu berkata,</p>
<p>“Aku bisa gak puas-puas ngentot sama kamu…. Kamu juga suka kan?”</p>
<p>Aku tersenyum saja, dan itu sudah cukup bagi Irvan sebagai jawaban. Alhasil, malam itu kami bersetubuh tiga kali, dengan entah berapa kali mencapai orgasme. Yang jelas, keesokan paginya tubuhku benar-benar lunglai, lemas tak bertenaga. Hampir tidak tidur sama sekali, sekitar pukul 6 Irvan mengantarku pulang, lalu ke kantor. Di kantor rasanya aku kuyu sekali. Teman-teman banyak yang mengira aku sakit, padahal aku justru sedang happy, sehabis bersetubuh sepanjang malam dengan dua sahabat yang perkasa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelayu.com/cerita-dewasa/bercinta-dengan-2-orang-sahabat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>62</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Babysitter Tetangga</title>
		<link>http://cerita.modelayu.com/cerita-dewasa/babysitter-tetangga.html</link>
		<comments>http://cerita.modelayu.com/cerita-dewasa/babysitter-tetangga.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 06:42:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pendongeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.modelayu.com/cerita-dewasa/babysitter-tetangga.html</guid>
		<description><![CDATA[Aku tinggal di komplex perumahan, disitu banyak pasangan muda yang mempercayakan anak balitanya ke para babay sitter. Kalo pagi banyak baby sitter yang ngumpul depan rumahku, memang rumahku rada tusuk sate, sehingga kayanya strategis buat ngerumpi, palagi praktis gak da mobil yang lalu lalang. Kalo lagi dirumah aku suka memperhatikan para baby sitter itu. Umumnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku tinggal di komplex perumahan, disitu banyak pasangan muda yang mempercayakan anak balitanya ke para babay sitter. Kalo pagi banyak baby sitter yang ngumpul depan rumahku, memang rumahku rada tusuk sate, sehingga kayanya strategis buat ngerumpi, palagi praktis gak da mobil yang lalu lalang. Kalo lagi dirumah aku suka memperhatikan para baby sitter itu. Umumnya si tampang pembokat yang dipakein seragam baby sitter yang umumnya kalo gak putih, pink atau birumuda warnanya. Tapi ada satu yang laen dari yang laen. Kalo yang laen kulitnya pada sawomatang, yang satu ini putih, manis lagi, gak da tampang pembokat deh. Bodi sih gak kliatan kemontokannya, maklum kan seragam baby sitter pink yang dipakenya rada kebesaran kayanya, sehingga menyamarkan lika liku bodinya. Tinggi tubuhnya sekitar 167 cm. Rambutnya tergerai sebahu. Wajahnya cantik dengan bentuk mata, alis, hidung, dan bibir yang indah. lumayan buat cuci mata. Lama2 dia tau juga kalo aku sering memperhatikan dia kalo lagi didepan rumah. Dia senyum2 ke aku, ya buat pantesnya aku juga senyum ma dia juga. Suatu saat kebetulan dia cuma sendiri di depan rumahku, kesempatan aku untuk kenalan. “Kok sendirian, yang laen pada kemana?” “Gak tau ni om, saya kesiangan si keluarnya”. “Ngapain dulu”. “ada yang dikerjain dirumah”. “Majikan kamu dua2nya kerja ya”. “Iya om, om ndiri kok gini ari masi dirumah, gak kerja mangnya”. “Aku si bebas kok kerjanya, sering kerjanya ya dari rumah aja. Kalo keluar paling ke tempat klien”. “Klien, paan tu om”. “Klien tu langganan”. “Mangnya om jualan apa”. “aku kerja jadi konsultan”. “apa lagi tu konsiltan, maap ya om, jadi nanya terus, bis gak ngarti si”. “Mangnya kamu gak skola ya”, aku bales bertanya. “Cuma sampe SMU om, gak ada biaya buat nerusin, ya mesti cari kerja lah, bantu2 orang tua juga”. “Mangnya ortu dimana, tau kan ortu, orang tua”. “Di kampung om, didaerah banten”. “Pantes kamu putih ya, yang laen pasti dari jawa ya, kulitnya item2?. “Nama kamu sapa si”. “Ayu om, kalo om?” “Aku edo”. “Om gak punya istri ya, kayaknya gak perna kliatan prempuan dirumah ini”. “Aku duda kok, kamu mau jadi prempuan dirumah ini”. “Ah si om, aku balik dulu ya om, dah siang ni, mataharinya dah tinggi, anaknya kepanasan”. “Ya udah”. Sejak itu aku belon dapet kesempatan ngobrol ma Ayu berdua aja karena selalu rame ma baby sitter yang laennya.<br />
