September 23, 2008
Capek Miskin, Istriku Memelihara Tuyul

Kekayaan tetangga kiri dan kanan ternyata mulai mengusik istriku. Ia merasa kurang nyaman melihat Bu Kirno tetangga sebelah kiri rumahku membeli sebuah mobil baru lagi. “Padahal Bu Kirno tak mempunyai anak dan tak bekerja, masa harus mempunyai mobil dua buah,” omel istriku mengomentari mobil baru Bu Kirno.

Belum genap seminggu omelan sirik tersebut berhenti, eh kemarin istriku Rani siang-siang menelponku ke kantor hanya untuk mengabarkan bahwa tetangga kami Bu Thomas juga menukar mobil lawasnya dengan sebuah mobil baru keluaran merek Toyota. Aku hanya menghela napas panjang seraya berujar lembut, “Bu, rejeki orang kan beda-beda, ayah belum mampu menukar mobil butut kita. Doakan saja ayah banyak rejekinya ya, “ tuturku menenangkannya.

Boro-boro tukar mobil, lha yang namanya ngecet rumah saja sudah dua tahun ini tak bisa aku lakukan. Aku mementingkan pendidikan anak-anak dulu. Si sulung sudah kelas 6 SD sedangkan si bontot baru masuk Sekolah Dasar. Bayangkan saja biaya yang harus aku siapkan untuk memenuhi pendidikan anak-anakku agar mereka mendapatkan sekolah yang baik mutunya serta mengajarkan akhlak yang benar pula. Aku rasa cita-cita semua ayah di dunia ini sama jika untuk pendidikan anak.

Rani kunikahi 9 tahun yang lalu, tapi dulu Rani kupilih menjadi istriku karena sangat pengertian dan memahami diriku. Tapi kok seiring berkembangnya waktu Rani jadi berubah? Ia kini sangat materialistis, semua hal dilihat dari jumlah rupiah semata. Untung ia tak mengenal dolar Amerika, jika ia tahu berapa nilai tukar Dolar atau Euro terhadap rupiah mungkin ia berubah haluan melihat semua hal dari mata uang tersebut.

Yang mulai menjengkelkan, kini Rani sering merengek-rengek untuk meminta perhiasan tambahan karena ia malu, teman dan tetangga sering berganti-ganti model perhiasan sedangkan yang dimiliki Rani tak pernah berubah gaya sejak sembilan tahun yang lalu, maklumlah itu mas kawin pernikahan kami.

Tak berhenti sampai disitu, Rani mulai kerap menelponku ke kantor dan meminta ijin membeli tas, sepatu atau kosmetika yang ditawarkan oleh teman-teman arisannya. Jengkel juga aku jadinya dan beberapa kali kubentak untuk tak mengangguku di kantor untuk urusan seperti itu. Namun Rani bersikeras dan terus menerus merengek.

Pernah suatu ketika saat aku sedang rapat, kuiyakan saja permintannya. Walhasil begitu aku pulang kantor sudah ada Ibu Lasmini yang menunggu kepulanganku sambil menyodorkan tagihan barang yang diambil istriku, walau kredit 3 bulan namun benar-benar menjengkelkan caranya.

Suatu hari, Rani meminta ijin untuk pergi bersama teman-teman arisannya ke Jawa Timur, katanya untuk menghilangkan kejenuhan. Karena aku juga kasihan melihatnya di rumah terus maka kuijinkan ia pergi beberapa hari ke Surabaya. Aku juga memberi uang saku untuk keperluannya selama berjalan-jalan.

Empat hari kemudian Rani sudah pulang, ia membeli beberapa oleh-oleh berupa makanan untuk anak-anak. Tak henti-hentinya ia berceloteh tentang pengalaman perjalanannya. Namun ia juga menangis menceritakan bahwa kalung mas kawin kami hilang, entah terjatuh dimana. Walaupun sangat kesal karena kalung tersebut adalah satu-satunya sisa dari mas kawin kami namun mau bilang apa lagi. Siapa yang mau kehilangan, coba?

Sejak kepulangan Rani dari Jawa Timur, aku merasa ada yang agak aneh dari sikapnya. Karena setiap pagi-pagi istriku sudah jalan-jalan. Katanya ingin olah raga. Belum lagi di dapur teronggok bunga-bungaan tujuh rupa beserta kemenyan dan rokok kretek yang diletakkan di tampah dari anyaman bambu. Malah beberapa malam Jumat kucium bau asing menyengat hidungku. Ternyata Rani sedang membakar kemenyan sambil membisikkan beberapa kalimat yang asing terdengar di telinga. Bahkan setiap malam Rani mulai suka menyendiri di teras rumah dengan lampu yang digelapkan total, ia duduk-duduk saja, sesekali tertawa atau berkata-kata sendiri.