<span id="more-949"></span><br />
Sampe pada suatu sore ketika ku lanja di hypermarket deket rumahku, aku melihat seorang abg, bodinya asik banget, togepasarlah, dia pake tshirt ketat dan jins yang ketat juga, kalo aura kasi aja sih lewat lah. Setelah aku perhattin ternyat Ayu. “Yu,” panggilku. Ayu noleh, “Eh si om, blanja ya om”. “La iyalah, ke hipermarket masak mo nonton bioskop. Kamu blanja juga”. “Cuma beli pemalut aja kok om, siap2 kalo dapet”. “Mangnya dah mo dapet ya”. “Kalo itung kalender si dah ampir om, persisnya si gak tau”. “Kamu seksi banget kalo pake jins ma tshirt Yu, kalo jagain anak mestinya kaya gini pakeannya”. “Kalo nungguin anak kudu pake seragam si om”. “Kamu kok bisa kluyuran kemari”. “Iya om, majikan dua2nya pergi kluar kota, kerumah ortunya katanya, jadi anaknya dibawa. Bete ni om dirumah aja, mana tu nenek2 crewet lagi”. “Nenek2?”. “Iya om, pembantunya, dah tua, crewet banget deh, suka mrintah2, palagi gak ada majikan. Aku tinggal klayapan aja”. “Kmu antuin aku blanja ya, ntar pembalut kamu aku bayarin deh, kamu ada keperluan yang laen gak, skalian aja. Hap kamu tu dah bikinan cina, jadul banget. Aku beliin yang sama merknya dan ada kameranya ya”. “Hp kan mahal om, mending beliian aku pakean dan spatu aja”. “Dua2nya juga bole kok”. “Bener nih om, wah om baek bener deh, pasti ada maunya ni ye”. Aku tersenyum aja, Ayu langsung ke konter hp, dia mencari hp yang sama dengan merk hp lamanya tapi yang ada kameranya. Kebetulan lagi ada program tuker tambah. “Cuma dihargai 50 ribu om”. “Ya udah gak apa, minta tolong mbaknya mindahin isi hp lama kamu ke yang baru aja”. Cukup lama, [proses pembelian dan transfer data dari hp lamanya Ayu ke yang baru. Setelah itu selesai, Ayu menuju ke konter pakean, dia milih jins dan t shirt. “Beli dalemannya bole ya om”. “Buat kamu apa sih yang gak boleh”. Ketkia milih bra, aku jadi tau ukuran toketnya, 34C, pantes kliatan gede banget. Selesainya beli pakean, Ayu milih sendal yang bagusan, abis itu baru kita blanja. Dia beli pembalut dan makanan kecil, aku membeli keperluan rumah untuk sebulan sehingga kereta blanjaan penuh. “Wah balnjanya banyak banget om, sampe sekreta penuh”. kita blanja sambil ngobrol dan becanda. Ayu orangnya enak buat diajak becanda, dia slalu terpingkel2 kalo aku guyonin, sampe pelanggan yang laen pada nengok. “Yu, kalo ketawa jangan keras2, diliat orang tuh”. “Biar aja diliatin, om si bikin lucu2, mana aku tahan gak ketawa”. “Ya udah lucu2 nya terusin dirumahku ya”. Ayu diem aja, aku dah slesai blanjang dan ngantri di kasir. Hari ini rame juga yang blanja jadi ngantri cukup lama sampe slesai bayar. selama ngantre aku terus aja becandain Ayu, dan dia ketawa ketiwi karenanya. Dia membantu memsukkan blanjaanku dan blanjaannya ke mobil dan duduk diseblah aku. “Cari makan dulu ya YU, dah siang nih. Kamu suka makan apa?” “Makan apa juga aku suka”. “Pecel lele doyan gak”. “Doyan om”. Mobil meluncur ke warung pecel lele, aku pesen makanan dan minuman. Kami makan sambil nerusin becanda. Selesai makan dan minum, “Kita mo kemana lagi Yu”. “Ya pulang lah om, dah kenyang gini aku suka ngantuk”. “Kerumahku aja ya, katanya kamu gak mo ketemu sinenek”. “Oke om”. Mobil meluncur pulang.</p>
<p>Sampe dirumah, Ayu membantu mengeluarkan belanjaan dari mobil, diapun membantu menyimpan belanjaanku ditempatnya. Belanjaanya ditumpik aja dideket sofa. Kemudian dia mengeluarkan hp barunya, sambil membaca buku manualnya dia berkenalan dengan hp barunya. Karena aku kringetean, aku tinggalkan dia mandi. Selesai mandi aku hanya mengenakan celana pendek dan kaos buntung aja. “Om santai amat, gak pergi kerja”. “Kan ada kamu, masak aku tinggal”. “ayu tinggal disini sampe sore boleh ya om, om kalo mo pergi kerja pergi aja. aku mo blajar hp baru, makasi ya om, om baek banget deh. Pasti abis ini minta upah ya om”. “Mangnya kamu mo ngasi upahnya apaan”. “apa yang om minta, pasti aku kasi, kalo aku bisa’. Wah nantangin ni anak, pikirku. “Kamu mo nuker baju Yu, aku punya kaos yang gede banget, pasti kalo kamu pake jadi kaya daster”. “Bole deh om, aku mandi aja ya om, gerah nih”. Aku mengambilkan baju kaos gombrongku dan memberikan ke Ayu, “Pake aja anduk aku ya, dikamar mandi ada sabun, mo kramas juga ada sampo”. “Mangnya mandi junub om, pake kramas segala”. “Mangnya gak boleh kalo gak junub kamu kramas”. “Bole juga si om”. Dia menghilang ke kamar mandi. Aku mengambil 2 botol soft drink dari lemari es, kemudian aku menyiapkan video bokep yang aku belon liat. Aku mo macing napsunya Ayu pake video bokep.</p>
<p>Selesai mandi Ayu hanya mengenakan baju kaosku, cukup si buat dia, cuma jadi kaya make rok min saja. 15cm di atas lutut. Paha dan betis yang tidak ditutupi kaosku itu tampak amat mulus. Kulitnya kelihatan licin, dihiasi oleh rambut-rambut halus yang pendek. Pinggulnya yang besar melebar. Pinggangnya kelihatan ramping. Walaupun kaos iru gombrong, tapi kelihatan sekali bentuk toketnya yang besar kenceng itu, sangat menggairahkan, palagi pentilnya tercetak di kaos itu. Rupanya Ayu tidak mengenakan bra. Lehernya jenjang dengan beberapa helai rambut terjuntai. Sementara bau harum sabun mandi terpancar dari tubuhnya. sebagai laki-laki normal, kon tolku berdiri melihat tubuhnya. Dari samping kulihat toketnya begitu menonjol dari balik kaos itu. Melihat Ayu sewaktu membelakangiku, aku terbayang betapa nikmatnya bila tubuh tersebut digeluti dari arah belakang. Kuperhatikan gerak tubuhnya dari belakang. Pinggul yang besar itu meliuk ke kiri-kanan mengimbangi langkah-langkah kakinya. Ingin rasanya kudekap tubuh itu dari belakang erat-erat. Ingin kutempelkan kon tolku di gundukan pantatnya. Dan ingin rasanya kuremas-remas toket montoknya habis-habisan.</p>
<p>Aku duduk di sofa. Ayu menuangkan soft drink ke gelas, “Kok softdrinknya 2 botol om”. “Yang satunua buat kamu”. Dia menunagkan soft drink satunya ke gelas dan membawa ke 2 gelas itu ke sofa. “Om gak ada pembantu ya”. “Ada kok Yu, cuma datengnya 2 kali seminggu, buat bebersih rumah dan nyetrika, aku nyucinya seminggu juga 2 kali, pake mesin cuci, jadi tinggal ngejemur aja kan. Kamu mo nemenin dan bantu aku disini. aku gak tersinggung lo kalo kamu mau”. “Kerjaannya dikit om, ntar aku gak ada kerjaannya”. “Kalo gak ada kerjaan, aku mau kok ngejain kamu tiap ari”, godaku sambil tersenyum. “Ih si om, genit ah”. “Dah ngerti blon hp barunya”. “Dah om, prinsipnya sama dengan hp lama, merknya kan sama, cuma lebi canggih aja. kalo dah dipake ntar juga lancar diri”.</p>
<p>Kembali kita ngobrol ngalor ngidul soal macem2. kesempatan bagiku untuk menatapnya dari dekat tanpa rasa risih. Akhirnya pembicaraan menyerempet soal sex. “Yu, kamu perna maen”. “Maen apaan om”. “Maen ma lelaki”. “Pernah om, ma majikan yang sebelon ini. Aku diprawanin ma dia. Napsunya gede banget deh, kalo maen, pembantunya yang umurnya lebih muda dari aku diembat juga. Cuma kali maen ma pembantu cuma sekali, ma aku bisa ampe 3 kali”. “Ya teranglah, kamu merangsang gini. Pasti pembantunya item kan kaya babysitter laennya”. “Iya sih om”. “Terus napa kok brenti?” “Kepergok ibu om, ketika itu aku lagi man ma majikan, gak taunya ibu pulang mendadak. Langsung deh aku dikluarin. Baiknya ada temen yang ngasi tau ada lowongan di tempat yang skarang”. “Ma majikan yang skarang maen juga?” “Enggak bisa om, kan ada si nenek, bisa dilaporin ibu kalo si bapak macem2 ma aku”. “Kamu dah sering maen terus gak maen2, pa gak kepengen?” “Pengen si om, tapi ma siapa, aku suka gesek2 ndiri kalo lagi mandi”. “Mangnya enak”. “Enak om, ngikutin cara si bapak yang dulu ngegesek”. “Ngegesek apaan Yu”. “Ih om nanya mulu, malu kan aku”. “Kita nonton film ya, asik kok filmnya”. “FIlm apaan om”. “Ya udah kamu liat aja”. Aku memutar video bokep, kayanya orang thai ceweknya sehingga mirip banget ma orang kita, cowoknya bule. “Ih om gedebanget ya punya si bule”. “Ma punya majikan kamu yang duluan gede mana”. “Gede ini om, ampe gak muat tu diemutnya”. “Kamu suka disuru ngemut Yu”. “Iya om, majikan seneng banget kalo diemut”. Ayu terpaku melihat adegan seru di layar kaca, suara ah uh merupakan serenade wajib film bokep terdengar jelas. “Keenakan ya om prempuannya, sampe mengerang2 gitu”. “Mangnya kamu enggak”. “Iya juga sih”.</p>