Tentu saja tak kubiarkan istriku menjadi gila, maka suatu malam di saat anak-anak sudah terlelap aku mengajaknya bicara dan menanyakan perubahan dirinya. Rani diam saja dan berkilah belum waktunya ia menjelaskan. Berkali-kali kudesak dan kukatakan keberatanku dengan adanya bunga tujuh rupa dan bau kemenyan yang setiap malam menyengat hidung, ia tak bergeming. Menunduk dalam-dalam sambil berucap, “ Ayah tenanglah aja, nanti kalau sudah ada hasilnya ayah juga bakal terima kasih ke aku”.

Beberapa minggu kemudian sepulang dari kerja kulihat ada sebuah kotak berisi kue donat dari toko donat terkenal di Jakarta. “Dari siapa donat ini, bu?” tanyaku sambil mengambil sebuah donat yang berwarna coklat. “Aku yang beli tadi, sekalian jalan-jalan ke mal sama Bu Thomas nyoba mobil barunya,” jawab istriku ketus.

Minggu depannya lagi, ada DVD, tas, sepatu, baju, lauk mewah dari restoran Padang dan beragam barang baru di rumah. Tentu saja aku heran dan mempertanyakan dari mana asal muasal barang-barang tersebut. “Ya beli dari mal, emang saya nyolong!” teriak Rani dari kamar mandi. Dengan marah kugedor pintu kamar mandi dan kuminta ia menjelaskan dari mana uang untuk membeli barang-barang tersebut. “Sumpah, aku tidak jual diri, ini adalah uang hasil dari perjuanganku,” isaknya saat kutampar pipinya. “Perjuangan dari mana?! Jelas ibu tak bekerja dan kita hanya hidup dari gajiku yang pas-pasan!” teriakku tak kalah sengitnya.

“Aku memelihara tuyul pak, karena aku lelah oleh kemiskinan yang mendera kita. Aku juga ingin mempunyai barang bagus seperti milik tetangga. Aku menjual kalung emas dan memberikannya kepada dukun sakti di Jawa Ttimur sebagai mas kawin untuk mendapatkan bantuan tuyul. Dan tuyul itulah yang mencari uang buat kita pak,“ jelas Rani di sela-sela tangisnya.

“Tiap pagi aku harus membawa tuyul itu jalan-jalan dan malam hari aku memberinya makan dengan bunga tujuh rupa lengkap. Aku juga harus menggendongnya jika malam, makanya aku selalu melewatkan tengah malam duduk di teras rumah dan sesekali harus menyusuinya,“ terangnya lagi.

Blar…Bagai terkena hantaman kilat aku dibuatnya. Kupandangi istriku tanpa kedip, rasanya tak mungkin perempuan yang telah kunikahi selama ini berubah drastis. Istriku memelihara tuyul hanya karena iri dengan kemewahan yang dimiliki tetanggaku. Aku tertegun lama dan tak mampu berucap. Aku lelah lahir batin. Aku berencana memintanya memilih, keluarga atau tuyul tersebut.


28 Comments

  1. Halo bos, boleh sedot dong ceritanya :)

    Comment by Kisah-Nyata — October 10, 2008 @ 8:07 am

  2. Msa’ sich jin bsa nyusu.?! Gmna rsax tuh…?? Lgpl jgn me2lhra TUYUL ah!! Musyrik tw..

    Comment by Candra — March 3, 2009 @ 7:17 am

  3. 085727221352

    Comment by patrio — April 4, 2009 @ 7:55 am

  4. saran saya sih jangan gunakan uang setan,karena bisa membayakan nyawa sendiri n beserta seisi keluarga.karena setan pasti akan menuntut balik haknya..rajinlah beribadah pasti tuhan akan membantu.semoga isti anda bisa kembali kejalan yang benar..

    Comment by lisaarmila chan — April 25, 2009 @ 5:34 am

  5. Curhat sex call me_085723176876/l4ncixbuzu@gmail.Com

    Comment by Goodgoy — May 7, 2009 @ 6:12 pm

  6. Curhat sex call me_085723176878/l4ncixbuzu@gmail.Com

    Comment by Goodgoy — May 7, 2009 @ 6:12 pm

  7. anda sebagai suami harusntegas! ini tdk dibenarkan bersekutu dengan setan!! apapun alasannya, kalau anak2 dan anda sendiri turut menikmati uang setan! maka tak beda dengan istri anda berapa lama sih hidup didunia ini! beri tindakan yg tegas ingat akan kematian yg sdh pasti. jauhkan, jika tidak bisa tinggalkan !