<p>Setelah melihat Ayu mulai gelisah duduknya, sebentar kaki kiri ditopang kaki kanan, terus sebaliknya, aku tau Ayu dah mulai terangsang. “Napa kok gelisah Yu, kamu napsu ya”, kataku to the point. Ayu diem saja. Kon tolku dah ngaceng dengan kerasnya. Apalagi ketika paha yang putih terbuka karena kaosnya yang tersingkap. Kuelus betisnya. Dia diam saja. elusanku mermabat makin keatas. Ayu menggeliat, geli katanya. Kusingkapkan bagian bawah dasternya sampai sebatas perut. Kini paha mulus itu terhampar di hadapanku. Di atas paha, beberapa helai bulu jembut keluar dari CD yang minim berbentuk segitiga. Sungguh kontras warnanya. Jembutnya berwarna hitam, sedang tubuhnya berwarna putih. Kueluskan tanganku menuju pangkal pahanya sambil kuamati wajah Ayu. Kueluskan perlahan ibu jariku di belahan bibir no noknya. Aku membungkuk diatas pahanya, kuciumi paha mulus tersebut berganti-ganti, kiri dan kanan, sambil tanganku mengusap dan meremasnya perlahan-lahan. Kedua paha tersebut secara otomatis bergerak membuka agak lebar. Kembali kuciumi dan kujilati paha dan betis nya. Nafsuku semakin tinggi. Aku semakin nekad. Kulepaskan kaos Ayu, “Om, Aku mau diapain”, katanya lirih. Aku menghentikan aksiku. Aku memandangi tubuh mulus Ayu tanpa daster menghalanginya. Tubuh moleknya sungguh membangkitkan birahi. toket yang besar membusung, pinggang yang ramping, dan pinggul yang besar melebar. pentilnya berdiri tegak. Kupandangi Ayu. Alangkah cantiknya wajahnya. Lehernya jenjang. Toketnya yang montok bergerak naik-turun dengan teratur mengiringi nafasnya. Pinggangnya ramping, dan pinggulnya yang besar melebar.</p>
<p>“Yu, aku mau ngasi kenikmatan sama kamu, mau enggak”, kataku perlahan sambil mencium toket nya yang montok. Ayu diam saja, matanya terpejam. Hidungku mengendus-endus kedua toket yang berbau harum sambil sesekali mengecupkan bibir dan menjilatkan lidahku.pentil toket kanannya kulahap ke dalam mulutku. Badannya sedikit tersentak ketika pentil itu kugencet perlahan dengan menggunakan lidah dan gigi atasku. “Om…”, rintihnya, rupanya tindakanku membangkitkan napsunya juga. Karena sangat ingin merasakan kenikmatan dien tot, Ayu diam saja membiarkan aku menjelajahi tubuhnya. kusedot-sedot pentil toketnya secara berirama. Mula-mula lemah, lama-lama agak kuperkuat sedotanku. Kuperbesar daerah lahapan bibirku. Kini pentil dan toket sekitarnya yang berwarna kecoklatan itu semua masuk ke dalam mulutku. Kembali kusedot daerah tersebut dari lemah-lembut menjadi agak kuat. Mimik wajah Ayu tampak sedikit berubah, seolah menahan suatu kenikmatan. Kedua toket harum itu kuciumi dan kusedot-sedot secara berirama. kon tolku bertambah tegang. Sambil terus menggumuli toket dengan bibir, lidah, dan wajahnya, aku terus menggesek-gesekkan kon tol di kulit pahanya yang halus dan licin. Kubenamkan wajahku di antara kedua belah gumpalan dada Ayu. perlahan-lahan bergerak ke arah bawah. Kugesek-gesekkan wajahku di lekukan tubuh yang merupakan batas antara gumpalan toket dan kulit perutnya. Kiri dan kanan kuciumi dan kujilati secara bergantian. Kecupan-kecupan bibirku, jilatan-jilatan lidahku, dan endusan-endusan hidungku pun beralih ke perut dan pinggang Ayu. Sementara gesekan-gesekan kepala kon tolku kupindahkan ke betisnya. Bibir dan lidahku menyusuri perut sekeliling pusarnya yang putih mulus. wajahku bergerak lebih ke bawah. Dengan nafsu yang menggelora kupeluk pinggulnya secara perlahan-lahan. Kecupanku pun berpindah ke CD tipis yang membungkus pinggulnya tersebut. Kususuri pertemuan antara kulit perut dan CD, ke arah pangkal paha. Kujilat helaian-helaian rambut jembutnya yang keluar dari CDnya. Lalu kuendus dan kujilat CD pink itu di bagian belahan bibir no noknya. Ayu makin terengah menahan napsunya, sesekali terdengar lenguhannya menahan kenikmatan yang dirasakannya.</p>
<p>Aku bangkit dan melepaskan semua yang menempek ditubuhku. “Punya om gede banget, kayanya segede punya si bule deh”. Dengan posisi berdiri di atas lutut kukangkangi tubuhnya. kon tolku yang tegang kutempelkan di kulit toket Ayu. Kepala kon tol kugesek-gesekkan di toket yang montok itu. Sambil kukocok batangnya dengan tangan kananku, kepala kon tol terus kugesekkan di toketnya, kiri dan kanan. Setelah sekitar dua menit aku melakukan hal itu. Kuraih kedua belah gumpalan toket Ayu yang montok itu. Aku berdiri di atas lutut dengan mengangkangi pinggang ramping Ayu dengan posisi badan sedikit membungkuk. Batang kon tolku kujepit dengan kedua gumpalan toketnya. Kini rasa hangat toket Ayu terasa mengalir ke seluruh batang kon tolku. Perlahan-lahan kugerakkan maju-mundur kon tolku di cekikan kedua toket Ayu. Kekenyalan daging toket tersebut serasa memijit-mijit batang kon tolku, memberi rasa nikmat yang luar biasa. Di kala maju, kepala kon tolku terlihat mencapai pangkal lehernya yang jenjang. Di kala mundur, kepala kon tolku tersembunyi di jepitan toketnya.</p>
<p>Lama-lama gerak maju-mundur kon tolku bertambah cepat, dan kedua toket nya kutekan semakin keras dengan telapak tanganku agar jepitan di batang kon tolku semakin kuat. Aku pun merem melek menikmati enaknya jepitan toketnya. Ayu pun mendesah-desah tertahan, “Ah… hhh… hhh… ah…”<br />
kon tolku pun mulai melelehkan sedikit cairan. Cairan tersebut membasahi belahan toket Ayu. Oleh gerakan maju-mundur kon tolku di dadanya yang diimbangi dengan tekanan-tekanan dan remasan-remasan tanganku di kedua toketnya, cairan itu menjadi teroles rata di sepanjang belahan dadanya yang menjepit batang kon tolku. Cairan tersebut menjadi pelumas yang memperlancar maju-mundurnya kon tolku di dalam jepitan toketnya. Dengan adanya sedikit cairan dari kon tolku tersebut aku merasakan keenakan dan kehangatan yang luar biasa pada gesekan-gesekan batang dan kepala kon tolku dengan toketnya. “Hih… hhh… … Luar biasa enaknya…,” aku tak kuasa menahan rasa enak yang tak terperi. Nafas Ayu menjadi tidak teratur. Desahan-desahan keluar dari bibirnya , yang kadang diseling desahan lewat hidungnya, “Ngh… ngh… hhh… heh… eh… ngh…” Desahan-desahan Ayu semakin membuat nafsuku makin memuncak. Gesekan-gesekan maju-mundurnya kon tolku di jepitan toketnya semakin cepat. kon tolku semakin tegang dan keras. Kurasakan pembuluh darah yang melalui batang kon tolku berdenyut-denyut, menambah rasa hangat dan nikmat yang luar biasa. “Enak sekali, Yu”, erangku tak tertahankan. Aku menggerakkan maju-mundur kon tolku di jepitan toket Ayu dengan semakin cepatnya. Rasa enak yang luar biasa mengalir dari kon tol ke syaraf-syaraf otakku. Kulihat wajah Ayu. Alis matanya bergerak naik turun seiring dengan desah-desah perlahan bibirnya akibat tekanan-tekanan, remasan-remasan, dan kocokan-kocokan di toketnya. Ada sekitar lima menit aku menikmati rasa keenakan luar biasa di jepitan toketnya itu.</p>
<p>Toket sebelah kanannya kulepas dari telapak tanganku. Tangan kananku lalu membimbing kon tol dan menggesek-gesekkan kepala kon tol dengan gerakan memutar di kulit toketnya yang halus mulus. Sambil jari-jari tangan kiriku terus meremas toket kiri Ayu, kon tolku kugerakkan memutar-mutar menuju ke bawah. Ke arah perut. Dan di sekitar pusarnya, kepala kon tolku kugesekkan memutar di kulit perutnya yang putih mulus, sambil sesekali kusodokkan perlahan di lobang pusarnya. kucopot CD minimnya. Pinggul yang melebar itu tidak berpenutup lagi. Kulit perut yang semula tertutup CD tampak jelas sekali. Licin, putih, dan amat mulus. Di bawah perutnya, jembut yang hitam lebat menutupi daerah sekitar lobang no noknya. Kedua paha mulus Ayu kurenggangkan lebih lebar. Kini hutan lebat di bawah perut tadi terkuak, mempertontonkan no noknya. Aku pun mengambil posisi agar kon tolku dapat mencapai no nok Ayu dengan mudahnya. Dengan