    Comment by syamsu alinur — September 4, 2009 @ 6:20 pm

  8. edan………dunia….kok di ikuti…………sabar dan waspada akan syirik……….

    Comment by bigchoock — October 9, 2009 @ 4:29 pm

  9. Wah., jgn serakah dgn harta sampai memelihara tuyul segala, bagusan pelihara kambing kan halal

    Comment by Arihta — October 18, 2009 @ 9:15 pm

  10. silahkan mampir ke website saya, pasti akan anda dapatkan cerita yang lebih HOT.

    Comment by eko susilo — November 11, 2009 @ 7:03 am

  11. kesian.. yg sabar ya mas….

    Comment by agung — November 20, 2009 @ 7:55 pm

  12. semua orang memang ingn hdp serba kecukupan tp akan lebh membanggakan uang it datang dr hasil keringat xt sendiri.

    Comment by NOVI — November 27, 2009 @ 4:04 am

  13. Mas, saran saya tinggalkan istri anda…karena cepat atau lambat dia akan tega menumbalkan anak/suami.karena dia akan semakin penasaran dengan hasil yang lebih besar…Tinggalkan mas…

    Comment by Apay — December 19, 2009 @ 1:49 pm

  14. Astagfirullah al’azin tobat-tobat sebelum ada keluarga jadi tumbal

    Comment by Nabil — January 13, 2010 @ 8:11 am

  15. Bg2 doang tuyul.a

    Comment by Borjong — February 1, 2010 @ 5:53 pm

  16. Anda sbgai sUAmi hrus lbh bnyak ksh nsehat kpada istri anda.

    N tbah jjah bwt hdapin cmua cbaan yg dha d-dunia neh.
    Krna qta hdp cma smntara.

    Comment by FeAnCis — February 15, 2010 @ 3:37 am

  17. barang sipa menyekutukan ALLAH tiada tempat kembali kecuali neraka. mari berbenah kita bersihkan tauhid. Hanya ALLAH sebenarnya Tuhan, bukan jin ,uang, atasan kekayaan , jabatan dan segala bentuk materi.

    Comment by mudzakir — February 23, 2010 @ 6:06 pm

  18. jngn2 istri mas prnh di setubuin ma tuh tuyul

    Comment by eno — April 27, 2010 @ 9:24 am

  19. jgan cuma direncanain aj maz,skrng juga sruh dy plih tuyul atw klwrga. . .

    Comment by di0n — May 19, 2010 @ 2:37 am

  20. gmana rsanya nyusuin tuyul,jngan2 pernh ditidurin m tulunnya???

    Comment by erlan — May 29, 2010 @ 9:34 am

  21. bg ibu bth sex aku layani lebih dari suami anda tdk matree 087886816128

    Comment by neroa — August 18, 2010 @ 8:33 am

  22. Masya Allah….sabar ya…mas blom terlambat mengajak istri anda ke jln yang benar.

    Comment by Ary — November 27, 2010 @ 5:20 pm

  23. Butuh kepuasan ? Call 08819126393

    Comment by fery — January 1, 2011 @ 2:47 pm

  24. emang ada ya tuyulll?aku kok ndakpercaya gituan yachhh…tuyul setahuku mah dibelakang rumah saya namanya pak bejo..orangnya botak,,dan muka mesummmm …

    Comment by iwan — February 25, 2011 @ 4:36 am

  25. lebih cepat lebih baik, sebelum anak2 kamu yg jadi tumbal….harta masih bisa dicari, tapi klo anak….

    Comment by dedis — April 24, 2011 @ 3:55 pm

  26. istigpar…..mati tar jadi tuyul juga….

    Comment by ali — May 30, 2011 @ 6:47 am

  27. wah payah mending miskin dari pada nuyul,,soal nya ujung ujung nya..suasah rawat tuyuul…tetangga gue dah pernah coba kaya gak,sengsara iya

    Comment by obat kuat sex — August 24, 2011 @ 10:47 am

  28. tuyul kok di plihara ,,,, lebih baik me”lihara saaya enak lo melihara saya lebih baik nyusuio saya dari pada tuyul yg di susui,,,…. he he he

    Comment by pangeran acil — October 4, 2011 @ 7:15 pm

Sorry, the comment form is closed at this time.