tangan kanan memegang batang kon tol, kepalanya kugesek-gesekkan ke jembut Ayu. Rasa geli menggelitik kepala kon tolku. kepala kon tolku bergerak menyusuri jembut menuju ke no noknya. Kugesek-gesekkan kepala kon tol ke sekeliling bibir no noknya. Terasa geli dan nikmat. kepala kon tol kugesekkan agak ke arah lobang. Dan menusuk sedikit ke dalam. Lama-lama dinding mulut lobang no nok itu menjadi basah. Kugetarkan perlahan-lahan kon tolku sambil terus memasuki lobang no nok. Kini seluruh kepala kon tolku yang berhelm pink tebenam dalam jepitan mulut no nok Ayu. Jepitan mulut no nok itu terasa hangat dan enak sekali. Kembali dari mulut Ayu keluar desisan kecil tanda nikmat tak terperi. kon tolku semakin tegang. Sementara dinding mulut no nok Ayu terasa semakin basah. Perlahan-lahan kon tolku kutusukkan lebih ke dalam. Kini tinggal separuh batang yang tersisa di luar. Secara perlahan kumasukkan kon tolku ke dalam no nok. Terbenam sudah seluruh batang kon tolku di dalam no nok Ayu. Sekujur batang kon tol sekarang dijepit oleh no nok Ayu dengan sangat enaknya. secara perlahan-lahan kugerakkan keluar-masuk kon tolku ke dalam no noknya. Sewaktu keluar, yang tersisa di dalam no nok hanya kepala kon tol saja. Sewaktu masuk seluruh kon tol terbenam di dalam no nok sampai batas pangkalnya. Rasa hangat dan enak yang luar biasa kini seolah memijiti seluruh bagian kon tolku. Aku terus memasuk-keluarkan kon tolku ke lobang no noknya. Alis matanya terangkat naik setiap kali kon tolku menusuk masuk no noknya secara perlahan. Bibir segarnya yang sensual sedikit terbuka, sedang giginya erkatup rapat. Dari mulut sexy itu keluar desis kenikmatan, “Sssh…sssh… hhh… hhh… ssh… sssh…” Aku terus mengocok perlahan-lahan no noknya. Enam menit sudah hal itu berlangsung. Kembali kukocok secara perlahan no noknya. Kurasakan enaknya jepitan otot-otot no nok pada kon tolku. Kubiarkan kocokan perlahan tersebut sampai selama dua menit. Kembali kutarik kon tolku dari no nok Ayu. Namun kini tidak seluruhnya, kepala kon tol masih kubiarkan tertanam dalam mulut no noknya. Sementara batang kon tol kukocok dengan jari-jari tangan kananku dengan cepatnya.</p>
<p>Rasa enak itu agaknya dirasakan pula oleh Ayu. Ayu mendesah-desah akibat sentuhan-sentuhan getar kepala kon tolku pada dinding mulut no noknya, “Sssh… sssh… zzz…ah… ah… hhh…” Tiga menit kemudian kumasukkan lagi seluruh kon tolku ke dalam no nok Ayu. Dan kukocok perlahan. Kunikmati kocokan perlahan pada no noknya kali ini lebih lama. Sampai kira-kira empat menit. Lama-lama aku tidak puas. Kupercepat gerakan keluar-masuk kon tolku pada no noknya. Kurasakan rasa enak sekali menjalar di sekujur kon tolku. Aku sampai tak kuasa menahan ekspresi keenakanku. Sambil tertahan-tahan, aku mendesis-desis, “Yu… no nokmu luar biasa… nikmatnya…” Gerakan keluar-masuk secara cepat itu berlangsung sampai sekitar empat menit. rasa gatal-gatal enak mulai menjalar di sekujur kon tolku.</p>
<p>Berarti beberapa saat lagi aku akan ngecret. Kucopot kon tolku dari no nok Ayu.<br />
Segera aku berdiri dengan lutut mengangkangi tubuhnya agar kon tolku mudah mencapai toketnya. Kembali kuraih kedua belah toket montok itu untuk menjepit kon tolku yang berdiri dengan amat gagahnya. Agar kon tolku dapat terjepit dengan enaknya, aku agak merundukkan badanku. kon tol kukocokkan maju-mundur di dalam jepitan toketnya. Cairan no nok Ayu yang membasahi kon tolku kini merupakan pelumas pada gesekan-gesekan kon tolku dan kulit toketnya. “Oh… hangatnya… Sssh… nikmatnya…Tubuhmu luarrr biasa…”, aku merintih-rintih keenakan. Ayu juga mendesis-desis keenakan, “Sssh.. sssh… sssh…” Giginya tertutup rapat. Alis matanya bergerak ke atas ke bawah. Aku mempercepat maju-mundurnya kon tolku. Aku memperkuat tekananku pada toketnya agar kon tolku terjepit lebih kuat. Rasa enak menjalar lewat kon tolku. Rasa hangat menyusup di seluruh kon tolku. Karena basah oleh cairan no nok, kepala kon tolku tampak amat mengkilat di saat melongok dari jepitan toket Ayu. Leher kon tol yang berwarna coklat tua dan helm kon tol yang berwarna pink itu menari-nari di jepitan toketnya. Lama-lama rasa gatal yang menyusup ke segenap penjuru kon tolku semakin menjadi-jadi. Semakin kupercepat kocokan kon tolku pada toket Ayu. Rasa gatal semakin hebat. Rasa hangat semakin luar biasa. Dan rasa enak semakin menuju puncaknya. Tiga menit sudah kocokan hebat kon tolku di toket montok itu berlangsung. Dan ketika rasa gatal dan enak di kon tolku hampir mencapai puncaknya, aku menahan sekuat tenaga benteng pertahananku sambil mengocokkan kon tol di kempitan toket indah Ayu dengan sangat cepatnya. Rasa gatal, hangat, dan enak yang luar biasa akhirnya mencapai puncaknya. Aku tak kuasa lagi membendung jebolnya tanggul pertahananku. “Ayu…!” pekikku dengan tidak tertahankan. Mataku membeliak-beliak. Jebollah pertahananku. Rasa hangat dan nikmat yang luar biasa menyusup ke seluruh sel-sel kon tolku saat menyemburkan peju. Crot! Crot! Crot! Crot!</p>
<p>Pejuku menyemprot dengan derasnya. Sampai empat kali. Kuat sekali semprotannya, sampai menghantam rahang Ayu. Peju tersebut berwarna putih dan kelihatan sangat kental. Dari rahang peju mengalir turun ke arah leher Ayu. Peju yang tersisa di dalam kon tolku pun menyusul keluar dalam tiga semprotan. Cret! Cret! Cret! Kali ini semprotannya lemah. Semprotan awal hanya sampai pangkal lehernya, sedang yang terakhir hanya jatuh di atas belahan toketnya. Aku menikmati akhir-akhir kenikmatan. “Luar biasa… Yu, nikmat sekali tubuhmu…,” aku bergumam. “Kok gak dikeluarin di dalem aja om”, kata Ayu lirih. “Gak apa kalo om ngecret didalem Yu”, jawabku. “Gak apa om, Ayu pengen ngerasain kesemprot peju anget. Tapi Ayu ngerasa nikmat sekali om, belum pernah Ayu ngerasain kenikmatan seperti ini”, katanya lagi. “Ini baru ronde pertama Yu, mau lagi kan ronde kedua”, kataku. “Mau om, tapi ngecretnya didalem ya”, jawabnya. “Kok tadi kamu diem aja Yu”, kataku lagi. “Bingung om, tapi nikmat”, jawabnya sambil tersenyum. “Engh…” Ayu menggeliatkan badannya. Aku segera mengelap kon tol dengan tissue yang ada di atas meja, dan memakai celana pendek. beberapa lembar tissue kuambil untuk mengelap pejuku yang berleleran di rahang, leher, dan toket Ayu. Ada yang tidak dapat dilap, yakni cairan pejuku yang sudah terlajur jatuh di rambut kepalanya. “Mo kemana om”, tanyanya. “Mo ambil minum dulu”, jawabku. “Kok celananya dipake, katanya mau ronde kedua”, katanya. Rupanya Ayu sudah pengen aku menggelutinya sekali lagi.</p>
<p>Aku kembali membawa gelas berisi air putih, kuberikan kepada Ayu yang langsung menenggaknya sampe habis. Aku keluar lagi untuk mengisi gelas dengan air dan kembali lagi ke kekamar. Masih tidak puas aku memandangi toket indah yang terhampar di depan mataku tersebut. mataku memandang ke arah pinggangnya yang ramping dan pinggulnya yang melebar indah. Terus tatapanku jatuh ke no noknya yang dikelilingi oleh bulu jembut hitam jang lebat. Betapa enaknya ngen totin Ayu. Aku ingin mengulangi permainan tadi, menggeluti dan mendekap kuat tubuhnya. Mengocok no noknya dengan kon tolku dengan irama yang menghentak-hentak kuat. Dan aku dapat menyemprotkan pejuku di dalam no noknya sambil merengkuh kuat-kuat tubuhnya saat aku nyampe. Nafsuku terbakar.</p>
<p>“Ayu…,” desahku penuh nafsu. Bibirku pun menggeluti bibirnya. Bibir sensual yang menantang itu kulumat-lumat dengan ganasnya. Sementara Ayu pun tidak mau kalah. Bibirnya pun menyerang bibirku dengan dahsyatnya, seakan tidak mau kedahuluan oleh lumatan bibirku. Kedua tangankupun menyusup diantara lengan tangannya. Tubuhnya sekarang berada dalam dekapanku. Aku mempererat dekapanku, sementara Ayu pun mempererat pelukannya pada diriku. Kehangatan tubuhnya terasa merembes ke badanku, toketnya yang membusung terasa semakin menekan dadaku. Jari-jari tangan Ayu mulai meremas-remas kulit punggungku. Ayu mencopot celanaku.Ayu pun merangkul punggungku lagi. Aku kembali mendekap erat tubuh Ayu sambil melumat kembali bibirnya. Aku terus mendekap tubuhnya sambil saling melumat bibir. Sementara tangan kami saling meremas-remas kulit punggung. Kehangatan menyertai tubuh bagian depan kami yang saling menempel. Kini kurasakan toketnya yang montok menekan ke dadaku. Dan ketika saling sedikit bergeseran, pentilnya seolah-olah menggelitiki dadaku. kon tolku terasa hangat dan mengeras. Tangan kiriku pun turun ke arah perbatasan pinggang ramping dan pinggul besar Ayu, menekannya kuat-kuat dari belakang ke arah perutku. kon tolku tergencet perut bawahku dan perut bawah Ayu dengan enaknya. Sementara bibirku bergerak ke arah lehernya.kuciumi, kuhisap-hisap dengan hidungku, dan kujilati dengan lidahku. “Ah… geli… geli…,” desah Ayu sambil menengadahkan kepala, agar seluruh leher sampai dagunya terbuka dengan luasnya. Ayu pun membusungkan dadanya dan melenturkan pinggangnya ke depan. Dengan posisi begitu, walaupun wajahku dalam keadaan menggeluti lehernya, tubuh kami dari dada hingga bawah perut tetap dapat menyatu dengan rapatnya. Tangan kananku lalu bergerak ke dadanya yang montok, dan meremas-remas toket tersebut dengan perasaan gemas.</p>
<p>Setelah puas menggeluti lehernya, wajahku turun ke arah belahan dadanya. Aku berdiri dengan agak merunduk. Tangan kiriku pun menyusul tangan kanan, yakni bergerak memegangi toket. Kugeluti belahan toket Ayu, sementara kedua tanganku meremas-remas kedua belah toketnya sambil menekan-nekankannya ke arah wajahku. Kugesek-gesekkan memutar wajahku di belahan toket itu. bibirku bergerak ke atas bukit toket sebelah kiri. Kuciumi bukit toket nya, dan kumasukkan pentil toket di atasnya ke dalam mulutku. Kini aku menyedot-sedot pentil toket kiri Ayu. Kumainkan pentil di dalam mulutku itu dengan lidahku. Sedotan kadang kuperbesar ke puncak bukit toket di sekitar pentil yang berwarna coklat. “Ah… ah… om…geli…,” Ayu mendesis-desis sambil menggeliatkan tubuh ke kiri-kanan. Aku memperkuat sedotanku. Sementara tanganku meremas kuat toket sebelah kanan. Kadang remasan kuperkuat dan kuperkecil menuju puncak bukitnya, dan kuakhiri dengan tekanan-tekanan kecil jari telunjuk dan ibu jariku pada pentilnya. “Om… hhh… geli… geli… enak… enak… ngilu…ngilu…” Aku semakin gemas. toket Ayu itu kumainkan secara bergantian, antara sebelah kiri dan sebelah kanan. Bukit toket kadang kusedot sebesar-besarnya dengan tenaga isap sekuat-kuatnya, kadang yang kusedot hanya pentilnya dan kucepit dengan gigi atas dan lidah. Belahan lain kadang kuremas dengan daerah tangkap sebesar-besarnya dengan remasan sekuat-kuatnya, kadang hanya kupijit-pijit dan kupelintir-pelintir kecil pentil yang mencuat gagah di puncaknya. “Ah…om… terus… hzzz…ngilu… ngilu…” Ayu mendesis-desis keenakan. Matanya kadang terbeliak-beliak. Geliatan tubuhnya ke kanan-kiri semakin sering frekuensinya.<br />
Sampai akhirnya Ayu tidak kuat melayani serangan-serangan awalku. Jari-jari tangan kanan Ayu yang mulus dan lembut menangkap kon tolku yang sudah berdiri dengan gagahnya. “Om.. Batang kon tolnya besar ya”, ucapnya. Sambil membiarkan mulut, wajah, dan tanganku terus memainkan dan menggeluti kedua belah toketnya, jari-jari lentik tangan kanannya meremas-remas perlahan kon tolku secara berirama. Remasannya itu memberi rasa hangat dan nikmat pada batang kon tolku. kurengkuh tubuhnyadengan gemasnya. Kukecup kembali daerah antara telinga dan lehernya. Kadang daun telinga sebelah bawahnya kukulum dalam mulutku dan kumainkan dengan lidahku. Kadang ciumanku berpindah ke punggung lehernya yang jenjang. Kujilati pangkal helaian rambutnya yang terjatuh di kulit lehernya. Sementara tanganku mendekap dadanya dengan eratnya. Telapak dan jari-jari tanganku meremas-remas kedua belah toketnya. Remasanku kadang sangat kuat, kadang melemah. Sambil telunjuk dan ibu jari tangan kananku menggencet dan memelintir perlahan pentil toket kirinya,</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.modelayu.com/cerita-dewasa/babysitter-tetangga.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

